25 Agustus 2010

SAKSI NYATA

Saya masih tetap berjalan meskipun mendung senantiasa menenggelamkan angan yang melambung. Saya masih tetap bermimpi meskipun hanya menjadi sebuah bualan orang-orang syirik yang tak berhati. Ya, saya akan tetap bertahan meskipun masih bisa mendengar teriakan manja kucing jalang sialan. Kucing jalang yang telah membawa saya ke alam fana, yang telah memberi saya kehidupan yang tak pernah terduga.
“Mas, ini bagaimana? Kamu harus tanggung jawab,” katanya memaksa. Si Mas yang diajak bicara hanya tertegun dan selang kemudian ia berucap, “ini ada nomor telepon. Kamu bisa menghubunginya, dan pasti ditanggung beres.” Si Mas terlihat santai dengan sarannya itu. “Ah, sudah biasa dia!” cerocos saya, yang tak pernah di dengarnya. Ia yang juga saya ketahui telah beberapa kali mengalami hal itu, langsung meminta nomor telepon berserta uang. “Yang ini juga sudah biasa,” kata saya kepadanya, dan juga tak akan pernah terdengar olehnya.

Seorang perempuan berjalan menyusuri koridor bercat putih. Kebanyakan orang yang di sana juga berpakaian putih. “Pasti hatinya bersih,” celoteh saya, senang. Perempuan itu telah terduduk dalam kasur putih juga bersama dengan seorang laki-laki yang ternyata dipanggilnya dokter. “Bagaimana dok, bisa secepatnya?” kata perempuan itu. Laki-laki itu kembali memeriksa perut perempuan itu. “Geli,” kata saya tetapi mereka tidak mendengarnya. “Ini tiga bulan ya? Sekarang juga bisa. Segera saya suruh perawat menyiapkan alat-alatnya,” ceramah dokter itu. Perempuan yang datang bersama saya senang sekali, dan tak berapa lama perawat yang ternyata adalah orang-orang yang juga berpakaian putih telah berada dalam satu ruangan bersama saya, si perempuan, dan dokter.

Saya hanya pasrah. Itu adalah kali pertama saya melihat bagaimana dokter itu mengobrak-abrik kediaman saya. Saya tak bisa melakukan apa-apa. Saya dipaksanya keluar dari kediaman saya. Saya diam dan kaget. Ingin saya menangis, ingin saya berteriak minta tolong kepada perempuan yang datang bersama saya dan kepada suster. Namun mereka semua malah tertawa melihat saya akhirnya bisa keluar dari kediaman saya. Dan hidup saya berakhir di situ. Tetapi saya tidak menyerah, seperti pepatah: mati satu tumbuh seribu, saya mengalaminya.

Saya belajar dari pengalaman. Saya sudah terbiasa dengan keadaan saya. Terkadang saya memang tidak diinginkan. Saya kenal dengan perempuan-perempuan itu. Saya tahu berapa kali dia telah mengobrak-abrik kediaman saya. Mencemooh saya. Menelantarkan saya. Saya tahu mereka telah bersama dengan siapa saja. Munafik! Oh, maaf. Bukan, bukan hanya dia yang munafik. Laki-laki itu juga munafik. Semua orang yang telah menjahati saya adalah orang munafik. Bagaimana tidak? Di awal, dengan janji-janji manis yang melenakan hasrat telah diikrarkannya janji mereka. Ikrar suci dalam suatu hubungan sakral. Maka, hadirlah saya di antara mereka. Apakah saya salah? Saya tidak pernah merasa salah. Justru, harusnya mereka berterima kasih kepada saya karena ada saya yang telah menjadi saksi dari perjanjian itu. Hah! Dasar perempuan dan laki-laki tak berakal!

Itu khusus untuk perempuan dan laki-laki tak berakal. Saya sempat pernah terharu dengan suatu kejadian. Saya telah hadir menjadi saksi dari perjanjian sakral seorang perempuan dan laki-laki baik. Sekali ini, saya akan merasa salah, betul. Perempuan itu telah lama merawat saya, hampir sembilan bulan lamanya. Laki-laki itu juga telah menjaga saya lewat perempuan itu. Saya pun akhirnya benar-benar menjadi saksi nyata. Tapi apalah kemampuan saya untuk melawan takdir yang telah digariskan. Perempuan yang telah menjaga saya dalam kediaman, meninggal saat menghadirkan saya menjadi saksi nyata. Perempuan itu meninggal gara-gara kediaman saya yang tak cukup kuat.

Ah, saya merasa bersalah dengan keteledoran saya. Saya sungguh bersalah karena tak bisa menghadirkan lagi saya-saya yang lain dari kediaman saya karena perempuan itu telah meninggal. Harusnya, biar saya saja yang meninggal. Jika dokter mementingkan perempuan itu, dan saya yang meninggal, pasti tetap akan ada saya-saya yang lain. Tidak seperti ini. Saya hanya menjadi saksi nyata yang tak berarti apa-apa tanpa hadirnya perempuan itu. Ah, sudahlah. Tuhan pasti tahu yang terbaik buat saya.

“Mas, aku sudah selesai. Bisa jemput sekarang?” katanya setelah mengobrak-abrik kediaman saya. Di seberang telepon sana, saya mendengar Si Mas mengiyakan permintaannya. Tak lama ia pun dijemput. “Bagaimana tadi?” tanya si mas. “Betul yang kamu bilang Mas, hanya sakit sedikit dan prosesnya cepat. Rahasia juga pasti terjamin,” jawabnya disertai senyum kecil manja. Saya yang telah raib dari kediaman saya, masih tetap membuntutinya. Saya akan tetap berusaha untuk menjadi saksi hubungan mereka. Itu tugas saya. Kewajiban saya. Saya harus melaksanakannya walaupun baginya saya adalah ancaman. Akan tetapi, hal itu tidak mengurungkan niat saya untuk selalu menjalankan kewajiban.

Saya akan terus berjalan. Menatap awan dalam kedamaian. Menjelajah manusia, mengarung rimba. Saya diam bukan bisu. Tapi memang begitulah jalan saya. Tetap ada, diinginkan atau tidak.


*prolognya sama dengan Anak setan :D

Tidak ada komentar: