26 November 2010

KEARIFAN LOKAL: TENGGANG RASA MASYARAKAT DESA

Rasa kepedulian di daerah pedesaan memang sangat tinggi. Berbeda dengan masyarakat kota yang kebanyakan lebih mementingkan kehidupan pribadinya dari pada kehidupan para tetangganya. Kehidupan desa yang selaras dan harmonis didukung dengan adanya rasa kekeluargaan di setiap masyarakatnya. Hal ini terwujud dalam prosesi setelah adanya kematian (yang meninggal muslim).

Adanya kematian dalam masyarakat desa menjadi ajang rasa kekeluargaan dan tenggang rasa yang sangat tinggi. Selama tujuh hari, penduduk dalam suatu desa akan berbondong-bondong menyatakan bela sungkawa dan duka cita (ta’jiyah) dengan membawa bahan makanan pokok atau uang. Kebiasaan ini sudah terjadi secara turun-temurun dan menjadi konvensi tersendiri dalam suatu kelompok masyarakat. Sehingga, konvensi ini telah menjadi kebudayaan yang telah menyatu di dalam sanubari masyarakat tersebut.



Dalam prosesi menuju tujuh hari, setiap malamnya akan diadakan yasinan serta tahlilan. Yasinan dan tahlilan ini terjadi dua kali, yaitu selepas maghrib khusus perempuan, dan selepas isa’ khusus laki-laki. Kemudia di malam terakhir, yakni malam ke-tujuh, yasinan dan tahlilan hanya terjadi sekali, selepas isa’. Itu pun mereka hadir bersama-sama namun tempatnya dipisah (perempuan bersama perempuan, laki-laki berkumpul dengan laki-laki).

Rasa tenggang rasa yang dimunculkan dan telah menjadi kebudayaan ini sebetulnya bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi dan kekeluargaan di antara mereka. Mereka lebih senang berbagi, dan hidup harmonis bersama-sama. Kekompakan mereka dalam bersosialisasi patut ditiru dan dijadikan cerminan. Kearifan lokal yang mereka bentuk menjadikan mereka masyarakat yang berbudaya. Mementingkan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi.

Tidak ada komentar: