28 Maret 2011

Tak Kenal, Bukan Berarti Tak Sayang

Seperti biasa, busung lapar yang melanda membuat saya harus mencari mangsa. Siang ini saya ke burjo untuk memuaskan hasrat terpendam ini.

Mak bedunduk, mak njegagik, ujug-ujug, tiba-tiba *ini alay*, saya disapa oleh tem…mmm…saya bingung menyebutnya apa. SAhabat, bukan! Teman, juga bukan! Musuh, apa lagi, bukan! Mending, saya ceritakan dulu siapa sosok yang menyapa tersebut.

Sosok itu, seorang perempuan, satu fakultas, beda jurusan, dan saya tidak pernah satu kelas dengan dia. Dia yang sampai saat ini pun saya belum pernah tahu namanya *dodol banget ini, SUMPAH*, sering menyapa saya, dan begitupun sebaliknya. Sebenarnya saya agak lupa pertemuan pertama kami *so sweet banget haha*, hingga akhirnya kami bisa kenal.

Jelasnya, kami punya satu kesamaan. Seorang pejalan kaki. Kami pun juga kos di daerah yang sama *tapi ndak satu kos*. JAdi, dulu kami lebih sering ketemu pas di jalan menuju ke kampus. Hingga akhirnya kami saling mengetahui kalau kami satu fakultas.

Terkadang jika ketemu di kampus, kami juga menyempatkan diri bercakap-cakap. Bahwasanya, percakapan itu tidak penting (banget). Seperti, “kamu gak kuliah?” ato sekedar saling melempar manggis…bukan bukan seperti lagu cucakrawa. Maksud saya melempar senyum.

Hingga sekarang pertemanan yang aneh ini tetap berlanjut. Dan, tetap dengan saya yang tidak mengetahui namanya. Pun sebenarnya saya tidak yakin dia juga mengetahui nama saya.

Ya, kembali ke cerita burjo.
Saya ketemu dia, dan dia menyapa saya. Bahkan dia duluan yang menyapa saya.


Dia: Heiii… *melambaikan tangan ke arah saya dengan heboh. Semacam cheerleader.*

Oia, saya kasih tahu dulu posisinya. SAya berada di luar warung burjo, karena warung penuh. Sedangkan dia duduk di depan meja. JAdi, dia yang heboh sendiri melihat saya. Memang, saya ini berkharismatik sekali. Hahaha.

Melihat dia yang heboh seperti itu, saya pun memperlihatkan kehebohan untuk menyaingi kegirangannya ketemu dengan saya.


Saya: heii… apa kabar?


Dia: Baik. LAgi beli makan to?

Saya: iya. Kosmu deket sini toh?


Dia: iya, situ. Masuk gang *sambil nunjuk-nunjuk arah gang yang dimaksud*. Lhah, kosmu dimana?

Saya: Di situ *nunjuk arah mana aja yang bisa menunjuk ke kos haha, soalnya lumayan jauh*

Sekilas, dia melirik ke arah si BH. Jangan ngeres ye? BH itu sebutan untuk sepeda bermesin motor saya. Karena platnya K xxxx BH. Hehe.


Dia: Ooooh. Pantesan ndak pernah ketemu lagi di jalan (red: jalan kaki ke kampus), sekarang dah bawa motor *ngeledekin saya*

Saya: Ahhh nggak juga *sambil senyum-senyum ndak jelas, dan muka merah marun haha*

Karena pesanan dia sudah selesai dibungkus, akhirnya dia pamit duluan. Ya, seperti itulah pertemanan aneh kami. Sangkaan saya yang nyata 100% saya yakini, dia jua tidak tahu nama saya. KArena, kalau misalnya dia tahu nama saya, harusnya dia menyapa saya dengan nama saya. Bukan dengan heiiii ala cheerleader kesetanan seperti itu.

Tak kenal, bukan berarti tak sayang. Nyatanya, sampai sekarang pun kami masih tetap berteman, saling sapa, ngobrol, intinya bersilaturahmi, meskipun kami tak saling mengenal satu sama lain.

Andai dunia mau melihat pertemanan kita? Maka takkan ada perselisihan yang terjadi di antara agama, ras, suku, bahkan bangsa sekalipun.

Sekian.

Salam Perdamaian! *backsound kosidahan perdamaian*

2 komentar:

dddew mengatakan...

mampir yuukkk http://reggaenita.wordpress.com/

Suntea mengatakan...

yukk mari... :)