13 November 2009

Lintang yang Ketiga (bag.1)

Sejenak aku terdiam dan menyadari bahwa ternyata diriku ada di posisi yang salah. Aku hadir di antara mereka seakan Dimas adalah makhluk di alam bebas yang tak punya keterikatan dengan Gina. Aku lemah tak berdaya mendengarkan kejujuran Dimas. Terasa kerajaan hati yang telah rapuh, runtuh kembali tanpa bekas.


“Maaf Lin, kamu tidak akan membenci aku kan? Aku sayang kamu. Aku tak akan mere-lakan kamu lepas dari aku. Aku selalu ingin menjagamu. Aku nyaman berada di dekat-mu Lintang,” pinta Dimas kepadaku.


Aku hanya bisa meneteskan air mata. Aku mengutuki diriku sendiri. Tuhan, aku mengulang kesalahan yang sama.


Lupakah kamu, Dimas. Dulu pernah aku bercerita soal mantanku, Ditya. Ditya yang telah membohongiku selama berbulan-bulan. Ditya yang telah membuatku jera untuk menjalin hubungan lagi dengan orang lain. Tak ingatkah kamu Dim? Dan sekarang kamu membuat aku mengulang lagi kesalahan itu!


-beep beep beep-
“No number? Siapa ya?” pikirku. “Hallo….”
“Siapa kamu!” wanita diseberang sana bertanya menodongku. Aku berusaha tenang dan hanya menganggap mungkin wanita itu salah sambung.
“Maaf, Anda siapa? Anda yang menghubungi saya terlebih dahulu. Harusnya saya yang bertanya demikian,” mencoba menenangkan keadaan.
“Gak penting aku siapa, yang penting kamu ada hubungan apa dengan Ditya?” tanya si wanita itu terhadapku.
Aku termenung, “dia kenal Ditya? Siapa dia? Kenapa dia tak suka padaku?”
“Saya temennya Ditya. Ada apa ya, kok Mba telepon saya? Kalau boleh tahu, mba ini siapa?” tanyaku ramah.
“Temen kok SMS-nya mesra seperti itu. Kamu pacarnya Ditya kan? Aku Cindy! Aku sudah tiga tahun pacaran dengan Ditya,” kata wanita yang menelponku di seberang sana.
Aku semakin tertegun dan tak tau mesti berkata apa. Dengan menahan perasaan yang bergejolak, aku menjawab kembali pertanyaan wanita itu, yang mengaku bernama Cindy, “maaf, saya tidak tahu kalau Ditya sudah punya pacar. Maafkan saya sudah mengganggu hubungan kalian. Sekali lagi maafkan saya. Saya tidak akan menghubungi Ditya lagi.”
“Klik!” dan wanita yang bernama Cindy itu menutup teleponnya.


Hanya itu yang bisa aku lakukan. Hanya meminta maaf. Tidak ada yang lain yang bisa kulakukan. Aku mengenal Ditya dua bulan, pacaran dengannya tiga bulan. Jika diban-dingkan dengan tiga tahun, aku memang bukan siapa-siapa. Aku hanya batu penghalang ditengah perjalanan cinta mereka.


Ditya memang selalu mengungkapkan kata-kata manisnya kepadaku. Ditya yang kukenal selalu baik kepadaku. Ditya juga yang telah memintaku untuk menjadi pacarnya. Salahkah aku jika aku menerimanya sebagai pacarku, di saat aku telah merasa nyaman di sampingnya? Sedangkan dengan sadar dia mengakui bahwa dia single, dan kuperhati-kan dia selalu ada di sampingku setiap saat?


Aku memang tidak bisa melakukan apa-apa. Aku sedang liburan di rumah. Yang bisa aku lakukan hanya mencoba menelepon Ditya. Aku coba berulang kali, namun tak diangkatnya telepon dariku. Aku SMS juga tidak ada balasan. Yang ada aku mendapat-kan balasan SMS lain, bukan dari Ditya.
“Katanya tidak akan menghubungi Ditya lagi, mana? Kamu masih saja mengganggu kehidupannya”


Aku menangis sejadi-jadinya. Tak kuasa kubendung tanggul air mata yang sedari tadi mencoba meluap.


“Ditya, apa salahku terhadapmu? Aku sayang kamu tanpa pamrih. Aku tak pernah meminta apa-apa darimu. Aku selalu menjaga hubungan kita. Tapi kenapa kauhancurkan semua itu Ditya?” pertanyaan-pertanyan itu hanya kuberondongkan pada angin.


Lalu aku berjalan, duduk menghadap cermin. Masih dengan tumpahan tangisan, ku-pandangi bayangan diriku di cermin.


“Kamu bodoh Lintang! Kenapa kamu percaya saja kata-kata manis Ditya? Kamu terlalu lugu Lintang. Tak pernahkah kamu tahu? Cowok itu bermulut buaya, fisiknya saja kucing, tapi hati srigala!”
“Tidak! Aku tidak bodoh. Ditya yang salah. Kalau dia sudah punya pacar, kenapa dia masih juga mengejar dan memacari aku? Kenapa juga dia selalu baik padaku?”
“Lintang, kalau kamu tak bodoh, lalu apa namanya? Salahnya kamu mau percaya pada semua omongannya! Kamu itu salah Lintang! Kamu sudah mengganggu hubungan mereka. Makanya Cindy marah-marah sama kamu!”
“Tapi aku tak tahu!”
“Ya itu salahmu! Karena kamu tak tahu. Kamu mudah dibohongi hanya dengan rayuan gombal Ditya! Kamu salah! Kamu bodoh! Dasar pengganggu hubungan orang!”


Semakin deras derai air mata yang mengalir. Tuduhan dari bayangan diriku sungguh menyiksaku. Aku tak sanggup mendengarnya lagi. Sesak. Aku berdiri menghadap cermin, dan yang kulihat sekarang hanya bayangan rapuh diriku. Aku berjalan, kemudian merebahkan diri di tempat tidur.


Aku sesenggukan menahan rasa kecewa yang masih membara di dalam hati, serta perasaan bersalah yang mengikutiku dan menyiksaku dengan tuduhan-tuduhannya.


“Maafkan aku Cindy, Ditya. Iya, aku salah. Aku hadir diantara kalian, dan tanpa sepengetahuanku, aku telah mengusik keharmonisan hubungan kalian. Maafkan aku…”


Hatiku hancur, tapi tak hanya sekedar hancur. Di tengah isakan tangisku, aku berkata pada diriku sendiri, “aku hidup tak ingin menyakiti siapa-siapa. Biarlah aku yang sakit, asalkan orang lain disekitarku bahagia. Aku tak ingin egois.”


Sudah terlalu lelah aku menangis, dan aku pun terlelap. Dengan sejuta keyakinan, aku bertekad untuk tidak menjalin hubungan dulu dengan laki-laki. Aku masih rapuh. Kesiapan untuk jatuh cinta harus dibarengi dengan kesiapan patah hati.


“Lin, kamu dengar aku kan?” tanya Dimas sambil menggoyang-goyangkan lenganku, membuyarkan semua lamunan masa laluku.
“Iya Dim, aku dengar,” jawabku lirih.
“Lalu bagaimana? Apa kamu masih mau menjadi pacarku?” meminta persetujuan dariku.


Aku ragu akan diriku sendiri. Di satu sisi aku telah menilai diriku salah, karena telah hadir di kehidupan mereka, di sisi lain aku telah terlanjur menyayangi Dimas dan begitu juga dengan Dimas. Tak kuasa, kutumpahkan air mataku, “Tuhan, kenapa Kau-hadapkan aku dengan masalah yang sama? Bedanya hanya Ditya bohong, dan Dimas jujur. Alangkah sakit hati ini mendengar kejujuran yang pahit itu.”


Dimas masih mendesakku, “Lin, tolong bicara. Kamu sayang aku kan? Kamu cinta aku kan? Kamu masih mau dekat denganku kan?”
“Iya Dim, aku sayang kamu, aku juga cinta kamu. Tapi tak mungkin bagiku untuk masih dekat dan berpacaran denganmu, setelah aku tahu bahwa kamu sudah punya pacar Dim! Apa kamu tak membayangkan, betapa sedihnya cewekmu kalau dia tahu bahwa kamu telah meminta cewek lain untuk mengisi ruang hatimu yang lain? Tolong pikirkan itu Dim! Tolong kamu jangan egois!” kataku mencoba membela diri.


Keadaan tenang, mungkin Dimas sedang memaknai kata-kataku atau mungkin menyiapkan sejuta alasan dan pembelaan untuk mempertahan aku agar tetap menjadi pacar simpanannya. Sedangkan aku masih memutar otak, mencoba mencari sedikit celah untuk lari dari masalah ini. Akan tetapi, tak kutemui celah itu. Buntu. Tangisku semakin menjadi.


“Ssst…. Sudah ya sayang, jangan nangis lagi. Maafkan aku,” menenangkan aku seraya memelukku.


Aku menangis dipelukannya, aku selalu merasa nyaman di dekatnya. Hal inilah yang membuatku tak bisa jauh darinya. “Dimas, aku sayang kamu. Aku ingin selalu ada di dekatmu,” pintaku pada Dimas.
“Iya Lintang, aku akan selalu di dekatmu,” jawabnya.


Teoriku telah runtuh. Teori yang kubuat sendiri, tetapi juga kubantah sendiri. Aku orang ketiga. Aku salah dan mungkin harus menyiapkan diri untuk terbuang, atau membuang diri. Semua akan berjalan lancar selama Gina tak tahu, dan hal ini telah memberiku teori baru, “aku hanya menginginkan secuil kebahagiaan, mesti harus dibarengi dengan rasa sakit. Aku telah siap untuk terbuang, jika saatnya nanti aku inginkan kebahagiaan disekitarku.”




Jogjakarta, 13 November 2009

terima kasih untuk: Bastian, Cindy, Ari, dan Winar
kalian telah memberikan warna pada kehidupanku ^^

Suntea

7 komentar:

Anonim mengatakan...

kadang2 menjadi simpan bukanlah kesalahan. kita bisa melihat ke dalam pribadi pasangan yang resmi, dan bertanya : mengapa laki-laki berpaling?? Karena kurang. Itu saja...

misteryepercent mengatakan...

kehidupan bukanlah jalanan keindahan. kehidupan ada karena sesuatu keburukan dari hidup ini. itulah mengapa keindahan menjadi kehidupan di dalam keburukan hidup.

Anonim mengatakan...

suntea

anonim: betul-betul-betul.... aku setuju

yudas: maksudmu opo das, kok mbulet...

Anisha Kasih mengatakan...

Barangkali menjadi orang ketiga adalah jodoh ???

Anonim mengatakan...

waaa.... amin...hahahah

tapi menyedihkan.. tragis je ceritanya..lebay =D

luxsman mengatakan...

(cry)

Anonim mengatakan...

luxsman: jangan nangis.. gak usah lebay gitu na.. hehe