10 Mei 2018

Perpanjang Kartu SIM di Pelayanan SIM Keliling

Lalu lintas makin padat merayap seiring dengan banyaknya penduduk yang lebih memilih menggunakan kendaraan bermotor roda 2 ketimbang roda 4. Kenapa? Tentu saja lebih hemat waktu ya, karena bisa ngepot sana-ngepot sini. Salip sana-salip sini. Hihi.

Demi kenyamanan dan keamanan dalam berkendara itulah Satlantas mewajibkan setiap pengendara kendaraan bermotor memiliki SIM (Surat Izin Menikah Mengemudi). Tak terkecuali saya yang cuma pembalap motor, yang kecepatannya tidak lebih cepat dari laju odong-odong.

Tapi bukan yang pertama kalinya untuk saya tentu saja, kemarin saya memperpanjang kartu SIM saya sebelum masanya habis. Dulu, 5 tahun yang lalu sudah pernah perpanjangan SIM di polres. Tapi itu dulu, sekarang mah semua serba cepat dan efisien. Tidak perlu lagi jauh-jauh ke Polres Pati. Karena sekarang (sudah beberapa tahun yang lalu sih sebenarnya) telah berkeliling mobil pelayanan perpanjang SIM dan STNK keliling.

Untuk Kecamatan Juwana, kebagian hari Selasa. Biasanya hari Senin sudah dibuka pendaftaran di bangunan tengah Alun-alun Juwana (masuk saja) waktu pagi hari.

Untuk pendaftaran perpanjang SIM, kemarin saya membayar 150rb rupiah. Syaratnya hanya membawa 1 fotokopi KTP dan 1 fotokopi SIM. Sesudah membayar dengan menyertakan fotokopi ktp dan sim sim tersebut, Anda akan diberikan no antrian untuk digunakan pada hari Selasa ketika pengambilan berkas di lokasi tersebut.

Di hari Selasanya, saya kembali lagi ke alun-alun Juwana, memberikan no antrian, dan kemudian dicarikan berkasnya sesuai no antrian saya. Bapak tersebut memberikan map berisi berkas formulis yang sudah diisi, fotokopi KTP dan SIM, serta uang 100rb rupiah yang distaples jadi 1 di map tersebut.

Kemudian saya meluncur ke Kantor Kecamatan Juwana. Di situ sudah ada mobil pelayanan SIM dan STNK keliling. Di situ Anda harus memberikan berkas tersebut dan SIM lama yang akan diganti dengan yang baru. Selepas memberikan berkas tersebut, saya menunggu panggilan untuk foto, cek sidik jempol, dan tanda tangan. Taraaaa... Nunggu diprint tidak ada 10 menit, sudah jadi.


Yay!

Oh iya, untuk sim dan STNk keliling ini hanya melayani perpanjangan sim dan pembayaran pajak stnk. Jadi tidak bisa untuk pembuatan SIM baru atau tidak untuk pembayaran stnk 5 tahunan untuk penggantian plat no.pol.

Hihi, terimakasih ya sudah dibaca. Semoga informasi ini bermanfaat khususnya untuk yang masa aktif SIMnya mau habis. Jangan tunggu sampai habis jika tidak mau mengulang dan membuat SIM baru.

15 April 2018

Curhat Kisah POTRET

Hai, maaf ya telat posting. Ini sudah hari Minggu. Hehe.

Mau cerita apa ya... Hmm... Rencananya sih mau ngelanjutin cerita potret, tapi gagal total. Karena saya gak sanggup. Ternyata menerima tantangan dari orang lain itu berat, kamu gak akan kuat #terDilan.

Kenapa berat?

Pertama,
Topik spontan dan ternyata bukan passion saya. Kembali ke tahun 1930 itu bukan perkara mudah. Gak bisa asal njeplak membuat cerita rekaan karena musti tahu latar belakang sosial-budaya yang terjadi di masyarakat pada waktu itu.

Kedua,
Meskipun sudah dapat gambaran kembali ke tahun 1930, tapi untuk menyatukannya dengan tahun ini ternyata lebih rumit dari yang saya kira #ngeles.

Ketiga,
Hal yang paling rumit dari sebuah cerita adalah menyelesaikannya. Iya, menyelesaikan cerita. Dan, cerita potret belum kelar. Dan, ceritanya kacau mau dibawa ke mana. Dan, ah, sudahlah.

Mungkin ada baiknya saya nulis yang mudah-mudah dulu. Yang gak terlalu berat alurnya. Yang gak berat juga topiknya #salahsendiri. Lha yang mudah ya ini, curhat haha.

Biarlah blog ini isinya cuma curhatan tok, yang penting hati saya plong 😀

Lalu apa kabar cerita potret?

Nanti lah ya, kalau mood lagi bagus dilanjutin lagi hehehe

06 April 2018

Potret (Judul Sementara)

Selamat hari Jumat.

Sebenarnya Jumat ini rencana mau review novelnya Permaisuri Dee Lestari yang terbaru Aroma Karsa. Tapi nihh, berhubung saya lagi dapat challenge dari temen gila saya, akhirnya saya terimalah tantangannya.

Paragraf ini dia yang bikin:
"Seorang pria terkejut saat bangun dari tidur, dan berada ditahun 1930, sementara orang2 yang dikenalnya memakai pakaian jaman dulu, padahal pria ini memakai pakaian jaman sekarang dan membawa smartphone. Apa yang terjadi sehingga pria ini terkapar di Rumah Sakit Belanda saat itu? Apa yang terjadi dengan semua orang?"

Challenge-nya, saya disuruh ngembangin ntu paragraf.

Dan, voila! Silakan dibaca 😁

<<<<<<<<<Chek this out >>>>>>>>>>

Seorang pria terkejut ketika mendapati dirinya terlentang di tempat tidur Rumah Sakit dengan keadaan pakaian lengkap yang masih ia kenakan ketika di kantor tempat ia bekerja hari itu. Ia mendongak ke luar ruangan yang ternyata ada banyak orang lalu lalang dengan memakai baju yang lain dari yang biasanya ia lihat. Ia mengerut pelipisnya yang pening. Masih setengah tersadar, seorang suster menghampiri kasurnya dan mengecek komputer yang ada di sebelahnya. Beberapa kabel tertempel di dadanya. Suster tersebut tak memedulikan reaksi dan tatapan pria yang ada di sampingnya itu. Seakan pria itu tertidur lelap.

Dalam kebingungan yang belum ada jawabnya, seorang pria lain yang ia kira dokter datang menghampiri suster tersebut. Ia mengenakan setelan dan jas serba putih.

"Bagaimana keadaannya, Sus? Sudah ada kemajuan?" tanya dokter itu yang dikenali sebagai Dokter Herman lewat papan nama yang tersemat di bajunya.

Suster mengecek data yang ia bawa sekali lagi,  "seharusnya sudah bisa siuman, Dok, karena semua kondisi sudah bagus!"

Pria itu tercekat. "Sus, ini saya sudah siuman masak dibilang belum siuman? Ngajak bercanda suster ini."

Suster dan dokter Herman tidak mengindahkan perkataan pria tersebut.

"Dok, ini saya sudah siuman Dok! Suster, saya sudah siuman! Sussster, lihat ke sini, Sus! Keterlaluan!" rutuk pria tersebut dan kemudian bangun untuk menarik tangan suster. Tak disangka, ia tak bisa menyentuh tangan suster. Tembus. Kepalanya semakin pening.

___

"Ren, hari ini kita shoot terakhir pukul 3 sore ya?" ujar Fatih, manager Rendra. "Kita akan shoot di ruangan terakhir di Villa ini yang paling eksotis. Lain dari pada yang lain," lanjutnya.

Rendra masih sibuk dengan smartphone di genggamannya ketika Fatih dengan semangat membara menceritakan villa yang kini menjadi tempat kerjanya.

"Lain daripada yang lain gimana sih? Perasaan juga sama saja, angker begini bentuknya," rutuk Rendra, bergidik.

Fatih semakin memasang raut wajah tegang, "kata pemilik terakhir Villa ini, ruangan itu dulu adalah ruangan yang dipakai untuk meditasi." Tutur Fatih lirih dan dramatis dengan menambahkan tekanan di kata meditasi.

Rendra melengos.

___

Pria itu akhirnya bangkit. Ia berdiri memunggungi tempat tidur. Ada yang tertinggal di sana. Ya, ada yang tertinggal. Dan ia merutuki dirinya sendiri kenapa hal yang paling tidak masuk akal ini terjadi padanya. Dengan sisa pening yang mereda, ia berupaya membalik badannya, memastikan bahwa yang ada di atas tempat tidur itu adalah guling.

Pria itu menarik napas panjang, kemudian membuangnya kembali.

"Baik, aku siap!"

Ia membalik langkah kakinya pelan-pelan. Mengatupkan kedua matanya.

"Jika memang ini mimpi, semoga mimpi ini segera berakhir. Jika ini kenyataan, hah, sialah aku!" rutuknya.

Setelah berbalik, ia membuka kedua matanya perlahan. Menyiapkan segenap hatinya untuk menerima kenyataan yang akan ia ingat seumur hidup.

Senyap.

Pria itu melihat seseorang yang mirip dengannya tengah berbaring tak sadarkan diri. Ia memakai baju kemeja lengan panjang dengan sedikit kerut di pergelangan tangan. Kancing baju yang terbuka karena beberapa kabel yang tertempel di dadanya. Celana panjangnya juga berwarna putih. Semua putih, selaras dengan warna kulitnya.

"Ini ... Aku?"

Belum genap ia tamatkan rasa penasaran yang membuncah oleh sebab dan harap akan penjelasan entah dari siapapun, tiba-tiba seorang perempuan datang dengan mengendap-endap.

___

Rendra memasuki ruangan itu dengan takzim. Ia berkeliling ruangan yang penuh dengan lukisan taman, villa yang sekarang ia tempati, dan beberapa foto keluarga serba hitam putih. Ia mengamati salah satu foto. Seperti foto keluarga. Ada seorang Pria berjenggot yang berdiri dengan seorang putri di depannya, lalu di sampingnya duduk seorang wanita dan memangku seorang putra. Ia menemukan angka di sudut foto, dekat dengan garis figura "June 1930". "Wow, ini sudah lama sekali," pikir Rendra.

Fatih masih tampak sibuk duduk bersilandengan memangku leptop. Jemarinya sibuk menggeser tetikus, memindahkan foto yang menurutnya layak jual dan tidak.

Sang fotografer, Dito, masih sibuk membenahi area kerjanya. Sesekali mengecek lampu dan kamera. Sesekali Yasmin terlihat membantu Dito, sebelum akhirnya mendekati Rendra.

"Asyik sekali sepertinya," sapa Yasmin ke arah Rendra.

Rendra memalingkan wajahnya ke arah Yasmin. "Eh, iya. Ini, fotonya. Tertulis di sini tahun 1930. Sudah lama sekali bukan?" tanya Rendra kepada Yasmin, yang sesungguhnya cocok disebut sebagai pernyataan.

Yasmin hanya tersenyum. Ia tahu itu, lebih dari yang Rendra dan timnya ketahui.

____

Perempuan itu terlihat sangat memesona. Kulitnya tampak putih, dengan wajah yang merona merah. Ia memakai terusan, ah gaun tepatnya dengan ikatan longtorso dari dada hingga pinggang. Membuatnya tampak ramping dan menyembulkan sedikit dadanya yang membusung.

"Habis main opera di mana perempuan ini?" pria itu tak habis pikir. Ia tahu, perempuan itu tak akan bisa melihat dirinya.

Perempuan itu menuju tempat tidur. Menatap pria yang tengah tak sadarkan diri itu.

"Leon, ini aku Patricia. Kamu masih di sana?"

Perempuan yang bernama Patricia itu tampak gelisah. Ia mendekatkan wajahnya ke kening pria yang ternyata bernama Leon itu kemudian mendaratkan bibir yang merah meski tanpa polesan lipstik.

"Besok aku akan ke sini lagi. Maafkan jika aku hanya bisa sebentar ke sini. Ayah melarangku untuk menjengukmu."

Wajah itu muram. Pelan, ia longgarkan jemari tangan Leon yang terpaut, yang sejak kedatangannya tadi ia raih untuk digenggam.

Pria yang masih tak terlihat itu tertegun. "Leon, siapa kamu? Kenapa kamu bisa mirip denganku? Siapa itu Patricia? Kenapa aku di sini?" Ia menjambaki rambutnya sendiri. Serasa kepalanya tak sanggup menopang banyaknya pertanyaan.

___

"Oke Rendra, semuanya sudah siaap!" seru Fatih.

Yasmin masih memuas bedak dan beberapa polesan lipbalm untuk Rendra ketika Fatih memanggilnya. Yasmin hanya mengacungkan jempol tanda siap kepada Fatih.

Selesai meletakkannya semua peralatan make-upnya, Yasmin memandang Rendra, mengukir hasil kerja kerasnya selama ini. Rendra tersenyum.

"Jangan lama-lama liatinnya, nanti kamu suka lagi sama saya," goda Rendra.

Yasmin hanya membalas dengan senyum kecil. Hingga kemudian mengulum senyum itu cepat, "Rendra, kamu harus siap dannn ... berhati-hatilah."

Lirih ia mengucapkan kata "berhati-hati", seakan tak rela jika kata itu terdengar oleh Rendra. Rendra tak menjawab, hanya membulatkan ibu jari dan telunjuknya, memperlihatkan kesiapannya.

"Ini bukan sekedar pemotretan Rendra. Ada seseorang yang membutuhkan pertolonganmu. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa karena bukan aku yang bisa, tapi kamu."

Dito sudah siap di belakang lensa kameranya, "yok, Rendra di posisi!"

Rendra mulai mengambil posisi di tengah ruangan. Ruangan itu memang lengang. Tak ada kursi dan meja. Hanya lemari kuno yang sempat tadi Rendra mau buka ternyata dikunci, dan pajangan dinding termasuk foto yang ia amati tadi.

"Rendra, saya mau kamu bersila di sana dengan kedua tanganmu bertemu dan taruh di depan dada," perintah Dito sambil memeragakan apa yang diintruksikan olehnya.

Rendra mulai bersila, mempertemukan kedua telapak tangannya dan menaruhnya di depan dada.

"Merem, Ren," lanjut Dito memberikan intruksi. "Oke ... Sempurna! Satuu, duaa, tiigaa ...!"

Cahaya berkilat, dan semuanya gelap bagi Rendra.

___

Dan kisah ini dibikin BERSAMBUNG karena waktunya gak nyandak kurang lama.

Oh iya, judulnya sementara dulu ya. Soalnya masih belum jelas ini kisahnya mau dibawaaa ke mana hahaha.

Kalau ada kripik pedas alias masukan, boleh loh dikomentarin. Biar ada secercah harapan mau dibawa ke mana ini arah ceritanya. Hehehe

30 Maret 2018

Ketika Bayi Besuk Pasien


Beberapa hari yang lalu, saya dan keluarga menengok tetangga (perempuan, janda, usia 24 th -an) di rumah sakit. Yang sakit anaknya, usia 6 tahunan. Bapaknya sudah tiada meninggalkan anak pertama putri (yang sedang sakit) dan kedua putra.

Kasihan, tentu saja. Dan yang lebih membuat hati siapapun tak akan tega melihatnya, putri tersebut berbeda dengan anak seusianya. Dia berjalan ketika dipapah, bicara seperlunya, sorot mata yang tidak fokus ke lawan bicara, badannya kurus, dan kadang ada liur yang masih menetes dari ujung mulutnya. Iba, pasti :(

Ketika kemarin kami menjenguk, putri (bukan namanya) sudah dipindahkan ke ruang rawat. Mulanya di ruang ICU selama 3 hari karena harus mendapatkan perawatan intensif.

Pembiayaan perawatan Putri sepenuhnya ditanggung oleh BPJS. Ia di rawat di ruangan dengan 3 tiga springbad yang berlapis tirai, kemudian disekat lagi dengan dinding yang berongga sekitar 1,5 meter lebarnya kemudian ada ruangan lagi dengan 3 springbad, sama. Ruangan yg sebelah kiri tadi hanya putri yang menghuni dan ruangan lain yang bersekat itu juga di isi satu pasien, bayi kalau tidak salah karena waktu kami masuk mendekati springbad Putri, pasien bayi tersebut sedang menangis.

Tapi bukan perkara soal ini yang seharusnya saya ceritakan. Saya menjenguk putri dengan mengajak kedua anak saya. Mas ken dan shanum. Shanum saya gendong waktu itu. Ketika di dalam, ibu dari pasien bayi yang di sebelah tadi berjalan ke arah tempat sampah di dekat saya karena mau membuang sampah tentunya dan berujar, "aduhh, bayinya kasihan mba, kok diajak njenguk pasien."

Pelan, menggetarkan, sekaligus menohok.

Iya, saya tahu mba. Memang tidak patut sebenarnya kalau menjenguk pasien di rumah sakit mengajak bayi. Tapi niat saya InsyaAllah baik :( maafkan ibu, nak.

Yasudalah, mungkin ada baiknya, ya, barangkali saya bisa menjenguknya ketika sudah tiba di rumah (padahal nyawa manusia hanya Tuhan Yang Tahu) atau barangkali bisa dititipkan saja.

Ya, itu mungkin lebih baik.

Hidup mati Tuhan yang menentukan. Kami hanya berusaha berbuat baik untuk orang lain. Semoga direstui, amin...

23 Maret 2018

Mas Ken (Daftar) TK


Tgl 14 Maret kemarin mas ken daftar sekolah. Iya, sekolah. Kau sangat bahagia Nak. Menikmati setiap jalan dan ruang yang kita lewati. Bungah dan sumringah engkau tunjukkan lewat senyum paling merekah. Ahh, ibukmu ini  terlalu melow untuk melepasmu ternyata Nak. Baru pendaftaran saja ibukmu ini sudah  gelisah.

Kamu bertanya banyak hal yang membuat ibu sampai bingung karena di antara pertanyaan yang kau ajukan, ibuk sedang mengisi lembar demi lembar formulir pendaftaran. Bukan hanya selembar dua lembar, nomor halamannya hingga no.12 dan itu rangkap 2--karena mas ken daftar TK A dan sekalian dititipkan.

Ternyata mau masuk sekolah TK saja pertanyaannya selengkap itu sekarang. Beda dengan yang dulu waktu saya masuk TK, paling cuma bawa akta dan KK sudah selesai. Gak pakai tanya-tanya soal lingkungan tempat tinggal atau kapan kamu mulai bisa berinteraksi dengan dunia yang fana ini?

Mas ken akan genap 4 tahun, tanggal 2, bulan depan. Sudah pantes kan ya kalau masuk TK kecil. Badannya memang bongsor. Berat badannya 25 kg -_- gak papa ya Nak, yang penting kau segar dan aktif.

Oke, untuk berhitung dan bernyanyi huruf Hijaiyah kamu sudah bisa. Tinggal warna saja Nak. Iya... Warna. Ibuk sampai gemes kalau tebak-tebakan warna sama kamu.


Ah, sudahlah Nak. Ibuk yakin nanti engkau bisa menyebutkan warna dengan baik dan benar.

Nak, sudah siap kah kau untuk bersekolah?

Sepertinya ibuk masih setengah hati melepasmu, Nak.

15 Maret 2018

Kebetulan Atawa ....

Baru-baru ini, saya kontakan WhatsApp sama temen-temen SMA dulu. Bukan, bukan temen, lebih ke sahabat sebetulnya.
Akhirnya, saya menemukan mereka di jejaring Facebook--selama ini kami kehilangan kontak. Sungguh Mark, terima kasih kamu sudah menciptakan Facebook.

Setelah 10 tahun, saya akhirnya bisa bertemu (di facebook) dengan sahabat SMA saya. Sebenarnya sudah lama saya mencarinya di search engine-nya google, dan akhirnya ketemu di Facebook. Setelah saling meng-inbox, kami saling bertukar nomor WhatsApp.

Setelah ngobrol, bertukar informasi dan sebagainya, ia pun bertanya salah satu sahabat terbaik kami juga. Syukur saya sudah punya kontak WA nya, grup pun akhirnya saya buat.

trio wek wek

Begitulah nama grupnya. Karena kami bersahabat bertiga, 3 tahun di SMA dan tak pernah sekelas. Entah ya, saya lupa gimana caranya kita dulu pernah kenal 😁😁 entar deh, saya tanyakan ke grup hahaha.

Dari triok wek wek ini rasanya saya terlempar ke masa lalu yang lain. Ketika saya masih bau kencur, ketika saya SD, SMP, SMA, dan kuliah. Ternyata banyak sekali trio yang sudah saya jalin. Kebetulankah?

Nama Saya, Tri Susanti. Anak ketiga dari empat bersaudara. Almarhum simbah kakung pernah bercerita kalau Tri itu artinya tiga, dan Susanti itu bareng-bareng. Jadi lengkapnya tiga orang barengan--dulu niatnya gak bakalan mau punya anak lagi, eh nongol si adek.

Tiga orang barengan, begitulah kebetulannya.

Dari masih bau kencur, saya mainnya sama temen depan rumah dan anak dari karyawannya simbah--sudah almarhumah saat SD.

Waktu SD trio wek wek sama si cerewet dan si rambut keriting--kayak eike.



Waktu SMP, masih bertahan sama trio wek wek ketika SD karena sering pulang-pergi sekolah barengan.

Waktu SMA trio wek wek SD/SMP masih berlanjut hahaha karena kebetulan memang satu sekolah terus.

Selain itu juga ngegrup sama si cerewet yang aslinya Jawa Timur dan si diam-diam menghanyutkan.

Selain itu juga ngegrup sama kecil-kecil cabe rawit dan si melankolis abis.

Waktu kuliah ngegrup sama kecil-kecil cabe rawit dan si melankolis abis. Di samping itu juga ngegrup sama si modis yang ceplas-ceplos dan si melankolis abis.

Dari beberapa trio wek wek yang sempat saya gabung di dalamnya memiliki karakter yang berbeda ya--baru nyadar setelah nulis ini. Dan kenapa setiap grup ada kesamaan? Barangkali karena kesamaan itulah yang membuat trio wek wek nyaman?

Saya tidak pernah mengira saya akan bertemu dengan mereka. Bahkan saya tidak menyangka jika memang benar apa yang telah diujarkan oleh almarhum Simbah kakung. Kami saling mengisi, bertiga.

Ah, sudahlah. Sahabatku yang tertulis di sini ataupun tidak, semoga sehat selalu menyertai.... Amin

Love

09 Maret 2018

WARNING! Jangan Tinggalkan Bayi Tidur Sendiri

Kenapa Buibu? Gak seneng ya baca judul post saya? Sama, saya juga bete sama judul yang saya bikin sendiri.

"Ah ibu kan enak punya irt? Jadi ada yang nungguin bayinya ketika ibu tidak bisa menemani..." << Gak bu. Saya hidup dengan suami, anak lanang usia 3 tahun 11 bulan dan bayi perempuan usia 10 bulan. Tanpa irt.

"Ah ibu ada yang bantuin, orantua, tetangga, saudara?" << Alhamdulillah, kadang-kadang saja dibantuin momong sebentar ketika saya harus mandi atau pergi ke belakang.

"Yowis Bu, terus itu kenapa judulnya kok memprovokasi begitu?"

Baik Buibu, begini.

Saya fullday stay di rumah, mengurus rumah tangga dan menjalankan bisnis toko busana muslim offline maupun online. Jadi untuk masak dan beres-beres rumah dikerjakan sendiri. Apakah pernah beres? Tidak. Buibu yang fullday di rumah pasti merasakan yang saya rasakan.

Bangun pagi, nyiapin sarapan untuk suami dan buah hati, masak makan siang sekalian malam, nyapu, mandiin anak-anak. Pun ini terkendala jika si bayi minta kelon (red: tidur ditemani sambil nenen). Yang harusnya pukul 9 sudah selesai, bisa molor sesuai senggangnya.

"Bu, ngelondri ya? Kok gak ada di list PR?" << Kagak bu. Saya mah sesuka hati kalau mencuci baju. Bisa ketika fajar, siang, malam. Hehe, sesenggangnya saja. Alhamdulillah, suami tidak pernah protes. Asal gak kehabisan baju saja sih.

Jujur bu, saya tidak bisa mandi pagi sebelum PR (pekerjaan rumah) nyapu dan cuci perkakas masak dan makan selesai. Kenapa? Bau keringat 😔 jadi saya pasti mandi sekitar pukul 9an hingga 10 pagi, atau ketika gak masak, saya bisa mandi pukul 8 pagi. Dan itu menunggu bayi saya tidur atau ketika ada saudara yang bersedia mengajak si bayi dulu.

Kemarin, ... rasanya tak ingin mengingatnya lagi.

Ketika Shanum (nama anak kedua saya) sudah tertidur, di rumah tidak ada orang. Kebetulan kakaknya, Mas Ken (nama anak pertama saya) sedang ikut Simbahnya. Mba saya yang rumahnya sampingan dengan saya, kebetulan juga tidak ada. Saya pikir, tenang karena tidak ada mas ken yang ganggu dan bisa saya tinggal sebentar untuk mandi.

Byur byur, baru setelah selesai pakai sabun, shanum nangis. Langsung mandi bebek. Cuma lilitan handuk, langsung menghambur ke kamar. Dan shanum sudah di bawah kasur 😥  alias sudah terjatuh dari kasur springbed lesehan, nangis kenceng.

Saya ikut mewek.

Maafkan ibuk, Nak.

Saya perkirakan, shanum kebangun, nangis, nyari ibuknya. Guling-guling tengkurap dan terjatuh.

Kapok.

Sudah, sekali saja Nak. Biarin ibukmu ini bau asem sampai siang. Biarin ibukmu ini gak bisa dandan seger waktu ayah pulang, karena yang terpenting adalah kamu Nak. Keselamatanmu lebih penting dari apapun.

Seha-sehat ya anak-anak ibuk 😚