14 September 2011

Harga Kejujuran

Yapppss.... Tumben ini saya tiap hari ngepost :D

Kejujuran di saat krisis percaya diri kepemimpinan seperti ini memang dipertaruhkan. Banyak koruptor di sana-sini merajalela tak tahu diri. Ibaratnya, koruptor itu seperti gedung pencakar langit yang dalamnya usang. Sudah tinggi besar, menjulang tinggi, angkuh, luarnya megah, tapi isinya bobrok.


Hari ini, saya belajar tentang harga sebuah kejujuran. Teman saya, sebut saja Bunga *ya, setiap orang saya samarkan di blog ini saya kasih nama Bunga* secara tidak sengaja membawa barang yang belum dibayar. Waktu itu kami (?) tengah berbelanja *saya cuman nemenin sihhh* di salah satu supermarket. Dan ketika membayar di kasir, salah satu barang ternyata terselip di dalam tas kresek.

Sesampainya di kos, setelah mengecek barang-barang yang dibeli, barang tersebut belum masuk ke dalam struk pembelian. Si Bunga gelisah karena belum membayar barang tersebut. Dan, hari ini, kami menebus pembayaran atas barang tersebut.

Di supermarket tersebut, kami langsung menuju ke bagian informasi dan pelayanan untuk segera membayar barang yang terselip tersebut. Apa yang terjadi kemudian? Setelah pembayaran terselesaikan, mereka memberi si Bunga tanda jasa, atas kesediaannya untuk kembali lagi ke supermarket tersebut dan membayar barang yang terselip itu. Walaupun, tanda jasa itu hanyalah sebungkus tisue kotak.

Hikmah apa yang dapat diambil dari kejadian ini???

Sebegitukah mahalnya kejujuran hingga harus memberikan tanda jasa kepada si Bunga?

Krisis kejujuran sudah melanda di negeri ini. Penghargaan bagi sebuah kejujuran (sekecil dan sepahit apapun kejujuran itu) sangatlah penting. Meskipun penghargaan tersebut hanyalah sebatas rasa terima kasih ^^

Tidak ada komentar: