29 November 2010

Saya sendirian. So? (part. 1)

Sial! Malam ini saya ndak bisa tidur. Entah karena minum kopi tadi, atau karena kepikiran posting yang akan saya jabarkan kali ini. Atau, jangan-jangan gara-gara kelaparan karena sekarang menunjukkan pukul 00.42 dan saya sedang ngemil mie sedap rasa kari ayam tanpa direbus. Hehe. Jangan ditiru kelakuan buruk ini, jika Anda tidak ingin gendut! (sebenarnya saya juga ndak ingin tambah gendut. Kepepet ini ndak ada cemilan lain #ngeles #tanggal tua)

Dalam keadaan sepi, pagi buta, gerimis, dan ditemani suara penyiar radio stasiun rakosa radio, saya akan menguraikan pikiran yang hampir tak bisa membuat saya tidur. (gak penting banget deh)

Terinspirasi dari artikel di detik.com tentang #lupa (intinya ngapain takut atau malu makan sendiri di tempat makan?), mengingatkan saya kepada seseorang yang familiar sekali mukanya. Dia ini ke mana-mana sendirian mirip orang ilang. Sebut saja dia Suntea, dan ini merupakan nama sebenarnya. #curcol. Ya, sebenarnya, tak lain, dan tak bukan, adalah diri saya sendiri. #narsis


Manusia merupakan makhluk sosial yang katanya tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan orang lain. Hal ini memang tidak bisa dibantah. Akan tetapi, membutuhkan di sini tidak dapat diartikan begini. Contoh:

Paijo: Dab, besok ada kuliah ndak? Temenin aku shoping yoh, lagi bĂȘte ini.
Tukiman: Besok aku ndak ada kuliah, Dab. Oke, Dab. Besok yoh….

atau percakapan seperti ini,

Nunung: Cint, temenin aku ke belakang yuuukk… (toilet maksudnya).

Nah, dari percakapan Paijo dan Tukiman, serta Nunung tersebut, saya kategorikan sebagai tindakan yang bisa dikerjakan sendiri, dan tidak perlu meminta pertolongan orang lain. Yang sering saya tanyakan adalah apakah si peminta tolong tidak memikirkan bagaimana masalah yang melatarbelakangi kesediaan si yang dimintai tolong? (kayak buat rumusan masalah ye?)

Bagaimana jika kita buat sebuah kondisi bahwasanya Tukiman sedang sedih karena kucingnya mati, dan dia tidak bisa hidup tanpa kucingnya (agak lebay dikit ndak papa ya). Kemudian, Paijo, sahabat dekat Tukiman, tidak mengetahui kesedihan Tukiman dan meminta tolong untuk menemaninya shoping. Anda pasti mengertilah bagaimana perasaan Tukiman, dan pastinya Tukiman sedang ingin menenangkan diri. Akan tetapi, berkat asas kesahabatannya itu Tukiman bersedia menemani Paijo. Berarti, secara tidak langsung (bahasa kasarane) Paijo telah memperalat Tukiman alias memanfaatkan. Bukankah itu merugikan Tukiman? (sudah mulai mengantuk ini, sudah pukul 01.29. Mau tidur dulu. Kuliah pukul 07.00 besok).

Dengan begitu, Tukiman menerima ajakan Paijo berdasarkan rasa setia kawan dan tidak enak jika menolak. Begitu… Sama halnya dengan Paijo, sebenarnya si Nunung bisa melakukannya sendiri dan tidak perlu mengajak atau meminta bantuan orang lain. (Jika ada yang nanya kenapa nama pelakunya Paijo, Tukiman, dan Nunung itu karena saya orang Jawa… haha #freak)

Nah, penjabaran di atas merupakan hal-hal yang melatarbelakangi postingan ini (berasa buat makalah/prososal gitu #garuk-garuk kepala).

Lanjut besok ya postingannya…mau kuliah pukul 13.00 :)



Jika memiliki persepsi lain, mohon komentarnya ^.^

Tidak ada komentar: