01 Oktober 2011

Buku dan Impian Saya

sebagian buku di kamar kos

Saya ndak bisa tidur siang! Terlalu banyak ide berloncatan dan ndak mau diam sehingga saya pun jadi ndak pengen diam untuk tidur sejenak. Akhirnya, saya memilih untuk membuat positng ini.

Well, saya telah menamatkan buku punya Rahmawati Fitri atau biasa disebut dan terkenal dengan nama Fitri Tropika. Tapi bukan tentang isi buku itu yang ingin saya beberkan di sini. Itu urusan nanti, setelah saya keluarkan uneg-uneg yang membuat saya tidak bisa tidur ini.

Sekarang saya kehabisan duit, dan saya ndak bisa memborong buku di pameran buku yang diadakan di gedung Wanitatama, Yogyakarta. Lumayan murah karena diskon hingga 50 %. Saya hanya ngiler mupeng dan hanya berhasil membawa buku milik FiTrop tersebut.

Karena buku ini, saya teringat buku-buku saya di kamar kos ini. Saya membeli buku-buku ini dengan menyisihkan duit bulanan saya yang saya terima dari “you know who?” Ibu dan bapak yang dengan-sepenuh-hati-mencintai-saya. Demi buku-buku ini terkadang saya harus rela untuk makan di angkringan.

Apakah semua buku yang saya beli sudah saya baca?

Belum. Ada beberapa buku yang belum sempat saya baca. Ini karena waktu dan banyak buku yang saya beli tidak sinkron. Jika ada rumusnya, maka bunyinya begini: waktu tidak berbanding lurus dengan banyak buku.

Lalu kenapa saya tetap membelinya?

Karena saya suka buku. Saya senang melihat buku yang berderet-deret di rak. Saya suka melihat susunan dan barisan buku yang teratur. Terkadang saya sangat betah berlama-lama dan bermupeng-mupeng ria di toko buku hanya untuk mengagumi banyaknya buku yang ada di toko tersebut. Saya suka jika suatu hari nanti, buku-buku saya menjadi jendela dunia untuk orang lain. Itu impian saya.

Dan saya sangat sebel dengan orang-orang yang meminjam buku saya tapi tak kembali ke tangan saya. Terkadang saya mengumpat dalam hati kepada orang-orang ini. Saya membela diri saya sendiri dengan bersusah payah membelinya tapi oleh orang lain dipakai seenakudelnya sendiri. Tapi itu dulu.

Sekarang?

Saya pasrah.

Anggaplah dengan mereka mengambil buku saya, saya telah memberikan “kunci” jendela dunia untuknya.

Anggaplah dengan mereka membaca buku saya, saya telah “membukakan” jendela dunia untuknya.

Anggaplah dengan mereka memiliki buku saya, saya telah membuat mereka “mengenal” dunia.

Itu impian saya bukan?

Ahhh... masih banyak buku yang harus saya punya ^^ *semangat*

2 komentar:

Titish mengatakan...

Punya buku apa aja san? Pinjeeeeeem #pengiritan

Suntea mengatakan...

:D ndak banyak sih, Tish

Kamu nyari buku apa, nanti tak jawab, aku punya atau ndak. hehe