25 Februari 2010

Diklat Jurnalistik (DJ) 2010 -hari pertama-

Diklat Jurnalistik (DJ) 2010
Oleh HMTI (Himpunan Mahasiswa Teknik Industri) UGM yang didukung oleh Tim Diklat Kompas

Diklat jurnalistik yang dilaksanakan tanggal 3-6 Februari 2010 di ruang KPTU lantai dua diikuti oleh 61 peserta. Peserta tidak hanya dari golongan mahasiswa tetapi juga terbuka oleh umum.

Berikut ceritaku sebagai seorang peserta DJ 2010 ^^

Hari pertama/ Rabu, 3 Februari 2010/ pukul 08.00-16.00
Peserta diberi materi oleh tim diklat Kompas. Pematerinya yaitu Mas Luwi, Mas Pepih, Mas Wisnu, Mas Cahyono, Mas Pudjo, dan Mas Santoso. Perlu diketahui bahwa panggilan Mas tidak merujuk kepada usia, tetapi lebih merujuk kekerabatan (lebih terasa kekeluargaannya).

Materi yang diberikan oleh Tim juga bervariasi. Tentang peranan media dan lembar daerah oleh Mas Pudjo, kewartawanan oleh Mas Luwi, nilai berita dan jenis berita oleh Mas Wisnu, menulis cepat oleh Mas Pepih, selukbeluk wartawan beserta tetekmbengek-nya oleh Mas Santoso serta merangkap sebagai moderator dalam diskusi, juga desain grafis koran (pada hari ketiga) oleh Mas Cahyono.

Hari pertama dibentuk sepuluh kelompok untuk menjalankan tugas yang akan diberikan oleh Tim. Kelompok sudah ditentukan oleh Panitia. Saya ada pada kelompok tujuh yang terdiri dari enam orang. Mereka adalah: saya, Riesa (mahasiswi Teknik Industri UGM ‘08), Aga (siswa kelas 2 SMA N 3 Jogjakarta), Sisca (Mahasiswi Atmajaya Jogjakarta ‘09), Rizki (mahasiswa UIN Jogjakarta ‘06), dan Diansuci (umum, sudah lulus kuliah).

Tugas yang diberikan adalah peliputan/praktik lapangan dan pencarian data oleh tiap-tiap peserta. Jadi, satu kelompok akan menghasilkan enam berita/artikel.

Usai diklat hari pertama, kelompok tujuh mulai berkumpul mendiskusikan topik berita atau artikel yang akan ditulis. Untuk tulisan ini, para peserta agaknya diwajibkan untuk bisa bekerja sendiri.

SAya heheheh.. saya mengambil topik tentang Portal semi-otomatis UGM. Betapa semangatnya saya. Cerita lebih lanjutnya akan saya tulis di hari berikutnya.... tunggu kelanjutannya :)

Maaf, foto Riesa tidak ada... Foto yang saya dapat cuma itu.

24 Februari 2010

Nasi Gandul: Kuliner Khas Pati, di Jogja?

Feature ini saya buat semata-mata karena tugas perkuliahan MEnulis Kreatif. Dari pada hanya menjadi bacaan sendiri, lebih baik aku share ke blog. hehe

SEdikit cerita. Mahasiswa yang mengikuti kuliah ini kira-kira empat puluh orang. Nah dari ke-40 feature itu, oleh Bapak Aprinus Salam (dosen pengampu) menyeleksi menjadi sepuluh feature. Hihihi, walaupun hanya sebatas latihan, tapi saya senang karena bisa masuk kesepuluh feature tersebut. HAnya sayangnya, belum bisa menjadi yang terbaik dari feature2 teman2 yang juga baik dan sangat menarik.

Hihi, dosen pengampu mata kuliah ini memang unik. Beliau tidak segan mencaci karangan kita apabila memang tidak sesuai dengan keinginannya. TApi menurut saya, hal itu justru memacu semangat untuk lebih baik lagi. Yang terbaik dapat duit 50rb (uang yang terkumpul dari mahasiswa yg mengikuti kuliah @ Rp1.000,- kalau kurang dari 50rb, Bpk Aprinus akan menambahi)...hahahahha tapi kalau yang terbaiknya dua, 50rb-nya juga dibagi dua. Hehehehe... Lumayanlah, sebagai anak kos.

Berikut feature saya ^^

Apa yang akan terlintas di benak Anda jika Anda mendengar sebutan “nasi gandul”? Mungkin Anda akan mengira bahwasanya itu adalah nasi yang bergelantung, atau nasi yang digantungkan, atau mungkin hal-hal lain yang berkaitan dengan hal “gandul” tergantung dari imajinasi seseorang. “Pertama kali saya mendengar nasi gandul, yang saya pikirkan, apakah nasinya itu digantung? Namanya gondal-gandul?” tutur Tina (24) mahasiswi asal Palembang. Berbeda lagi dengan penuturan Denta (22), mahasiswi asal Tulungagung, “saya penasaran, apa artinya ‘gandul’?” Akan tetapi, hal itu tidak akan terjadi apabila yang mendengar sebutan tersebut adalah masyarakat Pati (Jawa Tengah) dan sekitarnya.

17 Februari 2010

LYK (episode terakhir) hehe

Lintang

Dan ternyata kenyataan berkehendak lain. Ketika aku tak dekat dengan Dimas (berada dalam kota yang berbeda), Gina meneleponku. Ahhh...seandainya kita semua dalam satu kota, pasti tidak seperti ini ceritanya.
"Hallo," sapanya ketus.
"Iya hallo," kujawab ragu-ragu. Antara sedih dan kalut beradu menjadi satu.
"Lintang, kamu tahu kan kalau Dimas itu pacar aku! Dan kamu tahu gak sih, Dimas itu main-main nembak kamu! Kalau gak percaya, kita conference bertiga," kata Gina menggebu-gebu, seakan tak sabar membuatku terkejut dengan apa yang dikatakannya.