22 Mei 2013

Mimpi dalam Mimpi

"Jangan lupa kerjakan PR-nya, ya?"
Lantang suara Lusi memenuhi ruangan tak lebih dari 4 x 4 meter itu. Oh, bukan. Bukan ruangan. Ini hanyalah sebuah bilik dengan dinding dari anyaman bambu. Beralaskan tanah liat merah khas pegunungan. Tikar dari anyaman rotan mereka duduki dengan sangat nyaman meski sudah disulam beberapa kali di sana-sini. Di tengah-tengah mereka hanya ada sebuah meja persegi panjang yang terbuat dari triplek seadanya. Ada tiga belas anak di bilik tersebut. Bilik yang akan membawa perubahan besar bagi anak-anak tersebut.

Lusi menghela napas panjang. Sejenak matanya terpejam. Alangkah bahagianya dia telah menjadi panutan untuk anak-anak di daerah pelosok ini. Mendidik mereka dengan barang dan perlengkapan seadanya. Tanpa seragam dan sepatu yang cantik.

"Bu Guru," panggil Muis mengembalikan kesadaran Lusi, "Bu Guru kenapa matanya merem?"

Lusi hanya tersenyum, mengelus rambut Muis yang ikal.

"Tidak, Nak. Bu Guru hanya membayangkan kalian kelak pasti akan menjadi penerus bangsa yang hebat."

"Pasti, Bu Guru. Karena Bu Guru mendidik kami dengan sangattttttt baik. Dan Bu Guru juga pintar!" tutur Muis dengan pose kedua jempol yang diarahkan di hadapan Lusi.

Lusi terharu. Bocah usia 10 tahun itu tampak sangat bahagia meskipun dengan keadaan yang seperti sekarang ini.

"Iya, pasti!" jawab Lusi mantab.

Kringggg kringgggg!

Weker penunjuk waktu pukul 08.00 berbunyi gaduh di atas meja samping tempat tidur. Lusi gelagapan. Dia bangkit dari tempat tidur. Bengong. Lantas melotot. "Sial, aku ada pretest psikologi pendidikan pagi ini!" Lusi mengacak rambutnya.

Tidak ada komentar: