14 April 2011

MAKAN, BUNUH DIRI, dan BAKSO

bakso seperempat
Sebelum menghabiskan potongan bakso yang cuma seperempat ini, saya ingin terlebih dahulu bercerita sebuah dan beberapa kisah sebelum saya memakan semangkok bakso menggairahkan ini. Tapi, bo’ong. Setelah saya nulis separagraf tulisan ini, saya memakan potongan bakso tersebut. Sayang, tinggal seperempat doang.
bakso satu mangkok

Jadi, sebahabis UTS terakhir hari Kamis, usai pukul 13.00 WIB, saya memutuskan untuk mengisi perut yang keroncongan. Kepala uda pusing-pusing, dan tangan saya dingin *yang terakhir mungkin karena AC-nya terlalu dingin*. Karena ndak da temen yang mau ke kantin, akhirnya saya melanglang buana ke suatu daerah, jauh dari kos. Di sini, saya mencari warung makan.

Akhirnya, dapat. Seorang Ibu, tersenyum kepada saya. Menawari saya makan dan minum *yaiyalah, kalau ndak beli mana ada diladenin seperti itu*. Saya makan dengan setiap kali suap, 32 kali kunyah *tapi selama ini belum pernah benar-benar menghitung*.

Ketika saya sedang asik meminum es teh, ibu tersebut dengan lantang berbicara.

Si ibu: Tadi, ada yang bunuh diri di belakang situ, tahu ndak, mba?

Saya yang mendengar pernyataan sekaligus pertanyaan itu, menghabiskan minuman dengan hati-hati, teguk demi teguk, biar ndak keselek, dan dikira bunuh diri sama si ibu *saya tahu, pasti si ibu trauma dengan berita bunuh diri*. Saya hanya menggeleng dan bertanya.

Saya: kurang tahu saya, bu. Memangnya siapa dan kenapa bunuh diri, bu?

Si ibu dengan antusias yang tinggi karena saya balik bertanya, bercerita dengan menggebu-nggebu.

Si ibu: itu di blok A. Masuk koran juga. Dia itu suami ketiga.Yaaa…mungkin cupet (baca: pikirannya buntu) terus bunuh diri. Katanya sering dimarahi kok.

Saya hanya manggut-manggu dengerin cerita si Ibu.

Saya: mungkin itu tertekan, bu. *dengan gaya sotoy, padahal kagak ngerti duduk masalahnya di mana wkwkwk*.

Hening. Dan, ini adalah kesempatan saya untuk melarikan diri dari cengkeraman pernyataan-pernyataan si ibu. TErnyata benar. Bersamaan dengan saya tanya biaya saya makan, si ibu mau bercerita lagi. Hahaha tapi saya buru-buru menodongkan uang kepadanya. Lalu saya enyah dari warung si ibu tersebut.

***
Enyah dari warung tersebut, perut belum 100% terisi. Saya inget pesan kakak ipar saya yang notabene adalah seorang dokter *yang pastinya bukan dokter kelamin*, nyuruh saya banyak makan karena keadaan tubuh belum fit. Hahhhh, indahnya dunia. Saya seneng kalau lagi ndak enak badan, sama dokter disuruh banyak makan.

Saya juga inget dulu waktu saya kena herpes, dan berobat ke seorang dokter *dan tentu saja bukan dokter hewan*, sama dokternya, saya disuruh banyak makan. Saya ndak ngerti letak hubungan antara makan dengan penyakit herpes itu apa? Tapi, saya cukup gembira dengan petuah si dokter tersebut.

Kembali ke cerita.

Saya kembali melanglang buana, dan nyari makanan. Wangsit tiba-tiba datang, menerjang *ndak pake ketuk-ketuk otak* ke dalam pikiran saya. BAKSO. Itulah yang saya cari. Saya menghampiri sebuah warung yang belum lama ini dibuka. Karena itu, saya ingin mencicipi bakso tersebut. Meskipun warung bakso tersebut masih sepi dan tidak ramai pengunjung. Saya masuk, dan setelah celingak-celinguk… *amazing* bapaknya tidur ternganga di atas kursi dan bersender di tembok.

Dengan sekuat tenaga, saya bangunin tuh bapak. Teriak, “bapak, bapak,….!!!!” Tapi bapaknya ndak bangun-bangun. Pengen rasanya saya timpuk pake helm yang saya pegang, tapi saya ndak tega. Kayaknya bapaknya sedang mimpi bertemu bidadari. Dan salah satu bidadarinya lagi pengen makan bakso. Tapi ndak diladenin. Haha…

Yaaa… mungkin belum rezekinya si bapak. Akhirnya, saya pergi dan mencari tempat lain.

Di tempat lain ini saya beli bakso. Tapi saya harus sabar. Si bapaknya ini ngeladeninnya lamaaaa… dan yang terlintas di kepala saya adalah kura-kura *dampak nonton Sammy’s adventure*.

Saya pulang dengan tentengan BAKSO.

PESAN MORAL hari ini:
  1. Sangatlah tidak baik jika di saat Anda makan, Anda mendengarkan cerita bunuh diri. Karena, jika Anda tersedak, Anda pasti dikira bunuh diri.
  2. Bagi Anda yang memiliki “kelebihan” BB, jangan takut untuk makan banyak ketika sakit. Terbukti, Anda akan semakin gendut. Percayalah.
  3. Rezeki tidak akan lari ke mana. Kalau belum rezekinya, yaaaa…pasti akan lari ke orang yang sepantasnya mendapatkan rezeki.

Salam STOP bunuh diri!

PS: Sebenarnya saya pengen foto si bapak yang tidur tersebut, tapi saya takut hukum karma.

Tidak ada komentar: