21 Mei 2011

Pro-Kontra "Perlukah Pelajar yang Hamil Dikeluarkan dari Sekolah?"

Beberapa minggu yang lalu *saya lupa tanggal berapa*, tepatnya ketika hari Selasa pukul 13.00 WIB *kalo harinya ingat karena saya izin tidak masuk kuliah, hehe*, saya dan teman-teman perkuliahan Keterampilan Wicara melakukan debat di TVRI Yogyakarta.

Beberapa hari sebelum hari tersebut, kami telah mendapatkan undangan tersebut, yaitu untuk mengisi debat tentang "perlukah pelajar yang hamil dikeluarkan dari sekolah?" di TVRI Yogya. Dan, kebetulan kami mendapat posisi kontra. Jadi, dalam debat tersebut kami menolak jika sekolah mengeluarkan pelajar yang hamil.

Acara debat yang kami ikuti tersebut berjudul: BERANI BICARA: KRITIS, SPORTIF, ARGUMENTATIF.

Jadi, ketika si pembawa acara (moderator)  berkata, "berani bicara!!!", kami peserta debat akan menjawab, "kritis, sportif, argumentatif!"

Sebagai pihak kontra, kami sangat menolak apabila pelajar yang hamil dikeluarkan dari sekolah. Hal ini terkait dengan HAM yaitu, mendapatkan pendidikan (tanpa terkecuali, pelajar yang sedang hamil). Sebenarnya ada dalam UU, tapi saya lupa *hehe*.

Pengluaran pelajar hamil dari sekolah justru akan membuat pelajar tersebut menjadi seperti peribahasa "sudah jatuh, tertimpa tangga". Sungguh tragis sekali.

Memang, untuk hak pengeluaran pelajar yang hamil diserahkan kepada sekolah. Akan tetapi, tidakkah ada hal yang lebih positif dan manusiawi untuk memberikan pelajaran kepada pelajar yang hamil tersebut?

Jika ditilik dari peran guru BK (bimbingan konseling) misalnya, bisa saja guru tersebut mengarahkan jalan si pelajar yang hamil tersebut. Hal ini bukan berarti, pelajar yang lain tidak diperhatikan, tetapi (setidaknya) dapat memanfaatkan peristiwa tersebut sebagai peringatan untuk pelajar yang lain. Sebagai contoh nyata, bahwa hal tersebut tidak baik, dan jangan pernah dilakukan oleh seorang pelajar. Ini, jika kehamilan pelajar tersebut disebabkan oleh "bersendau gurau" yang keterlaluan.

Hal ini berbeda, jika disebabkan oleh kekerasan (dilakukan secara paksa). Mungkin, bisa diupayakan untuk menghimbau pelajar yang lain, agar berhati-hati dalam menjaga diri.


Pengeluaran seorang pelajar yang hamil memang tidak semuanya dilakukan oleh sekolah, karena justru pelajar tersebutlah yang meminta untuk mengundurkan diri dari sekolah. Hal ini disebabkan oleh tekanan psikologis si pelajar hamil. Untuk itu, peran sekolah justru sangat besar, membantu mengembalikan kepercayaan diri pelajar yang hamil tersebut, dan menumbuhkan kembali semangat belajarnya.

Salam hati-hati!

Tidak ada komentar: