01 Agustus 2010

Hasrat Imajiner

“Selamat pagi!” katanya.
“Selamat pagi, duniaku,” jawabku sambil menggeliatkan badan yang masih menempel di tempat tidur. Aku usap-usap dia yang senantiasa menemaniku. Pagi yang cerah kurasa, dan aku telah siap untuk menjalani aktivitas hari ini.

Seperti biasa, rutinitas pagi hari yang aku kerjakan hanyalah mandi, sarapan, dan kerja. Aku masih lajang. Meskipun usiaku menginjak kepala tiga, akan tetapi aku bahagia dengan hidupku yang seperti ini. Mungkin Tuhan belum mempertemukan aku dengan patahan tulang rusukku. Suatu saat, aku yakin, aku pasti akan menemukannya.



“Waktunya kerja,” katanya, mengingatkan aku.
“Iya sayang, ini mau berangkat,” kataku seraya mencium dan memeluknya.

Aku bekerja di sebuah perusahaan swasta, duduk dengan jabatan sebagai desain grafis elektronik. Aku sangat bersyukur. Lulus kuliah gelar D3 teknik mesin, UGM, aku mendaftar kerja menjadi penjaga warnet, dan diterima. Dari situ, aku belajar mendesain grafis dan mempromosikannya ke dalam bentuk blog. Dengan hanya duduk sebagai operator warnet, tidak terasa aliran dana telah mengucur ke ATM-ku. Aliran dana dari desain grafis yang aku jual di blog. Tidak banyak yang tahu tentang hal ini. Aku masih tetap menekuni kerjaku sebagai operator warnet.

Sedikit demi sedikit aku kumpulkan dana yang mengucur itu untuk membantu orang tuaku di desa yang dulu mati-matian menguliahkan aku. Dari dana itu juga, telah kukontrak sebuah rumah mungil di Jogjakarta dengan fasilitas rumah: dua kamar, satu toilet, dapur, ruang tamu, dan garasi yang cukup untuk satu mobil. Akan tetapi bukan mobil yang telah bertengger di garasi itu, melainkan sepeda motor yang aku beli dengan hasil kerja kerasku sendiri.

Di rumah kontrakan itu hanya ada aku. Sepi, itu yang aku rasakan. Tetapi kesepian itu hanya sejenak. Sayup-sayup, menjelang senja, aku dengarkan alunan kucing kecil di samping kontrakan. Aku mencari asal suara tersebut, dan aku temukan dia tergolek tidak berdaya dengan kedua kelopak mata yang tertutup kotoran. Aku iba melihatnya. Dengan segera, aku keluarkan sepeda motorku dan kulajukan ke tempat praktik dokter hewan. “Semoga masih tertolong,” pikirku.

Sesampainya di tempat praktik dokter, dia diperiksa, kemudian diinfus. Dia masih terdiam menangis dalam hembusan hangat nafasnya. “Malangnya nasibmu. Tuhan, tolong sembuhkan dia,” doaku kepada-Nya.

“Dia harus dirawat secara intens. Penyakitnya sudah terlalu parah. Berdoa saja, semoga masih tertolong,” kata dokter kepadaku.
“Iya, terima kasih Dok. Tolong rawat dia dengan baik,” jawabku.

Aku meninggalkannya dalam detakan jantung yang lambat. Aku kembali ke kontrakan, dan bersiap-siap pergi ke warnet untuk kerja. Dalam perjalanan itu pikiranku masih terpaku akan dia. Aku berdoa, “semoga dia cepat sembuh, amin. Aku janji, aku akan merawatnya.”

Usiaku pada saat itu 23 tahun, tetapi belum tebersit sama sekali untuk mencari pasangan hidup. Aku ingin membalas dan membantu orang tuaku terlebih dahulu. Aku ingin membahagiakan mereka. Aku ingin membuktikan bahwa kerja kerasnya dulu untuk membiayai kuliahku tidak sia-sia.

Alih-alih kerja, aku terpikirkan sesuatu. Sesuatu alat yang mungkin bisa aku ciptakan, dan kelak akan menjadi berguna. Akhirnya, aku mencoba mereka-reka dan merancangnya. Sebagai bahan tambahan insiprasi, aku mencoba menelusuri pencarian data di Google dan Yahoo.

Keesokan paginya aku menjenguk dia. Kata dokter, dia sudah baikan dan sudah boleh dibawa pulang. Aku sangat berterima kasih kepada dokter yang telah merawatnya dengan sangat baik itu. “Jangan lupa untuk selalu merawatnya, dia masih lemah,” anjuran dokter, mengingatkan aku. Aku bawa lagi dia ke kontrakanku, dan kurawat dia dengan sepenuh hati. Dia tahu, aku sangat menyayanginya.

Aku menamainya Leri. Dia pintar, lincah, penurut, dan sangat menggemaskan tentunya. Dia sudah sembuh. Dia senang sekali bermain denganku. Bersamanya, sepi di kontrakan seakan lenyap tergantikan oleh gegap gempita. Hasratku untuk meninggalkan kontrakan secepat mungkin juga sudah lenyap, karena aku punya pendamping baru di rumah, yaitu Leri.

Dengannya, ide-ide yang tidak mungkin bisa dibuat selalu muncul begitu saja dalam benakku. Tidak lama ini, telah aku desain rancangan program khusus untuk Leri yang selalu menginspirasiku. Di warnet, di kontrakan, selalu kucari pemecahan agar rancangan program untuk Leri terpecahkan.

Suatu ketika, dan hal itu masih kuingat sampai sekarang, aku mengajak teman perempuanku ke kontrakan. Ingat, hanya teman. Leri yang biasanya selalu menyambutku setiap aku pulang, ketika itu tak muncul dan menghilang entah kemana. Sebenarnya, teman perempuanku itu adalah dokter hewan. Aku mengajaknya agar bertemu Leri dan memeriksa keadaannya. Tetapi setelah kucari dia, tak kutemukan keberadaannya. Aku sangat terkejut. Aku mencarinya ke tempat kontrakan sebelah juga tidak ada. Akhirnya, temanku mohon diri. Aku sangat kecewa tentunya, kepada Leri.

Aku terduduk lemas di teras kontrakan. “Dimana kamu, Leri?” rintihku di sela-sela hembusan nafasku yang sudah tak teratur. Tiba-tiba, tanpa kusadari, dia menyongsongku dari arah belakang, melompat ke pangkuanku. Aku tak mengerti semua yang terjadi hari ini. Hal ini yang selalu menginspirasi aku untuk memahami kemauan Leri.

Aku memeluk dan mengusap dia dengan manja.
“Kamu kemana aja? Tadi ada temanku dari kedokteran hewan ingin menjenguk kamu,” mengajaknya berdialog.
“Meong…,” katanya.
Hanya itu yang bisa dia lakukan. Aku tidak pernah mengerti, tetapi akan kucoba untuk memahaminya.

Genap dua tahun, aku mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai operator warnet. Aku sudah mampu menghidupi diriku dan orang tuaku dengan usaha desain yang aku kembangkan lewat blog. Aku sudah mampu sendiri mengoperasikan internet di kontrakanku. Dan sekarang aku ingin mencurahkan seluruh pikiranku kepada program yang ingin segera aku rampungkan. Program untuk Leri.

Selama dua setengah tahun aku memeras otak untuk menjalankan program tersebut. Gagal, gagal, dan gagal. Hampir saja aku ingin menyerah dan membuang semua keinginan-keinginan dan hasrat yang aku curahkan untuk Leri. Untungnya, keadaan berubah. Leri semakin menjadi-jadi. Entahlah, dia bunting. Aku tidak mengerti, tetapi kutemukan perut Leri memang membesar. Dan beberapa bulan kemudian, dia melahirkan dua ekor anak kembar. Hanya berbeda corak warna pada kakinya. Aku namai mereka Bino dan Boni. Mungkin itu lebih keren jika dibandingkan dengan namaku, Suprapto.

Bino dan Boni sangat lucu, tidak kalah dengan ibunya, Leri. Semangatku mencuat kembali. Lebih dari yang aku duga, ternyata programku telah mendapat respon dari beberapa temanku. Mereka mengusulkan agar penelitian program tersebut dibuatkan proposal dan diajukan ke perusahaan elektronik. Meskipun program itu belum selesai, tetapi hal itu akhirnya aku lakukan.

Diterima.
Proposalku diterima di sebuah perusahaan swasta tempatku kerja sekarang ini. Penelitianku untuk program tersebut mendapat dana dari perusahaan tersebut. Setelah dua tahun aku bekerja disitu dan mendapat bantuan tenaga-tenaga ahli yang siap membantu, akhirnya penelitian program tersebut berhasil. Leri menjadi uji coba pertama kali. Mataku berkaca-kaca. Berhasil. Aku telah berhasil memahami pikiran-pikiran Leri. Aku telah berhasil mengaudiokan hal yang ingin diungkapkan oleh Leri. Bukan hanya Leri, tetapi semua kucing yang ingin dipahami oleh yang empunya.
“Leri, Bino, Boni, terima kasih atas dukungan kalian selama ini kepadaku,” ungkapku.
“Sama-sama,” ucap audio Leri kepadaku.

Aku menangis, mengucapkan syukur kepada Tuhan. “Semua makhluk ciptaan-Mu tidak ada yang tidak berguna,” kataku dalam hati.

Tidak ada komentar: