Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

06 April 2018

Potret (Judul Sementara)

Selamat hari Jumat.

Sebenarnya Jumat ini rencana mau review novelnya Permaisuri Dee Lestari yang terbaru Aroma Karsa. Tapi nihh, berhubung saya lagi dapat challenge dari temen gila saya, akhirnya saya terimalah tantangannya.

Paragraf ini dia yang bikin:
"Seorang pria terkejut saat bangun dari tidur, dan berada ditahun 1930, sementara orang2 yang dikenalnya memakai pakaian jaman dulu, padahal pria ini memakai pakaian jaman sekarang dan membawa smartphone. Apa yang terjadi sehingga pria ini terkapar di Rumah Sakit Belanda saat itu? Apa yang terjadi dengan semua orang?"

Challenge-nya, saya disuruh ngembangin ntu paragraf.

Dan, voila! Silakan dibaca 😁

<<<<<<<<<Chek this out >>>>>>>>>>

Seorang pria terkejut ketika mendapati dirinya terlentang di tempat tidur Rumah Sakit dengan keadaan pakaian lengkap yang masih ia kenakan ketika di kantor tempat ia bekerja hari itu. Ia mendongak ke luar ruangan yang ternyata ada banyak orang lalu lalang dengan memakai baju yang lain dari yang biasanya ia lihat. Ia mengerut pelipisnya yang pening. Masih setengah tersadar, seorang suster menghampiri kasurnya dan mengecek komputer yang ada di sebelahnya. Beberapa kabel tertempel di dadanya. Suster tersebut tak memedulikan reaksi dan tatapan pria yang ada di sampingnya itu. Seakan pria itu tertidur lelap.

Dalam kebingungan yang belum ada jawabnya, seorang pria lain yang ia kira dokter datang menghampiri suster tersebut. Ia mengenakan setelan dan jas serba putih.

"Bagaimana keadaannya, Sus? Sudah ada kemajuan?" tanya dokter itu yang dikenali sebagai Dokter Herman lewat papan nama yang tersemat di bajunya.

Suster mengecek data yang ia bawa sekali lagi,  "seharusnya sudah bisa siuman, Dok, karena semua kondisi sudah bagus!"

Pria itu tercekat. "Sus, ini saya sudah siuman masak dibilang belum siuman? Ngajak bercanda suster ini."

Suster dan dokter Herman tidak mengindahkan perkataan pria tersebut.

"Dok, ini saya sudah siuman Dok! Suster, saya sudah siuman! Sussster, lihat ke sini, Sus! Keterlaluan!" rutuk pria tersebut dan kemudian bangun untuk menarik tangan suster. Tak disangka, ia tak bisa menyentuh tangan suster. Tembus. Kepalanya semakin pening.

___

"Ren, hari ini kita shoot terakhir pukul 3 sore ya?" ujar Fatih, manager Rendra. "Kita akan shoot di ruangan terakhir di Villa ini yang paling eksotis. Lain dari pada yang lain," lanjutnya.

Rendra masih sibuk dengan smartphone di genggamannya ketika Fatih dengan semangat membara menceritakan villa yang kini menjadi tempat kerjanya.

"Lain daripada yang lain gimana sih? Perasaan juga sama saja, angker begini bentuknya," rutuk Rendra, bergidik.

Fatih semakin memasang raut wajah tegang, "kata pemilik terakhir Villa ini, ruangan itu dulu adalah ruangan yang dipakai untuk meditasi." Tutur Fatih lirih dan dramatis dengan menambahkan tekanan di kata meditasi.

Rendra melengos.

___

Pria itu akhirnya bangkit. Ia berdiri memunggungi tempat tidur. Ada yang tertinggal di sana. Ya, ada yang tertinggal. Dan ia merutuki dirinya sendiri kenapa hal yang paling tidak masuk akal ini terjadi padanya. Dengan sisa pening yang mereda, ia berupaya membalik badannya, memastikan bahwa yang ada di atas tempat tidur itu adalah guling.

Pria itu menarik napas panjang, kemudian membuangnya kembali.

"Baik, aku siap!"

Ia membalik langkah kakinya pelan-pelan. Mengatupkan kedua matanya.

"Jika memang ini mimpi, semoga mimpi ini segera berakhir. Jika ini kenyataan, hah, sialah aku!" rutuknya.

Setelah berbalik, ia membuka kedua matanya perlahan. Menyiapkan segenap hatinya untuk menerima kenyataan yang akan ia ingat seumur hidup.

Senyap.

Pria itu melihat seseorang yang mirip dengannya tengah berbaring tak sadarkan diri. Ia memakai baju kemeja lengan panjang dengan sedikit kerut di pergelangan tangan. Kancing baju yang terbuka karena beberapa kabel yang tertempel di dadanya. Celana panjangnya juga berwarna putih. Semua putih, selaras dengan warna kulitnya.

"Ini ... Aku?"

Belum genap ia tamatkan rasa penasaran yang membuncah oleh sebab dan harap akan penjelasan entah dari siapapun, tiba-tiba seorang perempuan datang dengan mengendap-endap.

___

Rendra memasuki ruangan itu dengan takzim. Ia berkeliling ruangan yang penuh dengan lukisan taman, villa yang sekarang ia tempati, dan beberapa foto keluarga serba hitam putih. Ia mengamati salah satu foto. Seperti foto keluarga. Ada seorang Pria berjenggot yang berdiri dengan seorang putri di depannya, lalu di sampingnya duduk seorang wanita dan memangku seorang putra. Ia menemukan angka di sudut foto, dekat dengan garis figura "June 1930". "Wow, ini sudah lama sekali," pikir Rendra.

Fatih masih tampak sibuk duduk bersilandengan memangku leptop. Jemarinya sibuk menggeser tetikus, memindahkan foto yang menurutnya layak jual dan tidak.

Sang fotografer, Dito, masih sibuk membenahi area kerjanya. Sesekali mengecek lampu dan kamera. Sesekali Yasmin terlihat membantu Dito, sebelum akhirnya mendekati Rendra.

"Asyik sekali sepertinya," sapa Yasmin ke arah Rendra.

Rendra memalingkan wajahnya ke arah Yasmin. "Eh, iya. Ini, fotonya. Tertulis di sini tahun 1930. Sudah lama sekali bukan?" tanya Rendra kepada Yasmin, yang sesungguhnya cocok disebut sebagai pernyataan.

Yasmin hanya tersenyum. Ia tahu itu, lebih dari yang Rendra dan timnya ketahui.

____

Perempuan itu terlihat sangat memesona. Kulitnya tampak putih, dengan wajah yang merona merah. Ia memakai terusan, ah gaun tepatnya dengan ikatan longtorso dari dada hingga pinggang. Membuatnya tampak ramping dan menyembulkan sedikit dadanya yang membusung.

"Habis main opera di mana perempuan ini?" pria itu tak habis pikir. Ia tahu, perempuan itu tak akan bisa melihat dirinya.

Perempuan itu menuju tempat tidur. Menatap pria yang tengah tak sadarkan diri itu.

"Leon, ini aku Patricia. Kamu masih di sana?"

Perempuan yang bernama Patricia itu tampak gelisah. Ia mendekatkan wajahnya ke kening pria yang ternyata bernama Leon itu kemudian mendaratkan bibir yang merah meski tanpa polesan lipstik.

"Besok aku akan ke sini lagi. Maafkan jika aku hanya bisa sebentar ke sini. Ayah melarangku untuk menjengukmu."

Wajah itu muram. Pelan, ia longgarkan jemari tangan Leon yang terpaut, yang sejak kedatangannya tadi ia raih untuk digenggam.

Pria yang masih tak terlihat itu tertegun. "Leon, siapa kamu? Kenapa kamu bisa mirip denganku? Siapa itu Patricia? Kenapa aku di sini?" Ia menjambaki rambutnya sendiri. Serasa kepalanya tak sanggup menopang banyaknya pertanyaan.

___

"Oke Rendra, semuanya sudah siaap!" seru Fatih.

Yasmin masih memuas bedak dan beberapa polesan lipbalm untuk Rendra ketika Fatih memanggilnya. Yasmin hanya mengacungkan jempol tanda siap kepada Fatih.

Selesai meletakkannya semua peralatan make-upnya, Yasmin memandang Rendra, mengukir hasil kerja kerasnya selama ini. Rendra tersenyum.

"Jangan lama-lama liatinnya, nanti kamu suka lagi sama saya," goda Rendra.

Yasmin hanya membalas dengan senyum kecil. Hingga kemudian mengulum senyum itu cepat, "Rendra, kamu harus siap dannn ... berhati-hatilah."

Lirih ia mengucapkan kata "berhati-hati", seakan tak rela jika kata itu terdengar oleh Rendra. Rendra tak menjawab, hanya membulatkan ibu jari dan telunjuknya, memperlihatkan kesiapannya.

"Ini bukan sekedar pemotretan Rendra. Ada seseorang yang membutuhkan pertolonganmu. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa karena bukan aku yang bisa, tapi kamu."

Dito sudah siap di belakang lensa kameranya, "yok, Rendra di posisi!"

Rendra mulai mengambil posisi di tengah ruangan. Ruangan itu memang lengang. Tak ada kursi dan meja. Hanya lemari kuno yang sempat tadi Rendra mau buka ternyata dikunci, dan pajangan dinding termasuk foto yang ia amati tadi.

"Rendra, saya mau kamu bersila di sana dengan kedua tanganmu bertemu dan taruh di depan dada," perintah Dito sambil memeragakan apa yang diintruksikan olehnya.

Rendra mulai bersila, mempertemukan kedua telapak tangannya dan menaruhnya di depan dada.

"Merem, Ren," lanjut Dito memberikan intruksi. "Oke ... Sempurna! Satuu, duaa, tiigaa ...!"

Cahaya berkilat, dan semuanya gelap bagi Rendra.

___

Dan kisah ini dibikin BERSAMBUNG karena waktunya gak nyandak kurang lama.

Oh iya, judulnya sementara dulu ya. Soalnya masih belum jelas ini kisahnya mau dibawaaa ke mana hahaha.

Kalau ada kripik pedas alias masukan, boleh loh dikomentarin. Biar ada secercah harapan mau dibawa ke mana ini arah ceritanya. Hehehe

06 July 2012

Simfoni Hitam

01012011
Bagiku, malam ini terasa sunyi. Para jangkrik yang biasanya bernyanyi krik-krik-krik tak lagi ada terdengar. Semua hingar perayaan terasa mati. Tak ada lagi kosakata “hidup” di malam ini. Bahkan, aku sendiri mematung. Jiwaku melayang ke antah berantah. Ragaku kosong. Aku seperti rumah siput yang sudah tak berpenghuni.
Jiwaku melayang. Terbang. Serasa lepas ke awan yang gemilang. Mencoba tenang. Meski kebahagiaan tak kunjung datang. Aku ingin sekali menjadi ilalang. Walau terbuang, dia tetap ada dan merasa riang.
Aku telah tersesat di kedalaman hatimu. Mencari celah, mencoba untuk keluar dari pikiran tentangmu.
Kamu, candu. Membuatku rindu. Membuatku selalu ingin bertemu.
Kamu, sendu. Membuatku kelu. Membuatku selalu ingin memelukmu.
Menenangkanmu. Menemanimu. Membahagiakanmu. Membuatmu selalu tersenyum, padaku.

*

05 July 2012

Sepasang Merpati

Anganku melambung jauh menembus awan ketika mengamati sebuah lukisan yang dipajang di dinding kamar. Sahabatku, Wanda, menghadiahkannya kemarin malam disaat ulang tahunku yang ke tujuh belas. Lukisan yang sangat indah.

“Maya! Happy birth day ya!” teriak Wanda saat memasuki kamarku.

“Ya ampun Wanda, pelanan dikit bisa gak sih,” kataku. Wanda hanya cengengesan mendengar protesku.

“Emmm btw, anyway, busway, temen-temen pada ke mana? Kok nggak kelihatan batang hidungnya?” tanya Wanda.

“Ya belumlah sahabatku sayang. Lihat tuh, undangannya pukul tujuh kamu datang pukul lima,” tuturku gemas, sambil nunjuk-nunjuk waktu di kertas undangan.

“Lupa. Heheheheh,” jawab Wanda dengan senyum khas tak berdosanya.

“Eh, ni kado dariku buka dong, buatanku sendiri lhoh. Satu lagi, no comment untuk kadoku. Nggak boleh diceramahin,” sambung Wanda sambil geleng-geleng kepala dengan menyertakan juga ujung jari telunjuknya bergerak ke kanan dan kiri. Tingkahnya yang seperti itu membuatku geli.

Wanda menjulurkan bungkusan tersampul rapi yang sejak tadi ditentengnya ke mana-mana. Dengan perlahan, kubuka kado dari Wanda. Woww, indah sekali.

27 November 2011

GERBONG

Tuuutt tttuuut tuuuut...
Siapa hendak turuuut...
Ke Bandung, Surabaya...
Bolehlah naik dengan percuma....

Ah, lagu itu terdengar bergema di sekujur tubuhku. Tapi, sejenak aku berpikir, kenapa harus Bandung dan Surabaya? Kenapa bukan Jakarta yang telah menjadi ibu kota negara? Atau Yogyakarta yang pernah menjadi ibu kota negara?

Dan satu hal yang membuatku galau selama ini. Kenapa harus naik dengan cuma-cuma?

***

“Cangcimen! Cangcimen rambute.... Kacang, kwaci, permen! Rambutan, jambu, mete!”

“Sesok barange kudu wis tekan Jakarta. Aku lagi otw Solo, rep njupuk barange! Aku ra percoyo nek lewat pos, mending jupuk dewe!" [1]

24 March 2011

Teroriskah Saya?

Mungkin saya tidak percaya lagi dengan adanya agama. Ya, saya merasa tidak memiliki agama. Menurut saya agama hanyalah sebuah simbol dari kepercayaan. Apakah agama butuh simbol?

Saya percaya Tuhan itu ada. Saya pun ber-Tuhan. Tetapi saya tidak mengakui diri saya beragama. Saya hanya butuh beribadah dan bertakwa. Jangan salah. Setiap hari saya beribadah, dan setiap hari pula saya bertakwa kepada Tuhan. Kurang cukupkah saya untuk menjadi seorang yang taat kepada Tuhan?

Orang bilang saya beragam islam, seorang muslimah. Di KTP (Kartu Tanda Penduduk), mereka mencatat saya juga sebagai muslimah. Perilaku dan ibadah saya juga menunjukkan saya seorang muslimah. Tapi, apakah benar saya adalah orang islam?

25 August 2010

SAKSI NYATA

Saya masih tetap berjalan meskipun mendung senantiasa menenggelamkan angan yang melambung. Saya masih tetap bermimpi meskipun hanya menjadi sebuah bualan orang-orang syirik yang tak berhati. Ya, saya akan tetap bertahan meskipun masih bisa mendengar teriakan manja kucing jalang sialan. Kucing jalang yang telah membawa saya ke alam fana, yang telah memberi saya kehidupan yang tak pernah terduga.
“Mas, ini bagaimana? Kamu harus tanggung jawab,” katanya memaksa. Si Mas yang diajak bicara hanya tertegun dan selang kemudian ia berucap, “ini ada nomor telepon. Kamu bisa menghubunginya, dan pasti ditanggung beres.” Si Mas terlihat santai dengan sarannya itu. “Ah, sudah biasa dia!” cerocos saya, yang tak pernah di dengarnya. Ia yang juga saya ketahui telah beberapa kali mengalami hal itu, langsung meminta nomor telepon berserta uang. “Yang ini juga sudah biasa,” kata saya kepadanya, dan juga tak akan pernah terdengar olehnya.

Pengakuan Bilik Termenung

Aku telah lama berdiri kokoh di sini, menjadi hunian sementara oleh orang-orang yang ingin menyalurkan hasrat diri. Aku bukanlah tempat suci. Akan tetapi, tak sedikit orang yang mengagumi. Bahkan, mereka menganggapku sebagai tempat terindah untuk inspirasi, memberi rasa nyaman, dan kepuasaan hati yang tak terperi. Tanpa disadari, kejujuran akan selalu terungkap di sini, di tempat ini.
***

“Fa, gua duluan ya yang mandi. Sekalian ni. Uda kebelet gua!” pinta seorang wanita berumur sekitar 21 tahun kepada temannya, Zulfa. Segera, ia melucuti pakaiannya, dan serta merta mendudukkan pantatnya ke koslet. Sejurus ia termenung, sedih. Bisa terlihat kesedihan itu dari titik air mata yang telah meluncur, menyatu dalam genangan air di lantai. Makin lama kian menjadi. Ia tengah menikmati keadaannya dengan terisak. “Gua uda nggak perawan,” rintihnya, seirama dengan bunyi ingus yang dia semprotkan, dan bunyi “plung” di bawah sana. “Cha, lu uda selesai belum? Cowok gua mau numpang ke belakang ni,” teriak Putri, membuyarkan renungan Rossa yang biasa dipanggil Ocha itu. “Bentar lagi Put,” kata Chaca menimpali.

01 August 2010

Hasrat Imajiner

“Selamat pagi!” katanya.
“Selamat pagi, duniaku,” jawabku sambil menggeliatkan badan yang masih menempel di tempat tidur. Aku usap-usap dia yang senantiasa menemaniku. Pagi yang cerah kurasa, dan aku telah siap untuk menjalani aktivitas hari ini.

Seperti biasa, rutinitas pagi hari yang aku kerjakan hanyalah mandi, sarapan, dan kerja. Aku masih lajang. Meskipun usiaku menginjak kepala tiga, akan tetapi aku bahagia dengan hidupku yang seperti ini. Mungkin Tuhan belum mempertemukan aku dengan patahan tulang rusukku. Suatu saat, aku yakin, aku pasti akan menemukannya.

28 July 2010

ANAK SETAN

Aku masih tetap berjalan meskipun mendung senantiasa menenggelamkan angan yang melambung. Aku masih tetap bermimpi meskipun hanya menjadi sebuah bualan orang-orang syirik yang tak berhati. Ya, aku akan tetap bertahan meskipun masih bisa kudengar teriakan manja kucing jalang sialan. Kucing jalang yang telah membawaku ke alam fana, yang telah memberiku kehidupan yang tak pernah terduga.

“Anak Setan! Ngapain di situ, nguping?” katanya berlalu dengan kibasan muka membelakangiku. Aku yang masih terduduk di samping kamar hanya memandang perempuan yang masih kelihatan sangat muda itu. Dengan balutan lisptik merah yang telah memudar, perempuan itu kembali mengambil cermin dan menambahkan beberapa poles lipstik merah kesayangannya. Aku masih tetap terduduk, terdiam, dan tak mengerti dengan semua tingkahnya, juga dengan semua sebutan-sebutan yang sering ia tujukan untukku. Akan tetapi, aku juga punya sebutan untuknya. Aku senang menyebutnya mama Setan tetapi teman-teman, kenalan-kenalan, dan semua yang mengenal mama Setan memanggilnya hanya dengan sebutan mama. Menurutku, mama senang dengan sebutan yang aku berikan. Awalnya, aku hanya iseng memanggilnya dengan sebutan mama Setan karena aku sering dipanggil anak Setan. Dan terbukti, aku langsung dipanggilnya dengan anak Setan berkali-kali.

23 April 2010

DEWIKU

Aku jatuh cinta pada pandangan pertama – ketika itu usiaku 29 tahun. Aku mengenalnya dari pertemuan singkat bersama seorang sepupu. Mereka berteman. Beberapa bulan mengenalnya, aku beranikan diri untuk meminang. Aku temui orangtuanya dengan keyakinan, aku pasti bisa memberi nafkah lahir-batin walaupun hanya seorang tukang kayu yang tidak tentu kerjanya. Mereka menyetujui, begitu juga dengan dia. Aku gembira, gembira sekali. Tentunya orangtuaku juga sudah menyetujui. Mereka yakin gadis yang akan menjadi ibu dari anak-anakku adalah seorang yang baik dan berbakti kepada suami.

Menjelang hari pernikahan, semua sanak-saudara hadir memeriahkan hari jadi kita dengan berbahagia meskipun pesta hanya alakadarnya saja. Apalagi aku?

17 February 2010

LYK (episode terakhir) hehe

Lintang

Dan ternyata kenyataan berkehendak lain. Ketika aku tak dekat dengan Dimas (berada dalam kota yang berbeda), Gina meneleponku. Ahhh...seandainya kita semua dalam satu kota, pasti tidak seperti ini ceritanya.
"Hallo," sapanya ketus.
"Iya hallo," kujawab ragu-ragu. Antara sedih dan kalut beradu menjadi satu.
"Lintang, kamu tahu kan kalau Dimas itu pacar aku! Dan kamu tahu gak sih, Dimas itu main-main nembak kamu! Kalau gak percaya, kita conference bertiga," kata Gina menggebu-gebu, seakan tak sabar membuatku terkejut dengan apa yang dikatakannya.

15 January 2010

LYK (dua episode terakhir ^^)

(KELANJUTAN DIMAS)
….
Gina bertanya menyelidik kepadaku, “Lintang itu siapa?”.
“Ooo, teman di kampung,” jawabku. Aku tidak berbohong. Aku mengenal Lintang di kota tempat tinggal aku dulu.
“Tapi kenapa SMS dia seperti itu?” tanyanya.
“Cemburu ya…,” rajukku, mengalihkan pembicaraan.
“Kalau kamu gak mau ngaku, aku telepon dia sekarang,” ancam Gina kepadaku. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tidak lama kemudian, Gina sudah siap dengan HP di telinganya.

“Hallo,” Gina memulai pembicaraan lewat telepon selular itu. Aku hanya terdiam. Aku tak tahu harus berbuat apa. “Biarlah mereka menyelesaikannya sendiri!” kataku dalam hati. Aku tahu, Lintang tak akan bicara sesuatu yang aneh, Lintang pasti akan membela hubunganku dengan Gina, walaupun sebenarnya ada yang bergemuruh dalam dadaku.

Seusai telepon, Gina hanya terdiam. Aku bingung, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, dan bagaimana jawaban Lintang. Aku hanya berdoa, mereka berdua baik-baik saja.




GINA

“Aku gak bisa maafin kamu Dim! Sudah beberapa kali kamu seperti ini kepadaku,” itu adalah kalimat yang kulontarkan kepada Dimas, beberapa hari yang lalu sejak kejadian bersama dengan Lintang.

Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa Dimas melakukan ini semua kepadaku. Dia bersumpah demi nama Tuhan-nya. Demi Lintang, Dimas membodohiku dan membohongi Tuhan-nya. Setega itukah kamu Dim? Telah berulang kali kamu seperti ini, dan kamu tidak pernah jera?

Aku sakit Dim. Aku tulus mencintai kamu. Senantiasa selalu berada di sampingmu, tapi seperti inikah balasanmu kepadaku? Terlebih lagi, kau membohongi Tuhan-mu demi seorang yang bernama Lintang? Kamu jahat Dimas. Kamu tak menghargai semua yang kulakukan untukmu selama ini.

“SMS dari siapa sayang?” tanyaku kepada Dimas.
“Bukan siapa-siapa, cuma teman SMS nanya tugas kok,” jawabnya.
Hp-nya berdering kembali. Ketika itu, Dimas lagi ke belakang. Aku baca SMS yang baru masuk itu.
“Lagi apa Dim? Sudah makan belum? Aku kangen kamu.”
“Siapa ini? Kenapa dia begitu perhatian sama Dimas?” tanyaku dalam hati.

Lintang yang telah merusak keharmonisan hubunganku dengan Dimas.

17 December 2009

LYK (Dimas)

Aku merebahkan diri di pelukan malam. Kudengarkan celoteh penyiar radio dalam sebuah stasiun FM. Sejenak aku terpaku, “kenapa harus lagu ini?” pikirku.

Kumencintaimu lebih dari apapun
Meskipun tiada satu orangpun yang tahu
Kumencintaimu sedalam-dalam hatiku
Meskipun engkau hanya kekasih gelapku….
(Ungu “Kekasih Gelapku”)

Aku teringat akan Lintang. “Lintang, aku sayang kamu dan tak mau kamu bersama orang lain,” lirihnya setelah mendengarkan lagu tersebut. Akan tetapi, ….

26 November 2009

LYK - Lintang yang Ketiga (Lintang)

Tuhan selalu tak merestui hubunganku
Aku kembali terjatuh
“Dia nembak kamu, main-main. Ngerti!” kata Gina
Hati yang telah melambung kini telah dijatuhkan sekeras-kerasnya
Semuanya hancur tak ada sisa

jadi selama ini kau membohongiku?
hanya itu pertanyaanku
yang dapat aku simpulkan sekarang
semua yang kamu ungkapkan padaku hanyalah kebohongan
di depanku kau berkata A, di depannya kau berkata Z

Di depannya, kau tak pernah membelaku
tp di belakang, kau memujaku, menginginkan aku
bimbang rasanya hati ini

Air mata inipun enggan tuk menetes lagi
Terlalu sesak
Terlalu pedih, hingga air matakupun tak bisa tuk mewakili perasaanku
Hari ini, dia telah mengungkap bahwasannya aku memang wanita gampangan
Dia yang pernah bilang seperti itu padaku
Iya, aku memang mudah jatuh cinta
Aku telah jatuh cinta dengan orang yang salah
Orang yang ku percaya ternyata ia juga mendustai kepercayaanku
Apakah aku harus tak mempercayai omongan orang?
Hatiku telah luruh
Pikiran ini juga telah kabur
Aku sudah tak bisa bedakan lagi mana kejujuran dan mana kebohongan
Aku sudah terlalu lelah untuk percaya
Tapi di saat aku percaya ternyata kamu juga sama saja
Hanya memainkan aku sebagai bonekamu
Yang dapat kamu mainkan, kamu buang, seenak kamu sendiri
Tuhan, aku hanya ingin sejenak melabuhkan hati ini
Aku sudah lelah Tuhan
Aku lelah untuk percaya, aku lelah untuk membangun lagi kepercayaan itu
Maafkan aku Tuhan, aku terlalu sering mengeluh….

Jogja, 23 November 2009

24 November 2009

Lintang yang Ketiga (bag. 2)

Aku memang memilih untuk siap menjadi yang terbuang. Aku telah memilih jalanku untuk menjadi seorang yang dipersalahkan. Dan secuil kebahagiaan itu telah kuraih. Aku bahagia dan nyaman berada di dekatnya, tanpa pernah memikirkan konsekuensi yang akan terjadi. Tanpa pernah memikirkan hal terburuk yang akan aku terima.

Hari-hari berikutnya aku jalani secuil kebahagiaan itu dengan ikhlas. Meskipun aku bukan yang pertama. Ingat, bukan yang pertama. Selalu menjadi yang kedua dari yang pertama. Pahit, namun tetap saja aku jalani.
“Aku sayang kamu,” kata Dimas.
“Iya, aku juga sayang kamu,” aku jawab.

Hanya secuil, dan memang secuil, harapan kebahagiaan itu hadir.

Di tengah-tengah secuil kebahagiaan itu, aku telah melupakan sesuatu. Melupakan kenyataan, Gina.

13 November 2009

Lintang yang Ketiga (bag.1)

Sejenak aku terdiam dan menyadari bahwa ternyata diriku ada di posisi yang salah. Aku hadir di antara mereka seakan Dimas adalah makhluk di alam bebas yang tak punya keterikatan dengan Gina. Aku lemah tak berdaya mendengarkan kejujuran Dimas. Terasa kerajaan hati yang telah rapuh, runtuh kembali tanpa bekas.


“Maaf Lin, kamu tidak akan membenci aku kan? Aku sayang kamu. Aku tak akan mere-lakan kamu lepas dari aku. Aku selalu ingin menjagamu. Aku nyaman berada di dekat-mu Lintang,” pinta Dimas kepadaku.


Aku hanya bisa meneteskan air mata. Aku mengutuki diriku sendiri. Tuhan, aku mengulang kesalahan yang sama.

01 November 2009

MASALAHKU, MASALAHMU

Pagi ini aku harus berangkat ke sebuah dusun kecil di pelosok kota Semarang. Tidak pernah terbayangkan olehku mendapatkan tempat tugas di daerah pelosok. Selama aku dilahirkan di bumi ini, aku tidak pernah bersinggungan dengan daerah pedesaan, alih-alih dusun pelosok. Sejak surat panggilan itu datang, kegelisahan dan kegundahan merenggut seluruh pikiranku. Aku enggan meninggalkan keramain kota ini. Akan tetapi, hal ini adalah cita-citaku dulu. Bukan, bukan cita-citaku, cita-cita almarhum Ayahku. Mengingat almarhum Ayah, sungguh luar biasa semangat ini muncul begitu saja. Akhirnya, aku berangkat.