11 Oktober 2011

Gudeg: Makanan Khas Yogyakarta

sebungkus gudeg dengan lauk suwir ayam
Lapar.

Saya ingin memakan sesuatu. Yang manis, dan kuliner khas Jogja. Ialah TADAAAAA: GUDEG.

Yeah, pagi ini saya mau sarapan gudeg. Ada yang mau? Angkat tangan!

Sebungkus gudeg sudah saya telan. Rasanya: enak. Bagi pecinta makanan pedas-asin, mungkin tidak akan menyukai gudeg karena makanan gudeg ini adalah makanan yang manis.

Gudeg dari Jogja tidak sama dengan gudeg yang dijual di tempat (kota) lain. Pernah saya beli gudeg di tempat asal saya, rasanya tak seperti gudeg di Jogja. Beda taste-nya. Oleh karena itu, jika Anda berpergian ke Jogja, singgahlah sejenak ke warung makan yang menyediakan makanan Gudeg. Karena gudeg yang asli hanya ada di JOgja.

Gudeg terbuat dari sayur gori atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai nangka muda. Nangka muda ini nantinya dicacah menjadi kecil-kecil menyerupai daging sapi. Lalu yang membuat enak adalah ini: areh. Kemudian, ada tempe yang dipotong dadu, dan krecek (kulit). Untuk lauknya, bisa memilih. Ada telor, tahu, tempe, ayam kampung.

Untuk seporsi gudeg, harganya bervariasi. Untuk WM (Warung makan) yang sudah ternama, seporsi gudeg bisa dihargai minimal 8rb. Rata-rata untuk lauk ayam memang agak mahal, karena ayam yang digunakan adalah ayam kampung. SEkitar belasan ribu untuk WM yang sudah ternama.

Nah, yang saya makan ini (gambar di atas), saya beli di warung dadakan pinggir jalan. Sebungkus itu, dihargai 7rb, karena saya pake lauk ayam suwir.

Ini hanya guyonan

SEmpat saya berfikir, kenapa yang dipake untuk gudeg adalah nangka muda? Kenapa bukan terong, labu, atau sayur yang lain? Atau hanya saya saja ini yang merasa penasaran dengan sajian gudeg ini?

Saya dulu mengira, potongan nangka muda itu adalah daging sapi atau kerbau *pokoknya daging*. Kenyataannya saya tertipu. Itu bukan potongan daging, tapi nangka muda.

Pikiran saya kemudian melayang. Jika gudeg ini telah ada sejak dulu, apakah gudeg ini adalah pengalihan makanan dari daging?

Mengerti maksud saya?

Zaman dahulu, pangan sangat mahal. Segala sesuatunya diirit agar bisa makan. Membeli beras saja susah, apalagi membeli daging. Orang dewasa mungkin bisa memahami hal ini, tetapi bagaimana dengan anak-anak? Apakah mereka toleran dengan keadaan "pangan-mahal"? Tentu saja tidak. KEbanyakan anak kecil tidak peduli dengan hal ini. Mereka akan terus meminta obsesinya. Karena orang tua kemudian merasa terus-menerus didesak oleh anaknya untuk membeli daging yang harganya selangit, maka mereka menggunakan nangka muda yang dimasak, dan dijadikan gudeg.

Voila! Jadilah daging jadi-jadian :D

Tidak ada komentar: