28 September 2012

Lambang Cinta

"Ja, kalau lambang cinta biasanya kayak gini kan?" ujar Nilam sambil melukis gambar hati di hamparan pasir pantai Parangtritis.

"Aku sempat bingung membedakan apakah itu sebenarnya gambar hati atau gambar jantung. Karena menurutku gambar ini sama dengan gambar hati dan jantung," celoteh Nilam masih terus memberondong. Kibaran angin yang menghempas ombak senja itu tak mau tahu dan masih saja mempermainkan apa saja yang dilaluinya. Termasuk Nilam.

Nilam masih mempermainkan ranting kayu yang ditemukannya tadi ketika ia berjalan menyisir pantai. Kaki-kaki telanjangnya bersetubuh dengan buih air yang girang berlarian.

"Ja, apakah tadi aku sudah bilang? Kalau sebenarnya persepsiku mengenai lambang cinta ini bukanlah mengenai gambar hati atau jantung."

Nilam menghela napasnya sebentar. Memandang lautan lepas yang tiada batas. Senja masih terhias dan sebentar lagi sosok itu akan terbias. Berganti malam. Tampak pasangan muda-mudi saling melingkarkan tangannya. Saling merengkuh agar tak terpisah jauh.

Nilam menatap senja. Dengan bulatan hitam matanya yang nanar, akhirnya ia mengatakan hal tersebut.

"Ja, lambang cinta itu sebenarnya adalah aku dan seseorang yang sekarang telah mengisi hatiku. Aku pernah menggambar itu di sini. Ini aku, dan ini  dia." Nilam masih menggambar. "Jika ini dirangkai menjadi satu, maka ... hap! Terjadilah lambang cinta yang aku maksud."

"Hmm ... sepertinya sudah semakin sore. Senja yang baik, aku harus pulang. Besok lambang cintaku akan menemuiku di pelaminan. Setelahnya, aku akan ke sini lagi. Mengukir lambang cinta yang sebenarnya."

Tidak ada komentar: