02 Juni 2010

Homoseksual: Kelainan atau Kesenjangan?

Kelainan seksual pada manusia memang beragam jenisnya. Salah satunya adalah homoseksual. Homoseksual merupakan keadaan tertarik terhadap orang dari jenis kelamin yang sama. Termasuk di dalamnya yaitu gay, lesbian, dan waria. Gay adalah istilah untuk laki-laki yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama laki-laki. Lesbian merupakan istilah untuk perempuan yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama perempuan. Sedangkan, waria, istilah untuk laki-laki yang lebih suka berperan sebagai wanita (waria: wanita-pria; wadam: hawa-adam).

Seorang gay ataupun lesbian akan menyayangi dan mencintai pasangannya, baik secara fisik, seksual, emosional, bahkan spiritual. Seorang gay akan lebih mengutamakan penampilan, dan sangat memperhatikan apapun yang terjadi pada pasangannya. Berbeda dengan lesbian, sepasang lesbian biasanya berperilaku berbanding terbalik dari salah satu di antara mereka. Sedangkan, seorang waria akan terlihat sebagai seorang penyayang yang berperilaku seperti wanita. Tidak tanggung-tanggung, banyak di antara waria yang benar-benar mengilhami perannya dengan mengenakan kostum wanita dan berupaya mengubah tubuhnya yang dulunya laki-laki agar tampak seperti wanita.



Kelainan seksual seperti gay, lesbian, waria memang sudah tidak lagi menjadi suatu hal yang tabu. Komunitas atau perkumpulan antar sesama jenis pun sudah banyak didirikan demi menampung kesamaan ‘nasib’ yang mereka tanggung (lihat ILGA: International Lesbi Gay Asociation). Jika ditilik dari segi latar belakang kududukan atau status sosial, gay, lesbian, dan waria tergolong dalam status sosial yang berbeda. Kebanyakan kaum gay dan lesbian berasal dari komunitas dengan latar belakang status sosial kelas menengah ke atas. Sedangkan, waria lebih banyak datang dari komunitas berstatus sosial kelas bawah.

Komunitas gay dan lesbian yang berasal dari latar belakang status sosial menengah ke atas memang tidak terlalu terlihat di umum. Biasanya mereka menyembunyikan identitas mereka sebagai gay atau lesbian. Mereka malu untuk mengakui keadaannya karena posisi mereka yang berstatus sosial tinggi. Lihat saja beberapa artis dan pejabat laki-laki yang memanfaatkan jasa gigolo untuk memuaskan hasrat mereka. Komunitas gay dan lesbian termasuk dalam komunitas yang tertutup dibandingkan dengan komunitas waria yang bertebaran di mana-mana.

Waria berbeda dengan banci yang dalam bahasa Arab diartikan sebagai manusia yang berkelamin ganda. Waria yang aslinya berjenis kelamin laki-laki ini sebisa mungkin menghadirkan bentuk fisiknya sebagai seorang wanita. Misalnya dengan operasi kelamin, suntik silikon, memakai pakaian wanita, dan lain-lain. Hal ini dapat dilihat di berbagai tempat tongkrongan mereka yang lebih banyak berunsur sikap negatif.
Waria kebanyakan memang hadir dari komunitas berstatus sosial rendah. Waria memang identik dengan menjajakan kepuasan. Mereka memang lebih menyukai pekerjaannya sebagai penyedia ‘layanan’ karena dengan begitu keberadaannya ‘diakui’ oleh pengguna ‘layanan’ tersebut. Meskipun, ‘pengakuan’ yang diterimanya tidak sebanding dengan ‘layanan’ yang telah diberikan.

Gay, lesbian, dan waria. Kehadiran mereka di masyarakat umum memang tidak dapat dihindarkan lagi. Mereka jelas nyata ada dan hidup di antara masyarakat lain yang merasa dirinya normal. Seharusnya, sebagai manusia yang beradab dan saling tenggang rasa, bisa menghormati manusia-manusia lain yang memiliki kekurangan. Mereka hanya ingin diakui sebagai seseorang yang ‘ada’. Mereka jelas tidak salah sebagai seorang yang dilahirkan dengan kelainan yang berbeda dari manusia yang lain.

Gay, lesbian, dan waria tentu saja tidak akan berperilaku negatif apabila masyarakat mau menerima mereka dan memperlakukan mereka dengan baik, serta tidak berpikiran negatif dengan segala tingkah lakunya.

Tidak ada komentar: