19 Mei 2011

Gadis Penjual Bunga

Saya tak ketawa dulu.. Hahaha *edan*

Jadi, begini. Saya habis menjual bunga (mawar) di GSP (Grha Sabha Pramana) UGM, pas wisuda berlangsung *mikir: kapan ya wisuda?*. Kenapa saya menjual bunga? itu adalah hal yang rahasia. Pokoknya ada misi yang sedang saya jalankan bersama dengan teman-teman saya *jayus*.

Setelah ngetan-ngulon-ngalur-ngidul bunga yang tadinya ada 12 tangkai, tinggal 4 tangkai. Itupan salah satu tangkainya dibeli oleh teman saya sendiri. Dan, kenapa bisa menjadi tinggal 3 tangkai?

Awal mulai kisahnya, di bawah ini *ketok-ketok meja punya dalang*

Ya, kalian pasti sudah menduga kalau bunga yang satu tangkai itu dibeli, dan memang dibeli, bukan dicuri atau dibajak sama orang.

Tadi itu, saya sudah putus asa karena saingan sudah banyak sekali. Akhirnya, saya memutuskan pulang, dan menyisakan 4 tangkai mawar. Mawar2 tersebut saya taruh di bawah setir motor. Sesampainya di portal bapak satpam *sebenarnya mas-mas ding, masih muda*, saya diberhentikan. Padahal saya sudah mengalungkan KIK (kartu identitas kendaraan), tapi saya tetap diberhentikan.

Saya berhenti. Muka sudah saya setting menjadi muka penuh curiga *untung bukan muka kuntilanak*.

Mas satpam: mba, bunganya dijual tidak mba?

Saya: *semakin curiga* emangnya kenapa mas? *memasang wajah serius*

Mas satpam: bunganya dijual ndak mba?

Saya semakin galau, dan berprasangkan buruk. Jangan-jangan nanti saya ditarik karcis, gara-gara jualan bunga.

Saya: ... *hening*

Mas satpam: kalau dijual, saya mau beli mba? *senyum-senyum ndak jelas*

Saya yang ketika itu sudah curiga, langsung mengubah mimik wajah menjadi cemerlang 100% *haha*.

Saya: iya ini mas. Lima ribu aja.

Dan, akhirnya, masnya satpam itu beli bunga *hehe*


PESAN MORAL HARI INI: JAngan berprasangka buruk dulu kepada orang lain, sebelum tahu keperluan, maksud, serta tujuan.

Salam gadis penjual bunga!

Tidak ada komentar: