01 November 2009

MASALAHKU, MASALAHMU

Pagi ini aku harus berangkat ke sebuah dusun kecil di pelosok kota Semarang. Tidak pernah terbayangkan olehku mendapatkan tempat tugas di daerah pelosok. Selama aku dilahirkan di bumi ini, aku tidak pernah bersinggungan dengan daerah pedesaan, alih-alih dusun pelosok. Sejak surat panggilan itu datang, kegelisahan dan kegundahan merenggut seluruh pikiranku. Aku enggan meninggalkan keramain kota ini. Akan tetapi, hal ini adalah cita-citaku dulu. Bukan, bukan cita-citaku, cita-cita almarhum Ayahku. Mengingat almarhum Ayah, sungguh luar biasa semangat ini muncul begitu saja. Akhirnya, aku berangkat.



“Bu, Setyo pamit pergi ya?”, aku pegang tangan dingin Ibuku. Ibu hanya duduk terpaku memandang lantai keramik rumah dengan berkaca-kaca. Aku peluk tubuhnya. Dengan perlahan aku berjalan meninggalkan Ibu, menuju andong yang siap mengantarku ke stasiun. Di saat terakhir itu, aku melihat Ibu menitikkan air mata. Aku mendengar suara rintih itu, “Hati-hati nak. Doa Ibu selalu menyertaimu”. Tak kuasa aku melihat air mata itu membasahi pipinya. Semasa aku hidup bersamanya, dua kali aku melihat Ibu menangis. Yang pertama saat Ayahku meninggal, dan yang kedua adalah hari ini. Dengan perasaan kalut, aku tinggalkan Ibu sendirian di rumah. “Jalan Pak,” kataku kepada kusir.

Sesampainya di stasiun, segera aku ke loket memesan tiket ke Semarang.

Perjalanan ini terasa menyakitkan. Sisa-sisa kesedihan yang Ibu torehkan saat aku tinggalkan, membekas menjalari perasaan ini. Dalam hati aku meminta maaf kepada Ibu, ”Bu, maafkan Setyo, tidak bisa selalu berada di samping ibu, menemani masa senja ibu”. Tidak terasa air mata ini menggenangi pelupuk mata. Dengan segera aku tepis semua perasaan, ketika aku merasa ada yang duduk di sebelahku.

“Oh, maaf, sudah mengganggu lamunan Anda”, kata wanita di sebelahku. Aku sunggingkan senyumku, ”Maaf, tidak apa-apa”.

Selama beberapa jam, tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut ku dan dari mulut wanita di sebelahku. Akhirnya, kebekuan itu agak melumer setelah perempuan itu mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri, ”Kenalkan, saya Tini”, dengan menyunggingkan senyumnya yang memperjelas lesung pipinya.
“Hei, wanita seperti apakah yang ada di sampingku ini?”, pikirku. “Sebegitu beranikah dia memperkenalkan diri di hadapan orang yang tidak dikenalnya?”, masih tidak percaya.
“Maaf, apakah Anda melamun lagi?” tanyanya masih dengan uluran tangan yang belum ku jabat.
“Oh, maaf, saya Setyo”, kata ku dengan menjabat uluran tangannya.

Aku tidak banyak bicara. Aku terlalu malas untuk memulai berdialog dengannya. Walaupun sebenarnya di kepalaku banyak berjibun pertanyaan yang ingin ku ajukan untuk Tini. Tentang di mana dia tinggal? Dari mana dia? Apakah dia dari kota atau dari desa? Tetapi itu bukan urusanku. Tini, yang aku kenal lewat percakapan singkat itu, kira-kira tiga tahun lebih muda dari pada aku.

Aku tertidur, perjalanan dari Surabaya ke Semarang membutuhkan waktu 12 jam. Belum pernah olehku pergi dari rumah sejauh ini. Pantas saja jika Ibu sangat sedih melepas kepergianku.

Sekitar pukul delapan malam, aku sampai di Semarang. Aku terbangun. Aku dapati di sebelahku sudah tidak ada orang. “Mungkin Tini turun di stasiun lain dan tidak mau mengganggu tidurku”, pikirku. Keluar dari stasiun, segera aku mencari Andong yang menuju ke dusun Kaliwungu. Aku bertanya ke beberapa Kusir.

Perjalanan ke Kaliwungu memakan waktu dua jam. Aku duduk di andong bersama dua penumpang lainnya yang juga turun di Kaliwungu. Setelah mengobrol dan berkenalan singkat, ku ketahui bahwa mereka adalah penduduk asli Kaliwungu. Bapak tua itu, tepatnya sudah kakek-kakek, ke Semarang hanya untuk menjual kayu bakar. Si Bapak yang satunya, aku perkirakan usianya 45-an, ke Semarang menjadi kuli bangunan.
Kakek itu bertanya kepadaku, ”Nak Setyo ke Kaliwungu ada kepentingan apa? Apakah ada saudara di Kaliwungu?”.
Bapak yang satunya menambahi, ”Saya lihat nak Setyo bukan datang dari Semarang. Nak Setyo orang dari mana?”
“Apakah jawabanku penting untuk kalian?” pikirku jengkel dan aku jawab sekenanya, ”Saya memang bukan orang Semarang, saya dari Surabaya dan saya tidak memiliki saudara di Kaliwungu. Saya ditugaskan pemerintah ke Kaliwungu untuk mensosialisasikan praktik dokter.”

Mereka terheran-heran dan berdecak tidak percaya dengan yang aku utarakan. Mereka hanya menjawab dengan anggukan dan gumaman yang tidak jelas.

Pukul sepuluh sampailah di Kaliwungu. Kakek itu turun di depan pertigaan jalan dekat dengan hutan, sedangkan bapak itu masih belum turun sewaktu aku turun di depan warung kopi, tempat bapak-bapak ronda berkumpul untuk sekedar ngopi atau hanya untuk mengobrol. Di situ aku bertanya rumah kepala dusun Kaliwungu. Untungnya rumah kepala dusun tidak jauh dari warung tersebut. Ketika aku berbalik arah dan berjalan ke arah rumah kepala dusun, aku mendengar bapak-bapak di warung mempergunjingkan aku. “Ah biarlah,” kataku dalam hati, tidak ingin pusing memikirkan hal seperti itu.

Di depan rumah kepala dusun aku termangu. “Pantaskah aku bertamu selarut ini?”, tanyaku dalam hati, “Kalau tidak ke rumah ini, aku harus kemana? Tidak ada penginapan di daerah seperti ini”. Aku memberanikan diri mengetuk pintu rumah kepala dusun. “Semoga saja kepala dusun yang akan ku temui ini baik hati”, do’aku. Tok tok tok. “Permisi! Permisi!”, memberi salam. Tidak ada jawaban. Akhirnya, aku memutuskan untuk tidur di teras rumah kepala dusun.

Dingin menyerang sampai menusuk tulangku. Aku membuka tas ku dan mengenakan beberapa helai pakaian sampai tidak terasa dingin lagi.

Pagi menjelang.

“Pak, di luar ada seorang yang masih muda tidur di teras rumah kita”, kata istri kepala dusun kepada suaminya.
“Mungkin warga kita yang numpang tidur di situ Bu,” jawab suaminnya.
“Kalau warga sini, Ibu sudah pasti mengenalnya. Orang Ibu ini tidak kenal”, sangkal si ibu.
“Ya sudah, mari kita lihat ke luar”; ajak suaminya.

Kepala dusun ternyata juga asing melihat wajah orang yang tidur di teras rumahnya itu. Kemudian, Ia membangunkannya.
Sambil menggoyang-goyangkan badan si orang yang tidur itu, kepala dusun berkata, ”Nak, bangun nak! Sudah pagi”.

Aku terbangun mengamati sekitar dan melihat ke arah bapak dan ibu yang membangunkan aku. “Maaf pak, semalam saya tidur di teras rumah bapak tanpa izin. Sebenarmya saya semalam ingin membangunkan bapak tetapi saya kira sudah larut, jadi saya mengurungkan niat”, kataku meminta maaf. “Emm, perkenalkan pak, saya Setyo. Saya ditugaskan oleh pemerintah untuk mensosialisasikan praktik dokter di dusun Kaliwungu ini”, seraya mengulurkan tangan untuk berjabat. Aku merasa kepala dusun ini sedang mengingat-ingat sesuatu, dan kemudian..., “Ooo iya, saya baru ingat nak. Maaf kalau bapak lupa”, kata bapak itu sambil menjabat erat tanganku dan tertawa renyah. Aku lihat istrinya masih bingung melihat kita. Kata si bapak itu kepada istrinya,”Ini nak Setyo, dokter yang akan membuka praktik sementara di dusun ini. Bukannya Ibu sudah bapak kasih tahu?”. “Belum kok Pak”, jawab sang istri.

Suami istri itu mempersilakan aku masuk. Mereka sangat ramah. Aku dijamu layaknya seorang raja. Semua makanan yang mereka punya, mereka suguhkan kepadaku seorang. “Silakan nak dicicipi masakan ibu, maklum orang dusun mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan di kota”, kata si istri merendahkan diri. “Mari nak, ayo kita makan”, ajak si suami. Aku mengangguk dengan senyum. Dalam hati aku merasa keluarga ini sangat hangat menyambut tamunya, “Semoga saja ini berlangsung hingga aku pulang nanti”.
Sambil aku menikmati makanan yang mereka suguhkan, aku edarkan pandanganku menjelajahi seisi rumah kepala dusun ini. Aku terkejut seketika menatap foto seorang gadis yang sepertinya aku pernah melihatnya. Iya, aku pernah melihat sosok wajah itu sewaktu perjalanan ke Semarang. Dia adalah wanita yang aku temui di kereta. Wanita yang sangat berani untuk ukuran seorang gadis desa. Aku putar kembali ingatan ku dan sekarang aku ingat, namanya Tini. Sebenarnya aku ingin bertanya soal foto itu tetapi aku urungkan niatku, barang kali hanya kebetulan atau mirip saja.

Setelah acara makan selesai, aku diantarkan ibu kepala dusun ke kamar yang bakal aku tempati untuk sementara waktu. Kamar ukuran 3x3 meter dengan tempat tidur lantai, almari yang terbuat dari kayu jati, dan meja-kursi yang bisa ku pergunakan untuk tempat baca ku. Aku rebahkan diri di atas kasur lantai ini. Secara tidak sengaja bayangan Ibu teringat kembali dalam benakku. “Ah ibu, kenapa ibu membayangi hari-hari ku?”, desah ku.

Tok tok tok. Bapak kepala dusun mengetuk pintu kamarku. Aku segera membukakan pintu. “Nak, nanti pukul delapan kita akan ke kantor. Nak Setyo siap-siap dulu saja”, kata bapak kepala dusun kepadaku. “Baik pak, terima kasih”, jawabku.

Pukul delapan aku telah siap menunggu bapak kepala dusun di teras rumah. Tidak lama, akhirnya bapak keluar. Kita berpamitan kepada ibu kepala dusun dan segera ke kantor jalan kaki. Kantornya tidak terlalu jauh dari rumah kepala dusun, kira-kira jaraknya satu kilometer. Hanya beberapa menit aku berjalan menuju kantor, aku sudah menjadi artis dadakan. Seluruh warga dusun yang kita lewati memandangku dengan mata yang mengerikan. Entahlah, apa yang mereka pikirkan tentang aku.

Di kantor, para sarikat sudah berkumpul menyambut kedatangan ku bersama dengan bapak kepala dusun. Ada yang tersenyum, ada pula yang hanya terdiam dengan tatapan mata sinis. Aku sadar, aku tidak akan diterima sepenuhnya di dusun ini.

Bapak kepala dusun memulai berdialog,”Mari bapak-bapak, perkenalkan ini dokter Setyo yang ditugaskan oleh pemerintah kota Semarang untuk mensosialisasikan praktik dokter di dusun Kaliwungu ini, meskipun sebenarnya nak Setyo ini jauh-jauh datang dari Surabaya. Nah, Nak Setyo akan membuka praktik selama tiga bulan dan akan membantu semua masalah warga yang berhubungan dengan kesehatan secara gratis alias tidak usah membayar. Nak Setyo akan membuka praktik di kantor ini. Jadi, saya mohon partisipasi dari bapak-bapak yang hadir di sini”.

Selesai bapak kepala dusun berdialog, para sarikat ribut. Mereka sanksi akan kemampuan dokter. Aku mendengar ada yang berceloteh,”Mana bisa dia menyembuhkan orang yang kena santet?”. Aku hanya terdiam mendengar celotehan itu. “Pekerjaan ini akan berat”, pikirku.

Semua peralatan kesehatan yang sekadarnya telah dipersiapkan oleh pemerintah Semarang. Sekarang aku hanya perlu merapikannya dan menunggu pasien untuk ku.
Sampai malam tiba tidak ada seorangpun yang datang untuk sekedar bertanya soal sakit panas, apalagi yang lebih parah dari itu. Warga Kaliwungu tidak merespon keberadaan ku di dusun ini. Padahal seluruh warga sudah dikasih tahu akan adanya praktik dokter ini.

Pukul tujuh malam, dari kantor aku pulang ke tempat rumah kepala dusun. Dalam perjalanan itu, aku menjumpai kakek yang kemarin satu andong denganku waktu perjalanan ke Kaliwungu. Di kegelapan itu ia memakai jubah hitam. Aku mencoba tersenyum ramah dan menyapanya. Akan tetapi, dia diam saja dan berkata sinis kepadaku,”Nak, hati-hati dengan praktik doktermu itu. Warga tidak setuju kamu membuka praktik di sini. Mereka lebih percaya kepada dukun daripada ilmu dokter mu nak”.

Sesampainya di dumah kepala dusun, aku hanya geleng-geleng kepala. “Apa yang mereka pikirkan tentang kehadiranku?”, tanyaku dalam hati.

“Bagaimana nak hari ini, apakah ada yang datang?”, suara bapak kepala dusun mengagetkan aku.
“Tidak ada pak. Mungkin warga belum pada tahu pak. Atau mungkin warga Kaliwungu ini semuanya sehat”, jawabku. “Maaf pak, saya permisi masuk kamar dulu”, sengaja menghindar dari bapak kepala dusun.
Keesokan paginya, waktu aku menuju tempat makan, seorang gadis telah duduk di tempat makan di sampingku. Setelah aku amati,”Tini!”, pekik ku dalam hati.
“Nak, kenalkan ini putri saya baru pulang dari Semarang, namanya Tini”, kata si bapak memperkenalkan putrinya.
“Semarang? Aku melihat dia di Surabaya pak!”, bantah ku dalam hati.

Aku tetap mengulurkan tangan kepadanya dan saling melempar senyum. Meskipun kita tahu, kita sudah saling mengenal. Aku hanya mengobrol seperlunya saja dengan Tini. Tidak ada pembicaraan yang istimewa. Bahkan, kita sama-sama tidak mempersoalkan pertemuan kita waktu dalam perjalanan dari Surabaya menuju Semarang.

Aku pergi ke kantor dengan harapan besar. Aku berharap ada pasien yang mau mampir ke tempat praktik ku. Seharian aku menunggu, tidak ada yang datang. Kesendirian ini membuatku terpikirkan lagi akan Ibu ku yang menunggu kepulanganku di Surabaya. “Setyo meninggalkan ibu baru tiga hari, tetapi sudah terasa tiga tahun,” desahku sedih mengingat ibu.

Aku menuggu sampai senja, akan tetapi tidak ada kemajuan. Tidak ada yang berminat untuk berobat ke tempat ku. Aku berniat untuk pulang saja. Di perjalanan pulang, saat melewati hutan, aku merasa ada yang mengikutiku. Di saat aku berbalik, aku terkejut. Sebuah pisau tajam telah tertancap di perutku. Aku terjatuh dan samar-samar aku melihat kakek itu tersenyum sinis mencabut pisaunya dari perutku, kemudian menggulingkanku dalam jurang. Kakek-kakek yang kemarin dengan sengaja menemui dan memperingatkan aku.

Ketika aku sadar, aku sudah tidak lagi ada di desa Kaliwungu. Aku di Semarang di sebuah rumah sakit. “Apa yang terjadi?”, aku mengingat-ingat kembali kejadian itu. Dan di saat aku benar-benar sadar, dengan rasa yang tidak percaya dan ku rasa itu mimpi, kedua kaki ku telah tiada. Pihak rumah sakit mengamputasi kaki ku. Meskipun aku tau, aku laki-laki, tetapi aku tidak kuasa untuk menahan rasa sedih dan kecewa ini. Aku mengangis tetapi yang aku pikirkan hanya satu, Ibuku. “Bagaimana jika Ibu tahu tentang keadaan ini?” raungku dalam hati yang sunyi, ”Apa salahku kepada warga Kaliwungu, sehingga kekek itu tega berbuat begini terhadapku?”

Sebulan kemudian.

Aku masih di rumah sakit. Kata dokter, lambungku sobek. Perlu waktu lama untuk sembuh. Aku juga menerima kabar dari dusun, bahwa pelakunya tidak ditemukan. Tidak ada saksi mata yang melihat kejadian itu, bukti pun tidak ditemukan. Aku hanya menerawang jauh melihat jedela, “Biarpun aku tahu siapa yang melakukannya, tetap saja aku tidak bisa menuduhnya.”

“Ibu, Setyo ingin cepat pulang,” teriaknya dalam hati. Setyo belum mengetahui bahwasannya Ibu yang setia menunggunya pulang ke Surabaya siang dan malam, tanpa memikirkan kesehatannya, telah berpulang ke hadapan Tuhan.

15 Oktober 2009
-suntea-

AGAR AKU TAU KEKURANGANKU, TOLONG TINGGALKAN "sebenarnya apa yg ingin disampaikan oleh suntea dari cerpen itu?" biar aku tau, yg ingin aku sampaikan ke pemabaca, sampe ato tidak. TERIMA KASIH ^^

Tidak ada komentar: