28 Mei 2010

SEJUTA TOPENG SEORANG PENIPU

Penipuan memang selalu menjadi trend. Meskipun hanya sedikit kerugian yang diterima oleh si korban, akan tetapi tetap saja hal itu disebut melanggar hukum karena merugikan orang lain. Motif penipuan yang sering dijumpai adalah meminta tolong. Meminta tolong dengan wajah memelas memang membuat orang yang meluhat akan merasa kasihan dan akhirnya akan membantu. Berikut beberapa peristiwa yang dapat dijadikan pelajaran.

“Maaf Mbak, mau minta tolong. Kalau mau ke terminal naik jalur berapa ya? Ini saya mau ke Jombang lewat Solo mampir dulu ke tempat saudara di Jogja, naik bus lagi tahu-tahu dompet saya hilang. Hilang semuanya,” kata seorang Bapak yang kira-kira berusia lima puluhan dengan ekspresi mimik wajah memelas. Bapak tersebut tidak sengaja diketemui di depan fakultas perikanan UGM Jogjakarta (4/10), sekitar pukul 08.30 WIB ketika berjalan menuju ke sunmor (Sunday morning). Lawan yang dimintai pertolongan, atas dasar belas kasihan memberi ongkos Rp10.000,00 kepada bapak tersebut, serta memberitahu jalur bus, dan bus apakah yang menuju ke Solo. Akan tetapi, ada sesuatu yang aneh. Ketika ada seorang anak laki-laki (12 tahun) melewati bapak dan orang yang dimintai tolong itu, anak laki-laki tersebut turun dari sepedanya dan memandang mereka dengan raut muka menyelidik. Anehnya, bapak teesebut melihat anak laki-laki itu dan mengusirnya dengan isyarat tangan yang dihempaskan ke arah anak laki-laki itu. Anak laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan mereka.



Adakah peristiwa tersebut sengaja dilakukan atau benar terjadi bahwa bapak tersebut kehilangan dompet ketika perjalanan? Lalu bagaimana dengan peristiwa berikut?

Wanita (19 tahun) duduk sendirian di stasiun Lempuyangan menunggu datangnya kereta ekonomi dari arah Surabaya menuju ke Jakarta. Wanita tersebut akan turun di stasiun Senen Jakarta. Beberapa saat kemudian, ada seorang lelaki (28-an tahun) mengajaknya mengobrol. Lelaki tersebut menyatakan satu tujuan dengan wanita itu. Lelaki itu bercerita panjang lebar tentang adiknya dan keperluannya ke Jakarta. Kereta datang, wanita dan lelaki itu memasuki kereta jurusan Surabaya-Jakarta. Pertamanya lelaki itu mau meminjam ponsel si wanita tetapi tidak jadi. Kemudian, setelah kereta lambat-lambat meninggalkan stasiun, si lelaki bertanya apakah ada uang pecahan dua puluh atau sepuluh untuk membeli oleh-oleh. Dengan tergesa-gesa karena kereta sudah lambat berjalan, wanita itupun memberinya uang pecahan dua pulu ribu. Akan tetapi, setelah kereta mulai berjalan cepat dan benar-benar meninggalkan stasiun si lelaki itu tidak juga muncul. Yang terjadi, wanita tersebut mengikhlaskan uangnya.

Dan cerita dua mahasiswi berikut ini.
Terlihat dua mahasiswi berjalan menyusuri trotoar menuju Mirota Kampus Jl. C Simanjutak. Dua mehasiswi tersebut dihadang oleh seorang Ibu yang menggendong anaknya yang berusia tiga tahun di depan SMP Bopkri. Ibu tersebut mau meminta tolong. Ia kecopetan ketika di bus sedangkan ia masih harus melanjutkan perjalanan pulangnya ke Gunung Kidul. Si Ibu juga bilang kalau anak yang dalam gendongannya juga sakit demam. Salah satu dari mahasiswi tersebut, karena kurang percaya memegang kening sang anak, dan memang demam. Karena kasihan, mahasiswi tersebut memberinya uang Rp20.000,00 untuk ongkos pulang dan membeli obat demam anaknya. Mereka pun meninggalkan orang tersebut. Sampai di dekat ATM samping Mirota Kampus, kedua mahasiswi tadi dihampiri seorang Ibu yang turun dari motornya. Ibu itu bilang, “tadi ngasih duit ke Ibu yang gendong anak tadi ya mbak? Jangan percaya mbak. Bohong itu. Saya sudah pernah.” Kedua mahasiswi hanya bengong dan berterima kasih karena sudah diberitahu.
Sepulang dari Mirota Kampus, Ibu yang menggendong anak tersebut masih berada di depan SMP Bopkri. Karena penasaran, kedua mahasiswi tersebut mengahmpiri kembali dan bertanya, “Ibu belum pulang?” dan si Ibu itu menjawab, “Iya, ini lagi nunggu teman.” Kedua mahasiswi tersebut langsung meninggalkan si Ibu dengan perasaan gondok tetapi mau bagaimana lagi. Kalau benar si Ibu sudah dijemput oleh rekannya, kenapa duit mahasiswi tersebut tidak dikembalikan?

Membedakan yang benar dan yang tidak itu memang susah. Seorang penipu memang memiliki sejuta topeng untuk melancarkan aksinya. Maraknya penipuan berkedok minta tolong ini menjadikan masyarakat menjadi tega untuk tidak menolong dan tidak mempercayai orang tersebutng. Lalu bagaimana jika orang yang meminta tolong tersebut benar-benar orang yang memerlukan pertolongan?

Semoga pembaca lebih berhati-hati menilai orang. Sebagai manusia, memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Mohon saran dan kritik untuk tulisan ini. Apabila ada salah kata, penulis mohon maaf. Terima kasih :)

2 komentar:

nahdhi mengatakan...

Hahaha... Salah satu teman saya ada juga yang mengalami seperti itu. teman saya ini tau kalau si ibu-ibu itu bohong. tapi katanya teman saya ini tergiur dengan sebuah reality show di TV (TOLONG), jadi dia kasih itu ibu-ibu 50ribu. ditunggu-tunggu lumayan lama kok kameramannya gak datang, akhirnya dia kecewa karena merasa ditipu beneran. (yang ini berbicara keikhlasan kali ya).
Tapi cara "ngemis" ini dalam pengamatan saya ada juga pasca gencar di TV ada acara reality show semacam itu.
Saya tidak tahu hubungannya gimana, tapi pasti ada sebuah pemikiran yang sinergis antara reality show di TV dengan ide "ngemis" cara seperti itu....

suntea mengatakan...

hoo iya, betul
bisa dimungkinkan seperti itu. Saya baru kepikiran. hehe.. bisa jadi mereka terinspirasi dari realiti show tersebut.

terima kasih tambahannya :)