Showing posts with label #FF2in1. Show all posts
Showing posts with label #FF2in1. Show all posts

12 June 2013

Tentang Rasa yang (Mungkin) Ada

Aku belum pernah membicarakan cinta kepadamu. Aku juga belum pernah memintamu untuk mengisi hatiku. Tapi tanpa itu semua, kamu mestinya tau tentang rasaku padamu. Tentang rasa yang mungkin tak pernah nyata ada, yang tak pernah nyata terlontar dari mulutku. Tentang semua rasa yang kusimpan diam-diam meski aku tak pernah bisa untuk menahannya. Dan kamu mengamini. Lantas kita dengan pendirian yang sama, harus saling menjauh. Aku memberi batas maya demi lelaki penghidupan nyataku. Maafkan aku.

*thanks a lot to mr. f

22 May 2013

Mimpi yang Tertunda

Aku pernah menjanjikan akan menunjukkanmu foto daerah-daerah luar negeri yang elok, tentu saja dengan aku berpose di dalamnya. Aku pernah berkata bahwa suatu saat aku akan mengajakmu berkeliling dunia. Masih ingat, bukan?

Aku merasa berdosa jika aku tak bisa mewujudkan janjiku. Bukankah itu juga merupakan harapanmu. Mana mungkin aku bisa menolak harapanmu. Di hati ini sudah terpatri bahwa aku akan selalu membahagiakanmu, entah bagaimana caranya. Bahwa aku akan selalu memenuhi permintaanmu, entah berapa lama waktu yang aku butuhkan. Aku akan berusaha untuk mewujudkannya. Demi kebahagiaanmu. Demi senyum yang akan engkau sunggingkan untukku.

Lihat, ini! Aku membawakanmu melodi warna elok negara China. Aku mulai dari sini. Ini adalah tembok raksasa China. Panjangnya lebih dari dari 8000 km. Luar biasa bukan.

Oh ya, aku lupa. Mungkin lebih baik kita mulai dari negara kita sendiri. Oke! Ini Candi Borobudur. Candi ini dibangun sekitar abad ke-8. Ah, kamu menguap. Apa kamu mengantuk? Aku baru menceritakan dua melodi warna. Masih ada melodi-melodi warna yang lain yang perlu kamu lihat.

***

Ibunya melengos. Dalam hatinya dia sangat terharu karena anak satu-satunya telah membawakan postcard dengan berbagai gambar ke hadapannya. Meskipun dia pernah menjanjikan akan memberikan foto dengan pose dirinya di dalamnya, postcard ini sudah cukup membuatnya sangat bahagia. Ia tak perlu melihat foto anaknya dengan latar belakang luar negeri. Kegigihannya untuk membahagiakan Ibu sudah dirasa sudah cukup. "Tak perlu kau bawakan ibu fotomu, Nak atau postcard-postcard ini. Cukup kamu di samping Ibu, menemani Ibu. Ibu sudah sangat bahagia. Maafkan ibu, Nak. Karena ibu struk, kamu hanya bisa tertahan di sini."

Mimpi dalam Mimpi

"Jangan lupa kerjakan PR-nya, ya?"
Lantang suara Lusi memenuhi ruangan tak lebih dari 4 x 4 meter itu. Oh, bukan. Bukan ruangan. Ini hanyalah sebuah bilik dengan dinding dari anyaman bambu. Beralaskan tanah liat merah khas pegunungan. Tikar dari anyaman rotan mereka duduki dengan sangat nyaman meski sudah disulam beberapa kali di sana-sini. Di tengah-tengah mereka hanya ada sebuah meja persegi panjang yang terbuat dari triplek seadanya. Ada tiga belas anak di bilik tersebut. Bilik yang akan membawa perubahan besar bagi anak-anak tersebut.

Lusi menghela napas panjang. Sejenak matanya terpejam. Alangkah bahagianya dia telah menjadi panutan untuk anak-anak di daerah pelosok ini. Mendidik mereka dengan barang dan perlengkapan seadanya. Tanpa seragam dan sepatu yang cantik.

"Bu Guru," panggil Muis mengembalikan kesadaran Lusi, "Bu Guru kenapa matanya merem?"

Lusi hanya tersenyum, mengelus rambut Muis yang ikal.

"Tidak, Nak. Bu Guru hanya membayangkan kalian kelak pasti akan menjadi penerus bangsa yang hebat."

"Pasti, Bu Guru. Karena Bu Guru mendidik kami dengan sangattttttt baik. Dan Bu Guru juga pintar!" tutur Muis dengan pose kedua jempol yang diarahkan di hadapan Lusi.

Lusi terharu. Bocah usia 10 tahun itu tampak sangat bahagia meskipun dengan keadaan yang seperti sekarang ini.

"Iya, pasti!" jawab Lusi mantab.

Kringggg kringgggg!

Weker penunjuk waktu pukul 08.00 berbunyi gaduh di atas meja samping tempat tidur. Lusi gelagapan. Dia bangkit dari tempat tidur. Bengong. Lantas melotot. "Sial, aku ada pretest psikologi pendidikan pagi ini!" Lusi mengacak rambutnya.

28 September 2012

Pesta Perselingkuhan

Hari ini terlewati sangat lama. Hari yang biasa kulewati dengan taburan energi positif kini temaram sudah. Tawa teman-teman kantor yang biasa membuat gairah kerjaku meningkat kini seperti petaka yang mengikat. Aku lemah tak berdaya. Mematut diri di depan cermin toilet dan hasilnya hanyalah butiran bening yang meluncur begitu saja dari sudut mata. Melunturkan maskara. Tuhan, bisa aku minta kepada-Mu untuk men-skip hari ini?

Jam istirahat. Begitu teman-teman kantor berceloteh. Menghentakkan pikiran yang tiba-tiba kembali ke tempatnya lagi. Aku sendiri sudah tak berminat untuk sekedar memasukkan makanan ke mulutku. Perutku sudah penuh dengan kebohonganmu. Ah, kamu lagi ... kamu lagi ... kamu lagi!

Dulu kamu pernah mengatakan jika aku adalah sosok perempuan yang sangat pintar. Kamu juga pernah mengatakan kalau kamu akan melakukan semuanya untukku. Tapi aku selalu mengelak ketika kau berucap seperti itu. Aku selalu mengatakan bahwa kamu adalah pekerja keras yang tak kenal lelah. Dan ketika kamu berucap tak bisa melakukan sesuatu, aku selalu mendukungmu, menyemangatimu.

Lalu, balasmu?

"Kau terlalu pintar, Ken! Aku tak pantas jika nantinya menikah denganmu. Lihat saja di kantor! Aku bawahanmu bukan?"

Setelah itu, kamu tak pernah menyapaku lagi di kantor. Bahkan kamu selalu menghindar ketika aku berusaha untuk menjelaskan pekerjaan dan bukan mengenai kita?

Ah, entahlah. Kutahu sekarang bahwa kemarahanmu tempo lalu itu hanyalah omong kosong. Kemarin , mungkin aku tak sempat mengucapkan selamat itu kepadamu. Dan hari ini mungkin aku juga takkan sempat lagi. Selamat atas pesta perselingkuhanmu kemarin. Dan selamat karena hari ini kamu merayakannya lagi di kantor. Tepat makan siang.

Lambang Cinta

"Ja, kalau lambang cinta biasanya kayak gini kan?" ujar Nilam sambil melukis gambar hati di hamparan pasir pantai Parangtritis.

"Aku sempat bingung membedakan apakah itu sebenarnya gambar hati atau gambar jantung. Karena menurutku gambar ini sama dengan gambar hati dan jantung," celoteh Nilam masih terus memberondong. Kibaran angin yang menghempas ombak senja itu tak mau tahu dan masih saja mempermainkan apa saja yang dilaluinya. Termasuk Nilam.

Nilam masih mempermainkan ranting kayu yang ditemukannya tadi ketika ia berjalan menyisir pantai. Kaki-kaki telanjangnya bersetubuh dengan buih air yang girang berlarian.

"Ja, apakah tadi aku sudah bilang? Kalau sebenarnya persepsiku mengenai lambang cinta ini bukanlah mengenai gambar hati atau jantung."

Nilam menghela napasnya sebentar. Memandang lautan lepas yang tiada batas. Senja masih terhias dan sebentar lagi sosok itu akan terbias. Berganti malam. Tampak pasangan muda-mudi saling melingkarkan tangannya. Saling merengkuh agar tak terpisah jauh.

Nilam menatap senja. Dengan bulatan hitam matanya yang nanar, akhirnya ia mengatakan hal tersebut.

"Ja, lambang cinta itu sebenarnya adalah aku dan seseorang yang sekarang telah mengisi hatiku. Aku pernah menggambar itu di sini. Ini aku, dan ini  dia." Nilam masih menggambar. "Jika ini dirangkai menjadi satu, maka ... hap! Terjadilah lambang cinta yang aku maksud."

"Hmm ... sepertinya sudah semakin sore. Senja yang baik, aku harus pulang. Besok lambang cintaku akan menemuiku di pelaminan. Setelahnya, aku akan ke sini lagi. Mengukir lambang cinta yang sebenarnya."

25 September 2012

Jalan Lain



Lian terpekur di dalam kamarnya yang gelap. Sengaja tak ia nyalakan lampu yang biasa meneranginya. Padahal ia bukanlah gadis yang suka gelap. Suasana hatinya sudah tak lagi mengingat fobia yang dideritanya.

Butiran bening itu masih tetap saja meluncur dari sudut matanya. Tanpa jeda, seperti aliran memori yang kini berhias di setiap tetes butiran itu. Keinginannya melanjutkan kuliah kandas di tengah jalan. Koran yang memuat ribuan nama dan namanya itu hanyalah fatamorgana yang tak jadi terwujud.

***

“Ibu, hanya seorang pedagang jamu, Nak. Maafkan ibu jika tak bisa membiayai cita-citamu untuk mejadi dokter,” tutur Ibu Lian, parau. Ibu sebenarnya tak ingin melontarkan tuturan tersebut.
“Tak apa, Bu. Mungkin ini belum jalan Lian. Lian akan terus berusaha untuk menggapai cita,” katanya, berlalu meninggalkan Ibu yang masih terduduk di ruang tamu.

***

Lian berjalan gontai menuju kamar, menutupnya, mengunci diri. Gelap. Ia tak tahu, di balik jalan ini, masih terbentang jalan panjang yang bercabang.

Mozaik Rindu Surya



“Ingin kuurai mozaik rindu yang kian menggebu
Seperti ingin kuurai hati yang sekarang tak berpenghuni
Laras … aku ingin kamu kembali berada di dada kiri”

Surya meletakkan kembali pena yang tadi ia gunakan untuk menulis. Menorehkan tinta hitam, sehitam pengakuannya kepada notes yang kini masih berada di mejanya. Terbuka. Terlihat lingkaran lembab yang merembes dalam notesnya, hasil dari Kristal-kristal bening yang keluar dari matanya.

***

“I love you, Laras,” bisik Surya tepat di cuping telinga lembutnya.
“I loye you more, Surya,” lembut suara LAras menggetarkan hati Surya. Ia semakin merapatkan pelukannya. Mencoba menahan agar Laras tak pernah lepas sedetikpun dari genggaman hatinya.

***

“Laras, aku bukan manusia seperti yang kamu pikirkan
Aku adalah Surya, sama seperti dulu ketika awal berkenalan
Bukan Surya seperti pemberitaan
Ini di luar batas kemampuan
Bukan aku yang melakukan
Terbukti, 2 tahun berselang aku dibebaskan
Sabu itu milik teman yang ketinggalan”

Surya menyudahi ritualnya menulis notes. Membereskan peralatan tulis yang berserakan di meja kerjanya. Seperti ia membereskan sisa reruntuhan hatinya yang lantak karena Laras.