30 April 2014

Saat Jarit Sudah Terlalu Mainstream (Pascamelahirkan)


Dalam posting kemarin saya sudah membahas mengenai anjuran menggunakan jarit pascamelahirkan. Kebanyakan orang desa menganjurkan seorang ibu untuk menggunakan jarit dan udet (semacam korset). Kenapa harus pakai jarit? Biar langkahnya gak panjang-panjang. Supaya apa? Supaya gitu dah. Hoho, saya agak kurang ini menjelaskan ini. Jadi begini ….

Orang zaman dulu sangat mengutamakan keharmonisan rumah tangga. Jadi banyak hal yang direka-reka sendiri untuk kebaikan ibu pascamelahirkan. Seperti jarit di atas. Mereka mengangsumsikan pakai jarit supaya langkahnya tidak panjang. Kenapa? Agar kerapatan daerah kewanitaan tetap terjaga pascamelahirkan. Nah, seperti itulah.

Saya coba searching informasi via internet. Sebenarnya bukan hal itu yang diutamakan. Pascamelahirkan pun seorang ibu boleh menggunakan celana. Tapi jika pengin praktis, lebih nyaman menggunakan rok. Kalau mau ke belakang tinggal nyingkap doang :P

Terlepas dari itu semua saya kurang tahu apakah panjangnya langkah kaki berpengaruh pada kerapatan daerah kewanitaan pascamelahirkan. Saya baca-baca di web-web kesehatan belum ada yang membahas hal ini. Tapi secara abstrak saya mendapati banyak alasan bahwa pengaruh panjang langkah kaki dengan kerapatan daerah kewanitaan ini hanyalah mitos yang belum terbukti. Karena hal ini juga dibarengi dengan seorang ibu pascamelahirkan dilarang jongkok sebelum masa nifas berakhir. Alasan-alasan yang menguatkan diantaranya;

Bahwa pascamelahirkan beberapa jam setelah melahirkan ibu dianjurkan untuk senam nifas. Nah gerakan senam nifas ini (bisa dilihat di web tetangga) menggunakan gerakan-gerakan kaki juga. Padahal orang (di desa) jaman dulu lebih mengutamakan ibu hamil untuk istirahat total. Bahkan kata ibu saya, dulu selepas maghrib seorang ibu pascamelahirkan harus sudah di atas tempat tidur. Hal ini berlangsung selama selapan (36 hari) atau 40 hari.

Bahwa jongkok-berdiri pascamelahirkan lebih cepat mengembalikan kekuatan otot pinggul dan mengecilnya rahim. Nah lho, padahal orang jaman dulu menganjurkan ibu hamil tidak jongkok selama selapan hari. Katanya hal ini berpengaruh pada kerapatan daerah kewanitaan. Berbanding terbalik kan?

Tapi kata ibu saya, anjuran-anjuran orang jaman dulu semuanya tidak salah, juga tidak semuanya benar. Mereka hanya kawatir jika ibu pascamelahirkan setelah itu hubungan rumah tangganya tidak harmonis lagi. Tau sendiri kan ya, kebanyakan ibu pascamelahirkan bentuk badannya banyak berubah. Dan ibu saya juga mengatakan ibu pascamelahirkan sekarang ini justru sehat-sehat gak kayak orang jaman dulu. Iya, karena apa? Karena banyak anjuran yang salah kaprah, menjadikan ibu jaman dulu bukannya cepat pulih malah sebaliknya. Lama pulihnya.


Yak, tulisan ini hanya sebatas pemikiran saya yang kurang sependapat dengan mitos mengenai pemakain jarit (kalau udet/korset saya setuju) dan tidak boleh jongkok. Kembali ke pribadi masing-masing lagi, apakah mau mempercayai mitos tersebut tanpa mengetahui alasan ilmiahnya atau hanya mempercayainya tanpa berpikir alasannya, dan atau tidak percaya sama sekali :)

Tidak ada komentar: