06 Juli 2012

Simfoni Hitam

01012011
Bagiku, malam ini terasa sunyi. Para jangkrik yang biasanya bernyanyi krik-krik-krik tak lagi ada terdengar. Semua hingar perayaan terasa mati. Tak ada lagi kosakata “hidup” di malam ini. Bahkan, aku sendiri mematung. Jiwaku melayang ke antah berantah. Ragaku kosong. Aku seperti rumah siput yang sudah tak berpenghuni.
Jiwaku melayang. Terbang. Serasa lepas ke awan yang gemilang. Mencoba tenang. Meski kebahagiaan tak kunjung datang. Aku ingin sekali menjadi ilalang. Walau terbuang, dia tetap ada dan merasa riang.
Aku telah tersesat di kedalaman hatimu. Mencari celah, mencoba untuk keluar dari pikiran tentangmu.
Kamu, candu. Membuatku rindu. Membuatku selalu ingin bertemu.
Kamu, sendu. Membuatku kelu. Membuatku selalu ingin memelukmu.
Menenangkanmu. Menemanimu. Membahagiakanmu. Membuatmu selalu tersenyum, padaku.

*

“Ryan!” pekik Dinda terengah-engah. Titik-titik peluh seperti embun menempel di kening Dinda. Ia masih mengumpulkan nyawanya yang tercecer. “Hanya mimpi,” tutur Dinda sembari membenahi selimut yang dikenakan. Ia melirik jam dinding yang menggantung di atas meja belajarnya, pukul 02.15 WIB. Dinda menghempaskan tubuhnya ke kasur, seperti menghempaskan cinta yang telah dirasanya kepada Ryan. Dinda mencoba memejamkan kelopak matanya lagi. Tidak bisa. Ia mengambil buku ajaibnya yang tergeletak di samping tempat tidur. Menorehkan tinta, dan mengutarakan perasaanya.

21112010
Kamu datang lagi. Mengusik ketenangan hati. Mencipta melodi sunyi. Nyanyian yang indah namun terasa luka di hati.
Di sana, kamu terlihat bahagia. Tidak seperti aku yang sengsara. Ambisi diri pun telah tiada. Kamu telah membuatku jera. Jera untuk mengenal cinta.

“Kamu kenapa, Din? Matamu..., mirip panda!” celetuk Tari, teman sebangku Dinda. Dinda terduduk lesu tanpa menghiraukan ucapan Tari. Dinda menekuk kepalanya di atas meja. Terbayang kembali Ryan yang tadi malam telah hinggap di bunga tidurnya.

“Dinda, Kamu dicari Ryan. Dia lagi di kantin.” Tuturan Hans membuyarkan lamunan Dinda. Ia segera mendongakkan kepalanya ketika mendengar nama Ryan disebut.

Dinda segera ke kantin. Langkahnya cepat, setengah berlari. Ia tak sabar menyusuri selasar sekolah itu. Rasanya ia ingin meminjam “pintu ke mana saja” milik Doraemon. Cinta, selalu memaksa rasa menjadi logika—sesuatu hal yang tak mungkin bisa.

“Kamu nyari aku?” tanya Dinda menyelidik setelah sampai di hadapan Ryan. Ryan hanya tersenyum. Menarik pergelangan tangan Dinda dan mengajaknya duduk. Dinda nampak berpikir keras atas kelakuan Ryan. “Tumben-tumbenan dia ke kantin sendirian,” pikir Dinda.

“Pand, kabarmu gimana? Sehat?” tanya Ryan, semakin membuat Dinda bingung.

“Iya, aku sehat. Kamu kenapa sih? To the point aja deh!” seru Dinda tidak sabar. Ryan terkekeh.

“Hehe, tahu aja kalau aku ada maunya. Jadi, begini!”

Suasana hening merayap di antara mereka. Dinda mengerjapkan matanya menunggu penjelasan Ryan. Debaran di dadanya hendak mencapai klimaks. Begitu juga dengan Ryan, yang sedang tak kuasa menahan rasa yang tengah menderanya.

*

09082009
Namanya Ryan. Aku sangat terkesan. Dia lucu dan menyenangkan. Karena bolpoin, kami berkenalan. Ahh, senyumnya...mengundang kebahagiaan. Aku tak sabar untuk menanti mentari berhias awan.

Dinda mesam-mesem menikmati tulisan di buku ajaibnya. Ryan telah mengubah hari pertamanya di SMA menjadi sangat menyenangkan. Ia pandangi lagi bolpoin yang telah dipakai oleh Ryan tadi pagi, dan sekarang dipakainya juga untuk menulis di buku ajaibnya.

Hari-hari dilalui dengan sangat indah dan membahagiakan.

11082009
Kamu.
Aku tersenyum malu.
Kamu.
Hadir di setiap waktu. Membelenggu. Menggelayuti pikiran semu.
Kamu.
Menjadi pangeran rindu. Menjadi candu. Semanis madu.
Kamu.
Rahasia hatiku. Tak pernah luput oleh penglihatanku. Menjadi pendamping disetiap hariku.

Dunia Dinda seakan berubah 360 derajat sejak pertama kalinya ia bertemu dengan Ryan. Semua harinya selalu dipenuhi dengan Ryan, Ryan, dan Ryan. Dan satu hal yang membuat Dinda jengkel sekaligus senang adalah, panggilan sayang Ryan kepada Dinda, “Panda!”.

13082009
Kamu menjulukiku PANDA. Hewan pemakan bambu yang menurutmu lucu. Kulitnya hitam-putih. Namun kamu menganggap kulit Panda itu hanya hitam, seperti kulitku. Panda juga gendut, katamu juga, sama sepertiku.
Jengkel? Tentu saja, sangat-jengkel-sekali. Dia telah menyamakanku dengan seekor Panda. Yang menurutku tidak ada mirip-miripnya sama sekali denganku.
Hei...!!! Aku manusia, dan Panda itu hewan!
Camkan itu baik-baik!

“Pand, kamu tahu kenapa matahari selalu terbit setiap fajar, dan ketika malam datang selalu digantikan oleh bulan yang memancarkan pantulan sinar matahari?” tanya Ryan serius kepada Dinda.

Dinda berpikir keras. Mencerna pertanyaan Ryan dengan hati-hati. Tapi ia tak menemukan jawabannya. Dinda tak pernah tahu-menahu ilmu astronomi.

“Ya, memang dari sononya seperti itu kan?” jawab Dinda sekenanya.

“Bukan itu jawabannya,” tutur Ryan, sok cool.

“Oke! Jadi, jawabannya apa?”

Ryan menghela nafas panjang. Dinda semakin tak sabar menunggu penjelasan Ryan.

“Hhh.... Kamu harus tahu hal ini.”

Dinda mendengarkan Ryan dengan seksama.

“Kenapa matahari selalu terbit setiap fajar? Itu karena aku adalah matahari. Aku senantiasa menemanimu di sekolah ketika siang hari. Dan ketika petang telah menjelang, maka aku tak akan ada di sampingmu. Bulan pun datang. Ia memantulkan sinar matahari yang aku punya, dan memancarkannya lewat keindahan bulan. Untuk menami malammu.”

“Zzzz.... krik krik krik! Kamu nggombal? Atau lagi latihan drama? Emang mau pentas di mana?”

“Gak ngena ya?” tanya Ryan kesal.

Mereka berdua tertawa bersama.

20082009
Kamu memang penuh dengan kejutan.
Kemarin kamu penuh kejahilan, dan hari ini penuh dengan keromantisan.
Kamu tak pernah kehabisan ide untuk membuatku dag-dig-dug. Seperti bedug.
Bahkan hari ini kamu membuat gombalan untukku? Gombalan yang aneh namun membuat hatiku terkekeh. Rasanya aliran listrik mengaliri seluruh sel darahku. Membuat tegangan yang terkesan indah. Ah kamu, seperti simfoni dalam kehidupanku.

*

“Jadi, ‘begini’ apa? apa yang mau kamu omongin?” tanya Dinda lagi, tak sabar.

“Hmm.... Aku suka kamu!”

Jederr...! Jantung Dinda seakan mau lepas dari kediamannya.

“Maksudku, aku suka Atika!” ralat Ryan, kemudian.

Dan ralat itu, membuat jantung Dinda ingin berhenti berdetak. Air muka Dinda sudah tak terbaca lagi. Ia terdiam beberapa saat. Hingga suara Ryan membuyarkan segala kecemburuannya.

“Pand, kok kamu diem? Menurutmu Atika gimana?”

Dinda tergagap. Ia kelimpungan memendam hasrat yang ingin ditumpahkannya.

“Dia cantik, baik. Hmmm....” Dinda tak meneruskan ucapannya. Ia ingin segera menghilang dari tatapan mata Ryan. Dan Dinda, memilih berbohong. “Oh! Aku ada PR belum ngerjain.”

Dinda segera berdiri dan berlalu dari kantin.

22112010
Setelah sekian lama aku menanti, dan ternyata hanya kebohongan diri. Aku menangis seorang diri karena keegoisan mencintai diri sendiri. Aku salah menilai hati. Aku kira kamu mencintai tapi ternyata tak lebih dari perasaan sayang seperti adik sendiri.
Kesalahpahaman yang kutuai menumbuhkan kecemburuanku. Membuat kisah kita harus berhenti dulu. Menjadikan waktu, membeku.
Harusnya aku sadar dari awal. Kamu adalah kawan. Takkan pernah lebih dari sekedar teman. Saling memiliki meski bukan berarti pacaran.

Dinda melihat dari kejauhan. Ryan berjalan bersama menuju parkiran sekolah bersama Atika.

25112010
Aku masih di sini, berdiri di tempat yang sama. Mengagumi kasihmu. Menjadi tempat berlabuh keduamu. Aku takkan pergi dan jemu. Aku tetapkan hati ini untuk menjadi penghias harimu. Karena dengan begitu, aku akan tetap berada di sisimu.

***

-Terbit bulan Maret 2012 di Majalah Musik Topchord-

Tidak ada komentar: