25 September 2012

Jalan Lain



Lian terpekur di dalam kamarnya yang gelap. Sengaja tak ia nyalakan lampu yang biasa meneranginya. Padahal ia bukanlah gadis yang suka gelap. Suasana hatinya sudah tak lagi mengingat fobia yang dideritanya.

Butiran bening itu masih tetap saja meluncur dari sudut matanya. Tanpa jeda, seperti aliran memori yang kini berhias di setiap tetes butiran itu. Keinginannya melanjutkan kuliah kandas di tengah jalan. Koran yang memuat ribuan nama dan namanya itu hanyalah fatamorgana yang tak jadi terwujud.

***

“Ibu, hanya seorang pedagang jamu, Nak. Maafkan ibu jika tak bisa membiayai cita-citamu untuk mejadi dokter,” tutur Ibu Lian, parau. Ibu sebenarnya tak ingin melontarkan tuturan tersebut.
“Tak apa, Bu. Mungkin ini belum jalan Lian. Lian akan terus berusaha untuk menggapai cita,” katanya, berlalu meninggalkan Ibu yang masih terduduk di ruang tamu.

***

Lian berjalan gontai menuju kamar, menutupnya, mengunci diri. Gelap. Ia tak tahu, di balik jalan ini, masih terbentang jalan panjang yang bercabang.

Tidak ada komentar: