25 Agustus 2010

Nasib Seekor Ulat Bulu

Di sebuah taman bunga nan indah hiduplah seekor ulat bulu yang gendut. Matanya bulat, tubuhnya berwarna hijau, jalannya sangat lambat, dan tentunya memiliki bulu-bulu halus di seluruh permukaan kulitnya. Di taman bunga, ulat memakan dedaunan yang berasal dari bunga-bunga cantik di taman itu. Hingga pada suatu hari terdengarlah perbincangan antara bunga yang satu dengan bunga yang lain.
“Bagaimana ini, ulat bulu yang gendut itu memakan daun kita terus-menerus,” kata bunga berwarna kuning.
“Daun kita menjadi berlubang-lubang gara-gara dimakan ulat jelek itu,” kata bunga berwarna oranye melanjutkan.
“Bagaimana kalau kita musuhi saja ulat gendut itu? Biar daun-daun kita tidak dimakan lagi,” usul bunga berwarna merah muda.

Akhirnya, bunga-bunga itu sepakat. Mereka akan memusuhi ulat bulu agar tidak betah tinggal di taman dan meninggalkan taman. Ketika itu, ulat bulu sedang asyik memakan dedaunan milik bunga berwarna merah.
“Mmm, nyam nyam nyam,” yang terdengar dari mulut ulat bulu yang penuh dengan daun.
Bunga merah yang mendengar hal itu langsung memarahi ulat bulu. “Ulat bulu jelek! Kenapa kamu selalu memakan daun-daunku?” tanya bunga merah dengan geram.
Ulat bulu kaget dan tersedak. Dia juga takut karena dimarahi oleh bunga merah. Dengan terbata-bata, kemudian dia menjawab, “a-aku kan ju-ju-juga perlu makan, bunga merah.”
“Makan daun yang lain kan juga bisa! Tidak perlu makan dedaunan dari bunga di taman ini,” tutur bunga kuning ikut memarahi ulat bulu.
Dengan ragu-ragu ulat bulu menjawab, “baiklah, akan aku usahakan.”

Ulat bulu sangat sedih. Dengan berat hati, dia pergi meninggalkan bunga-bunga yang telah memarahinya itu. Dia pun tidak tahu harus pergi kemana. Dia bingung, karena memang daunlah makanannya. “Lalu aku makan apa, jika aku dilarang makan daun?” tanyanya dalam hati.

Ulat bulu merayap sangat lambat. Melintasi taman seakan tidak ada habisnya. Ulat bulu tak kunjung keluar dari taman bunga itu. Di perjalanan itu pun dia selalu di ejek oleh bunga-bunga lain yang dilewatinya, “dasar ulat bulu, udah jelek, gendut pula. Kebanyakan makan sih, makanya jalannya lambat.”

Dengan hati yang pilu, ulat bulu terus melanjutkan perjalanannya hingga nyaris melewati perbatasan taman bunga. Tak disangka, ulat bulu disapa oleh pohon mangga. Pohon itu tumbuh di sudut taman, dekat dengan perbatasan taman. Ia tumbuh besar dan sangat rindang.
“Hai ulat bulu berwarna hijau, kau mau kemana? Wajahmu kelihatan sangat sedih. Ada yang bisa aku bantu?” tanya pohon mangga ramah.
“Hai pohon mangga, aku akan meninggalkan taman. Di taman, aku selalu diejek dan dimarahi bunga-bunga cantik itu. Aku akan mencari taman yang lain saja,” tutur ulat bulu itu lemah.
“Janganlah bersedih hati ulat bulu yang baik. Selama menjadi ulat kau memang hanyalah hama. Akan tetapi, jika waktunya sudah tiba, bunga-bunga yang ada di taman ini akan mengagumi dan membutuhkanmu. Percayalah kepadaku. Tuhan tidak akan menciptakan makhluk dengan sia-sia. Semua pasti ada manfaatnya,” ucap pohon mangga memberitahu ulat bulu.
“Terimakasih pohon mangga, kau telah menghiburku,” kata ulat bulu, kemudian melanjutkan perjalanannya meninggalkan taman.

Beberapa minggu kemudian…

Musim semi telah tiba. Hamparan taman itu sangat indah dipenuhi bermacam-macam warna bunga. Hewan-hewan penghisap madu telah berdatangan ke taman itu. Salah satunya adalah kupu-kupu. Kupu-kupu itu cantik dengan warna-warna cerah yang menghiasi kepakan sayapnya setiap kali dia terbang.

“Wahai kupu-kupu yang cantik, hinggaplah ke putikku. Teguklah madu yang ada di sini agar bubuk-bubuk benangsariku menempel di badanmu, dan menyebarkannya ke bunga lain,” pinta bunga-bunga di taman pada setiap kupu-kupu yang melintas di atasnya. Akan tetapi, ada satu kupu-kupu yang tampak menanggapi seruan bunga-bunga itu.
“Bunga yang cantik, apakah kau mengenaliku?” tanya kupu-kupu itu kepada bunga berwarna kuning.
“Tidak,” jawab bunga berwarna kuning yakin.
“Dulu kau dan bunga-bunga yang lain telah mengusirku dari taman ini. Kalian dulu mengejekku dan memusuhiku hingga akhirnya aku pergi meninggalkan taman ini. Apakah kalian ingat?” jelas kupu-kupu kepada bunga-bunga.
Para bunga pun berpikir sejenak. Bunga berwarna merah melanjutkan pertanyaan, “kami tidak pernah mengusir atau memusuhi kupu-kupu?”
Lalu kupu-kupu itu pun menjelaskan secara rinci kehidupan yang telah dijalaninya. Termasuk juga si pohon mangga yang telah menghiburnya dan memberinya nasihat.

“Kalian memang tidak pernah mengusir atau memusuhi kupu-kupu. Akan tetapi, ingatkah kalian pernah mengusir seekor ulat bulu yang kalian anggap jelek dan tidak berguna? Akulah yang kalian usir dulu. Sekarang aku menjadi kupu-kupu. Tahukah kalian, aku tidak selamanya menjadi ulat, menjadi hama yang tidak berguna. Tuhan tidak akan menciptakan makhluknya dengan sia-sia, begitulah dulu kata si pohon mangga kepadaku.”

“Aku mengalami metamorfosis. Mulanya aku hanya berupa telur. Kemudian menetas menjadi seekor ulat yang hanya bisa memakan daun. Setelah itu, aku berdiam diri di dalam kepompong selama beberapa hari. Barulah aku keluar dari peristirahatanku, bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Dari kupu-kupu, aku bertelur lagi dan begitu seterusnya,” terang kupu-kupu kepada bunga-bunga di taman itu.

Para bunga terdiam. Sesekali angin menggoyang-goyangkan tangkai mereka. “Maafkan kami kupu-kupu. Kami salah telah memusuhi dan mengusirmu,” kata salah satu bunga. “Kami baru sadar. Ternyata tidak salah jika ketika kau menjadi ulat, kau memakan daun-daun kami karena di saat kau menjadi kupu-kupu, kaulah yang telah membantu kami menyebarkan serbuk-serbuk bunga kami. Berkat bantuan kau, kami akan selalu memiliki keturunan. Sekali lagi maafkan kami kupu-kupu,” ucap bunga merah mewakili bunga-bunga lain untuk meminta maaf.

Kupu-kupu tersenyum. Kupu-kupu telah memaafkan mereka. Bunga-bunga itu juga telah mengakui kesalahannya. Mulai sejak itu, kupu-kupu dan bunga sudah tak bermusuhan lagi. Mereka hidup rukun di taman itu. Mereka telah saling memahami bahwasanya kupu-kupu dan bunga saling membutuhkan.

Tidak ada komentar: