Showing posts with label Humaniora. Show all posts
Showing posts with label Humaniora. Show all posts

01 May 2014

IMD, ASI, Sufor, dan Alat Bantu Menyusui

Hari ini usia adek tepat 4 Minggu. Alhamdulillah, adek sehat dan baik-baik saja. Rewel juga jarang. Paling kalau rewel karena minta ASI (air susu ibu) emaknya atau karena pipis/pup.

Ngemeng-ngemeng soal ASI. ASI memang penting untuk bayi dan setiap ibu sudah pasti (bisa) memproduksi ASI. Benarkah?

Jujur saja saya kesulitan memproduksi ASI. Awalnya, dulu ketika IMD (inisiasi menyusui dini) saya sudah mencoba untun menyusui adek. Sampai adek nangis karena ASI saya belum keluar dan puting yang tidak keluar. Sebentar! Ini bukan hal yang tabu ya. Bagi (calon) ibu seperti saya informasi seperti ini sangat penting sekali. Oke, lanjut!

Iya, waktu itu ASI saya belum mau keluar dan puting juga susah untuk disusu oleh adek. Alhasil, karena kasihan, saya meminta bidan untuk menyusui adek dengan susu formula (sufor).

Teori dan penelitian membuktikan—dari yang saya baca di web-web kesehatan (melalui jejaring internet), bahwa seorang (calon) ibu pasti bisa menghasilkan ASI dan menyusui bayinya. Praktiknya, hal ini memang (agak) susah. Banyak (calon) ibu yang kesusahan dan merasa bersalah karena tidak bisa memberikan bayinya ASI. Contoh kasus, saya sendiri. Daripada ngambil kasus orang lain toh.

Nah, dari Informasi yang saya baca di web-web kesehatan tersebut menyatakan bahwa seorang ibu pasti bisa menghasilkan ASI dan menyusui bayinya. Dalam kasus saya, banyak hal yang bisa menyebabkan ASI tidak lancar keluar. Di antara hal-hal yang banyak itu, hal yang paling mengena di hati saya adalah posisi saat menyusui. Kenapa?

Posisi saat menyusui banyak berpengaruh pada kuantitas ASI yang keluar. Hal ini juga dipengaruhi oleh posisi bayi dalam menyusu payudara ibu dan atau posisi ibu dalam menyusui bayi. Saya sendiri mengetahui hal ini (lagi-lagi) dari internet. Posisi ibu yang salah atau kurang nyaman saat menyusui mengakibatkan ASI yang keluar hanya sedikit. Oleh karena itu, dianjurkan bagi ibu untuk mengetahui tatacara menyusui yang baik. Sayangnya, ketika saya melahirkan di bidan, bidan tersebut tidak memberitahu saya. Mungkin bidang tersebut tahu, tetapi karena pasien tidak bertanya jadinya tidak diberi tahu. Tahukah Anda, puting yang lecet itu disebabkan oleh posisi menyusui yang salah?

Lanjut mengenai posisi bayi ketika menyusu. Menurut teori (lagi-lagi teori), agar ASI keluar dengan lancar, bayi seharusnya menyusu pada payudara ibu. Jadi, bukan hanya pada puting ibu. Jadi ketika bayi melahap puting ibu, usahakan bayi juga melahap bagian areola (bagian yang berwarna hitam pada sekitar puting ibu).

Yang di atas itu menurut teori dan penelitian yak. Faktanya, banyak ibu-ibu di sekitar saya yang tidak bisa menyusui anaknya karena produksi asinya sedikit atau bahkan tidak keluar sama sekali. Nah loh? Aneh kan? Contoh kasus: saya lagi :D

Awal mula memang saya tidak bisa menyusui adek. Hal ini berlangsung selama lebih kurang empat hari. Banyak yang bilang karena puting saya yang terlalu pendek—ini waktu saya belum mengetahui tatacara menyusui yang baik. Akhirnya saya membeli puting sambungan. Padahal puting sambungan ini juga ternyata tidak bagus untuk produksi ASI. Dan ini juga tidak berhasil. Adek sudah lama menyusu tapi ASI juga tidak mau keluar. Saya dan adek tidak bisa bekerja sama dengan baik. Lalu atas saran orang-orang juga, saya akhirnya beli pompa ASI—dan beberapa hari ini saya baru tahu kalau memakai pompa juga tidak baik untuk kesehatan payudara. Ya, memang pompa ASI lumayan agak membantu. ASInya mau keluar meski sangat sedikit sekali. Saya taruh di gelas hanya dapat 1/20-nya gelas. Jadi sangat sangat dan sangat sedikit sekali.

Saya hampir putus asa. Tapi suami dan keluarga tetap mendukung agar adek bisa menyusu dengan ASI. Tak urung, saya kadang juga sedih dan menangis. Apa lagi adek sudah nyaman dengan sufornya. Tapi saya tetap bertekad ingin menyusui adek. Meskipun sedikit tak apa, nanti bisa diselingi dengan sufor.

Kurang lebih satu minggu saya masih menggunakan pompa dan puting sambungan. Masih mencoba-coba. Memang ada sedikit peningkatan produksi ASI dari hari ke hari. Meski puting lecet karena kurang nyaman juga pakai puting sambungan. Hingga akhirnya saya mengakhiri semuanya *dibikin dramatis*. Saya tidak pakai puting sambungan dan pompa ASI lagi ketika mengetahui hal-hal buruk yang terjadi akibat alat bantu tersebut. Lantas saya memakai apa?

Setelah mengetahui teori-teori dan penelitian yang saya ceritakan di atas (tatacara menyusui yang baik) saya mencoba tidak memakai alat bantu apapun. Awalnya memang susah karena adek sudah terbiasa pakai botol susu dan sufor. Sampai akhirnya adek bisa menyusu juga pada payudara saya. Adek dan saya bisa bekerjasama dengan sangat baik, meski sampai sekarang ASI yang saya produksi masih belum bisa memenuhi kebutuhan adek. Sehingga di samping adek menyusu dengan ASI, adek juga minum sufor dari botol susu.


Semoga tulisan ini berguna untuk (calon) ibu-ibu yang kesulitan untuk menyusui ASI bayinya. Semangat ya, Mom! Jangan pantang menyerah :* *bighug*

30 April 2014

Saat Jarit Sudah Terlalu Mainstream (Pascamelahirkan)


Dalam posting kemarin saya sudah membahas mengenai anjuran menggunakan jarit pascamelahirkan. Kebanyakan orang desa menganjurkan seorang ibu untuk menggunakan jarit dan udet (semacam korset). Kenapa harus pakai jarit? Biar langkahnya gak panjang-panjang. Supaya apa? Supaya gitu dah. Hoho, saya agak kurang ini menjelaskan ini. Jadi begini ….

Orang zaman dulu sangat mengutamakan keharmonisan rumah tangga. Jadi banyak hal yang direka-reka sendiri untuk kebaikan ibu pascamelahirkan. Seperti jarit di atas. Mereka mengangsumsikan pakai jarit supaya langkahnya tidak panjang. Kenapa? Agar kerapatan daerah kewanitaan tetap terjaga pascamelahirkan. Nah, seperti itulah.

Saya coba searching informasi via internet. Sebenarnya bukan hal itu yang diutamakan. Pascamelahirkan pun seorang ibu boleh menggunakan celana. Tapi jika pengin praktis, lebih nyaman menggunakan rok. Kalau mau ke belakang tinggal nyingkap doang :P

Terlepas dari itu semua saya kurang tahu apakah panjangnya langkah kaki berpengaruh pada kerapatan daerah kewanitaan pascamelahirkan. Saya baca-baca di web-web kesehatan belum ada yang membahas hal ini. Tapi secara abstrak saya mendapati banyak alasan bahwa pengaruh panjang langkah kaki dengan kerapatan daerah kewanitaan ini hanyalah mitos yang belum terbukti. Karena hal ini juga dibarengi dengan seorang ibu pascamelahirkan dilarang jongkok sebelum masa nifas berakhir. Alasan-alasan yang menguatkan diantaranya;

Bahwa pascamelahirkan beberapa jam setelah melahirkan ibu dianjurkan untuk senam nifas. Nah gerakan senam nifas ini (bisa dilihat di web tetangga) menggunakan gerakan-gerakan kaki juga. Padahal orang (di desa) jaman dulu lebih mengutamakan ibu hamil untuk istirahat total. Bahkan kata ibu saya, dulu selepas maghrib seorang ibu pascamelahirkan harus sudah di atas tempat tidur. Hal ini berlangsung selama selapan (36 hari) atau 40 hari.

Bahwa jongkok-berdiri pascamelahirkan lebih cepat mengembalikan kekuatan otot pinggul dan mengecilnya rahim. Nah lho, padahal orang jaman dulu menganjurkan ibu hamil tidak jongkok selama selapan hari. Katanya hal ini berpengaruh pada kerapatan daerah kewanitaan. Berbanding terbalik kan?

Tapi kata ibu saya, anjuran-anjuran orang jaman dulu semuanya tidak salah, juga tidak semuanya benar. Mereka hanya kawatir jika ibu pascamelahirkan setelah itu hubungan rumah tangganya tidak harmonis lagi. Tau sendiri kan ya, kebanyakan ibu pascamelahirkan bentuk badannya banyak berubah. Dan ibu saya juga mengatakan ibu pascamelahirkan sekarang ini justru sehat-sehat gak kayak orang jaman dulu. Iya, karena apa? Karena banyak anjuran yang salah kaprah, menjadikan ibu jaman dulu bukannya cepat pulih malah sebaliknya. Lama pulihnya.


Yak, tulisan ini hanya sebatas pemikiran saya yang kurang sependapat dengan mitos mengenai pemakain jarit (kalau udet/korset saya setuju) dan tidak boleh jongkok. Kembali ke pribadi masing-masing lagi, apakah mau mempercayai mitos tersebut tanpa mengetahui alasan ilmiahnya atau hanya mempercayainya tanpa berpikir alasannya, dan atau tidak percaya sama sekali :)

18 April 2014

Lepas Jarit dan Mitos Suleten

18 april 2014

Hiihihi, saya agak girang sekarang. Kenapa? Saya sudah diperbolehkan pakai rok. Siapa yang memperbolehkan? Tentu saja saya sendiri. Hmm, ini sudah hari ke-16 pasca melahirkan. Saya sudah merasa baikan. Darah nifas pun juga sudah jarang keluar. Rasanya benang jahitan pun sudah menghilang dengan sendirinya. Ya, lumayan sekarang saya sudah agak santai ketika BAB. Hehehe. Cuman masih agak was-was aja karena minum jamu, BAB saya agak lumayan keras. Padahal sudah banyak minum air putih dan makan sayur/buah. Its ok, tak apa! Yang penting saya sudah merasa oke, dan saya sudah banyak membantu di rumah meski belum diperbolehkan keluar rumah.

Yak, saya baru diperbolehkan keluar rumah kalau usia bayi sudah selapan atau 38 hari. Hoho, Alhamdulillah, pasti saya sudah sangat oke sekali usai selapan. Bisa kerja lagi di pabrik. Bisa gajian lagi. Haha. Yaiyalah sekarang mikirin gaji, anak mau dikasih makan apa kalau gak kerja :3

Eh, sekarang sudah pakai rok ya tapi kalau malam saya tetep minta pakai jarit. Kenapa? Takut kebablasan (kakinya) kalau tidur. Memang saya sudah baikan, tapi tetep jalan lahir masih belum sehat seperti sebelum melahirkan. Jadi tetep jaga attitude ketika melakukan aktifitas, seperti berjalan, duduk, tidur, dan sebagainya.

Yang sekarang bikin saya lumayan sedih, si adek lagi kena penyakit kulit. Gak tau gegara apa. Saya cari-cari di internet, banyak hal yang bisa menyebabkan bayi bisa terserang penyakit kulit. Entah itu alergi, bakteri, atau yang lain. Nah yang agak bikin saya kesel, ini orang-orang pada ngomongin mitos lagi -_- yak, lagi-lagi berhubungan dengan mitos. MEreka menyebutnya suleten. Atau kalau saya lihat di google, namanya eksem apa eksim gitu. Bentuknya merah, kalau si adek terletak di paha dalam, terus ada gelembung berisi cairan. Mitosnya hal ini terjadi karena ada peralatan si adek yang terbakar. Bisa saja popok, tisu/kapas bekas cebok/kotoran BAB, dan lain-lain, yang pasti ada bagian dari peralatan si adek di sana/yang keluar dari tubuh si adek.

Berhubung saya gak percaya karena gak masuk akal, saya pun diem aja -_- untungnya kemarin waktu si adek puputan, Alhamdulillah ada yang ngasih kado paket box produk cuss*ns. Di dalamnya ada krim/salep untuk mengatasi iritasi kulit. Alhasil saya pakaikan itu krim ke kulit si adek yang kemerahan/melepuh tersebut. Alhamdulillah sekarang sudah mulai kering. Kasihan adek kalau BAK/BAB kadang nangis kalau kulit yang kemerahan tersebut terkena tisu basah atau pas mandi kena air :(

Lekas sembuh ya, sayang. Mom’s love you :*


13 April 2014

Seputar Mitos Zaman Dulu dan Fakta Pasca Melahirkan

Ini hari ke-11 pasca melahirkan. Boring? Bangetttttt. Beginilah di desa, nasib ibu pasca melahirkan. Dikurung selama selapan. Yaitu sekitar 5 Minggu, atau lebih kurang 36 hari. Kenapa begitu? Saya juga gak tahu. Pokoknya orang tua zaman dahulu (zadul) punya peraturan seperti itu. Oh bukan, bukan hanya itu saja peraturannya, tapi banyaaaaaaaaak sekaliiiiiii.

Minum obat dan jamu
Ini obat yang diberikan oleh bidan. Jadi harus dihabiskan. Setelah itu dilanjutkan dengan jamu yang dibeli sendiri. Kalau jamu saya mau lah ya. Karena demi kesehatan juga. Toh, herbal. Minum jamu sebenarnya dianjurkan hingga selapan dan diminum 2 kali sehari. Tapi berhubung emak saya sudah agak modern, jadinya setengah selapan saja tak apa hihihi. Terus minumnya juga diperbolehkan sekali sehari karena menghindari gangguan BAB.

Pakai udet (bengkung/stagen) dan jarit (selendang)
Pasca melahirkan ibu diwajibkan memakai udet. Gunanya untuk menahan perut. Pasca melahirkan perut ibu akan terlihat “menjijikkan” dengan gelambir di mana-mana hehe. Ini juga saya mau saja. Karena lebih enak kalau pakai udet. Perut rasanya kenceng.
Kenapa pakai jarit? Kenapa bukan rok? Saya juga kurang tahu. Cuman setelah saya memakai jarit ini, seperti ini pengalaman saya. Mudah dipakai dan mudah dibuka sewaktu-waktu ketika kebelet BAB atau BAK. Sewaktu dipakai, langkah kaki tidak jauh-jauh dan ketika duduk, paha ngumpul karena sempit. Jadi duduknya teratur.

Pakai param (bobok)
Param ini ada beragam. Ada param untuk badan, yaitu bedak dingin. Ada param yang untuk perut—entah apa namanya lupa. Ada param untuk kening *jadi waktu pakai ini itu keningnya kayak ada pelanginya warna hijau tua :D*. Sebenarnya yang paling ngefek waktu dipakai itu cuman bedak dingin sama param untuk perut. Waktu pakai bedak dingin rasanya badan jadi adem. Ya, walaupun harus rela tiap hari seluruh badan “dilukis” warna putih tiap habis mandi pagi dan sore. Yang namanya muka sudah kayak badut abeesss tiap habis mandi :D. Juga param untuk perut, perut jadi anget. Gak rugi pakai ini, meski baunya gak terlalu enak.

Tidak boleh tidur siang
Saya sempat marah dan jengkel waktu ditegur karena waktu itu saya ketiduran sebentar. Niatnya sih memang mau tidur, tapi sejam aja gitu. Eh baru 15 menit, saya dimarahin karena tidur siang -_- jengkel banget toh! Akhirnya, sampai sekarang saya tak pernah tidur siang lagi. Bukannya karena percaya mitos/faktanya, tapi karena saya malas dan jengkel kalau ditegur lagi. Mitosnya, kalau pasca melahirkan ibu hamil tidur siang, pipi/muka akan bengkak-bengkak. “Yaiyalaaahhh!” gerutu saya dalam hati waktu itu. Biasanya kalau orang habis bangun tidur kan memang mukanya agak sembeb. Setelah saya browsing di internet—karena cuma ini yang bisa saya andalkan—yang bilang gitu cuma dukun bayi. Saya tidak menemukan alasan ilmiah. Toh malah banyak yang menyarankan ibu pasca melahirkan lebih baik banyak istirahat ataupun tidur siang juga gak masalah asalkan masih dalam batas yang wajar.

Tidak boleh keluar rumah sebelum selapan
Nah ini dia! Saya menjadi tahanan rumah selama 38 hari. Dan sekarang baru berapa hari? *ngitung* 11 hari. Oke! Masih lama!!!! Menurut saya nih, larangan ini dibuat agar si ibu tidak kelayapan dan merawat bayinya. Menurut saya lagi nih, masa nifas seorang ibu pasca melahirkan kan 40 hari, jadi mungkin si ibu diharapkan bisa fokus dalam menikmati masa nifas. Sehingga ibu dilarang keluar rumah agar tidak tergoda dengan dunia luar. Ini cuma pikiran saya aja sih, kalau salah ya gak tahu jugaak :D hahaha.

Selain hal-hal tersebut, masih banyak lagi larangan dan anjuran dari orang tua zadul. Mitos mitos yang bisa dijelaskan dengan ilmiah dan juga yang tidak bisa dijelaskan dengan logika sekalipun. Misalnya nih, saya coba jelasin satu-satu.

Jangan minum air putih terlalu banyak nanti bayinya pilek
-_- saya geregetan waktu denger nenek saya bilang kayak gitu. Saya cuman diemmm aja, padahal dalam hati rasanya saya pengen nyerocos ngejelasin pentingnya minum air putih. Gini ya, Nek. Sebenarnya, yang bikin bayi pilek itu bukan air putihnya, tapi karena kuman atau mungkin air putihnya kurang higienis, atau mungkin botol atau lingkungan bayi yang menyebabkan bayi pilek. Justru, kebutuhan air tetap harus dicukupi min 8 gelas/hari. Biar saya kalau BAB lancar, Nek. Biar gak dehidrasi juga karena sering keringetan. Tapi apa gunanya. Saya ngejelasinpun Beliau tidak akan percaya. Jadi saya diem aja. Cuman  bisa ngasih senyum palsu :)

Jangan makan sayur
Aaaak! Saya nahan amarah waktu tetangga saya bilang begitu. Katanya, “ya memang seger kalau habis melahirkan makannya pakai kuah dan sayur! Dulu lhoh, saya makannya cuma nasi sama tempe. Liat saja nanti badanmu pasti bengkak (makin gendut)!” Ya ya ya, saya cuma bisa ngelus dada. Tetangga saya yang saya cintai, saya juga butuh asupan vitamin dari sayuran. Anak saya juga butuh asi. Bekas jahitan saya juga butuh protein. Kalau saya tidak makan sayuran dan cuma makan nasi sama lauk, mana 4 sehat 5 sempurnanya? Pun saya sudah tidak minum susu lagi. Kalau saya tidak makan sayuran, saya bisa pingsan nahan sakit waktu BAB (ini lebay :D). Tetangga saya yang baik hatinya, sebenarnya yang mungkin bisa bikin saya gendut itu bukan sayurannya, tapi bisa dari pola makan dan makanan yang dimakan. Contoh nih, tiap makan tambah dua piring. Itu bisa bikin saya gendut. Terus, kalau tiap kali makan pakai santan. Ini juga bisa bikin saya tambah gendut bahkan mungkin kolesterol. Dan masih banyak lagi. Asalkan saya bisa menjaga asupan gizi dan pola makan, insyaallah berat bedan tetap stabil. Toh yang namanya Ibu menyusui bukannya disuruh makan banyak ya? :D

Jangan menekuk kaki ketika tidur
Yang ini saya setuju. Kenapa? Setelah saya cari-cari info dari blog dokter/bidan/web kesehatan sebelah, pasca melahirkan dianjurkan ibu tidak terlalu lama menekuk kaki. Hal ini dikarenakan kaki yang ditekuk akan menghambat aliran darah. Sehingga dapat menyebabkan kaki bengkak bahkan varises. Kenapa ibu pasca melahirkan yang dilarang? Karena peredaran darah ibu pasca melahirkan masih belum stabil diakibatkan ada bagian organ tubuh yang “trauma”. Lebih jelasnya bisa browsing sendiri di web-web kesehatan :D

Pasti dulu kamu sering cuci kaki sama bekas air cucian baju!
Saya maklum, Nenek saya memang sudah tua. Usianya lebih dari 75 tahun. Punya 5 orang anak, cucunya sudah tidak terhitung, dan buyutnya sekarang sudah 15. Jadi memang “pengalaman”-nya dalam hal bayi memang sudah banyak. Tapi yang saya gak terlalu suka, Nenek saya ini kalau ngasih petuah/larangan/anjuran gak pakai alasan ilmiah. Nek, sekarang zaman sudah berubah. Saya maklum kalau yang namanya anak muda harus nurut sama yang tua. Tapi kalau gak ada penjelasannya? Ya, walaupun saya tahu, mungkin ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Tapi setidaknya berilah saya sedikit “pencerahan”! Seperti kasus ini: APA HUBUNGAN KAKI SEMBET PASCA MELAHIRKAN DENGAN DULU (SEBELUM MENIKAH DAN PUNYA ANAK) PERNAH CUCI KAKI SAMA BEKAS AIR CUCIAN BAJU ATAU TIDAK? Ini yang paling gak masuk diakal -_- *sing sabar, San* Kemarin saya dirasani (dipergunjingkan) sama nenek, “dulu pasti kamu sering cuci kaki pakai bekas cucian baju, makanya kakimu sekarang (pasca melahirkan) sering sembet.” Dan seperti biasa, saya cuma ngelus dada.

Masih banyak hal lain lagi, yang “aneh-aneh” dan tidak bisa dianalisis dengan logika. Kalau saya curahkan semua di sini, isinya mungkin bercampur dengan (sedikit) kemarahan saya atas mitos-mitos zadul yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara riil T.T Seandainya para orang tua ini mengerti bahwa saya pun juga punya alasan dan pembelaan diri kenapa saya tidak mau menuruti keinginan mereka.


Mudah-mudahan suatu saat, kelak saya punya cucu, saya tidak secerewet mereka. Semoga saya bisa memutus “tali” mitos ini. Semoga … :)

27 April 2013

Cek Kadar Yodium Garam: 30--80 ppm (SNI)

CV. Dua Roda Transportation
Orang pecinta kuliner macam saya, tak bisa jauh-jauh dari yang namanya garam. Ditambah lagi daerah saya yang memang merupakan daerah pesisir pantai utara dengan mata pencaharian utama penduduknya nelayan/petani garam. Dan juga, rumah saya dekat sekali dengan pabrik garam.

Berhubung Ibu harus istirahat total, jadinya saya ikut ngerusuh di salah satu pabrik garam di desa Agung Mulyo, Juwana yaitu CV. Dua Roda. Karena saya baru di sini, saya pun harus banyak belajar, belajar, dan belajar. Salah satunya adalah cek kadar yodium dalam garam yang sudah siap edar.

Jujur, saya orangnya pelupa (ngaku), jadi saya mencatat cara kerja cairan-cairan tester ini ke dalam notes. Kenapa memindahkannya ke sini? Takut nanti lupa naruh notes, terus gak bisa ngapa-ngapain :D *alasan

Awal posting, saya mulai dari sini :p

Almari penyimpan
Beberapa bulan yang lalu, pemerintah mulai menggencarkan kembali garam dengan kadar yodium berSNI yaitu 30--80 ppm. Razia dikerahkan langsung ke pabrik-pabrik garam untuk dicek kadar yodium dalam garamnya. Sempat ada penyegelan beberapa pabrik karena kadar yodium garam siap edarnya kurang dari standar yang telah ditentukan.

timbangan, suntikan,
penumbuk, gelas ukur
Sebagai seorang yang baru dalam dunia pergaraman, saya pun hanya bisa melongo dengan pemerintah dan juga pengusaha garam. Oke, saya hanya sebagai warga Indonesia di sini. Saya tidak ingin membela siapa-siapa. Pemerintah menginginkan garam yang akan beredar mengandung yodium 30--80 ppm. Pun pengusaha garam juga ingin memenuhi SNI tersebut dengan menggunakan yodium sesuai dengan SNI. Akan tetapi, harga pasar yodium masih mahal. Hal ini berdampak pada harga jual garam yang harus dinaikkan untuk pemenuhan tersebut. Akan tetapi, ada kendala di sini. Tak sedikit pengusaha-pengusaha nakal yang menurunkan harga garam di pasaran lantaran yodium yang mereka gunakan di bawah SNI tapi berlabel SNI. Jadi, gimana ini pemerintah, tolong bantuannya :3

Oke kembali ke topik.

aquades  dan gelas ukur
Tak banyak dari pengusahan yodium yang mahfum dengan cara kerja pengecekan yodium dengan menggunakan alat sederhana yang diberikan oleh pemerintah. Pun kami, baru mengerti alat kerja ini setelah mengikuti seminar dan workshop yang diberikan oleh pemerintah di Salatiga beberapa tahun silam. Padahal peralatan ini sudah diberikan semenjak kami mendapat surat izin dari dinas perizinan.

Langsung aja dah!

Siapkan alat!
1. Timbangan tentu saja beserta bandulnya
2. Penumbuk/penghalus garam
3. Suntikan
bandul
4. Tabung reaksi
5. Gelas ukur

Siapkan bahan!
1. 25 gram garam beryodium yang sudah matang, haluskan
2. Aquades 100 ml
3. Regen A (Asam Phosfat)
4. Regen B (Indikator)
5. Larutan standar

Cara kerja:
1. Garam yang sudah dihaluskan di masukkan ke dalam tabung reaksi
2. Tuang aquades ke dalam tabung reaksi bercampur dengan garam beryodium yang sebelumnya sudah dimasukkan
3. Campur hingga garam larut
4. Teteskan regen A sebanyak 5 tetes ke dalam larutan di atas, campurkan sebentar
5. Teteskan regen B sebanyak 5 tetes ke dalam larutan di atas, campurkan sebentar (larutan akan berwarna kuning/biru tua)
6. Campurkan larutan standar ke dalam larutan, dan ukur berapa larutan yang dibutuhkan untuk menetralkan warna larutan tersebut.
7. Kalikan hasil ml larutan standa dengan 7,27
8. Hasil kali tersebut adalah kandungan yodium dalam garam beryodium tersebut.

Pengecekan dengan cara ini tentu saja belum valid karena akan lebih valid lagi dengan menggunakan peralatan laboratorium yang lebih canggih :)

Selamat mengecek kadar yodium dalam garam Anda :D

Nah, dibaca sendiri aja daftar isinya 
Regen A
Regen B




Larutan standar



10 April 2013

Kenali TB (Tuberculosis) MDR (Multi Drug Resistanse) Sejak Dini!

Update: kuposting lagi cerita ini, setelah sekian lama kusimpan di draft. Ini cerita tentang penyakit Ibuku. Beliau berpulang di tahun 2017.
.
.
Akhirnya bisa posting di blog. Sudah lama ya. Bulan kemarin pun saya tidak posting sama sekali. Aih kangennya nulis blog :3

Kemarin saya memang agak sibuk. Bukannya mau buka rahasia keluarga, tapi ini kenyataan. Toh ngapain ditutup-tutupin. Ini sudah bukan rahasia umum lagi. Justru dapat dijadikan pelajaran.

Oke! Saya baru pulang dari Solo, tepatnya dari RS. Moewardi. Ngapain? Pindah tidur. Hehehe…

Ibu saya habis dirawat dan opname di sana. Sakitnya TB (Tuberculosis). TB lanjut, biasa disebut TB MDR (Multi Drug Resistanse) atau biasa lebih mudahnya TB resistensi obat  atau lebih mudahnya lagi TB kebal obat. Yang dimaksud kebal obat di sini ialah kebal obat untuk pngobatan yang pertama.

Saya cerita dulu dari pengobatan pertama. Pengobatan pertama ini biasanya suntik selama dua bulan dan dibarengi obat kapsul selama 6 bulan. Ibu saya sudah melakukan pengobatan ini. Setelah pengobatn ini pun sudah dinyatakan negative oleh lab dan disetujui oleh dokter. Hingga beberapa bulan kemudian ibu mulai batuk kembali, dan kami coba untuk lab dahak. Hasilnya positif (bakteri TB)./ Kemudian kami dirujuk ke Solo untuk hasil cek lab karena dicurigai positif TB MDR. Kenapa di solo? Karena di pulau Jawa baru ada di Jakarta, Surabaya, dan Solo. Proyek inipun merupakan donate dari US AID (United States Agency International Development) dan diresmikan di Solo pada tanggal 1 April 2011. Jadi semua pembiayaan opname dan lain-lain untuk TB MDR gratis tis tis tis.

Berhubung hasilnya positif, Ibu harus dirawat di sana. Inipun ternyata antri. Di ruang isolasi tersebut baru ada 6 kasur, untuk 6 pasien. Tempatnya hanya disekat oleh kain. Setelah menunggu sekitar 3 bulan, Ibu akhirnya dipanggil dan melakukan perawatan intensif di ruang isolasi TB MDR tersebut.

Kami sampai di Solo, tanggal 22 Maret 2013, dan langsung mondok. Kebetulan saya yang kebagian menunggui Ibu. Jadi dari awal masuk sampai keluar RS, hari ini tanggal 9 April 2013, saya yang bertanggung jawab menjaga Ibu.

Oke, gak perlu berpanjang lebar ya.
tersangka :v

Masuk ke pengobatan selama di ruang isolasi TB MDR. Selama di ruangan, semua pasien, pegawai, penunggu, penjenguk diharapkan memakai masker. Tidurpun saya harus memakai masker sampai-sampai hidung saya tambah mancung ke dalam :D *gak ding gak sampe mancung ke dalam kok hehe. Sebelum pengobatan pun pasien menjalani beberapa cek dan tes. Seperti detak jantung, THT, darah, dahak, kadar gula, berat badan (BB), tinggi badan (TB), rongsen *ini gimana tulisannya ya, dll. Kenapa perlu dicek, karena ternyata efek dari obat yang ditimbulkan sangat beragam. Juga untuk menentukan jumlah obat yang akan diberikan kepada pasien. Ibu saya kebagian 20 obat tiap hari + suntik.

Pengobatan kedua ini akan berlangsung selama 2 tahun tidak putus, yaitu 6 bulan obat kapsul + suntik, sisanya 1,5 hanya obat kapsul saja.

Keluarga sangat dibutuhkan sekali dalam penyembuhan ini. Karena ternyata ini tidak mudah. Selain TB yang merupakan penyakit menular dan efek samping yang beragam, minum obat tiap hari selama 2 tahun penuh itu tidaklah mudah. Apalagi untuk Ibu, 20 butir obat tiap hari. Semangat mom :*

Kenali gejala TB sejak dini karena penyakit ini ada di sekitar Anda. Selalu jaga kesehatan dan senantiasa terapkan pola hidup sehat. Semoga sukses! :)
.
.

07 February 2013

(Harus) Mandi!


Untung pas posting ini saya sudah mandi. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak menyuruh pembaca blog ini untuk mandi :D

Kenapa topik kali ini mandi?

Pengalaman ketika ngekos membuat saya jarang mandi karena tidak ada kesadaran ataupun suruhan dari orang lain. Mandi tidak menjadi kebutuhan saya waktu itu. Mandi menjadi sangat dibutuhkan ketika akan kuliah atau pergi sama gebetan/pacar ahahahahah. Saya akui—berhubung sekarang bukan anak kuliahan lagi—saya pernah beberapa kali tidak mandi ketika kuliah. Kenapa? Alasan klasiknya sih karena TELAT atau buru-buru harus mengumpulkan tugas/UAS takehome karena baru dikerjakan satu malam menjelang pengumpulan tugas << jangan ditiru!

Bagi anak kos—khususnya saya dulu—, mandi 2x sehari itu tidak wajib.  Bahkan masih untung bagi anak kos yang lain bisa mandi sehari sekali :D

Tapi itu dulu, dulu ketika saya masih menjabat sebagai anak kos yang jarang mandi. Sekarang? Sekarang saya rajin mandi, 2x sehari tepat waktu. Bukan karena sadar sih, tapi lebih karena ingin menghargai orang lain. Ahahahha bayangkan kalau saya tidak mandi, keluarga di sekitar saya pasti sudah mencibir :D

Oke kembali ke topik.

Dulu saya memang mengabaikan mandi. Akan tetapi, ketika saya mulai mencari pengalaman di EO (event organizer) saya mendapat pencerahan akan hal ini. Dan sampai sekarang saya pun masih mengingatnya. Nasihat itu masih terpatri dalam memori #angel

Dulu saya wira-wiri ke luar kota 1-2 hari, menginap di tempat kerja cari pengalaman, wira-wiri sampai larut malam. Sehingga hal ini terkadang membuat saya malas mandi. Ketika senior (baca: atasan) saya tahu akan hal ini, senior mencibir saya dan menyuruh saya untuk mandi. Tidak hanya saya, juga beberapa teman lain yang kondisinya sepertinya saya—anak kos yang tidak butuh mandi.

Senior saya ini getol sekali menyuruh yuniornya untuk mandi. Bahkan senior saya ini bisa mandi 3x sehari, dan bisa lebih dari itu. Beliau bisa mandi kapan saja, di mana saja, semaunya.

Sulit bagi kami untuk menjalankan suruhan mandi itu :D tapi tetap saja kami kerjakan karena beliau memang dengan semangatnya menyuruh kami mandi. Sampai-sampai teman saya yang tidak bawa sikat gigi, dikasihnya sikat gigi baru, dipinjami handuk, dll. Niat banget!

Hingga suatu hari ketika kami agak dongkol karena selalu disuruh mandi, beliau bercerita.
Kenapa saya selalu menyuruh kalian mandi, ketika saya sudah mandi? Jawabannya simple: agar kondisi tubuh kita sama. Coba bayangkan. Kalau saya sudah mandi tapi kalian belum, padahal pekerjaan kita banyak? Kalau saya sudah merasa fresh, dan kalian suntuk (ditambah lagi belum mandi) karena kerjaan yang banyak? Bisa gak terjadi perpecahan?
Kami diam, saya pun diam. Iya betul. Mandi sama halnya dengan menyayangi tubuh kita sendiri. Apapun hal yang disayang, pasti akan memberikan efek yang baik juga untuk kita. Seperti halnya mandi. Mandi bukan hanya sekedar kebutuhan tetapi juga memberikan pemulihan kondisi tubuh kita. Memberikan kesegaran, kebersihan, kenyamanan dan tentu saja baik bagi kesehatan.

So, jangan lagi takut sama mandi. Jangan lagi malas untuk mandi. Karena mandi juga berfungsi juga untuk menarik perhatian lawan jenis << ini apa hubungannya!

Selamat mandi: SHOWER TIME!

31 January 2013

Kehormatan

Seperti biasa di musim penghujan, seharian terkadang hanya melihat tangisan langit mengaliri jalan-jalan setapak di sekitar rumah. Untungnya hari ini cerah. Pakaian-pakaian sisa kemarin yang masih basah, akhirnya kering juga hari ini << penting gak sih?

Sore yang lalu--entah sore ditanggal berapa--saya masih enak di rumah memainkan game online pujaan hati saat ini (read: Showtime Indonesia). Ditemani riuh dari seberang jalan depan rumah yang memang warung kopi. Sore itu ramai akan pemuda-pemuda yang sedang nongkrong. Tentu saja untuk menghabiskan sore indah itu.

Obrolan-obrolan mereka kadang timbul tenggelam sampai di telinga saya. Kadang tertawa, terbahak, teriak, saling caci meski dalam konteks gurauan, dan terkadang juga senyap. Di antara kegaduhan yang terjadi tersebut, ada satu lontaran pernyataan yang diucapkan dengan keras yang membuat saya serta merta berhenti bermain.

Pernyataan asli >> Mbak tiiiiiiiiiiiiiittt (sensor) bok*ngem gedine lehh!

Terjemahan >> Mbak tiiiiiiiiiiiiiiitt (sensor) pant*tnya kok besar sih!

Saya bengong >.<

Gimana gak bengong? Itu si mbak tiiiit sudah punya suami dan tiga anak. Ditambah lagi, ketika lewat, dia sedang boncengan bersama dengan suaminya. Saya hanya bisa heran.

Setelah kejadian itu, saya cerita ke Ibu saya. Tentang mbak tiiiiiit yang digoda pemuda-pemuda yang nongkrong di warung depan seberang rumah. Ibu cuman bisa ngasih petuah gini,
"Itulah pentingnya kehormatan. Jagalah kehormatanmu. Sekali kena, pasti membekas dan susah hilangnya"

Memang sebelum kejadian itu, saya mendengar desas desus tak sedap mengenai tingkah laku mbak tiiittttt. Yah, kita yang mendengar cukup bisa mengambil hikmah atas kejadian tersebut.

Ahh, selamat sore dan selamat menikmati senja :)

01 January 2013

Happy New Year 2013

Tim sukses trisusanti.com mengucapkan
Selamat Tahun Baru 2013
Semoga Tim Sukses bisa sering-sering update Blog
Amin

15 December 2012

Selembar Kertas: Infak

Pagi hari agak sedikit ribut karena mendapatkan selembar kertas dari sebuah desa. Sebut saja desa A. Ya, hanya selembar kertas dan bisa menggegerkan dua keluarga plus gosip gosip dari warga desa tersebut. Selembat kertas itu adalah ini:


Selembar kertas ini diberikan oleh seorang warga dari desa A tadi. Letak desa A memang tidak jauh dari desa saya. Jadi, ya (sedikit) wajar kalau info rehabilitasi renovasi masjid ini sampai juga di tangan keluarga saya.

Oke, mengenai selembar kertas ini.

Selesai baca selembar kertas tersebut saya langsung ngekek. Maaf, bukannya menghina atau bagaimana ya. Tapi saya memang agak curiga dengan orang-orang di belakang selembar kertas ini << jangan ditiru. Karena foto sudah saya edit, jadi bisa dilihat sendiri apa-apa saja yang membuat saya curiga. Hmm bukan curiga, lebih tepatnya ngekek :D

1. Rehabilitasi
Waktu baca rehabilitasi otak saya langsung mengarah ke orang kecanduan atau orang yang sedang dalam pemulihan keadaan, dan semacamnya. Kalau liat di KBBI online, rehabilitasi berarti
1 pemulihan kpd kedudukan (keadaan, nama baik) yg dahulu (semula); perbaikan anggota tubuh yg cacat dsb atas individu (msl pasien rumah sakit, korban bencana) supaya menjadi manusia yg berguna dan memiliki tempat dl masyarakat.
Lebih cocok jika rehabilitasi tersebut diganti renovasi. Iya kan? Biar tidak terjadi salah paham. Saya menduga kalau pembuat selembar kertas itu memang orang Jawa tulen. Biasanya orang Jawa sering menggunakan kata rehab untuk menunjukkan bahwa tengah berlangsung pemugaran/renovasi. Padahal kalau dalam bahasa Indonesia tidak seperti itu maknanya.

2. Infaq Rp. 2.000.000
Membaca infaq yang ada dibenak saya adalah sumbangan sesuai keikhlasan hati si pemberi. Saya bingung ketika membaca infaq sebesar 2 juta rupiah. Ini bentuknya sumbangan kan? Bukan kewajiban kan? Seikhlasnya kan? Karena saya pun awam mengenai hal ini, saya mencari arti kata infaq >> infak. Berikut artinya,
pemberian (sumbangan) harta dsb (selain zakat wajib) untuk kebaikan; sedekah; nafkah
Hmm, agak gimana gitu sama selembar kertas itu -.-

3. Seikhlasnya
Semakin lama, saya membaca selembar kertas itu saya semakin geram :D Gak konsisten. Dan kayaknya mengada-ada. Padahal, renovasi yang dilakukan memang benar adanya. Kalau di atas sudah disebutkan 2 juta rupiah, kenapa di situ ditulis lagi seikhlasnya? Aaaakkk, aneh! -.-

4. Ketua Hasil Musyawarah
Dan ini juga semakin membingungkan. Saya gak ngerti ini maunya gimana. Apakah yang dimaksud itu ketua tersebut dipilih berdasarkan hasil musyawarah, atau ketua tersebut dipilih berdasarkan hasil musyawarah dan tidak mengetahui bahwasanya dia telah terpilih menjadi ketua?

Yang namanya ketua, pastilah dirundingkan bersama-sama bukan? Atau setidaknya, apabila calon ketua mengajukan dirinya sendiri, ini tentu bukan hasil musyawarah. Melainkan pencalonan diri lalu disetujui oleh anggota.

5. Drs. H dan S. Pd
Dan yang terakhir ini membuat saya semakin galau dan WOW. Ketua dan sekretaris dijabat oleh seseorang yang memiliki pendidikan tinggi. Kalau di sana tertera tanda tangan sekretaris, otomatis sekretaris sudah membaca selembar kertas itu. Atau mungkin sekretaris tersebut tanda tangan sebelum tulisan tangan itu diisi?

Entahlah.

Sedikit menyarankan, untuk ketua yang namanya tertera dalam selembar kertas tersebut, yang menjadi penanggungjawab atas renovasi tersebut. Mohon diteliti ulang sebelum menyebarkan informasi pada selembar kertas itu. Kami bingung dan galau waktu membaca itu. Itu renovasi untuk tempat ibadah lhoh! Jangan sampai lah ada sesuatu yang tidak ikhlas di sana :)

Terima kasih.
Jika pembaca posting ini ada kritik, saran, dan sanggahan, SILAKAN ^^

04 December 2012

Pemilihan Kades


Hujan ini membawaku mengalun ke beberapa hari yang lalu ketika pilkades berlangsung. Aku belum cerita bukan mengenai hasil dari pilkades itu.

“Memang penting?” tanyamu pasti.

“Tentu saja penting!” kataku tegas.

“Kenapa penting?” tanyamu lagi.

Dan berulang, aku menjawab pertanyaanmu, “karena aku akan banyak bercerita di sini. Banyak bercerita mengenai hal-hal yang tentu saja baru bagiku.”

Lantas kamu terdiam dan aku terus bercerita.

Aku mulai ceritaku.

Pilkades kemarin menghadirkan dua calon dengan simbol gambar kelapa dan jagung. Aku sendiri tentu saja memilih salah satu dari salah dua pilihan tersebut. Jika pihak kelapa aku sebut sebagai penguasa dukuh Barat, aku menyebut pihak jagung sebagai penguasa dukuh Timur. Dan desa aku tinggali bernama desa Barat-Timur (BT)

Masing-masing calon beserta tim suksesnya akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaring dan mendata siapa saja kiranya yang akan masuk menjadi pemilih tetap. Di BT, kami menyebutnya SABET. Sabet inilah yang menjadi tim sukses dan kadang merangkap menjadi penyandang dana. Sabet ini akan mencari BITING (calong pemilih tetap) untuk dijadikan sasaran.

Hmmm… pernah mendengar adanya “amplop” sebagai tanda ucapan terima kasih karena telah memilih calon kades? Iya, amplop ini ternyata dibagikan secara nyata. Tidak lagi sembunyi-sembunyi atau melalui jalur belakang. Aku sendiri tak mengira bahwa ternyata antara calon pemimpin dan rakyatnya saling mendukung untuk berbuat tidak baik.

Jumlah nominal di dalam amplop juga mempengaruhi besar minat calon pemilih untuk memilih calon kades. Semakin tingga nominal, semakin tinggi hasrat calon pemilih untuk menjadi pemilih tetap. Kecuali orang-orang terdekat calon kades. Biasanya mereka akan dengan sukarela memilih calon kades tersebut.

Sebenarnya aku tak terlalu heran dengan istilah "amplop" ini. Sudah biasa bagiku yang hidup di tengah-tengah kepalsuan keadilan. Yang aku herankan adalah bukti dari kesanggupan mereka untuk memilih calon kades ketika pemilihan berlangsung. Tau apa yang mereka perbuat? Mereka memotret kertas yang digunakan untuk memilih dengan coblosan pada gambar tertentu. Inilah bukti yang mereka maksud. Bukti bahwa mereka benar-benar telah menerima amplop dan menyanggupi untuk memilih calon kades tersebut.

Waktu aku di dalam bilik pemilih, aku tak habis pikir akan masalah ini.  Bahkan aku tak pernah berpikir mengabadikan moment pencoblosan itu. Aku baru mengetahui ini beberapa hari setelah merebak kabar banyak pemilih yang ingkar. Iya, ingkar menjadi biting.

"Sudah selesai ceritanya?" tanyamu memotong ceritaku.

Aku langsung tergagap, "apa kamu bosan?"

"Tidak. Hanya saja, mungkin kamu perlu menyembunyikan permasalahan yang kamu ceritakan tadi itu," katanya tegas membuatku bingung.

"Ada yang salah dengan ceritaku? Apa kamu tidak suka?"

"Bukan begitu. Aku hanya tak ingin jika suatu saat nanti aku menemuimu di bui."

Tak ada lagi ucap. Tak ada lagi kata. Semua ceritaku berakhir dalam kepalsuan.

25 November 2012

PILKADES

Sudah lama ya gak posting xixi. Keasikan main game, maaf maaf.

Hmm, mau cerita apa ya? Oke, mumpung sekarang di kampung lagi rame pemilihan kepala desa mungkin saya ingin sedikit membahas mengenai ini.

Pernah baca novel Jatisaba karya Ramayda Akmal? Belum? Silakan beli ya, itu novel punya kakak tingkat saya wkwkwkw *promosi

Yak, waktu saya baca Jatisaba. Saya sempat tidak percaya bahwa pemilihan kepala desa itu penuh intrik. Penuh dengan strategi yang terkadang susah untuk dinalar. Banyak masyarakat yang saling curiga. Saling menghimpun kekuatan untuk melawan pesaingnya dan sebagainya. Tidak jarang, hal-hal kecil seperti letak rumah, no urut pencalonan, nama calon, lambang, menjadi perbincangan hangat yang disangkutpautkan dengan hasil yang akan diperoleh nanti ketika pengumuman Kades.

Dulu, waktu saya kecil--masih SMA--baik-baik saja ketika mengetahui adanya pemilihan Kades. Meskipun orang tua membicarakan hal ini, saya tak pernah ambil pusing karena toh saya tidak memiliki hak suara. Sekarang?  Sekarang saya punya hak suara dan saya galau. Mau pilih yang mana? Hmm, tapi bukan itu yang akan saya bahas di sini.

Lanjut!

Dari sekian banyak cerita yang saya terima mengenai pemilihan Kades saya hanya menyimpulkan satu kata: KEREN.

Keren karena banyak orang yang terpecah akibat salah satu atau dua dst.nya mendukung pihak yang lain. Keren karena banyak antek-antek di belakang sana berkeliaran. Keren karena ternyata berlaku jujur itu susah. Keren karena jika tak bersikap curang, justru akan dikucilkan oleh yang lain. Keren karena bukan hanya manusia yang berjalan di pemilihan. Dan masih banyak kekerenan yang lain.

Lalu saya cuma bisa bilang WOW :D

Yuk ah, kalau bisa budayakan bersikap jujur dan adil. Rakyatmu membutuhkan kejujuran dan keadilan. Bukan membutuhkan persaingan yang tidak adil.

Ttd
Warga (yang juga kurang) baik

12 October 2012

Akhir Musim Kemarau, Awal Musim Penghujan

Beberapa hari lalu, gerimis dan hujan sempat singgah di desa Agung Mulyo. Ya, masih sekedar pelepas dahaga tanah yang telah lama tak basah karenanya. Musim kemarau kali ini lebih panjang dari yang seharusnya. Jika para petani sawah, ladang, dan sebangsanya rebut karena kemarau dan tak ada air, lain halnya dengan warga desa Agung Mulyo. Mereka bersuka cita menyambut lamanya kemarau karena hal ini tentu saja memperpanjang masa produktif penghasilan mereka.

Bagi petani garam, kemarau adalah ladang “uang”. Hampir seluruh penduduk desa Agung Mulyo akan berbondong-bondong ke lahannya masing-masing untuk membuat garam. Saat ini, karena mendekati musing penghujan para petani garam akan semakin semangat memanen garamnya. Berlomba-lomba memasarkan hasil panen. Kenapa? Karena mendekati musim penghujan, biasanya harga garam akan mulai naik.

Untuk harga garam sendiri tak bisa diprediksi kapan akan naik karena hal ini tergantung dengan cuaca dan juga banyaknya pasokan garam yang diproduksi. Seperti kemarin, hanya semalam hujan deras, harga garam mulai naik kembali. Ini juga berpengaruh terhada penjualan garam curah/briket ke konsumen.

Memasuki bulan Oktober yang biasanya terhitung sebagai musim hujan, para petani garam sudah mulai gelisah. Gerimis dan hujan sudah mulai menyapa mesti belum rutin setiap hari. Mendung yang mulai menebal semakin menambah was-was petani garam karena hal tersebut adalah sinyal akan berakhirnya masa produksi garam.

Hmmm, tapi itulah musim di Indonesia. Jika kemarau terus, bagaimana dengan nasib masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada musim hujan? Yuk, marilah sama-sama kita bersyukur atas segala kemurahan yang diberikan oleh Tuhan YME.

Petani garam dengan garamnya

11 October 2012

Pembuatan SKCK

Mungkin hari ini saya seperti orang kebanyakan yang sedang mencari persyaratan untuk melamar pekerjaan. Tapi untuk saya, ini hanya sebatas pengen mencoba. Kalau diterima ya syukur Alhamdulillah, kalau misalnya gak yasuda gak papa saya akan mencari yang lain.


Salah satu persyaratan yang dicantumkan adalah SKCK. Ya, Surat Keterangan Catatan Kepolisian. Dulunya bernama SKKB, Surat Keterangan Kelakuan Baik (kalau gak salah).

Sebagai seorang yang masih awam di dunia pekerjaan, tentu saja saya gak terlalu ngerti kenapa  seorang pelamar harus menunjukkan surat keterangan ini. Setelah saya telusuri lewat internet, saya menyimpulkan: surat ini adalah keterangan tentang kehidupan kita sebagai seorang individu sosial yang hidup di Negara Republik Indonesia tercinta ini yang penuh dengan tata aturan (hukum) dan perundang-undangan >> ini terlalu panjang, abaikan!

Intinya, SKCK adalah rekab kehidupan sosial kita di mata hukum dan perundangan.

Seperti yang saya baca di beberapa situs Polres, persyaratan yang ditulis dalam situs tersebut juga berlaku di Polsek Juwana dan Polres Pati.

Uraian mengenai pembuatan SKCK kurang lebih kalau di Juwana seperti ini:

1.       Meminta surat keterangan/pengantar dari desa tempat tinggal yang ditandatangani Kades dan capnya. (Ini saya tidak dipungut biaya)

2.       Ke Kantor kecamatan untuk meminta tanda tangan dan cap, melengkapi surat keterangan/pengantar yang dibawa dari desa. (ini dipungut biaya seikhlasnya)

Sekedar cerita sebelum no.3, karena tadi beliau mengatakan seikhlasnya. Saya pun memberikan seikhlasnya. Berapa? Nanti dulu. Di kantor camat, saya hanya meminta tanda tangan dan cap saja. Tidak ada yang lain, serta tidak ada peraturan yang mengharuskan pengaju SKCK untuk membayar jasa dll. Dengan seikhlasnya saya memberikan nominal 2,5 k. Berapa itu? Sila pikir sendiri. Tadi itu yang menerima nominal tersebut sempat memandang saya lama. Haha. Saya gak ngerti apakah itu tatapan gak suka, atau gimana. Kan Bapak bilang seikhlasnya, toh?

3.       Ke Polsek Juwana. Memberikan persyaratan yang dibutuhkan untuk membuat SKCK di Polres Pati. Di polsek  kita akan diberi 3 lembar formulir. Isinya mengenai informasi pribadi kita dan keluarga kita. (dikenai biaya 10 k, ini menurut UU yang berlaku)

ini yang saya foto dari polsek Juwana

Pertanyaan yang masih terngiang seputar informasi pribadi dan menurut saya “lucu” yaitu mengenai ciri-ciri fisik kita. Antara lain, bentuk dan warna rambut, warna kulit, bentuk wajah, perawakan badan, tanda/ciri khusus pada tubuh. Waktu ngisi ini saya sempat tertawa. Hehe. Apa yang saya isi:
Rambut: hitam berombak
Warna kulit: cokelat
Bentuk wajah: bundar
Perawakan: tinggi gemuk
Ciri khusus pada tubuh: tailalat di bawah mata

Selalu ngekek waktu inget ini karena sama polisi yang mengoreksi dibetulin jadi gini:
Warna kulit: sawo matang
Bentuk wajah: oval

Sempat bertanya, cokelat kan warna, Bapak? Beliau menjawab, nanti kalau cokelat kesannya kayak makanan. Lalu tentang wajah, kenapa bundar harus dibetulkan, Bapak? Beliau menjawab, nanti kalau bundar kesannya juga kayak makanan, mirip bakpao dong.

Saya ngekek sejadi-jadinya.

4.       Ke Polres Pati. Menyerahkan data dari Polsek Juwana. Isi formulir.

Formulir yang diisi kurang lebih sama dengan yang diberikan di Polsek Juwana, tetapi yang di Polres Pati ini lebih terperinci lagi. Karena termasuk bentuk hidung, gigi, telinga, kening, dll.

5.       Cap jari, isi formulir. Formulir yang ini untuk cap 10 jari tangan. Sekedar info, zat cair yang dipakai untuk cap jari bukanlah tinta yang biasa dipakai untuk cap, namun olie (kayaknya). Waktu cuci tangan gak hilang-hilang. Baru hilang ketika diberi sabun colek. Usai cap 10 jari, pengaju SKCK dikenai biaya 10 k dan menyerahkan 2 lembar foto 4x6 cm.

6.       Proses print SKCK—Selesai. Hasil akhirnya adalah selembar kertas SKCK. Pemilik SKCK akan dikenai biaya 15 k dan menyerahkan 4 lembar foto 4x6 cm.

7.       Fotokopi

8.       Legalisasi (gratis)

9.       Finish!

Sekian cerita pembuatan SKCK saya hari ini. Oia, untuk yang perpanjangan SKCK kayaknya alurnya berbeda. Juga SKCK yang digunakan untuk tenaga kerja luar negeri, syarat-syaratnya agak berbeda.

*Untuk pas foto 4x6 cm itu jangan lupa menggunakan background foto warna merah.

24 September 2012

Profesi: Petani Garam

Sejak di rumah, saya selalu bergelut dengan garam. Ya, sempat takut juga kalau ternyata setelah di rumah saya akan menjadi asin dan keasinan :D Sayang kan, kalau sudah manis gini jadi asin? << lupakan!

Rumah saya yang notabene sangat dekat sekali dengan perairan laut Jawa membuat saya dan warga desa yang saya tinggali ini memiliki mata pencaharian utama sebagai petani tambak dan garam.

Sebentar, terlepas dari itu semua orang yang memiliki profesi mengolah tambak dan garam tidak bisa disebut nelayan bukan? Mungkin harus ada kosakata baru untuk profesi ini agar tidak meminjam kata petani.

Di musim kemarau seperti ini, hampir 90% warga di desa ini akan mengolah lahan tambaknya untuk dijadikan lahan bertani garam. Mereka biasa menyebut ini dengan koen (baca: kowen). Sama seperti tambak, biasanya berbentuk segi empat dengan luas kira-kira 5--8 meter persegi. Akan tetapi, kedalamannya tidak sampai 1 meter. Paling hanya 10--20 cm.

koen petani garam
Proses pengkristalan garam biasanya membutuhkan waktu sehari (apabila cuaca panas dan disertai angin). Pernah suatu ketika cuacanya sangat panas tetapi tak ada angin, pengkristalan garam tidak berlangsung dengan baik. Garam yang dihasilkan lembut, seperti es krim. Bahkan ada kowen yang pengkristalannya tidak terjadi. Mereka menyebutnya gandor yang artinya tidak keluar. Kata ini biasa digunakan dalam istilah garam dan tambak.

Seusai garam tersebut digaruk, garam tersebut akan dicuci terlebih dahulu agar putih. Oh ya, kualitas garam terlihat pada putihnya garam dan hal ini dipengaruhi oleh proses pemanasan dan pencucian.

Garam yang sudah dicuci tersebut biasanya ditimbun di suatu tempat, kami biasa menyebutnya godang >> gudang garam. Transportasi yang dipakai untuk mengangkut garam yang sudah jadi tersebut (garam curah) adalah sepeda onthel dan sepeda motor. Sepeda motor ini merupakan dampak modernisasi karena lebih efisien, hemat, dan tidak menguras banyak tenaga. 75% pengangkut garam di desa ini telah menggunakan kendaraan bermotor. Sisanya, masih menggunakan sepeda onthel.

pengankut dengan sepeda yang waktu itu karena sepeda sudah tua, rodanya tak sengaja bengkok

pengangkut dengan kendaraan bermotor @ CV. Dua Roda

Terkadang ada pula yang godang-nya sudah penuh sehingga mereka langsung menjualnya ke pengepul. Biasanya pengepul ini adalah orang-orang yang memiliki pabrik garam atau memiliki pasarnya sendiri. Untuk saat ini (tertanggal 24 September 2012) harga garam perbojog dibeli seharga Rp.50.000,00. Garam per bojog beratnya rata-rata 175--200 kg.

Yak, sekian laporan dari TKP >> Ds. Agung Mulyo >> desaku yang sangat kucinta. Desa penghasil garam dan penghasil bandeng serta udang.

Mengenai proses garam ini dapat dlihat di Lika-Liku Garam.

30 August 2012

Blogger Pati

*merenung

Posting ini merupakan respect saya terhadap tulisan saudara Asmari di blognya mengenai Blogger Pati atau Komunitas Blogger Pati.

Saya mengaku sebagai orang Pati, tepatnya Juwana karena memang saya dilahirkan dan dibesarkan di kota tersebut. Akan tetapi, ketika saya menyebut diri saya sebagai seorang yang lahir dan dibesarkan di Pati, saya kecewa dengan diri saya karena saya tidak pernah menyinggung Pati dalam setiap posting saya. Saya baru sadar *elus dada. Terima kasih kepada saudara Asmari yang telah menyadarkan saya -.-

Mengenai blogger?

Semenjak saya menulis di blog (tepatnya CURHAT), saya tidak pernah mendedikasikan diri saya sebagai blogger. Sampai sekarangpun saya tidak tahu apa itu blogger? Buka google-search arti blogger!

Dari artikel Apa Itu Blogger? saya mendapatkan pencerahan. Berikut beberapa kutipannya.

Blogger adalah sebutan bagi orang yang menulis di blog tersebut.
>> berarti saya termasuk :D

Syarat seseorang bisa menjadi blogger hanya satu: bisa menulis!
>> yang penting bisa menulis kan? Berarti saya termasuk.

Nah, dalam komunitas blogger yang semuanya adalah penulis, ada beberapa yang memang punya kemampuan teknis lebih, ada beberapa yang lebih suka menulis karya seni, ada beberapa yang suka menulis dengan gaya jurnalis, dan seterusnya.

>> saya tidak memiliki kemampuan teknis lebih tapi saya suka menulis. Menulis apa saja, tanpa aturan :D Apakah yang ini saya termasuk?

Dari tiga penjelasan di atas apakah saya pantas disebut sebagai blogger? Sepertinya sudah pantas. Tapi saya tetap merasa tidak pantas karena saya masih jarang update blog. Pun saya tidak pernah mengikuti komunitas blogger atau apapun itu namanya. Okelah, apapun sebutan untuk saya, entah saya disebut seorang blogger atau penulis (diary) saya terima apa adanya ehehe...

Maju terus blogger Indonesia :)

Mengenai Pati?

Bukannya saya tidak bersyukur dilahirkan di Pati, tetapi saya memang kurang "mengenal" Pati. Oke, sebut saja saya kuper (kurang pergaulan). Saya tinggal di Juwana, di pinggiran kota Pati. Jika ditempuh dengan kendaraan motor, waktu yang ditempuh kira-kira 45 menit. Itupun kalau saya tidak nyasar.

Saya tidak terlalu mengenal kota Pati karena saya terlalu banyak menghabiskan waktu sebagai anak yang tidak berani keluyuran ketika SMA. Dulu saya SMA di Juwana. Akibatnnya, jadilah saya seorang yang kuper akan kota Pati.

Yap! Here am I, seorang yang dilahirkan di Pati tapi tak tahu menahu mengenai kota Pati >> Ironi.

Setelah ini, mungkin saya akan berkeliling kota Pati :)


I love Pati ...

22 July 2012

Happy Ramadhan 1433 H

Segenap tim (yang isinya cuma aku doang) trisusanti.com mengucapkan,
 
"Marhaban Ya Ramadhan"

Meskipun awal puasa kita tidak sama tapi kita tetap Indonesia.
Semoga ibadah kita semua di bulan suci ini diterima oleh Allah SWT.


06 July 2012

TIPS dan TRIK KKN

Umm ... dibilang iri, tapi aku sudah pernah melakukannya. Tapi tapi tapi ... kangen. Pengin mengulangnya lagi dan lagi ^^
Itulah kutipan yang bisa aku kasih buat kalian yang akan menunaikan kewajiban sebagai seorang mahasiswa S1, yaitu KKN. Tepat satu tahun olehku mengenang peristiwa-peristiwa di masa KKN.

Kolusi, Korupsi, Nepotisme?

BUKAN! Kuliah Kerja Nyata. Tapi di sini aku tidak akan menjelaskan mengenai sejarah KKN karena hal itu sudah dijelaskan dalam buku panduan KKN. Hehe.

Dalam posting ini, aku akan menjelaskan apa yang tidak dijelaskan dalam buku panduan KKN.

Cekidot!

Posting ini berjudul Persiapan Perang: KKN. Ya, persiapan perang menuju tempat yang (waktu itu aku kira) MENGERIKAN! Penuh intrik dan politik--ini lebay. Sampai aku bertanya pada diriku sendiri, "Sejahterakah hidupku di sana?". Dan, sekarang aku bisa menjawabnya: itu adalah pertanyaan bodoh! 0.0

KKN merupakan hal yang menyenangkan. Umm... ini tergantung sih nyehehehe. Bergantung pada cara kalian memaknai arti kebersamaan dalam KKN. Bagaimana teman-teman timnya dan bagaimana warga-warganya. Coba tanamkan keindahan sedari kalian menapakkan kaki untuk yang pertama kalinya di tanah tempat ber-KKN ceria. Niscaya, kaalian akan selalu merasa nyaman meski mungkin hal itu tidak seindah yang dibayangkan >> ini namanya kekuatan mindset :D

Kewajiban akademik sebelum dan sesudah KKN seperti LRK, LPK, K3, K1, dsb—padahal aku sudah lupa, entah itu kepanjangan dari apa—memang wajib dikerjakan. Akan tetapi, sebetulnya bukan itu tujuan utama kita melakukan KKN. Tujuan utama KKN adalah memanusiakan mahasiswa. Kalau dalam bahasa Jawa biasanya disebut di-uwong-kan (diorangkan). Kenapa? Karena di belantara KKN, kita akan benar-benar diberikan tanggung jawab dan dianggap serba bisa melaksanakan segala hal. Jadi, besok jangan heran kalau nantinya kalian akan didewakan (red: dewa memecahkan masalah).