27 Agustus 2010

KEMBALI


Aku termenung dalam sepertiga malam
Senyap ini telah menggugah ketakutanku
Menyeruak menerjang segala kehidupan yang ada

Kasihani aku,
Ya Penguasa langit dan bumi

Hati perih tlah teriris pedang berkarat
Hujaman itu tlah tepat menyarang
Memenuhi kepala dan pikiran
Dan aku tahu,
Hujaman itu tlah terpompa dalam aliran darahku

Ya Allah,
Tolong ridhai aku mensucikan jantungku,
Agar darah yang terpompa selalu terhias dengan nama-Mu

Ya… Allah,
Ya… Rabbi,
Mohon ampuni hamba-Mu ini,
Yang sejenak ingin terbebas dari kehidupan duniawi


3 Desember 2009

DO’A SEORANG PENDOSA

entahlah….
di mana sekarang jiwa yang dulu telah Kau tiup arwah
ibuku pun tak mengenaliku lagi

jika sampainya nanti Kau memanggilku,
tolong sampaikan ibuku bahwa anaknya telah mati
anak yang telah mendurhakainya
anak yang tak berbakti kepadanya
anak yang tak menjalankan perintahnya
apalagi perintahMu?
tak pernah kusinggung-singgung

sampaikan pula kepadanya, aku meminta maaf

aku percaya Kamu ada
aku ada juga karena Kamu

Kamu….
Kamu yang telah menentukan takdirku
Kamu yang telah membuka pilihan untukku
tapi aku telah salah menentukan langkahku

apakah Kamu akan memaafkanku?
adakah Kamu akan membuka pintu taubat untukku?

sekarang aku telah menyadari kesalahanku
menyesali semua tingkahku yang tak menjadi kehendakMu
aku ingin kembali ke jalanMu
kembali menekuni agamaMu
agar jantung ciptaanMu,
disetiap detakannya terdengar namaMu

teruntuk ibu,
aku malu kepadamu
harusnya aku meneruskan perjuanganmu

7 Desember 2009

25 Agustus 2010

SAKSI NYATA

Saya masih tetap berjalan meskipun mendung senantiasa menenggelamkan angan yang melambung. Saya masih tetap bermimpi meskipun hanya menjadi sebuah bualan orang-orang syirik yang tak berhati. Ya, saya akan tetap bertahan meskipun masih bisa mendengar teriakan manja kucing jalang sialan. Kucing jalang yang telah membawa saya ke alam fana, yang telah memberi saya kehidupan yang tak pernah terduga.
“Mas, ini bagaimana? Kamu harus tanggung jawab,” katanya memaksa. Si Mas yang diajak bicara hanya tertegun dan selang kemudian ia berucap, “ini ada nomor telepon. Kamu bisa menghubunginya, dan pasti ditanggung beres.” Si Mas terlihat santai dengan sarannya itu. “Ah, sudah biasa dia!” cerocos saya, yang tak pernah di dengarnya. Ia yang juga saya ketahui telah beberapa kali mengalami hal itu, langsung meminta nomor telepon berserta uang. “Yang ini juga sudah biasa,” kata saya kepadanya, dan juga tak akan pernah terdengar olehnya.

Pengakuan Bilik Termenung

Aku telah lama berdiri kokoh di sini, menjadi hunian sementara oleh orang-orang yang ingin menyalurkan hasrat diri. Aku bukanlah tempat suci. Akan tetapi, tak sedikit orang yang mengagumi. Bahkan, mereka menganggapku sebagai tempat terindah untuk inspirasi, memberi rasa nyaman, dan kepuasaan hati yang tak terperi. Tanpa disadari, kejujuran akan selalu terungkap di sini, di tempat ini.
***

“Fa, gua duluan ya yang mandi. Sekalian ni. Uda kebelet gua!” pinta seorang wanita berumur sekitar 21 tahun kepada temannya, Zulfa. Segera, ia melucuti pakaiannya, dan serta merta mendudukkan pantatnya ke koslet. Sejurus ia termenung, sedih. Bisa terlihat kesedihan itu dari titik air mata yang telah meluncur, menyatu dalam genangan air di lantai. Makin lama kian menjadi. Ia tengah menikmati keadaannya dengan terisak. “Gua uda nggak perawan,” rintihnya, seirama dengan bunyi ingus yang dia semprotkan, dan bunyi “plung” di bawah sana. “Cha, lu uda selesai belum? Cowok gua mau numpang ke belakang ni,” teriak Putri, membuyarkan renungan Rossa yang biasa dipanggil Ocha itu. “Bentar lagi Put,” kata Chaca menimpali.

Nasib Seekor Ulat Bulu

Di sebuah taman bunga nan indah hiduplah seekor ulat bulu yang gendut. Matanya bulat, tubuhnya berwarna hijau, jalannya sangat lambat, dan tentunya memiliki bulu-bulu halus di seluruh permukaan kulitnya. Di taman bunga, ulat memakan dedaunan yang berasal dari bunga-bunga cantik di taman itu. Hingga pada suatu hari terdengarlah perbincangan antara bunga yang satu dengan bunga yang lain.
“Bagaimana ini, ulat bulu yang gendut itu memakan daun kita terus-menerus,” kata bunga berwarna kuning.
“Daun kita menjadi berlubang-lubang gara-gara dimakan ulat jelek itu,” kata bunga berwarna oranye melanjutkan.
“Bagaimana kalau kita musuhi saja ulat gendut itu? Biar daun-daun kita tidak dimakan lagi,” usul bunga berwarna merah muda.

02 Agustus 2010

Lika-Liku “Garam”

Garam (garam dapur dan garam makan) di Jawa kebanyakan diproduksi di daerah pesisir pantai utara Jawa. Garam merupakan senyawa kristalin NaCl yang merupakan klorida dan sodium, dapat larut dalam air, dan asin rasanya. Dalam pengertian kimia, garam adalah hasil reaksi asam dengan basa, yaitu satu atau lebih atom hidrogen pada asam diganti oleh satu atau lebih kation suatu basa.

menggaruk garam kristal
Di daerah Pati, khusunya Juwana di desa Agung Mulyo, banyak terdapat petani garam tradisional. Hal ini dikarenakan daerahnya yang dekat dengan laut (fungsinya untuk mempermudah suplai air laut dan pembuangannya), tanahnya yang landai, merupakan tanah liat sehingga daya retaknya rendah. Biasanya tanah yang dipergunakan untuk lahan pembuatan garam kristal (koen) merupakan bekas lahan tambak. Ketika musim kemarau, lahan tambak yang banyak airnya itu dikeringkan. Lahan yang sudah kering tersebut kemudian diratakan sehingga merata. Lahan yang permukaannya rata itu kemudian diberi air laut hingga lebih kurang 8 cm. Setiap 10—15 hari, garam yang telah mengkristal di atas lahan padat tersebut dipungut dengan menggunakan garuk khusus garam.

01 Agustus 2010

Hasrat Imajiner

“Selamat pagi!” katanya.
“Selamat pagi, duniaku,” jawabku sambil menggeliatkan badan yang masih menempel di tempat tidur. Aku usap-usap dia yang senantiasa menemaniku. Pagi yang cerah kurasa, dan aku telah siap untuk menjalani aktivitas hari ini.

Seperti biasa, rutinitas pagi hari yang aku kerjakan hanyalah mandi, sarapan, dan kerja. Aku masih lajang. Meskipun usiaku menginjak kepala tiga, akan tetapi aku bahagia dengan hidupku yang seperti ini. Mungkin Tuhan belum mempertemukan aku dengan patahan tulang rusukku. Suatu saat, aku yakin, aku pasti akan menemukannya.