30 September 2011

Tangis Kekalahan

"Mas, ini temen-temennya mas?" kataku dengan nada terputus-putus. Aku heran karena mas (begitu aku memanggil kakak laki-lakiku) bergabung dalam sebuah bengkel teater.

"Iya. Kenalkan, ini Agung, Reni, Wijaya, Ketut. Dan, nanti di dalam masih banyak lagi," katanya sambil menunjuk ke ruang latihan teater mereka.

Aku tak sempat menanyakan kepada mas, nama teater itu. Setahuku, aku kemudian bergabung dalam bengkel teater tersebut. Aku berusaha keras untuk mengakrabkan diri, karena aku orang baru.

Beberapa hari di sana aku mulai terbiasa dengan obrolan-obrolan mereka. Maklum, aku orang baru, dan kadang tidak mengerti perkataan yang mereka utarakan. Masih ada sekat di antara aku dan mereka. Masku sendiri terlalu sibuk dengan urusan teater yang lain. Aku dibiarkannya beradaptasi sendiri. Bersusah payah, aku juga mencoba untuk latihan reading naskah. Ahhh..., aku masih tertawa-tawa membawakan karakter tokoh. Aku belum bisa dengan sepenuh hati, menjiwai peran.

Hingga suatu hari....



"Adekmu itu tidak bisa apa-apa! Ia selalu bercanda ketika sedang latihan!" kata Reni, sebagai sutradara.

Masku hanya diam, tak berani membela. Ia justru ikut menyalahkan aku. "Bagaimana kamu ini? Katanya dari jurusan Sastra Indonesia, tapi tidak bisa teater?" katanya, semakin memojokkan aku.

Aku hanya diam. Pandanganku dikaburkan oleh lelehan air mata. Tak kuasa dengan perkataan teman-teman. Aku lari kembali pulang ke kos. Mengemasi barang. Aku ingin pulang ke tempat asalku.

Hoammm. Zzzzzz.... Aku terbangun dari tidur dengan lelehan air mata di pipi.

Tidak ada komentar: