28 Juli 2010

ANAK SETAN

Aku masih tetap berjalan meskipun mendung senantiasa menenggelamkan angan yang melambung. Aku masih tetap bermimpi meskipun hanya menjadi sebuah bualan orang-orang syirik yang tak berhati. Ya, aku akan tetap bertahan meskipun masih bisa kudengar teriakan manja kucing jalang sialan. Kucing jalang yang telah membawaku ke alam fana, yang telah memberiku kehidupan yang tak pernah terduga.

“Anak Setan! Ngapain di situ, nguping?” katanya berlalu dengan kibasan muka membelakangiku. Aku yang masih terduduk di samping kamar hanya memandang perempuan yang masih kelihatan sangat muda itu. Dengan balutan lisptik merah yang telah memudar, perempuan itu kembali mengambil cermin dan menambahkan beberapa poles lipstik merah kesayangannya. Aku masih tetap terduduk, terdiam, dan tak mengerti dengan semua tingkahnya, juga dengan semua sebutan-sebutan yang sering ia tujukan untukku. Akan tetapi, aku juga punya sebutan untuknya. Aku senang menyebutnya mama Setan tetapi teman-teman, kenalan-kenalan, dan semua yang mengenal mama Setan memanggilnya hanya dengan sebutan mama. Menurutku, mama senang dengan sebutan yang aku berikan. Awalnya, aku hanya iseng memanggilnya dengan sebutan mama Setan karena aku sering dipanggil anak Setan. Dan terbukti, aku langsung dipanggilnya dengan anak Setan berkali-kali.


Aku masih bingung. Aku tidak pernah tahu kedudukanku di rumah yang tak besar dan mewah tetapi ada banyak kamar ini. Yang aku tahu, aku ini pesuruh mama. Aku sering di suruh ke apotek dan pasar tetapi aku tak pernah disuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ya, kurang apalagi. Di rumah yang tak besar dan mewah tetapi ada banyak kamar ini, aku menggantungkan hidupku. Aku berterima kasih kepada mama. “Kamu beruntung, aku masih bisa menghidupimu. Bersyukurlah kamu!” katanya suatu ketika aku menanyakan perihal papaku, papa Setan. Mama tidak pernah memberitahuku, bahkan menyebutnya papa atau suami pun ia tak pernah. Aku sering menebak-nebak, mana diantara papa-papa yang pernah satu kamar dengan mama di rumah yang tak besar tetapi banyak kamar ini yang sebenarnya papa Setanku. Aku juga pernah bertanya kepada salah satu papa ketika ia baru keluar dari kamar bersama mama. “Papa ini Papa Setannya Laras, bukan?” papa hanya menjawab dengan senyuman dan membetulkan resleting celananya. Ia mengelus kepalaku. Kemudian, meninggalkanku mematung di depan pintu. Tak berapa lama mama keluar, dan kembali menunjukkan kasih sayangnya. “Anak Setan! Pergi aja sana ke pasar. Beli kembang.”

Aku memang tak terlalu mempersoalkan papa setanku yang tak pernah disebut mama tetapi aku tak suka dengan papa-papa yang sering bersama mama. Tidak hanya papa-papa itu, tetapi juga teman-teman laki-laki atau pun perempuan mama menyebutku dengan sebutan anak manis. Mereka berucap sambil menyunggingkan senyuman. Padahal itu ejekan. Mama saja yang sayang padaku tak pernah menyebutku “anak manis”. Mereka menyebutku demikian setelah aku membelikan obat dari apotek. Karena aku belum lancar membaca, mereka menuliskan ini “kondom” dalam secarik kertas, dan tulisan obat itu aku tak pernah mengerti. Ketika aku membelikannya di apotek, penjaga apotek itu memandangku dengan tatapan heran kemudian menggelengkan kepala. “Penjaga apotek itu pasti kasihan karena penyakitnya pasti parah,” kataku dalam hati. Sebelum meninggalkan apotek, aku pun berterima kasih karena telah bersimpati dengan penyakit yang diderita oleh orang yang menyuruhku. Dan kuperhatikan ia semakin menggeleng-gelengkan kepala.

“Terima kasih, anak manis,” selalu begitu mereka berucap. Sebutan itu adalah sebutan menyakitkan yang kukenal pada waktu itu. Namun, aku selalu menjawab dengan tarikan sudut-sudut bibir yang terpaksa. “Semoga lekas sembuh,” seperti ucapan penjaga apotek kepadaku setiap memberikan obatnya. Seterusnya, setelah aku menyerahkan obatnya, ia pasti langsung istirahat di dalam kamar bersama dengan teman perempuan atau laki-lakinya.

Aku pun telah dipanggil dengan sebutan bunda oleh teman-teman laki-laki atau perempuanku. Rumah mama yang tak besar dan mewah tetapi ada banyak kamar ini, telah semakin ramai dengan cahaya lampu warna-warni yang hanya ada ketika tengah malam menjelang, dan juga bunyian musik-musik keras tetapi tak bisa di dengar dari luar. Aku semakin senang dengan keadaan rumah mama. Ya, mama setan. Aku telah mengerti kenapa mama dan papa-papa, serta teman-teman mama berada dalam kamar setelah aku membelikan obat dari apotek. Aku sudah bisa lancar membaca dan menulis tulisan dalam secarik kertas yang sering diberikan padaku ketika akan ke apotek. Ya, aku telah sangat mengerti. Mengerti kenapa aku dipanggil mama dengan sebutan anak setan? Mengerti kenapa aku dipanggil teman-teman mama dengan sebutan anak manis?

Aku sudah tentukan sendiri nasibku. Aku bukan menjadi anak setan lagi seperti sebutan mama. Aku bukan lagi menjadi anak ingusan yang disuruh ke apotek untuk membeli kondom. Pergi ke pasar untuk membeli kembang untuk hiasan dan wangi-wangian kamar-kamar mama. Aku sudah tak pernah bertanya lagi kepada papa-papa yang sekamar dengan mama tentang papa setanku. Aku tak mempersoalkan siapa papa setanku sebenarnya. Aku sudah terbiasa. Aku sudah ikhlas, dan seperti yang kubilang, “aku sudah tentukan nasibku sendiri.”

“Bun, ada tamu yang ingin bertemu, katanya dia mencari Martini,” kata salah seorang pembantuku. Aku terkejut, Martini adalah nama masa lalu mama. Aku menemuinya, ternyata ia laki-laki memakai jas hitam. Walaupun sebenarnya sudah tua, tetapi masih terlihat muda. “Maaf, Anda siapa?” tanyaku kepadanya. “Saya Daniel. Saya mencari Martini. Apakah ia masih tinggal di sini?” tanyanya kemudian. “Ada keperluan apa?” tanyaku melanjutkan. “Saya hanya ingin bertemu. Sudah lama tak bertemu. Saya ingin mengobrol dengannya,” jawab laki-laki itu ragu-ragu. Aku menangkap kegelisahan di wajahnya. Entah kenapa aku menjadi iba terhadapnya. Aku mempersilakan ia duduk di kursi teras rumah. Kami terdiam agak lama, kaku menyelimuti. Akhirnya, aku angkat bicara. “Mungkin anda belum bisa bertemu dengan Mama saya.” Ia tercengang melihatku berkata seperti itu. Aku pun heran dengan laki-laki di depanku ini. Matanya berkaca-kaca. Pemandangan yang sangat aneh menurutku. “Apakah orang ini gila?” pikirku.

“Kau, anakku!” katanya serak. Aku diam. aku terkejut tetapi aku sudah tak ingin mempersoalkan ini. Aku sudah tak ingin tahu lagi siapa papa setanku. “Maaf, mungkin anda salah orang. Mama tidak pernah menyebut nama papa saya. Mama tidak pernah sedikitpun menyebut suaminya,” kataku datar. “Tapi kau benar anakku!” katanya lagi, ngotot. “Jika Anda benar papa saya, kenapa Anda tak pernah berkunjung ke rumah ini? Kenapa nama anda tidak pernah disebut oleh mama,” kataku. Laki-laki itu menangis tertahan. Aku lihat ia segera menepis bulir air mata yang telah menggenang di sudut matanya. “Di mana Martini, biar aku jelaskan nanti setelah bertemu mamamu, anakku,” ujarnya, serasa membuatku ingin muntah. Aku tak pernah diperlakukan seperti ini. “Anda tetap ingin bertemu, baiklah. Mari ikut saya,” seraya berjalan ke arah jalan setapak desa. Kami berdua berjalan hingga menemukan lapangan dengan padang rumput yang luas. “Mau kemana kita? Martini tinggal dimana?” tanyanya. Aku berhenti. “Di sini!” kataku menunjuk lapangan dengan padang rumput yang luas itu. “Kuburan!” pekiknya. Aku hanya mengangguk. Aku menunjukkan dimana tempat tinggal mama yang terakhir. Laki-laki yang bernama Daniel itu segera menghambur ke makam mama. Ia menangis. Ia meracau dan aku tak ingin mendengarkannya.

Akhirnya, aku tahu. Tidak sepenuhnya nasib, aku yang menentukan. Aku bertemu dengan papaku, papa setanku. Tapi itu masalah pribadiku. Aku sudah mengikatkan diriku pada mama. Aku sudah menjadikan diriku seperti mama. Benar seperti mama, di rumah yang tak besar dan mewah tetapi ada banyak kamar ini aku memanggil seseorang untuk ke apotek, “Heh, anak setan!....”

Tidak ada komentar: