25 September 2011

Putuslah dengan "Baik-Baik"

Posting ini adalah cerita dari berbagai teman, dan sedikit bumbu curhat =D

Teringat petuah dan perkataan Mr. Kobayashi, seorang tokoh kepala sekolah di Buku Totto-Chan karya Tetsuko Kuroyanagi. Beliau selalu mengatakan kepada Totto-Chan bahwa Totto-Chan adalah anak yang baik. Sebenarnya, Mr. Kobayashi mensugestikan tuturan "anak yang baik" supaya kelak Totto-Chan selalu menjadi anak yang baik. Ini adalah contoh yang sangat "cerdas"!


Lanjut!
Apa hubunganya dengan posting kali ini? Yak! Sebenarnya hampir sama dengan cerita Totto-Chan tersebut, hanya bedanya ini untuk pasangan yang akan putus. Hehe #geje

PAcaran adalah fase perkenalan dalam sebuah hubungan, sebelum fase pernikahan. Dan, layaknya sebuah tali, pacaran ini pun bisa putus. *bingung merangkai kalimatnyaaaaa*

Putus! merupakan kata sakral bagi pasangan yang mencintai. Sehingga, pasangan yang lain terkadang dengan seenakudelnya mengatakan putus! Hal ini dapat memicu yang namanya sakit hati, apabila salah satu pihak tidak bisa menerima keputusan tersebut. Dan, inilah masalahnya!!! #backsound: Cokelat - Karma


Oia, saya tegaskan dulu. Saya tidak membahas sebab mereka putus. Saya hanya sebatas sosok yang merasa pernah merasa sakit karena putus *malah ngaku?*

Mari kita sejenak menengok hal-hal indah sebelum putus!

Fase PeDeKaTe
Pada tahap ini, pasangan akan selalu meng-sms, menelepon, memberi sesuatu, memberikan surprise, memberikan perhatian 101 % agar si sasaran, dapat tertembak dengan benar. Tepat di bagian hatinya. *helehhh*

Fase Pacaran (awal)
Pasangan masih rajin telepon, perhatian masih 100 % (berkurang 1 %), SMS full, surprise masih ya sisa-sisa.

Fase Pacaran (tengah)
Sudah mulai labil. Perhatian teralihkan, menjadi 60 %. SMS lumayan sering. Telepon kalo ada perlu.

Fase Pacaran (akhir) *menjelang putus*
98 % perhatian teralihkan. SMS kalo ada perlu. Telepon kalo sangat emergency. Nada sudah datar.

Fase PUTUS!
Nada datar. Raut muka kusem. 100 % ndak peduli.

Bagi seorang pasangan yang mencintai pasangannya dengan tulus, tidak akan rela jika diputus. Dan hal ini akan menyebabkan salah satu pihak merasa gagal, merasa galau, merasa bahwa dirinya telah tersakiti. Apakah tidak terpikirkan, pada fase di atas, jelas: lebih dari 75 % diisi oleh hal-hal yang "manis". Berat rasanya jika dengan sekejap kata putus! itu terucap dengan SADIS.

Paling tidak, hargailah orang yang mencintai Anda. Hargai pengorbanan meraka. HArgai perbuatan Anda yang telah membuat orang lain jatuh cinta, tapi dikemudian hari mencampakkannya. Sesuai dengan judul posting di atas, "putuslah dengan baik-baik". HArgai pasangan Anda. Jelaskan secara jelas kenapa Anda memutuskan hubungan Anda.

Pacaran dimulai dengan baik-baik. Maka, akhirilah dengan baik-baik

Tidak ada komentar: