24 November 2009

Lintang yang Ketiga (bag. 2)

Aku memang memilih untuk siap menjadi yang terbuang. Aku telah memilih jalanku untuk menjadi seorang yang dipersalahkan. Dan secuil kebahagiaan itu telah kuraih. Aku bahagia dan nyaman berada di dekatnya, tanpa pernah memikirkan konsekuensi yang akan terjadi. Tanpa pernah memikirkan hal terburuk yang akan aku terima.

Hari-hari berikutnya aku jalani secuil kebahagiaan itu dengan ikhlas. Meskipun aku bukan yang pertama. Ingat, bukan yang pertama. Selalu menjadi yang kedua dari yang pertama. Pahit, namun tetap saja aku jalani.
“Aku sayang kamu,” kata Dimas.
“Iya, aku juga sayang kamu,” aku jawab.

Hanya secuil, dan memang secuil, harapan kebahagiaan itu hadir.

Di tengah-tengah secuil kebahagiaan itu, aku telah melupakan sesuatu. Melupakan kenyataan, Gina.



SMS
Dari Dimas:
“Lin, Gina marah sama aku!”
Aku:
“Marah kenapa? Gara-gara aku?”
Dimas:
“Ya iya, siapa lagi? Kamu SMS dia gih!”
Aku:
“Terus aku mau bilang apa sama dia? Bingung….”
Dimas:
“Terserah!”

Waktu itu memang Dimas sedang bersama Gina, dan tak sengaja aku mengganggu mereka, aku menelepon Dimas, tapi tak diangkatnya. Sakit, tapi memang itu risikonya. Akhirnya, aku memberanikan diri mengirim SMS untuk Gina.

Aku:
“Mmm, Gina ya?”

Tidak ada balasan. Dengan SMS itu, aku hanya bermaksud ingin menyatakan bahwa aku juga telah mengenal Gina dari Dimas, karena aku dan Dimas telah mengambil keputusan untuk menjadi ade dan kakak. Akan tetapi masih tetap sama saja, perasaan itu tak pernah hilang.

Diam, dan aku hanya berandai-andai. Mereka sedang berdua. Apa yang sedang mereka lakukan? Aku iri, tapi tak punya hak untuk iri. Aku cemburu, tapi tak ada ikatan yang membuatku harus cemburu kepada Dimas.

-beep beep beep-
HP-ku bergetar. “Dimas ngapain telepon, bukannya dia lagi sama Gina?”, tanyaku dalam hati.
“Hallo…”, sapaku.
Lama tak ada yang bicara. Berulang kali aku menyapa tapi tidak ada jawaban. Aku bingung. Tidak pernah Dimas telepon seperti ini, ataukah hanya iseng. Terpikir untuk mematikan, namun suara diseberang sana telah menjawab. Wanita. Dan sudah bisa kutebak, dia siapa. Bukan Dimas tentunya.

“Hallo, ini siapa?” tanya wanita itu.
Aku gugup.
“Ya Tuhan, akankah Engkau ulang kembali cerita itu?” mencoba bertanya kepada Tuhan dan menyalahkan-Nya.
Jujur, aku menjawab, “aku Lintang, kamu Gina ya?” tanyaku.
“Lintang siapa?” tanya Gina menyelidik.
“Lintang temannya Dimas di tempat lahirnya,” aku jawab dengan bingung.
“Tadi kamu ngapain telepon ke nomor ini?” tanya Gina.

Perasaanku terasa diaduk-aduk. Seperti anak ayam yang kehilangan induknya, aku sekarang kehilangan pegangan.

“Tadi aku mau curhat sama Dimas,” kilahku.
“Cuma mau curhat? Kamu bisa kan curhat sama teman yang lain? Jangan ganggu nomor ini lagi!” kata Gina. Dan “klik!” teleponnya dimatikan.

Seketika air mataku meleleh. Sudah kuduga semua ini akan terjadi kembali. Meskipun konsekuensi ini selalu kuingat, namun teori tak semudah dengan praktiknya. Aku hancur, terlalu hancur. Jika diibaratkan sebuah bongkahan batu es, aku mencair tapi tak hanya mencair. Cairan itu telah menguap dan tak ada sisa. Seperti itulah hatiku sekarang.

Aku menghormati Gina sebagai pacar Dimas, karena aku sayang Dimas. Dan dari Dimas, secuil kebahagiaan itu telah aku rasakan. Aku memang sakit, akan tetapi memang dari awal telah kupersiapkan untuk sakit. Dan sekarang aku ingin orang-orang disekitarku bahagia.

Aku menangis sejadi-jadinya.

“Aku telah terbuang,” rintihku.


Jogjakarta, 14 November 2009

2 komentar:

luxsman mengatakan...

sabar mbak.....

Anonim mengatakan...

yaa,... terima kasih =)

_suntea_