05 Juli 2012

Uji Kelayakan: di-DADAR

Hari ini, aku mendaftarkan anakku. Iya, mendaftarkan anak yang aku kandung selama 5 tahun. Siapa Bapaknya? Bisa di baca di SINI.

Kenapa? Apa untungnya mendaftarkan anak?

Tentu saja biar diuji kelayakannya sebagai anak. Apakah dia sudah siap untuk diberikan akta kelulusan atau tidak. Ya, deg-degan juga sih. Semoga anakku layak uji dan juga layak untuk diberi kelulusan. Dan menunggu hari ketika akan diuji itu adalah siksaan. Was-was dan tidak tenang.

Orang menyebut ujian kelayakan anakku ini sebagai PENDADARAN. Inget burjo? Sama. Aku juga jadi keingetan warung burjo. Biasanya kalau ke warung burjo aku mesen nasi telor. Khususnya, telor dadar: telor yang didadar.

Kalau dibuat skema, PENDADARAN itu kalau tidak salah seperti bagan di bawah ini:


Dari KBBIKitab Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti DADAR seperti ini:
1. telur yg diaduk (dikocok) bersama bumbu (bawang, merica, garam, dsb) kemudian digoreng, berbentuk pipih;
2. atau pendadaran: pelatihan; tempat pelatihan.

Dari arti yang kedua, dalam KBBI dituliskan bahwa kata pendadaran merupakan kata benda yang disadur dari bahasa Jawa.

Dan, peN-/-an:
berfungsi untuk membentuk kata benda. Dalam kata pendadaran, imbuhan peN-/-an bermakna proses.

Jadi begitulah, kata PENDADARAN memang sangat fenomenal sekali bagi kaum mahasiswa yang akan mendaftarkan anaknya untuk diuji. Mengingat arti dari kata dadar yang pertama, pendadaran memang identik dengan “dikocok”, “digoreng”, “didendeng” hingga pipih bersama dengan “bumbu-bumbu” dari para penguji.

Aku doakan, untuk para mahasiswa yang akan mengujikan anaknya, semoga sukses dan tidak gosong di dalam ruangan.

Salam ...

Tidak ada komentar: