13 September 2011

Mari Berbagi

Semalam saya kecele. Demi informasi yang dapat dari TL twitter saya mengenai kurangnya pasokan darah untuk bayi, pukul 20.00 WIB saya ke RS. Sardjito untuk mendonorkan darah. Tapi sesampainya di sana, setelah dicek hb, ternyata hb saya rendah dan tidak bisa melakukan donor darah. Saya kecewa. Kecewa terhadap diri saya sendiri.

Niat saya memang sudah bulat untuk membantu. Dan memori ini, membuat saya harus kembali lagi ke beberapa tahun silam ketika alm. Kakek (tiri) saya tengah berada di rumah sakit.

Waktu itu, alm. Kakek usai operasi tulang belakang, dan kehilangan banyak darah. Sehingga, sesegera mungkin harus mendapatkan transfusi darah. Tragisnya, stok darah di PMI tersebut habis. Pontang-panting, kami (keluarga) kebingungan mencari pendonor. Kebetulan alm kakek memiliki golongan darah B. Dan, beliau tidak memiliki keturunan. Ibuku adalah anak yang diangkat oleh alm kakek n alm nenek. Tragisnya keluarga dari Ibu, dan juga Ayah tidak ada yang bergolongan darah B.

Alhasil, kami menghubungi keluarga dari alm kakek untuk melakukan cek darah. Alhamdulillah beberapa dari mereka ada yang cocok darahnya dengan golongan darah alm. kakek. Tapi masalah tidak berhenti di sini.

Stok darah masih tetap kurang, dan cara apapun akhirnya di tempuh. Kami meminta tolong (membayar) tukan ojek yang bersedia untuk cek darah, dan (yang cocok) mendonorkan darah. Dan, alhamdulillah, semua teratasi.

Kisah ini, membuat saya berpikir. Untungnya, waktu itu kami mampu untuk "membayar" darah tersebut. Bagaimana jika kami tidak mampu?

Hingga sekarang, saya (terlalu) khawatir terhadap stok darah. Saya (terlalu) khawatir jika ada beberapa orang yang kurang beruntung, dan butuh transfusi darah. Oleh karena itu, bantulah sesama. Saling berbagi.

Setetes darah Anda, mengembalikan senyum mereka!

Tidak ada komentar: