13 April 2014

Seputar Mitos Zaman Dulu dan Fakta Pasca Melahirkan

Ini hari ke-11 pasca melahirkan. Boring? Bangetttttt. Beginilah di desa, nasib ibu pasca melahirkan. Dikurung selama selapan. Yaitu sekitar 5 Minggu, atau lebih kurang 36 hari. Kenapa begitu? Saya juga gak tahu. Pokoknya orang tua zaman dahulu (zadul) punya peraturan seperti itu. Oh bukan, bukan hanya itu saja peraturannya, tapi banyaaaaaaaaak sekaliiiiiii.

Minum obat dan jamu
Ini obat yang diberikan oleh bidan. Jadi harus dihabiskan. Setelah itu dilanjutkan dengan jamu yang dibeli sendiri. Kalau jamu saya mau lah ya. Karena demi kesehatan juga. Toh, herbal. Minum jamu sebenarnya dianjurkan hingga selapan dan diminum 2 kali sehari. Tapi berhubung emak saya sudah agak modern, jadinya setengah selapan saja tak apa hihihi. Terus minumnya juga diperbolehkan sekali sehari karena menghindari gangguan BAB.

Pakai udet (bengkung/stagen) dan jarit (selendang)
Pasca melahirkan ibu diwajibkan memakai udet. Gunanya untuk menahan perut. Pasca melahirkan perut ibu akan terlihat “menjijikkan” dengan gelambir di mana-mana hehe. Ini juga saya mau saja. Karena lebih enak kalau pakai udet. Perut rasanya kenceng.
Kenapa pakai jarit? Kenapa bukan rok? Saya juga kurang tahu. Cuman setelah saya memakai jarit ini, seperti ini pengalaman saya. Mudah dipakai dan mudah dibuka sewaktu-waktu ketika kebelet BAB atau BAK. Sewaktu dipakai, langkah kaki tidak jauh-jauh dan ketika duduk, paha ngumpul karena sempit. Jadi duduknya teratur.

Pakai param (bobok)
Param ini ada beragam. Ada param untuk badan, yaitu bedak dingin. Ada param yang untuk perut—entah apa namanya lupa. Ada param untuk kening *jadi waktu pakai ini itu keningnya kayak ada pelanginya warna hijau tua :D*. Sebenarnya yang paling ngefek waktu dipakai itu cuman bedak dingin sama param untuk perut. Waktu pakai bedak dingin rasanya badan jadi adem. Ya, walaupun harus rela tiap hari seluruh badan “dilukis” warna putih tiap habis mandi pagi dan sore. Yang namanya muka sudah kayak badut abeesss tiap habis mandi :D. Juga param untuk perut, perut jadi anget. Gak rugi pakai ini, meski baunya gak terlalu enak.

Tidak boleh tidur siang
Saya sempat marah dan jengkel waktu ditegur karena waktu itu saya ketiduran sebentar. Niatnya sih memang mau tidur, tapi sejam aja gitu. Eh baru 15 menit, saya dimarahin karena tidur siang -_- jengkel banget toh! Akhirnya, sampai sekarang saya tak pernah tidur siang lagi. Bukannya karena percaya mitos/faktanya, tapi karena saya malas dan jengkel kalau ditegur lagi. Mitosnya, kalau pasca melahirkan ibu hamil tidur siang, pipi/muka akan bengkak-bengkak. “Yaiyalaaahhh!” gerutu saya dalam hati waktu itu. Biasanya kalau orang habis bangun tidur kan memang mukanya agak sembeb. Setelah saya browsing di internet—karena cuma ini yang bisa saya andalkan—yang bilang gitu cuma dukun bayi. Saya tidak menemukan alasan ilmiah. Toh malah banyak yang menyarankan ibu pasca melahirkan lebih baik banyak istirahat ataupun tidur siang juga gak masalah asalkan masih dalam batas yang wajar.

Tidak boleh keluar rumah sebelum selapan
Nah ini dia! Saya menjadi tahanan rumah selama 38 hari. Dan sekarang baru berapa hari? *ngitung* 11 hari. Oke! Masih lama!!!! Menurut saya nih, larangan ini dibuat agar si ibu tidak kelayapan dan merawat bayinya. Menurut saya lagi nih, masa nifas seorang ibu pasca melahirkan kan 40 hari, jadi mungkin si ibu diharapkan bisa fokus dalam menikmati masa nifas. Sehingga ibu dilarang keluar rumah agar tidak tergoda dengan dunia luar. Ini cuma pikiran saya aja sih, kalau salah ya gak tahu jugaak :D hahaha.

Selain hal-hal tersebut, masih banyak lagi larangan dan anjuran dari orang tua zadul. Mitos mitos yang bisa dijelaskan dengan ilmiah dan juga yang tidak bisa dijelaskan dengan logika sekalipun. Misalnya nih, saya coba jelasin satu-satu.

Jangan minum air putih terlalu banyak nanti bayinya pilek
-_- saya geregetan waktu denger nenek saya bilang kayak gitu. Saya cuman diemmm aja, padahal dalam hati rasanya saya pengen nyerocos ngejelasin pentingnya minum air putih. Gini ya, Nek. Sebenarnya, yang bikin bayi pilek itu bukan air putihnya, tapi karena kuman atau mungkin air putihnya kurang higienis, atau mungkin botol atau lingkungan bayi yang menyebabkan bayi pilek. Justru, kebutuhan air tetap harus dicukupi min 8 gelas/hari. Biar saya kalau BAB lancar, Nek. Biar gak dehidrasi juga karena sering keringetan. Tapi apa gunanya. Saya ngejelasinpun Beliau tidak akan percaya. Jadi saya diem aja. Cuman  bisa ngasih senyum palsu :)

Jangan makan sayur
Aaaak! Saya nahan amarah waktu tetangga saya bilang begitu. Katanya, “ya memang seger kalau habis melahirkan makannya pakai kuah dan sayur! Dulu lhoh, saya makannya cuma nasi sama tempe. Liat saja nanti badanmu pasti bengkak (makin gendut)!” Ya ya ya, saya cuma bisa ngelus dada. Tetangga saya yang saya cintai, saya juga butuh asupan vitamin dari sayuran. Anak saya juga butuh asi. Bekas jahitan saya juga butuh protein. Kalau saya tidak makan sayuran dan cuma makan nasi sama lauk, mana 4 sehat 5 sempurnanya? Pun saya sudah tidak minum susu lagi. Kalau saya tidak makan sayuran, saya bisa pingsan nahan sakit waktu BAB (ini lebay :D). Tetangga saya yang baik hatinya, sebenarnya yang mungkin bisa bikin saya gendut itu bukan sayurannya, tapi bisa dari pola makan dan makanan yang dimakan. Contoh nih, tiap makan tambah dua piring. Itu bisa bikin saya gendut. Terus, kalau tiap kali makan pakai santan. Ini juga bisa bikin saya tambah gendut bahkan mungkin kolesterol. Dan masih banyak lagi. Asalkan saya bisa menjaga asupan gizi dan pola makan, insyaallah berat bedan tetap stabil. Toh yang namanya Ibu menyusui bukannya disuruh makan banyak ya? :D

Jangan menekuk kaki ketika tidur
Yang ini saya setuju. Kenapa? Setelah saya cari-cari info dari blog dokter/bidan/web kesehatan sebelah, pasca melahirkan dianjurkan ibu tidak terlalu lama menekuk kaki. Hal ini dikarenakan kaki yang ditekuk akan menghambat aliran darah. Sehingga dapat menyebabkan kaki bengkak bahkan varises. Kenapa ibu pasca melahirkan yang dilarang? Karena peredaran darah ibu pasca melahirkan masih belum stabil diakibatkan ada bagian organ tubuh yang “trauma”. Lebih jelasnya bisa browsing sendiri di web-web kesehatan :D

Pasti dulu kamu sering cuci kaki sama bekas air cucian baju!
Saya maklum, Nenek saya memang sudah tua. Usianya lebih dari 75 tahun. Punya 5 orang anak, cucunya sudah tidak terhitung, dan buyutnya sekarang sudah 15. Jadi memang “pengalaman”-nya dalam hal bayi memang sudah banyak. Tapi yang saya gak terlalu suka, Nenek saya ini kalau ngasih petuah/larangan/anjuran gak pakai alasan ilmiah. Nek, sekarang zaman sudah berubah. Saya maklum kalau yang namanya anak muda harus nurut sama yang tua. Tapi kalau gak ada penjelasannya? Ya, walaupun saya tahu, mungkin ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Tapi setidaknya berilah saya sedikit “pencerahan”! Seperti kasus ini: APA HUBUNGAN KAKI SEMBET PASCA MELAHIRKAN DENGAN DULU (SEBELUM MENIKAH DAN PUNYA ANAK) PERNAH CUCI KAKI SAMA BEKAS AIR CUCIAN BAJU ATAU TIDAK? Ini yang paling gak masuk diakal -_- *sing sabar, San* Kemarin saya dirasani (dipergunjingkan) sama nenek, “dulu pasti kamu sering cuci kaki pakai bekas cucian baju, makanya kakimu sekarang (pasca melahirkan) sering sembet.” Dan seperti biasa, saya cuma ngelus dada.

Masih banyak hal lain lagi, yang “aneh-aneh” dan tidak bisa dianalisis dengan logika. Kalau saya curahkan semua di sini, isinya mungkin bercampur dengan (sedikit) kemarahan saya atas mitos-mitos zadul yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara riil T.T Seandainya para orang tua ini mengerti bahwa saya pun juga punya alasan dan pembelaan diri kenapa saya tidak mau menuruti keinginan mereka.


Mudah-mudahan suatu saat, kelak saya punya cucu, saya tidak secerewet mereka. Semoga saya bisa memutus “tali” mitos ini. Semoga … :)

Tidak ada komentar: