19 November 2010

Cermin

Siapa yang tidak mengenal cermin? Setiap harinya manusia selalu bercermin dengan segala rupa yang melekat pada tubuhnya. Apalagi bagi seorang wanita, cermin bagaikan jati diri yang apabila ditinggalkan akan menjadi suatu malapetaka. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) cermin memiliki banyak makna. Makna yang pertama (merupakan makna leksikal), cermin merupakan kaca bening yang salah satu mukanya dicat dengan air raksa dan sebagainya sehingga dapat memperlihatkan bayangan benda yang ada di depannya, biasanya untuk melihat wajah kita bersolek dan sebagainya. Makna yang kedua (merupakan makna gramatikal), cermin adalah sesuatu yang menjadi teladan atau pelajaran; sesuatu yang membayangkan perasaan (isi hati, keadaan batin, dan sebagainya).


Cermin pertama kali dibuat dari kepingan batu mengkilap menyerupai obsidian (batu kaca berwarna hitam atau hitam keabu-abuan yang berasal dari lahar cair yang terlalu cepat membeku). Cermin ini ditemukan di Anatolia (sekarang Turki), dan berumur kira-kira 6000 SM. Cermin batu mengkilap juga ditemukan di Amerika Tengah dan Amerika Selatan, berumur sekitar 2000 SM. Perkembangan pembuatan cermin juga telah merambah di beberapa negara. Cermin dari tembaga yang mengkilap telah dibuat di Mesopotania pada 4000 SM, serta di Mesir purba pada 3000 SM. Sedangkan di China, telah dikembangkan cermin dari perunggu yang dibuat pada 2000 SM.

Mulanya, cermin terbuat dari kepingan atau lembaran logam mengkilap. Logam yang digunakan biasanya perak atau tembaga agar bayangan yang dipantulkan dapat dilihat. Atau, apabila hanya digunakan untuk memfokuskan cahaya, bisa juga menggunakan logam lainnya. Cermin kaca berlapis logam diciptakan di Sidon (sekarang Lebanon) pada abad pertama masehi. Cermin kaca dengan sandaran dari daun emas pernah juga disebutkan dalam buku Natural History karya Pliny, yang dikarang sekitar tahun 77 Masehi. Teknik menciptakan cermin kasar dari kaca hembus yang dilapisi dengan lelehan timah juga telah dikembangkan oleh orang Romawi.

Penyempurnaan metode melapisi kaca mulai dikembangkan oleh orang Eropa pada awal Abad Renaisans. Orang Eropa tersebut melapisi kaca dengan menggunakan amalgam timah-raksa. Kemudian, pada abad ke-16, Venesia mulai terkenal dengan keahlian membuat kaca serta menjadi pusat produksi cermin dengan menggunakan terknik di atas.

Cermin modern yang beredar sekarang ini kebanyakan terdiri dari lapisan tipis alumunium yang disalut dengan menggunakan kepingan kaca. Cermin yang dibuatnya dengan teknik seperti ini disebut dengan cermin sepuh belakang (back silvered). Permukaan pantulan ini dilihat melalui kepingan kaca. Cermin sepuh belakang ini memang tahan lama. Akan tetapi, kualitasnya tidak begitu bagus. Hal ini disebabkan pembiasan tambahan terhadap permukaan depan kaca. Cermin ini memiliki bagian belakang yang sering dicat hitam untuk melindungi logam dari pengikisan.

Dahulu, cermin merupakan barang mahal nan mewah. Namun, sekarang hal itu tidak berlaku lagi. Cermin bisa dipakai oleh siapa saja dan di mana saja. Malahan, bercermin telah menjadi suatu kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan. Cermin telah menjadikan pencermin menjadi percaya diri. Karena dengan bercermin akan terlihat kekurangan dan kelebihan yang terdapat dalam diri manusia. Baik secara makna leksikal, maupun gramatikal.

Tidak ada komentar: