23 April 2010

DEWIKU

Aku jatuh cinta pada pandangan pertama – ketika itu usiaku 29 tahun. Aku mengenalnya dari pertemuan singkat bersama seorang sepupu. Mereka berteman. Beberapa bulan mengenalnya, aku beranikan diri untuk meminang. Aku temui orangtuanya dengan keyakinan, aku pasti bisa memberi nafkah lahir-batin walaupun hanya seorang tukang kayu yang tidak tentu kerjanya. Mereka menyetujui, begitu juga dengan dia. Aku gembira, gembira sekali. Tentunya orangtuaku juga sudah menyetujui. Mereka yakin gadis yang akan menjadi ibu dari anak-anakku adalah seorang yang baik dan berbakti kepada suami.

Menjelang hari pernikahan, semua sanak-saudara hadir memeriahkan hari jadi kita dengan berbahagia meskipun pesta hanya alakadarnya saja. Apalagi aku?

Aku tak bisa membendung dan meluapkan betapa sungguh aku sangat bahagia dapat bersanding dengannya. Aku titikkan air mata yang segera aku tepis. “Kamulah anugerah yang selama ini aku cari,” rintihku dalam hati. Seakan dia mengetahui yang aku tuturkan, dia tersenyum kepadaku. Senyum yang menyejukkan hati.

Selang beberapa tahun, kita tak juga dikaruniai anak. Istriku sudah tidak sabar untuk menimang bayi, begitu juga denganku. Aku menginginkan hadirnya buah hati. Mungkin Tuhan memang berencana lain. Di satu sisi pekerjaanku juga terancam tutup karena jarang sekali order yang kudapat. Istriku juga lebih sayang kepadaku. Dia selalu berkomentar tentang segala hal. Entah tentang tes kemandulan, pekerjaan, biaya hidup, dan lain sebagainya. Mungkin sebaiknya aku mencari nafkah dengan cara lain, seperti usulan istriku, “Lukito itu lho Pak, merantau ke Jakarta baru lima bulan sudah bisa beli motor dan tv baru.” Sebagai suami, aku harus memenuhi kebutuhan istriku meskipun aku harus rela untuk jauh darinya.
“Bu, bapak pergi dulu ya. Beri bapak waktu satu minggu. Kalau sudah mendapat pekerjaan bapak akan langsung pulang,” kataku sebelum meninggalkannya. Dia kelihatan sayu, letih. “Tuhan, tolong bahagiakan dia dan jagalah dia selama aku tidak ada di sampingnya,” pintaku.

Aku meninggalkan desaku. Desa yang kaya akan ikan bandeng tetapi mungkin tidak untukku. Aku sama sekali tidak mahir mengelola ikat bandeng meskipun sudah belajar terus-menerus. Karena itulah aku memilih pekerjaan menjadi tukang kayu yang berpenghasilan tidak tetap, yang tak bisa diprekdisikan kapan mendapatkan order. Aku harus ke Jakarta, sesuai keinginan istriku.

Kutinggalkan dia di sebuah rumah yang dulunya kubeli dengan susah payah. Dia mendorongku untuk menempati rumah sendiri. “Biar bisa hidup mandiri,” katanya. Kuturuti kemauannya selama ada alasan yang dapat membuatnya bahagia. Dan kali ini, dia memintaku untuk bekerja yang lebih banyak penghasilannya. Apa boleh buat, asalkan dia bahagia dan tidak melanggar aturan, pasti akan aku turuti. “Aku adalah manusia paling bahagia jika dia, istriku, menyunggingkan senyum kebahagiaan.”

Dikirim: Istriku 22:24
Bapak sudah dapat kerja di Jakarta. Besok bapak pulang untuk menyiapkan semua keperluan yang kurang.

Tidak ada balasan. “Mungkin dia sudah tidur,” pikirku.

Aku telah sampai di rumah namun kudapati dia tidak sedang di rumah, padahal jarum panjang jam itu sudah menunjuk angka sepuluh. “Kemana dia? Telepon genggamnya juga tidak bisa dihubungi.” Aku mencoba menelepon mertua tetapi kuurungkan. Ada suara ketukan dari pintu depan.

“Ada apa Di?” Heran. Sudah larut, bertamu.
“Tadi pas Mas pulang, aku langsung menyusul ke sini. Begini Mas, waduh, aku tidak enak ngomongnya.” Aku memang menangkap kegelisahan pada paras teman baikku itu.
“Kamu ini Di, kita sudah berteman lama kok ya masih gak enakan begitu,” tukasku kepadanya.
“Maaf ya Mas, tadi aku liat Dewi sama Kang Sukar. Tadi Dewi dijemput pake mobil Mas. Itu orang-orang ronda juga lagi pada ngomongin istri Mas. Sudah beberapa hari ini, sejak Mas gak ada Kang Sukar sering jemputin atau main ke rumah Mas.”
Kaki penyangga badanku seketika melemas. Ada gemuruh lain di hati namun segera aku tepis. “Ada apa dengan istriku? Tidak pernah dia cerita tentang Sukar.”
“Terima kasih ya Di. Nanti biar aku tanya ke istriku,” dengan senyum lembut yang kukamuflasekan. Sukar, juragan tambak itu.

Sepeninggalnya Hadi, aku mencari dia ke rumah Sukar, di desa sebelah dengan menaiki sepeda motor bututku. Mau bagaimana lagi, aku harus mencarinya, nekat bertamu di tempat orang ketika sudah larut begini. Untung pembantunya mau membukakan pintu dan dia bilang kalau majikannya tidak ada di rumah. Katanya sedang ke tempat saudaranya di luar kota, sudah seminggu ini. Aku meinggalkan rumah Sukar dengan membawa luka. Di tengah perjalanan pulang, tragedi itu terjadi.

Aku temukan istriku tidur di samping tempat tidurku. Kulihat sekeliling, aku di rumah sakit. Suster menghampiriku ingin membangunkan istriku namun aku mencegahnya dan memulai percakapan dengan suster jaga itu.
“Bapak sudah melewati masa kritis. Istirahat saja ya Pak,” kata suster jaga itu. Kuanggukkan sedikit kepalaku yang terasa nyeri. Mecoba berbicara rasanya juga ngilu tapi harus kupaksakan. Aku ingin tahu keadaanku. “Apa yang terjadi denganku Sus? Boleh aku bertemu dengan dokternya?” tanyaku terbata-bata. Tak lama, dokter yang menanganiku datang. Ia ramah, tersenyum kecil dan menganjurkan, “Anda harus banyak istirahat,” tapi aku ngotot untuk berbicara dan bertanya hal yang sama seperti yang kutanyakan kepada suster. “Anda mengalami kecelakaan. Cukup parah. Kedua kaki Anda patah dan sangat fatal. Kemungkinan akan diadakan amputasi,” jelas dokter itu kepadaku. Aku tak bisa berkata-kata. Dengan serta merta, dokter itu meninggalkanku terbengong-bengong.

Istriku terbangun, dia tersenyum kepadaku, “alangkah senyum itu ingin kumiliki hanya untukku seorang dan tidak untuk orang lain seperti Sukar.” “Bapak, sudah siuman? Sudah berhari-hari Bapak pingsang. Ibu khawatir terjadi sesuatu sama Bapak,” ujarnya. Aku terlalu lumer untuk bertanya menyelidik kepadanya tentang hubungannya dengan Sukar. Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya dalam keadaan seperti ini. Aku biarkan dia bermonolog. Aku hanya mendengarkan. Aku hanya ingin memandangi parasnya yang lembut, suaranya yang parau tapi menghangatkan hati, dan semua itu membuat segalanya menjadi indah bagiku.

Malam ini, aku sendiri di tempat tidurku. Istriku bilang, ia tak bisa menemani karena harus menjenguk orangtuanya yang sakit dan rindu dengannya. Aku memanggil suster jaga dan aku meminta untuk bertemu dengan dokter.
“Ada apa Pak? Apakah ada keluhan?” tanya dokter itu.
“Tidak Dok. Tapi aku ingin meminta bantuan kepada Dokter tapi jangan ceritakan hal ini kepada istriku,” jelasku panjang lebar dan pembicaraan bersama dokter yang masih muda itu berlangsung hingga larut. Dokter itu mau mengabulkan permintaanku.

Esoknya diadakan operasi untukku. Donor beberapa anggota tubuhku ke beberapa anak cacat yang dirawat di rumah sakit ini. Dari pada aku harus bingung dengan apa aku membayar biaya rumah sakit ini, lebih baik aku sumbangkan diriku untuk menebus pembayaran rumah sakit. Operasi pendonoran akan segera dilakukan, sayup-sayup kudengar perbincangan istriku dengan dokter muda itu. Istriku pasti terkejut dengan operasi ini. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya.

“Ibu yang tenang ya, nanti saya jelaskan. Ini yang penting, titipan dari Bapak Wiro. Permintaan terakhirnya kepada pihak rumah sakit. Hal ini sudah dibicarakan, malam sebelum kita melakukan operasi pendonoran,” kata dokter itu. “Ia ingin Ibu merelakannya untuk terakhir kali membahagiakan Ibu,” melanjutkan. Tidak beberapa lama, aku mendengar tangis-isakan istriku. Pasti ia sudah membaca hasil laboratorium yang menyatakan bahwa aku tidak mandul.

“Maafkan aku istriku. Nantinya, aku tak ingin melihatmu kecewa atas dirimu sendiri. Biarlah aku di tempat lain melihatmu selalu bahagia meski dengan orang lain, tanpa beban dariku, dari cacat kakiku jika aku masih melangsungkan hidupku bersamamu. Setidaknya sebentar lagi aku akan hidup diantara anak-anak ini.” Kututup mataku bersama hembusan nafas terakhirku.

Tidak ada komentar: