11 September 2011

Kepribadian Ganda (?)

Tadi seharian, saya bersama dengan teman-teman KKN, Syawalan (silaturahmi) ke rumah teman-teman KKN yang asli Jogja. Hmmm, sebenarnya ini adalah perampokan (makanan) berkedok Syawalan. Dari kos, saya sudah mewanti-wanti diri saya sendiri, "sudah! Ndak usah makan. Nanti itu banyak makanan. Ngirit!". Akan tetapi, asumsi lain mulai muncul, "nanti kalau jajannya cuman sedikit gimana? Kamu kan makannya banyak? Kelaparan nanti kamu!" Akhirnya, saya pergi tanpa makan.

Beranjak dari asumsi-asumsi aneh tersebut, kebetulan sekali saya ingin menceritakan tentang teman saya yang bernama Yasser Tahura Putra *ini nama sebenarnya, mungkin yang tidak sebenarnya itu Bunga*.

Oia, jika postingan ini bertahan sampai saat Anda menemukan posting ini, berarti yang saya ceritakan, tidak berkeberatan untuk saya kupas *emangnya apel* dan olok-olokin di sini :D *sesuatu*

***

Tahura merupakan salah satu teman saya di KKN dan satu fakultas dengan saya. Saya suka menyebut dia, Tahu. Kenapa? Karena enak aja manggilnya, semacam makanan.


Si Tahu ini, senang sekali bercerita apapun, termasuk juga cerita yang akan saya sampaikan yang kiranya membuat saya ketawa dan HERAN! Dan cerita ini masih berhubungan dengan asumsi yang saya ceritakan di awal. Posting ini sekedar menyatakan pembelaan atas asumsi-asumsi yang diberikan oleh pikiran *ribet banget*. Bagaimana maksudnya? Sumangga disimak!

Dari beberapa cerita si Tahu, cerita berikut adalah yang paling membuat saya gelisah *bahasa kerennya GALAU*

Tahu bercerita (kurang lebihnya seperti ini):

.... Jadi, selama ini aku punya kepribadian ganda gitu. Bukan ding, bukan ganda tapi triple. Dan teman saya menyela, "kok triple?". Si Tahu melanjutka. Kamu nggak nyadar ya? Iya, hanya aku yang bisa merasakan. Di dalam pikiranku ini ada 3 orang (baca: asumsi), sesuai dengan namaku, Yasser Tahura Putra. Mereka itu; Yasser, Tahura, dan Putra. *kami serius mendengarkan cerita Tahu*
Si Yasser ini adalah sosok yang benar, dan atau bertingkah baik. Selalu memberikan motivasi dan asumsi yang baik pula. Kemudian, Tahura, adalah sosok yang .... *maaf tidak dilanjutkan, saya lupa*.

Intinya, si Tahu beranggapan bahwa dirinya telah menjadi tiga sosok yang berbeda-beda *ini saya ndak tahu, apakah dia perlu di bawa ke psikiater?*

Menurut saya pribadi, setiap orang memang memilik sosok dan asumsi yang berbeda-beda di dalam dirinya. Tak kecuali saya. Saya seringkali menjadi sosok lain ketika harus menulis fiksi. Bahkan di kehidupan nyata pun, mungkin saya sering bersandiwara, menjadi sosok lain yang tidak sama dengan saya seperti kebanyakan teman memandang saya.

Apa keuntungan dari hal ini? Penyesuaian dengan lingkungan akan lebih mudah. Dan, apa kekurangannya? Pengambilan keputusan akan terasa lebih susah.

Untuk mengantisipasi hal ini: JAdikanlah asumsi-asumsi tersebut menjadi renungan sehingga menjadi seseuatu yang bijak.

Salam, Tri, Susan, Santi, dan Suntea! ^^

Tidak ada komentar: