18 November 2010

Pertunjukan Barongsai dan Elemen-elemen Pembangunnya

Kebudayaan sifatnya bermacam-macam, akan tetapi oleh karena semuanya adalah buah adab (keluhuran budi), maka semua kebudayaan selalu bersifat tertib, indah berfaedah, luhur, memberi rasa damai, senang, bahagia, dan sebagainya. Sifat kebudayaan menjadi tanda dan ukuran tentang rendah-tingginya keadaban dari masing-masing bangsa (Dewantara; 1994). Kebudayaan Indonesia beraneka ragam, namun pada dasarnya terbentuk dan dipengaruhi oleh kebudayaan besar lainnya seperti kebudayaan Tionghoa, kebudayaan India dan kebudayaan Arab. Kebudayaan Tionghoa masuk dan mempengaruhi kebudayaan Indonesia karena interaksi perdagangan yang intensif antara pedagang-pedagang Tionghoa dan Nusantara (Sriwijaya). Selain itu, banyak pula yang masuk bersama perantau-perantau Tionghoa yang datang dari daerah selatan Tiongkok dan menetap di Nusantara (Indonesia).



Barongsai merupakan tarian tradisional Cina dengan mengunakan sarung yang menyerupai singa. Barongsai memiliki sejarah ribuan tahun. Catatan pertama tentang tarian ini bisa ditelusuri pada masa Dinasti Chin sekitar abad ke tiga sebelum masehi. Tapi kesenian Barongsai baru populer pada waktu Dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Pada waktu itu pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Untuk meyiasati agar pasukan gajah mundur, seorang panglima perang bernam Zhong Oue membuat tiruan boneka singa dan naga untuk mengusir pasukan gajah tersebut. Ternyata upaya itu sukses membuat mundur pasukan gajah dan dari sinilah tarian Barongsai melegenda serta membudaya.

Tarian Singa atau Barongsai ini terdiri dari dua jenis utama yaitu Singa Utara yang memiliki surai ikal dan berkaki empat serta kelihatan lebih natural dan mirip singa, sedangkan Singa Selatan yang memiliki sisik serta jumlah kaki yang bervariasi antara dua dan empat serta kepalanya dilengkapi dengan tanduk sehingga agak mirip dengan binatang ‘Kilin’.

Gerakan antara Singa Utara dan Singa Selatan juga berbeda. Singa Utara memiliki gerakan lebih lincah dan penuh dinamika karena mempunyai empat kaki, sedangkan Singa Selatan lebih cenderung dengan gerakan kepalanya yang keras dan melonjak-lonjak seirama dengan tabuhan gong dan tambur. Gerakan utama dari tarian Barongsai adalah gerakan singa memakan amplop berisi uang yang disebut dengan istilaj ‘Lay See’. Bersama amplop tersebut biasanya disertakan pula sayuran selada air yang melambangkan hadiah bagi Singa. Proses memakan ‘Lay See’ ini berlangsung sekitar separuh bagian dari keseluruhan tarian atau pertunjukan Barongsai. Dalam pergelaran Barongsai ini juga ditemui seorang penari lain yang mengenakan topeng dan membawa kipas. Tokoh ini adalah Sang Buddha. Tugasnya adalah untuk menggiring sang Singa Barong ke tempat di mana ‘Lay See’ berada.

Suatu pertunjukan atau sederetan tarian yang dibungkus dalam satu-kesatuan bentuk pagelaran, pastinya memiliki amanat ataupun pelajara yang ingin disampaikan kepada audience. Tarian atau pertunjukan Barong tentu saja memiliki pelajaran yang ingin disampaikan kepada audience. Pelajaran yang ingin disampaikan yaitu:

1.Singa dan Naga merupakan lambang kebaikan dan keburukan atau yang dimaksud adalah sesuatu yang berlawanan. Ada benar pasti ada salah, langit-bumi, hitam-putih, laki-laki-perempuan, dan sebagainya;

2.Naga dalam tarian Barong ini diibaratkan sebagai satu kesatuan yang terdiri dari kepala yang melambangkan seorang pemimpin, badan yang melambangkan aparat, dan ekor yang melambangkan rakyat atau pengikut. Seorang pemimpin layaknya menjadi tuntunan bagi bawahannya. Dialah yang memegang kendali atas aparat dan rakyatnya. Jika pemimpin seenaknya sendiri dalam membuat kebijaksanaan dan pelaksanaannya pastilah satu-kesatuan tersebut akan hancur, maka seorang pemimpin hendaknya juga mempertimbangkan kemampuan aparat dan rakyatnya;

3.ekor dan kepala Singa maupun Naga dalam tiap gerakan membutuhkan keselarasan. Dalam hal ini sangat dibutuhkan kerjasama tim yang baik;

4.tarian yang dinamik dan semangat dari Barongsai untuk memperoleh ‘Lay See’ merupakan wujud kegigihan dan kesabaran dalam menggapai suatu keinginan.

Kebudayaan Barongsai masuk di Indonesia sekitar abad 17, ketika terjadi migrasi besar dari Cina Selatan. Barongsai mengalami masa jaya pada waktu masih adanya perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan. Perkumpulan ini tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan pasti tiap perkumpulan Tiong Hoa Hwe Kon memiliki perkumpulan Barongsai. Perkembangan Barongsai terhenti pada tahun 1965 setelah adanya Gerakan 30 S/PKI. Karena situasi politik pada waktu itu, segala macam bentuk kebudayaan Tionghoa di Indonesia ditiadakan. Baru pada tahun 1998 perubahan situasi politik membangkitkan lagi kebudayaan Tionghoa. Bahkan tidak hanya perkumpulang masyarakat Tionghoa yang memainkannya, tapi juga masyarakat lokal.

Pada masa pemerintahan Soeharto (1967-1999), Barongsai sempat tidak boleh dimainkan. Satu-satunya tempat di Indonesia yang dapat menampilkan Barongsai adalah Semarang, tepatnya di panggung besar kelenteng Sam Poo Kong (nama kelenteng diambil dari nama seorang laksamana asal Tionghoa yang terkenal dengan ekspedisinya) atau dikenal juga dengan sebutan Kelenteng Gedong Batu. Di Semarang telah berkembang perguruan Barongsai, di antaranya;

1.Sam Poo Tong, dengan seragam putih-jingga-hitam (kaos-sabuk-celana),
2.Hoo Hap Hwee dengan seragam putih-hitam,
3.Djien Gie Tong (Budi Luhur) dengan seragam kuning-merah-hitam,
4.Djien Ho Tong (Dharma Hangga Taruna) dengan seragam putih-hijau,
5.Hauw Gie Hwee dengan seragam hijau-kuning-hijau (Dharma Asih) dengan seragam merah-kuning kadang merah,
6.Porsigab (Persatuan Olah Raga Silat Gabungan) dengan seragam biru-kuning-biru, dan sebagainya.

Barongsai tersebut tidak hanya dimainkan oleh orang-orang Semarang karena perguruan tersebut juga telah mempunyai anak-anak cabang yang tersebar di pulau Jawa sampai ke Lampung.

Saat ini Barongsai di Indonesia telah dapat dimainkan secara luas, bahkan terdapat pula kejuaraan-kejuaraan dunia dan Indonesia juga ikut andil dalam kejuaraan tersebut. Misalnya Himpunan Bersatu Teguh (HBT) dari Padang yang meraih juara 5 pada kejuaraan dunia di Genting - Malaysia pada tahun 2000. Sebut saja beberapa nama seperti Kong Ha Hong (KHH) - Jakarta, Dragon Phonix (DP) - Jakarta, Satya Dharma - Kudus, dan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) - Tarakan. Bahkan nama terakhir, yaitu PSMTI telah meraih juara 1 pada suatu pertandingan dunia yang diadakan di Surabaya pada tahun 2006. Perguruan Barongsai lainnya adalah Tri Pusaka Solo yang pada pertengahan Agustus 2007 lalu memperoleh Juara I President Cup.

Sebuah kebudayaan tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat. Kebudayaan itu tumbuh berkat sosialisasi dan adaptasi dengan masyarakat sekitar. Sebut saja Barongsai bukan merupakan budaya asli Indonesia tapi asli dari Tionghoa. Tapi adanya hubungan intern dari Tionghoa dan Indonesia, bahkan hingga masyarakat Tionghoa menetap dan membangun sebuah keluarga dengan orang Indonesia, akhirnya kebudayaan itupun berkembang dengan sendirinya serta dengan beragam keunikannya. Tiap daerah ataupun perguruan yang menampilkannya pasti memiliki khas yang berbeda-beda namun dari segi makna yang ingin disampaikan kepada penonton tetaplah sama.

Perkembangan Barongsai sampai saat ini kian marak dan membumi. Ini juga disebabkan karena bertambahnya pula keturunan Tionghoa dan disahkannya Agama Kong Hu Chu yang kebanyakan pemeluknya masyarakat Tionghoa.

Barongsai merupakan salah satu kebudayaan yang telah membumi di Indonesia. Maka dari itu jagalah kebudayaan tersebut dan peliharalah. Karena menurut Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.

Tidak ada komentar: