22 Mei 2013

Mimpi yang Tertunda

Aku pernah menjanjikan akan menunjukkanmu foto daerah-daerah luar negeri yang elok, tentu saja dengan aku berpose di dalamnya. Aku pernah berkata bahwa suatu saat aku akan mengajakmu berkeliling dunia. Masih ingat, bukan?

Aku merasa berdosa jika aku tak bisa mewujudkan janjiku. Bukankah itu juga merupakan harapanmu. Mana mungkin aku bisa menolak harapanmu. Di hati ini sudah terpatri bahwa aku akan selalu membahagiakanmu, entah bagaimana caranya. Bahwa aku akan selalu memenuhi permintaanmu, entah berapa lama waktu yang aku butuhkan. Aku akan berusaha untuk mewujudkannya. Demi kebahagiaanmu. Demi senyum yang akan engkau sunggingkan untukku.

Lihat, ini! Aku membawakanmu melodi warna elok negara China. Aku mulai dari sini. Ini adalah tembok raksasa China. Panjangnya lebih dari dari 8000 km. Luar biasa bukan.

Oh ya, aku lupa. Mungkin lebih baik kita mulai dari negara kita sendiri. Oke! Ini Candi Borobudur. Candi ini dibangun sekitar abad ke-8. Ah, kamu menguap. Apa kamu mengantuk? Aku baru menceritakan dua melodi warna. Masih ada melodi-melodi warna yang lain yang perlu kamu lihat.

***

Ibunya melengos. Dalam hatinya dia sangat terharu karena anak satu-satunya telah membawakan postcard dengan berbagai gambar ke hadapannya. Meskipun dia pernah menjanjikan akan memberikan foto dengan pose dirinya di dalamnya, postcard ini sudah cukup membuatnya sangat bahagia. Ia tak perlu melihat foto anaknya dengan latar belakang luar negeri. Kegigihannya untuk membahagiakan Ibu sudah dirasa sudah cukup. "Tak perlu kau bawakan ibu fotomu, Nak atau postcard-postcard ini. Cukup kamu di samping Ibu, menemani Ibu. Ibu sudah sangat bahagia. Maafkan ibu, Nak. Karena ibu struk, kamu hanya bisa tertahan di sini."

Mimpi dalam Mimpi

"Jangan lupa kerjakan PR-nya, ya?"
Lantang suara Lusi memenuhi ruangan tak lebih dari 4 x 4 meter itu. Oh, bukan. Bukan ruangan. Ini hanyalah sebuah bilik dengan dinding dari anyaman bambu. Beralaskan tanah liat merah khas pegunungan. Tikar dari anyaman rotan mereka duduki dengan sangat nyaman meski sudah disulam beberapa kali di sana-sini. Di tengah-tengah mereka hanya ada sebuah meja persegi panjang yang terbuat dari triplek seadanya. Ada tiga belas anak di bilik tersebut. Bilik yang akan membawa perubahan besar bagi anak-anak tersebut.

Lusi menghela napas panjang. Sejenak matanya terpejam. Alangkah bahagianya dia telah menjadi panutan untuk anak-anak di daerah pelosok ini. Mendidik mereka dengan barang dan perlengkapan seadanya. Tanpa seragam dan sepatu yang cantik.

"Bu Guru," panggil Muis mengembalikan kesadaran Lusi, "Bu Guru kenapa matanya merem?"

Lusi hanya tersenyum, mengelus rambut Muis yang ikal.

"Tidak, Nak. Bu Guru hanya membayangkan kalian kelak pasti akan menjadi penerus bangsa yang hebat."

"Pasti, Bu Guru. Karena Bu Guru mendidik kami dengan sangattttttt baik. Dan Bu Guru juga pintar!" tutur Muis dengan pose kedua jempol yang diarahkan di hadapan Lusi.

Lusi terharu. Bocah usia 10 tahun itu tampak sangat bahagia meskipun dengan keadaan yang seperti sekarang ini.

"Iya, pasti!" jawab Lusi mantab.

Kringggg kringgggg!

Weker penunjuk waktu pukul 08.00 berbunyi gaduh di atas meja samping tempat tidur. Lusi gelagapan. Dia bangkit dari tempat tidur. Bengong. Lantas melotot. "Sial, aku ada pretest psikologi pendidikan pagi ini!" Lusi mengacak rambutnya.

17 Mei 2013

No Title Display


Gak terasa sudah hampir seperempat abad saya hadir di dunia ini, tepatnya di bumi pertiwi Indonesia. Tanya gimana rasanya? Alhamdulillah, saya bersyukur karena masih diberikan kemudahan selama menempuh kehidupan ini. Percaya gak percaya, ternyata saya sudah menua :v ah biarlah. Tua umurnya, muda jiwanya :D *ngeles

Apa ya, apa ya… Apaaa? :v Semoga semakin dewasa dalam berpikir dan semakin bijak. Amin :) 

Sepertinya semakin tua, tanggal ulang tahun hanya sebatas hiasan tanggal biasa. Nothing special. Entahlah mungkin bawaan galau karena harus melepas masa lajang, dan bahagia karena akan ada seseorang yang mendampingi dalam segala hal :3

Terima kasih untuk semua ucapan dan doa :*