Showing posts with label pengalaman. Show all posts
Showing posts with label pengalaman. Show all posts

19 November 2023

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Kalian tentu pernah mengalami ini: ketemu temen yang sudah lama gak pernah jumpa, bahkan setelah 20 tahun.

Gimana perasaan kalian? Harusnya seneng dan bahagia yaaa. Terus peluk-pelukan, cipika-cipiki, yaaa minimal tanya kabar. Tapi ini gak berlaku buatku kemarin. Bukan kemarin sih, tepatnya satu setengah tahun yang lalu.

Kok bisa?
Yaaa, kenyataannya bisa. Hahahah.
Kamu pasti orangnya sombong ya?
Enggak yaaa, yakin. Aku sudah pengin banget nyapa dan nanya kabar satu setengah tahun yang lalu. Tapi apalah daya... rasa maluku mengalahkan logikaku.

https://imgcdn.solopos.com/@space/2023/07/Pameran-Seni-TKMTS-di-Lokananta-2.jpg
Makanya baca dulu ceritanya ya.

Satu setengah tahun yang lalu.
Aku bertemu dia pertama kali ketika aku mengantarkan mba Shanum sekolah TK A. Jadi, gak sengaja ketemu pas nganter anak sekolah gitulah gampangnya. Tapi aku ataupun dia gak langsung saling sapa. Entah mungkin karena mau memastikan lagi apakah itu memang aku temennya, atau gimana aku gak tau.

Sedangkan aku? Aku sangat ingat dia teman sekelasku waktu kelas 2 SMP. Ya, aku ingat sekali wajahnya walapun sekarang dia pake jilbab. Tapi, yang jadi masalahnya adalah aku terlalu malu untuk mengakui bahwa aku hanya ingat julukannya, bukan namanya T.T dan aku juga beranggapan, "iya kalau dia inget aku, kalau enggak?"

Kan parah banget yak. Udah gak tahu namanya, cuman tau nama julukannya, dan itu bukan julukan yang bagus :( Ada yang pernah dalam posisi seperti ini? Coba sharing cerita di komentar :) buat pelajaran kita selanjutnya.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, setiap kami gak sengaja ketemu pas jemput anak sekolah, pasti kami cuma saling lihat-lihatan gak berani saling sapa. Unik sih ini hahaha. Hingga sampai pada akhirnya, kemarin itu, pas aku melewatinya karena anak-anak sudah keluar kelas, dia nyapa aku dong T.T aaaaaaakkkk pengin nangis. Terharu akutuuuuu.

"Eh, dirimu temeku waktu SMP dulu kan, Santi bukan?"
Dengan terharu aku merangkul pundaknya sebagai permintaan maaf juga, sebab aku melupakan namanya :(
"Ho'o. Ya Allah, akutu inget kamu, cuman aku lupa namamu, cuman inget julukanmu aja. dulu kan kamu seringnya dipanggil itu, jadinya itu yang diinget. Maaf yaaa huhuhuhu."
Yakin pas ini, aku beneran yang terharu banget karena dia sudah menyapaku duluan.
"Ya, wis. Yoo kenalan lagi"
Kemudian kami berjabat tangan, dengan dia memberitahukan namanya.

Dan akhirnya setelah satu setengah tahun, aku mengingat kembali namanya. PLONG banget gak sih rasanya.

Alhamdulillah, hilang sudah rasa bersalahku sebab hanya mengingat julukannya, sehingga aku tidak berani menyapanya. Dan, obrolan kami berlanjut hingga sekarang. Ketika kami saling berpapasan ketika menjemput anak-anak, kami sudah tidak diem-dieman lagi. Kami sudah bisa saling bertegur sapa maupun terlibat obrolan singkat.

Walupun sampai saat ini aku belum berani bertukar nomor ponsel, tak apa. Yang penting kami sudah saling sambung silaturahmi. Benar kata pepatah, TAK KENAL MAKA TAK SAYANG. Dan cerita ini telah mendeskripsikan itu.

Bahkan mengenai pepatah itu, aku pernah membatahnya di postingan bertahun-tahun yang lalu DI SINI ketika aku mengenal seorang perempuan satu daerah kos, satu fakultas, dan sering ketemu pas jalan kaki. Dia tidak tahu namaku, pun aku juga tidak tahu namanya, tapi kami sering saling sapa. Di baca aja sendiri yaaaa >>> Tak kenal (bukan berarti) tak sayang.

Okelah! Cukup sampai di sini dulu ya.

Terima kasih sudah mau membaca tulisan ini.
Jangan lupa komentar positif untuk tulisan ini maupun untuk aku, biar aku makin semangat menulis blog. Sehat dan bahagia selalu yaaaa ❤
.
.
.

10 September 2023

Jangan Siakan Orangtuamu

Pernah gak sih kalian kepikiran tiba-tiba orangtua kalian meninggal? Nggak kan, ya!

Tapi bagaimana kalau itu benar terjadi? Kalian tiba-tiba menjadi yatim atau piatu, bahkan yatim piatu? 😢

............................

Pagi tadi ketika di kamar mandi tetiba nangis sesenggukan keingat ibu sama bapak. Rindu yang entah bagaimana caranya kubisa salurkan kepada mereka kecuali hanya lewat doa. Kok bisa tetiba nangis? Biasa, kadang kalau udah di kamar mandi, dan bilik termenung bawaannya pikiran ke mana-mana :)) entah, kayaknya kamar mandiku ada apa-apanya. Hahaha....

Bapak dan Ibuk waktu wisuda Mas,
dan aku yang sedang ujian tofle

untuk masuk UGM
Sudah dua kali tiap Kamis malam Jum'at kemarin selalu ketemu sama (sebut saja namanya) Eko di tempat pemakaman. Eko masih bersekolah di tingkat menengah kejuruan. Sedangkan Kakaknya kuliah semester akhir di sebuah perguruan tinggi di Semarang. Lalu orangtuanya, sudah tiada. Ya, aku bertemu Eko karena ia sedang berkunjung ke makam kedua orangtuanya, pun begitu juga denganku :(

Sebagai catatan, kalau di sini, tiap malam Jum'at, tempat pemakaman pasti ramai. Banyak keluarga atapun sanak saudara yang masih hidup berkunjung ke makam untuk mendoakan yang sudah tiada.

Sedih, pastinya iya. Kubandingkan Eko denganku yang sudah berusia 30an dengannya yang masih belasan. Aku yang sudah tua ini--yang sudah punya suami serta tiga anak saja masih merasa kosong karena kehilangan orangtua, bagaimana dengannya? Yang hidup di rumah sendirian--karena Kakaknya sepertinya jarang pulang, yang entah bagaimana ia makan tiga kali sehari, yang entah bagaimana ia berkeluh kesah di tiap harinya, yang entah bagaimana caranya ia jika rindu dengan orangtuanya, dan sebagainya. Banyak terlintas di pikiran aku, bagaimana caranya ia menahan itu semua?

Memang harus banyak-banyak bersyukur agar semua yang sudah terlanjur terjadi tak menjadi penyesalan.

Memang harus banyak-banyak melihat ke bawah agar semua yang lebih kurang daripadamu terlihat jelas.

Memang harus banyak-banyak berdoa agar Tuhan memberikan petunjuknya untuk kita dan kita bisa menerimanya dengan lapang dada.

Hai untuk kamu yang saat ini masih dibersamai oleh orang tua, baik-baiklah kepada mereka. Sayangilah mereka. Jenguklah mereka jika tempat tinggal kalian sudah tidak lagi bersama. Atau jika terkendala oleh jarak, sering-seringlah bertukar kabar via telepon atau panggilan video. Teknologi sekarang sudah semakin canggih, jangan jadikan "tidak punya waktu" sebagai alasan. 

Dan,

Untuk kamu yang saat ini sedang berjuang tanpa orangtua, tetap semangat ya! Kamu tidak sendirian. Kamu masih punya Tuhan yang tidak akan pernah bosan mendengar keluh kesahmu. Yang tidak akan pernah bosan melihatmu menangis tersedu-sedu. Yang tidak akan pernah lelah membersamaimu. Jadilah manusia yang kuat. Jadilah penerus orangtuamu, dan buatlah orangtuamu bangga telah melahirkanmu. Boleh kamu menangis, boleh kamu berkeluh kesah, boleh kamu menjadi lemah, tapi sebentar saja yaaa! Kumpulkan kekuatan, dan buktikan pada dunia bahwa kamu bisa. Kamu tidak lemah. Dan, kamu pantang menyerah.

Gak punya orangtua itu gak enak, ya kan? Jadi buatlah dirimu kelak menjadi orangtua yang baik untuk penerusmu.

Love banyak-banyak untuk kamu yang saat ini berada dalam kondisi ini ❤ 

.

.

.

.

21 August 2023

Anak Ke-3 : Elyn

Baru dibuka lagi blognya setelah sekian lama pensiun. Hahaha, lebih pantes cuti sih pilihan katannya. Dan tulisan ini saya bikin di tanggal ini 21 Agustus 2023. Dan yang di bawah ini adalah ketikan entah tahun kapan, karena Elyn pun sekarang sudah usia 3 tahun.


elyn 2 tahun

Akhirnya, update blog lagi. Hahaha

Gak berasa ya, ternyata sudah setahun lagi. Haha, masak ngisi blog setahun sekali... Sungguh terlalu memang.

Dan, selama setahun ini, saya mengandung anak ketiga. "Hamil lagi, Mak?" Iyak. Hehe... Tumben ya, saya gak nyurhat di blog. Tapi beberapa kali posting tulisan panjang kok di IG tapi hehe.

Dan, lagi, bayi yang saya kandung itu juga sudah lahir. Alhamdulillah, seorang perempuan. Sehat. 19 Juni lalu, tepat di tanggal ulang tahun pernikahan kami yang ke-7.

Ia lahir dengan persalinan normal, meskipun harus mendapatkan induksi terlebih dahulu karena bukaan yang lamban dan saya kesakitan, "ya yang namanya melahirkan ada ya yang gak sakit?" kata netijen.

Dengan berat 3,4 kg dan panjang 49 cm, kami namai ia Misha Evelyn Safaraz. Harapan kami kelak akan menjadi perempuan dengan kebahagian/senyum yang kekal dan dihormati.

Elyn yang sekarang sudah 3 tahun, maafin Ibuk yang sok sibuk sehingga Ibuk belum menulis tentang kamu. Dan sekarang lunas yaaa. Sama seperti Mas Ken dan Mbak Shanum yang juga Ibuk tulis di sini, di blog tempat berkumpulnya curhatan Ibuk. Kelak jika suatu saat kalian sudah dewasa dan Ibuk mungkin sudah tiada dan belum sempat bercerita banyak, kalian bisa mampir ke sini ya hehe.

Terima kasih sudah hadir di kehidupan Ibuk dan Ayah. Tanpa kalian, tentu warna yang kami punya tak akan sebanyak ini. Sebab adanya kalian, hidup kami menjadi lebih berwarna.


10 May 2018

Perpanjang Kartu SIM di Pelayanan SIM Keliling

Lalu lintas makin padat merayap seiring dengan banyaknya penduduk yang lebih memilih menggunakan kendaraan bermotor roda 2 ketimbang roda 4. Kenapa? Tentu saja lebih hemat waktu ya, karena bisa ngepot sana-ngepot sini. Salip sana-salip sini. Hihi.

Demi kenyamanan dan keamanan dalam berkendara itulah Satlantas mewajibkan setiap pengendara kendaraan bermotor memiliki SIM (Surat Izin Menikah Mengemudi). Tak terkecuali saya yang cuma pembalap motor, yang kecepatannya tidak lebih cepat dari laju odong-odong.

Tapi bukan yang pertama kalinya untuk saya tentu saja, kemarin saya memperpanjang kartu SIM saya sebelum masanya habis. Dulu, 5 tahun yang lalu sudah pernah perpanjangan SIM di polres. Tapi itu dulu, sekarang mah semua serba cepat dan efisien. Tidak perlu lagi jauh-jauh ke Polres Pati. Karena sekarang (sudah beberapa tahun yang lalu sih sebenarnya) telah berkeliling mobil pelayanan perpanjang SIM dan STNK keliling.

Untuk Kecamatan Juwana, kebagian hari Selasa. Biasanya hari Senin sudah dibuka pendaftaran di bangunan tengah Alun-alun Juwana (masuk saja) waktu pagi hari.

Untuk pendaftaran perpanjang SIM, kemarin saya membayar 150rb rupiah. Syaratnya hanya membawa 1 fotokopi KTP dan 1 fotokopi SIM. Sesudah membayar dengan menyertakan fotokopi ktp dan sim sim tersebut, Anda akan diberikan no antrian untuk digunakan pada hari Selasa ketika pengambilan berkas di lokasi tersebut.

Di hari Selasanya, saya kembali lagi ke alun-alun Juwana, memberikan no antrian, dan kemudian dicarikan berkasnya sesuai no antrian saya. Bapak tersebut memberikan map berisi berkas formulis yang sudah diisi, fotokopi KTP dan SIM, serta uang 100rb rupiah yang distaples jadi 1 di map tersebut.

Kemudian saya meluncur ke Kantor Kecamatan Juwana. Di situ sudah ada mobil pelayanan SIM dan STNK keliling. Di situ Anda harus memberikan berkas tersebut dan SIM lama yang akan diganti dengan yang baru. Selepas memberikan berkas tersebut, saya menunggu panggilan untuk foto, cek sidik jempol, dan tanda tangan. Taraaaa... Nunggu diprint tidak ada 10 menit, sudah jadi.


Yay!

Oh iya, untuk sim dan STNk keliling ini hanya melayani perpanjangan sim dan pembayaran pajak stnk. Jadi tidak bisa untuk pembuatan SIM baru atau tidak untuk pembayaran stnk 5 tahunan untuk penggantian plat no.pol.

Hihi, terimakasih ya sudah dibaca. Semoga informasi ini bermanfaat khususnya untuk yang masa aktif SIMnya mau habis. Jangan tunggu sampai habis jika tidak mau mengulang dan membuat SIM baru.

15 April 2018

Curhat Kisah POTRET

Hai, maaf ya telat posting. Ini sudah hari Minggu. Hehe.

Mau cerita apa ya... Hmm... Rencananya sih mau ngelanjutin cerita potret, tapi gagal total. Karena saya gak sanggup. Ternyata menerima tantangan dari orang lain itu berat, kamu gak akan kuat #terDilan.

Kenapa berat?

Pertama,
Topik spontan dan ternyata bukan passion saya. Kembali ke tahun 1930 itu bukan perkara mudah. Gak bisa asal njeplak membuat cerita rekaan karena musti tahu latar belakang sosial-budaya yang terjadi di masyarakat pada waktu itu.

Kedua,
Meskipun sudah dapat gambaran kembali ke tahun 1930, tapi untuk menyatukannya dengan tahun ini ternyata lebih rumit dari yang saya kira #ngeles.

Ketiga,
Hal yang paling rumit dari sebuah cerita adalah menyelesaikannya. Iya, menyelesaikan cerita. Dan, cerita potret belum kelar. Dan, ceritanya kacau mau dibawa ke mana. Dan, ah, sudahlah.

Mungkin ada baiknya saya nulis yang mudah-mudah dulu. Yang gak terlalu berat alurnya. Yang gak berat juga topiknya #salahsendiri. Lha yang mudah ya ini, curhat haha.

Biarlah blog ini isinya cuma curhatan tok, yang penting hati saya plong 😀

Lalu apa kabar cerita potret?

Nanti lah ya, kalau mood lagi bagus dilanjutin lagi hehehe

30 March 2018

Ketika Bayi Besuk Pasien


Beberapa hari yang lalu, saya dan keluarga menengok tetangga (perempuan, janda, usia 24 th -an) di rumah sakit. Yang sakit anaknya, usia 6 tahunan. Bapaknya sudah tiada meninggalkan anak pertama putri (yang sedang sakit) dan kedua putra.

Kasihan, tentu saja. Dan yang lebih membuat hati siapapun tak akan tega melihatnya, putri tersebut berbeda dengan anak seusianya. Dia berjalan ketika dipapah, bicara seperlunya, sorot mata yang tidak fokus ke lawan bicara, badannya kurus, dan kadang ada liur yang masih menetes dari ujung mulutnya. Iba, pasti :(

Ketika kemarin kami menjenguk, putri (bukan namanya) sudah dipindahkan ke ruang rawat. Mulanya di ruang ICU selama 3 hari karena harus mendapatkan perawatan intensif.

Pembiayaan perawatan Putri sepenuhnya ditanggung oleh BPJS. Ia di rawat di ruangan dengan 3 tiga springbad yang berlapis tirai, kemudian disekat lagi dengan dinding yang berongga sekitar 1,5 meter lebarnya kemudian ada ruangan lagi dengan 3 springbad, sama. Ruangan yg sebelah kiri tadi hanya putri yang menghuni dan ruangan lain yang bersekat itu juga di isi satu pasien, bayi kalau tidak salah karena waktu kami masuk mendekati springbad Putri, pasien bayi tersebut sedang menangis.

Tapi bukan perkara soal ini yang seharusnya saya ceritakan. Saya menjenguk putri dengan mengajak kedua anak saya. Mas ken dan shanum. Shanum saya gendong waktu itu. Ketika di dalam, ibu dari pasien bayi yang di sebelah tadi berjalan ke arah tempat sampah di dekat saya karena mau membuang sampah tentunya dan berujar, "aduhh, bayinya kasihan mba, kok diajak njenguk pasien."

Pelan, menggetarkan, sekaligus menohok.

Iya, saya tahu mba. Memang tidak patut sebenarnya kalau menjenguk pasien di rumah sakit mengajak bayi. Tapi niat saya InsyaAllah baik :( maafkan ibu, nak.

Yasudalah, mungkin ada baiknya, ya, barangkali saya bisa menjenguknya ketika sudah tiba di rumah (padahal nyawa manusia hanya Tuhan Yang Tahu) atau barangkali bisa dititipkan saja.

Ya, itu mungkin lebih baik.

Hidup mati Tuhan yang menentukan. Kami hanya berusaha berbuat baik untuk orang lain. Semoga direstui, amin...

15 March 2018

Kebetulan Atawa ....

Baru-baru ini, saya kontakan WhatsApp sama temen-temen SMA dulu. Bukan, bukan temen, lebih ke sahabat sebetulnya.
Akhirnya, saya menemukan mereka di jejaring Facebook--selama ini kami kehilangan kontak. Sungguh Mark, terima kasih kamu sudah menciptakan Facebook.

Setelah 10 tahun, saya akhirnya bisa bertemu (di facebook) dengan sahabat SMA saya. Sebenarnya sudah lama saya mencarinya di search engine-nya google, dan akhirnya ketemu di Facebook. Setelah saling meng-inbox, kami saling bertukar nomor WhatsApp.

Setelah ngobrol, bertukar informasi dan sebagainya, ia pun bertanya salah satu sahabat terbaik kami juga. Syukur saya sudah punya kontak WA nya, grup pun akhirnya saya buat.

trio wek wek

Begitulah nama grupnya. Karena kami bersahabat bertiga, 3 tahun di SMA dan tak pernah sekelas. Entah ya, saya lupa gimana caranya kita dulu pernah kenal 😁😁 entar deh, saya tanyakan ke grup hahaha.

Dari triok wek wek ini rasanya saya terlempar ke masa lalu yang lain. Ketika saya masih bau kencur, ketika saya SD, SMP, SMA, dan kuliah. Ternyata banyak sekali trio yang sudah saya jalin. Kebetulankah?

Nama Saya, Tri Susanti. Anak ketiga dari empat bersaudara. Almarhum simbah kakung pernah bercerita kalau Tri itu artinya tiga, dan Susanti itu bareng-bareng. Jadi lengkapnya tiga orang barengan--dulu niatnya gak bakalan mau punya anak lagi, eh nongol si adek.

Tiga orang barengan, begitulah kebetulannya.

Dari masih bau kencur, saya mainnya sama temen depan rumah dan anak dari karyawannya simbah--sudah almarhumah saat SD.

Waktu SD trio wek wek sama si cerewet dan si rambut keriting--kayak eike.



Waktu SMP, masih bertahan sama trio wek wek ketika SD karena sering pulang-pergi sekolah barengan.

Waktu SMA trio wek wek SD/SMP masih berlanjut hahaha karena kebetulan memang satu sekolah terus.

Selain itu juga ngegrup sama si cerewet yang aslinya Jawa Timur dan si diam-diam menghanyutkan.

Selain itu juga ngegrup sama kecil-kecil cabe rawit dan si melankolis abis.

Waktu kuliah ngegrup sama kecil-kecil cabe rawit dan si melankolis abis. Di samping itu juga ngegrup sama si modis yang ceplas-ceplos dan si melankolis abis.

Dari beberapa trio wek wek yang sempat saya gabung di dalamnya memiliki karakter yang berbeda ya--baru nyadar setelah nulis ini. Dan kenapa setiap grup ada kesamaan? Barangkali karena kesamaan itulah yang membuat trio wek wek nyaman?

Saya tidak pernah mengira saya akan bertemu dengan mereka. Bahkan saya tidak menyangka jika memang benar apa yang telah diujarkan oleh almarhum Simbah kakung. Kami saling mengisi, bertiga.

Ah, sudahlah. Sahabatku yang tertulis di sini ataupun tidak, semoga sehat selalu menyertai.... Amin

Love

04 March 2018

Just Wrote!


Alhamdulillah, sudah lama ternyata. Hehe setahun yang lalu terakhir nulis di blog. Kangen? Banget. Ternyata saya tak cukup pandai untuk sekedar berbasa-basi dan menulis hal tak penting yang bisa dijadikan penting di blog ini.

Kok tetiba ingat blog? Ho'oh tumben kan?

Blog menurut saya pribadi sudah seperti bagian diri saya yang tercecer. Remahannya tersimpan di sini. Pernah makan remahan rengginang? Atau iwak peyek? Nah, enak kan walaupun hanya remahan? Ya, begitulah. Hanya remahan, tapi enak dan sangat sayang jika hanya dibuadi begitu saja. Kurang lebih seperti itulah blog ini. Tulisan-tulisan kecil yang mungkin menurut orang lain tak berguna 😀

Hanya menulis!

Ya, postingan ini sebenarnya tidak ada yang berarti. Hanya saja saya sedang kepengin nulis, dan tidak tahu harus menulis dari mana. Oleh karena itu, yaaa menulis saja. Sebagai mula. Sebagai awal. Semoga setelah ini akan muncul tulisan-tulisan yang lain.

Ya, sebagai peregangan jari dan otak hehe. Karena sudah terlalu lama vakum dan hanya menulis status di FB maupun IG.

Yasudalah, anak anak sudah tidur. Pun suami. Saatnya emak-emak strong juga harus istirahat.

See u ❤ 

21 April 2017

Anak Ke-2: Usia Kandungan 38 Minggu

Tepatnya 2 hari yang lalu, Nak. Ibu, Ayah  dan Masmu, diantar simbah kakung-putri ke dokter obgin langganan Ibu di Pati. Usiamu dalam kandungan Ibu ternyata sudah 38 Minggu. Cepat betul waktu berlalu. Tak terasa sudah 9 bulan kamu membersamai Ibu di dalam rahim.

"Hpl insyaallah 2 Mei (2017)...," begitu kata dokter obginnya.

Senang? Pastinya, Nak. Sebentar lagi Ibu akan segera memeluk wujudmu.

Yang sabar di dalam perut Ibu ya, Nak. Ibu tahu perut ibu sudah terasa sempit untukmu bergerak.

Always love :*

17 April 2017

Anak ke-2: Usia Kandungan Jalan ke-9 Bulan

Alhamdulillahirobbil 'alamin...

Gak terasa, ternyata tulisan terakhir saya jatuh di tahun 2016. Hehe... Maafkan, masih tetep sibuk kuliyah (baca: kuli uyah--kuli garam) dan jualan online di tokopedia bukalapak dan shopee--hah, alesan :p

Kenapa saya menulis lagi?
Jawabannya simpel kok... Karena tiba-tiba saya pengin nulis saja. Hehe.

Percayalah, saya sampai lupa alamat url blog saya. Kirain masih yang pakai threesuntea.blogspot.com ternyata sudah saya ganti :D

Sungguh, sangat usang sekali blog ini. Ibarat besi mah sudah karatan. Sudah tidak berbentuk lagi. Paling isinya cuma curhat haha...dan kali inipun saya juga mau curhat. Sekedar menuliskan fakta yang sekarang saya rasakan, sebelum ingatan hilang menjadi memori tak terbingkai... Ceilah, bahasanya...

Alhamdulillah, hari ini saya, suami, dan kenzie masih diberikan nikmat sehat. Alhamdulillah juga adeknya kenzie sudah mau masuk usia kehamilan 9 bulan. Perjuangan sekali, Nak kehamilan ibu kali ini.

Kalau dulu trimester pertama mual muntah sedikit, hamil kedua ini hingga usia kandungan mau masuk 5 bulan masih huek huek mual, muntah, pusing. Tapi demi kamu, Nak ibu harus kuat.

Memasuki usiamu 9 bulan di rahim ibu, kamu semakin sulit bergerak ya...tapi tendanganmu di perut ibu sangat kuat. Sehat-sehat ya, Nak. Semoga persalinan kita nanti dimudahkan Allah. Amin...

Kami semua menunggu kehadiranmu :*

30 September 2016

Hari di mana Ibu Menyapihmu (Anak Pertama)

Hari ini ibu memang bertekad untuk menyapihmu, Nak. Usiamu sudah 2 tahun 6 bulan kurang 2 hari. Kamu sudah mulai cerewet berbicara :) tingkahmu lucu, bahkan kadang tiba-tiba kamu membuat takjub ibu dengan celotehan atau perilakumu yang tidak biasanya.

Maafkan ibu, Nak. Sejak usiamu 2 tahun, ibu sudah mulai mencari informasi tentang menyapih. Ibu coba cari di google, tapi yang dibahaspun hanya catatan umum. Bukan rincian ataupun deskripsi lengkap tentang tatacara menyapih.

Ibu juga sudah mencari informasi dari ibu-ibu muda yang lain, mereka juga bingung, bahkan ada yang hingga 3 tahun masih belum bisa disapih.

Akhirnya, ibu mencari informasi dari simbah dan budhemu, Nak. Juga dari tetangga-tetangga.

Dan ibu mencobanya hari ini.
Hari di mana ibu menyapihmu.
Hari di mana ibu tidak akan sedekat dengan kamu ketika menyusuimu.
Hari di mana ibu merasa berdosa karena telah membuat susah tidur.
Hari di mana ibu membuatmu menangis karena tidak bisa menyusu pada ibu.

Maafkan, Nak. Tapi inilah kewajiban ibu. Membiarkanmu tumbuh dewasa...

Jahat memang, menaruh empedu ikan di area tempat menyusui. Kamu bilang, "pahit, pahit..." dan membersihkan lidahmu dengan tanganmu sendiri. Kamu merengek, dan ibu hanya bisa menangis dalam hati.
"Mas kan sudah besar, jadi nenennya pahit..." berulang-ulang ibu katakan itu kepadamu, Nak supaya kamu mengingatnya :(

Dan, kamu menangis ketika mengantuk berat... huhu...sungguh gak tega ibu liat kamu.

Maafkan ibu, Nak...
Ibu selalu sayang kamu...

11 May 2015

Nyobain Aplikasi Blogger dari Android

Alhamdulillah mungkin bakalan bisa post tiap menit ya kalau seandainya mau posting blog. Sekarang henpon sudah ganti. Gak lagi pakai nokia asha 311. Wis bosen gak bisa memperluas jaringan customer yang pada minta pin bb. Sekarang lagi pakai asus zenpone 4 yang katanya oke punya.

Ngomongin soal oke punya, yang menurut saya oke ya ini. Hehe. Aplikasi blogger ternyata juga ada. Atau mungkin sudah lama ada tapi sayanya saja yang katrok? Yasudalah, yang penting sekarang sudah gak katrok lagi.

Kayaknya untuk pemula segini dulu saja. Lama gak nulis ternyata bikin kagok juga buat nulis. Bingung ngerangkai katanya. Perasaan dari tadi ngetik kayaknya kok bahasanya kaku banget. Hmm...

01 May 2014

IMD, ASI, Sufor, dan Alat Bantu Menyusui

Hari ini usia adek tepat 4 Minggu. Alhamdulillah, adek sehat dan baik-baik saja. Rewel juga jarang. Paling kalau rewel karena minta ASI (air susu ibu) emaknya atau karena pipis/pup.

Ngemeng-ngemeng soal ASI. ASI memang penting untuk bayi dan setiap ibu sudah pasti (bisa) memproduksi ASI. Benarkah?

Jujur saja saya kesulitan memproduksi ASI. Awalnya, dulu ketika IMD (inisiasi menyusui dini) saya sudah mencoba untun menyusui adek. Sampai adek nangis karena ASI saya belum keluar dan puting yang tidak keluar. Sebentar! Ini bukan hal yang tabu ya. Bagi (calon) ibu seperti saya informasi seperti ini sangat penting sekali. Oke, lanjut!

Iya, waktu itu ASI saya belum mau keluar dan puting juga susah untuk disusu oleh adek. Alhasil, karena kasihan, saya meminta bidan untuk menyusui adek dengan susu formula (sufor).

Teori dan penelitian membuktikan—dari yang saya baca di web-web kesehatan (melalui jejaring internet), bahwa seorang (calon) ibu pasti bisa menghasilkan ASI dan menyusui bayinya. Praktiknya, hal ini memang (agak) susah. Banyak (calon) ibu yang kesusahan dan merasa bersalah karena tidak bisa memberikan bayinya ASI. Contoh kasus, saya sendiri. Daripada ngambil kasus orang lain toh.

Nah, dari Informasi yang saya baca di web-web kesehatan tersebut menyatakan bahwa seorang ibu pasti bisa menghasilkan ASI dan menyusui bayinya. Dalam kasus saya, banyak hal yang bisa menyebabkan ASI tidak lancar keluar. Di antara hal-hal yang banyak itu, hal yang paling mengena di hati saya adalah posisi saat menyusui. Kenapa?

Posisi saat menyusui banyak berpengaruh pada kuantitas ASI yang keluar. Hal ini juga dipengaruhi oleh posisi bayi dalam menyusu payudara ibu dan atau posisi ibu dalam menyusui bayi. Saya sendiri mengetahui hal ini (lagi-lagi) dari internet. Posisi ibu yang salah atau kurang nyaman saat menyusui mengakibatkan ASI yang keluar hanya sedikit. Oleh karena itu, dianjurkan bagi ibu untuk mengetahui tatacara menyusui yang baik. Sayangnya, ketika saya melahirkan di bidan, bidan tersebut tidak memberitahu saya. Mungkin bidang tersebut tahu, tetapi karena pasien tidak bertanya jadinya tidak diberi tahu. Tahukah Anda, puting yang lecet itu disebabkan oleh posisi menyusui yang salah?

Lanjut mengenai posisi bayi ketika menyusu. Menurut teori (lagi-lagi teori), agar ASI keluar dengan lancar, bayi seharusnya menyusu pada payudara ibu. Jadi, bukan hanya pada puting ibu. Jadi ketika bayi melahap puting ibu, usahakan bayi juga melahap bagian areola (bagian yang berwarna hitam pada sekitar puting ibu).

Yang di atas itu menurut teori dan penelitian yak. Faktanya, banyak ibu-ibu di sekitar saya yang tidak bisa menyusui anaknya karena produksi asinya sedikit atau bahkan tidak keluar sama sekali. Nah loh? Aneh kan? Contoh kasus: saya lagi :D

Awal mula memang saya tidak bisa menyusui adek. Hal ini berlangsung selama lebih kurang empat hari. Banyak yang bilang karena puting saya yang terlalu pendek—ini waktu saya belum mengetahui tatacara menyusui yang baik. Akhirnya saya membeli puting sambungan. Padahal puting sambungan ini juga ternyata tidak bagus untuk produksi ASI. Dan ini juga tidak berhasil. Adek sudah lama menyusu tapi ASI juga tidak mau keluar. Saya dan adek tidak bisa bekerja sama dengan baik. Lalu atas saran orang-orang juga, saya akhirnya beli pompa ASI—dan beberapa hari ini saya baru tahu kalau memakai pompa juga tidak baik untuk kesehatan payudara. Ya, memang pompa ASI lumayan agak membantu. ASInya mau keluar meski sangat sedikit sekali. Saya taruh di gelas hanya dapat 1/20-nya gelas. Jadi sangat sangat dan sangat sedikit sekali.

Saya hampir putus asa. Tapi suami dan keluarga tetap mendukung agar adek bisa menyusu dengan ASI. Tak urung, saya kadang juga sedih dan menangis. Apa lagi adek sudah nyaman dengan sufornya. Tapi saya tetap bertekad ingin menyusui adek. Meskipun sedikit tak apa, nanti bisa diselingi dengan sufor.

Kurang lebih satu minggu saya masih menggunakan pompa dan puting sambungan. Masih mencoba-coba. Memang ada sedikit peningkatan produksi ASI dari hari ke hari. Meski puting lecet karena kurang nyaman juga pakai puting sambungan. Hingga akhirnya saya mengakhiri semuanya *dibikin dramatis*. Saya tidak pakai puting sambungan dan pompa ASI lagi ketika mengetahui hal-hal buruk yang terjadi akibat alat bantu tersebut. Lantas saya memakai apa?

Setelah mengetahui teori-teori dan penelitian yang saya ceritakan di atas (tatacara menyusui yang baik) saya mencoba tidak memakai alat bantu apapun. Awalnya memang susah karena adek sudah terbiasa pakai botol susu dan sufor. Sampai akhirnya adek bisa menyusu juga pada payudara saya. Adek dan saya bisa bekerjasama dengan sangat baik, meski sampai sekarang ASI yang saya produksi masih belum bisa memenuhi kebutuhan adek. Sehingga di samping adek menyusu dengan ASI, adek juga minum sufor dari botol susu.


Semoga tulisan ini berguna untuk (calon) ibu-ibu yang kesulitan untuk menyusui ASI bayinya. Semangat ya, Mom! Jangan pantang menyerah :* *bighug*

30 April 2014

Saat Jarit Sudah Terlalu Mainstream (Pascamelahirkan)


Dalam posting kemarin saya sudah membahas mengenai anjuran menggunakan jarit pascamelahirkan. Kebanyakan orang desa menganjurkan seorang ibu untuk menggunakan jarit dan udet (semacam korset). Kenapa harus pakai jarit? Biar langkahnya gak panjang-panjang. Supaya apa? Supaya gitu dah. Hoho, saya agak kurang ini menjelaskan ini. Jadi begini ….

Orang zaman dulu sangat mengutamakan keharmonisan rumah tangga. Jadi banyak hal yang direka-reka sendiri untuk kebaikan ibu pascamelahirkan. Seperti jarit di atas. Mereka mengangsumsikan pakai jarit supaya langkahnya tidak panjang. Kenapa? Agar kerapatan daerah kewanitaan tetap terjaga pascamelahirkan. Nah, seperti itulah.

Saya coba searching informasi via internet. Sebenarnya bukan hal itu yang diutamakan. Pascamelahirkan pun seorang ibu boleh menggunakan celana. Tapi jika pengin praktis, lebih nyaman menggunakan rok. Kalau mau ke belakang tinggal nyingkap doang :P

Terlepas dari itu semua saya kurang tahu apakah panjangnya langkah kaki berpengaruh pada kerapatan daerah kewanitaan pascamelahirkan. Saya baca-baca di web-web kesehatan belum ada yang membahas hal ini. Tapi secara abstrak saya mendapati banyak alasan bahwa pengaruh panjang langkah kaki dengan kerapatan daerah kewanitaan ini hanyalah mitos yang belum terbukti. Karena hal ini juga dibarengi dengan seorang ibu pascamelahirkan dilarang jongkok sebelum masa nifas berakhir. Alasan-alasan yang menguatkan diantaranya;

Bahwa pascamelahirkan beberapa jam setelah melahirkan ibu dianjurkan untuk senam nifas. Nah gerakan senam nifas ini (bisa dilihat di web tetangga) menggunakan gerakan-gerakan kaki juga. Padahal orang (di desa) jaman dulu lebih mengutamakan ibu hamil untuk istirahat total. Bahkan kata ibu saya, dulu selepas maghrib seorang ibu pascamelahirkan harus sudah di atas tempat tidur. Hal ini berlangsung selama selapan (36 hari) atau 40 hari.

Bahwa jongkok-berdiri pascamelahirkan lebih cepat mengembalikan kekuatan otot pinggul dan mengecilnya rahim. Nah lho, padahal orang jaman dulu menganjurkan ibu hamil tidak jongkok selama selapan hari. Katanya hal ini berpengaruh pada kerapatan daerah kewanitaan. Berbanding terbalik kan?

Tapi kata ibu saya, anjuran-anjuran orang jaman dulu semuanya tidak salah, juga tidak semuanya benar. Mereka hanya kawatir jika ibu pascamelahirkan setelah itu hubungan rumah tangganya tidak harmonis lagi. Tau sendiri kan ya, kebanyakan ibu pascamelahirkan bentuk badannya banyak berubah. Dan ibu saya juga mengatakan ibu pascamelahirkan sekarang ini justru sehat-sehat gak kayak orang jaman dulu. Iya, karena apa? Karena banyak anjuran yang salah kaprah, menjadikan ibu jaman dulu bukannya cepat pulih malah sebaliknya. Lama pulihnya.


Yak, tulisan ini hanya sebatas pemikiran saya yang kurang sependapat dengan mitos mengenai pemakain jarit (kalau udet/korset saya setuju) dan tidak boleh jongkok. Kembali ke pribadi masing-masing lagi, apakah mau mempercayai mitos tersebut tanpa mengetahui alasan ilmiahnya atau hanya mempercayainya tanpa berpikir alasannya, dan atau tidak percaya sama sekali :)

18 April 2014

Lepas Jarit dan Mitos Suleten

18 april 2014

Hiihihi, saya agak girang sekarang. Kenapa? Saya sudah diperbolehkan pakai rok. Siapa yang memperbolehkan? Tentu saja saya sendiri. Hmm, ini sudah hari ke-16 pasca melahirkan. Saya sudah merasa baikan. Darah nifas pun juga sudah jarang keluar. Rasanya benang jahitan pun sudah menghilang dengan sendirinya. Ya, lumayan sekarang saya sudah agak santai ketika BAB. Hehehe. Cuman masih agak was-was aja karena minum jamu, BAB saya agak lumayan keras. Padahal sudah banyak minum air putih dan makan sayur/buah. Its ok, tak apa! Yang penting saya sudah merasa oke, dan saya sudah banyak membantu di rumah meski belum diperbolehkan keluar rumah.

Yak, saya baru diperbolehkan keluar rumah kalau usia bayi sudah selapan atau 38 hari. Hoho, Alhamdulillah, pasti saya sudah sangat oke sekali usai selapan. Bisa kerja lagi di pabrik. Bisa gajian lagi. Haha. Yaiyalah sekarang mikirin gaji, anak mau dikasih makan apa kalau gak kerja :3

Eh, sekarang sudah pakai rok ya tapi kalau malam saya tetep minta pakai jarit. Kenapa? Takut kebablasan (kakinya) kalau tidur. Memang saya sudah baikan, tapi tetep jalan lahir masih belum sehat seperti sebelum melahirkan. Jadi tetep jaga attitude ketika melakukan aktifitas, seperti berjalan, duduk, tidur, dan sebagainya.

Yang sekarang bikin saya lumayan sedih, si adek lagi kena penyakit kulit. Gak tau gegara apa. Saya cari-cari di internet, banyak hal yang bisa menyebabkan bayi bisa terserang penyakit kulit. Entah itu alergi, bakteri, atau yang lain. Nah yang agak bikin saya kesel, ini orang-orang pada ngomongin mitos lagi -_- yak, lagi-lagi berhubungan dengan mitos. MEreka menyebutnya suleten. Atau kalau saya lihat di google, namanya eksem apa eksim gitu. Bentuknya merah, kalau si adek terletak di paha dalam, terus ada gelembung berisi cairan. Mitosnya hal ini terjadi karena ada peralatan si adek yang terbakar. Bisa saja popok, tisu/kapas bekas cebok/kotoran BAB, dan lain-lain, yang pasti ada bagian dari peralatan si adek di sana/yang keluar dari tubuh si adek.

Berhubung saya gak percaya karena gak masuk akal, saya pun diem aja -_- untungnya kemarin waktu si adek puputan, Alhamdulillah ada yang ngasih kado paket box produk cuss*ns. Di dalamnya ada krim/salep untuk mengatasi iritasi kulit. Alhasil saya pakaikan itu krim ke kulit si adek yang kemerahan/melepuh tersebut. Alhamdulillah sekarang sudah mulai kering. Kasihan adek kalau BAK/BAB kadang nangis kalau kulit yang kemerahan tersebut terkena tisu basah atau pas mandi kena air :(

Lekas sembuh ya, sayang. Mom’s love you :*


13 April 2014

Seputar Mitos Zaman Dulu dan Fakta Pasca Melahirkan

Ini hari ke-11 pasca melahirkan. Boring? Bangetttttt. Beginilah di desa, nasib ibu pasca melahirkan. Dikurung selama selapan. Yaitu sekitar 5 Minggu, atau lebih kurang 36 hari. Kenapa begitu? Saya juga gak tahu. Pokoknya orang tua zaman dahulu (zadul) punya peraturan seperti itu. Oh bukan, bukan hanya itu saja peraturannya, tapi banyaaaaaaaaak sekaliiiiiii.

Minum obat dan jamu
Ini obat yang diberikan oleh bidan. Jadi harus dihabiskan. Setelah itu dilanjutkan dengan jamu yang dibeli sendiri. Kalau jamu saya mau lah ya. Karena demi kesehatan juga. Toh, herbal. Minum jamu sebenarnya dianjurkan hingga selapan dan diminum 2 kali sehari. Tapi berhubung emak saya sudah agak modern, jadinya setengah selapan saja tak apa hihihi. Terus minumnya juga diperbolehkan sekali sehari karena menghindari gangguan BAB.

Pakai udet (bengkung/stagen) dan jarit (selendang)
Pasca melahirkan ibu diwajibkan memakai udet. Gunanya untuk menahan perut. Pasca melahirkan perut ibu akan terlihat “menjijikkan” dengan gelambir di mana-mana hehe. Ini juga saya mau saja. Karena lebih enak kalau pakai udet. Perut rasanya kenceng.
Kenapa pakai jarit? Kenapa bukan rok? Saya juga kurang tahu. Cuman setelah saya memakai jarit ini, seperti ini pengalaman saya. Mudah dipakai dan mudah dibuka sewaktu-waktu ketika kebelet BAB atau BAK. Sewaktu dipakai, langkah kaki tidak jauh-jauh dan ketika duduk, paha ngumpul karena sempit. Jadi duduknya teratur.

Pakai param (bobok)
Param ini ada beragam. Ada param untuk badan, yaitu bedak dingin. Ada param yang untuk perut—entah apa namanya lupa. Ada param untuk kening *jadi waktu pakai ini itu keningnya kayak ada pelanginya warna hijau tua :D*. Sebenarnya yang paling ngefek waktu dipakai itu cuman bedak dingin sama param untuk perut. Waktu pakai bedak dingin rasanya badan jadi adem. Ya, walaupun harus rela tiap hari seluruh badan “dilukis” warna putih tiap habis mandi pagi dan sore. Yang namanya muka sudah kayak badut abeesss tiap habis mandi :D. Juga param untuk perut, perut jadi anget. Gak rugi pakai ini, meski baunya gak terlalu enak.

Tidak boleh tidur siang
Saya sempat marah dan jengkel waktu ditegur karena waktu itu saya ketiduran sebentar. Niatnya sih memang mau tidur, tapi sejam aja gitu. Eh baru 15 menit, saya dimarahin karena tidur siang -_- jengkel banget toh! Akhirnya, sampai sekarang saya tak pernah tidur siang lagi. Bukannya karena percaya mitos/faktanya, tapi karena saya malas dan jengkel kalau ditegur lagi. Mitosnya, kalau pasca melahirkan ibu hamil tidur siang, pipi/muka akan bengkak-bengkak. “Yaiyalaaahhh!” gerutu saya dalam hati waktu itu. Biasanya kalau orang habis bangun tidur kan memang mukanya agak sembeb. Setelah saya browsing di internet—karena cuma ini yang bisa saya andalkan—yang bilang gitu cuma dukun bayi. Saya tidak menemukan alasan ilmiah. Toh malah banyak yang menyarankan ibu pasca melahirkan lebih baik banyak istirahat ataupun tidur siang juga gak masalah asalkan masih dalam batas yang wajar.

Tidak boleh keluar rumah sebelum selapan
Nah ini dia! Saya menjadi tahanan rumah selama 38 hari. Dan sekarang baru berapa hari? *ngitung* 11 hari. Oke! Masih lama!!!! Menurut saya nih, larangan ini dibuat agar si ibu tidak kelayapan dan merawat bayinya. Menurut saya lagi nih, masa nifas seorang ibu pasca melahirkan kan 40 hari, jadi mungkin si ibu diharapkan bisa fokus dalam menikmati masa nifas. Sehingga ibu dilarang keluar rumah agar tidak tergoda dengan dunia luar. Ini cuma pikiran saya aja sih, kalau salah ya gak tahu jugaak :D hahaha.

Selain hal-hal tersebut, masih banyak lagi larangan dan anjuran dari orang tua zadul. Mitos mitos yang bisa dijelaskan dengan ilmiah dan juga yang tidak bisa dijelaskan dengan logika sekalipun. Misalnya nih, saya coba jelasin satu-satu.

Jangan minum air putih terlalu banyak nanti bayinya pilek
-_- saya geregetan waktu denger nenek saya bilang kayak gitu. Saya cuman diemmm aja, padahal dalam hati rasanya saya pengen nyerocos ngejelasin pentingnya minum air putih. Gini ya, Nek. Sebenarnya, yang bikin bayi pilek itu bukan air putihnya, tapi karena kuman atau mungkin air putihnya kurang higienis, atau mungkin botol atau lingkungan bayi yang menyebabkan bayi pilek. Justru, kebutuhan air tetap harus dicukupi min 8 gelas/hari. Biar saya kalau BAB lancar, Nek. Biar gak dehidrasi juga karena sering keringetan. Tapi apa gunanya. Saya ngejelasinpun Beliau tidak akan percaya. Jadi saya diem aja. Cuman  bisa ngasih senyum palsu :)

Jangan makan sayur
Aaaak! Saya nahan amarah waktu tetangga saya bilang begitu. Katanya, “ya memang seger kalau habis melahirkan makannya pakai kuah dan sayur! Dulu lhoh, saya makannya cuma nasi sama tempe. Liat saja nanti badanmu pasti bengkak (makin gendut)!” Ya ya ya, saya cuma bisa ngelus dada. Tetangga saya yang saya cintai, saya juga butuh asupan vitamin dari sayuran. Anak saya juga butuh asi. Bekas jahitan saya juga butuh protein. Kalau saya tidak makan sayuran dan cuma makan nasi sama lauk, mana 4 sehat 5 sempurnanya? Pun saya sudah tidak minum susu lagi. Kalau saya tidak makan sayuran, saya bisa pingsan nahan sakit waktu BAB (ini lebay :D). Tetangga saya yang baik hatinya, sebenarnya yang mungkin bisa bikin saya gendut itu bukan sayurannya, tapi bisa dari pola makan dan makanan yang dimakan. Contoh nih, tiap makan tambah dua piring. Itu bisa bikin saya gendut. Terus, kalau tiap kali makan pakai santan. Ini juga bisa bikin saya tambah gendut bahkan mungkin kolesterol. Dan masih banyak lagi. Asalkan saya bisa menjaga asupan gizi dan pola makan, insyaallah berat bedan tetap stabil. Toh yang namanya Ibu menyusui bukannya disuruh makan banyak ya? :D

Jangan menekuk kaki ketika tidur
Yang ini saya setuju. Kenapa? Setelah saya cari-cari info dari blog dokter/bidan/web kesehatan sebelah, pasca melahirkan dianjurkan ibu tidak terlalu lama menekuk kaki. Hal ini dikarenakan kaki yang ditekuk akan menghambat aliran darah. Sehingga dapat menyebabkan kaki bengkak bahkan varises. Kenapa ibu pasca melahirkan yang dilarang? Karena peredaran darah ibu pasca melahirkan masih belum stabil diakibatkan ada bagian organ tubuh yang “trauma”. Lebih jelasnya bisa browsing sendiri di web-web kesehatan :D

Pasti dulu kamu sering cuci kaki sama bekas air cucian baju!
Saya maklum, Nenek saya memang sudah tua. Usianya lebih dari 75 tahun. Punya 5 orang anak, cucunya sudah tidak terhitung, dan buyutnya sekarang sudah 15. Jadi memang “pengalaman”-nya dalam hal bayi memang sudah banyak. Tapi yang saya gak terlalu suka, Nenek saya ini kalau ngasih petuah/larangan/anjuran gak pakai alasan ilmiah. Nek, sekarang zaman sudah berubah. Saya maklum kalau yang namanya anak muda harus nurut sama yang tua. Tapi kalau gak ada penjelasannya? Ya, walaupun saya tahu, mungkin ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Tapi setidaknya berilah saya sedikit “pencerahan”! Seperti kasus ini: APA HUBUNGAN KAKI SEMBET PASCA MELAHIRKAN DENGAN DULU (SEBELUM MENIKAH DAN PUNYA ANAK) PERNAH CUCI KAKI SAMA BEKAS AIR CUCIAN BAJU ATAU TIDAK? Ini yang paling gak masuk diakal -_- *sing sabar, San* Kemarin saya dirasani (dipergunjingkan) sama nenek, “dulu pasti kamu sering cuci kaki pakai bekas cucian baju, makanya kakimu sekarang (pasca melahirkan) sering sembet.” Dan seperti biasa, saya cuma ngelus dada.

Masih banyak hal lain lagi, yang “aneh-aneh” dan tidak bisa dianalisis dengan logika. Kalau saya curahkan semua di sini, isinya mungkin bercampur dengan (sedikit) kemarahan saya atas mitos-mitos zadul yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara riil T.T Seandainya para orang tua ini mengerti bahwa saya pun juga punya alasan dan pembelaan diri kenapa saya tidak mau menuruti keinginan mereka.


Mudah-mudahan suatu saat, kelak saya punya cucu, saya tidak secerewet mereka. Semoga saya bisa memutus “tali” mitos ini. Semoga … :)

12 April 2014

Indahnya AnugerahMu--Anak Pertama

adek usia 4 hari
Alhamdulillah … Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas anugerah tak ternilai yang diamanatkan kepada kami. Setelah 9 bulan lebih 6 hari mengandungnya :’) #terharu

Sebenarnya sudah sejak lama pengin update blog lagi. Sayangnya, koneksi internet sudah diputus sama kakak. Sedangkan mau beli modem juga masih mikir, takutnya nanti di rumah gak ada signal. Saya trauma dulu pernah punya modem pakai provider tertentu ternyata lemot abeeesss dan terkadang malah gak ada signal sama sekali. Maklum, ehm … dusun.

Banyak banget yang pengin saya ceritain. Mulai dari tendangan pertama janin hingga proses gimana akhirnya ia terlahir di dunia ini dan berada dalam dekapan saya :’) sungguh tak terkira bahagianya.

Menginjak usia kandungan ke-sembilan bulan, tendangan-tendangan mulai menguat. Rasanya si kecil sudah tak sabar untuk terlahir di dunia. Hihihi, Ibu-Ayahnya sebenarnya yang tak sabar. Kesibukan kerja masih saya jalani seperti biasa. Karena kalau cuman duduk-duduk, istirahat, bengong di rumah, kaki malah pada bengkak. Jadi mending dibawa enjoy buat kerja :D hingga pada hari Minggu (30/3/14) pagi saya mengeluarkan flek dan setelahnya mengalami kontraksi. Mulai agak was-was juga karena kehamilan pertama. Browsing-browsing ke internet, memang seperti itu persiapan tubuh dalam menyambut persalinan. Tapi perasaan khawatir masih ada. Akhirnya, Bapak-Ibu ngajak ke klinik bidan supaya jelas statusnya.

Pukul 10.00 pagi berangkat ke klinik bidan. Sayangnya Bu Bidan yang dicari tidak ada. Adanya bidan (asisten). Ya sudah, dari pada balik. Diperiksa sama bidan tersebut katanya, “tidak apa-apa. Itu ciri-ciri mau melahirkan. Ditunggu saja karena baru bukaan satu.”

Saya coba cuek. Masih bantu pekerjaan rumah, masih mondar-mandir ke pabrik, pokoknya kalau bisa jangan diem. Tapi kalau capek ya tetep istirahat. Hehehe.

Malamnya, Minggu malam Senin, kontraksi makin sering. Tidur pun terganggu. Tetep ngandalin info dari internet, saya coba jalan keliling kamar—padahal kamar juga gak besar :D—mondar-mandir, ngurangi rasa tegang punggung saat kontraksi.

Paginya, Senin (31/03/14), disuruh istirahat saja sama Ibu. Tapi gak mau. Dibawa tidur atau duduk malah gak enak semua rasanya. Jadinya tetep dipakai jalan-jalan mondar-mandir di rumah meski gak bantuin pekerjaan rumah. Pas waktu kontraksi pasti keliatan, mukanya jadi aneh karena nahan nyeri punggung :D Sorenya saya juga masih pergi ke pabrik. Hehe, dasarnya gak bisa diem di rumah.

Senin malam, waktu tidur berkurang lagi. Kontraksi makin sering. Mondar-mandir di kamar juga makin sering. Alhasil tidur setengah jam, bangun seperempat jam. Begitu berulang, sampai pagi hari masih terkantuk-kantuk.

Selasa (1/04/14) pagi, gegara kurang tidur, mata jadi gak enak. Penginnya dibawa tidur. Tapi kontraksi dan punggung gak bisa diajak kompromi. Pilih mandi pagi biar seger. Sebelum mandi, ternyata saya mengeluarkan lendir dan darah cokelat. Saya lap pakai tisu. Berhubung penasaran, saya bilang ke Ibu saya. Beliau bilang, “memang begitu. Itu tanda-tanda mau melahirkan.” Oke! Saya mandi dengan perasaan masih was-was. Tapi saya sadar, janin baik-baik saja karena saya masih merasakan tendangan-tendangan.

Siangnya saya coba untuk tidur karena mata sudah tidak bisa diajak kompromi. Alhamdulillah, si dedek bisa diajak kompromi. Kontraksi berkurang. Seneng? Lumayan :D soalnya sakitnya berkurang, hehe.

Seperti biasa pukul 08.00 malam saya sudah tiduran. Masih merasakan kontraksi-kontraksi. Tapi masih dibawa enjoy. Mulai tiduran, tiba-tiba kontraksi mulai menyerang. 10 menit tidur, 30 menit kontraksi. Aaaak sakitnya gak kebayang waktu itu. Akhirnya gak kuat karena kontraksi makin sering.

Akhirnya, tengah malem bangunin Ibu-Bapak minta tolong diantrin ke klinik. Ibu ngajak Mbak Sis. Saya bangunin suami karena masih tidur. Berhubung di rumah cuman ada Wulan, jadinya suami disuruh jaga rumah saja. Nanti kalau memang lahiran dikabari dan nyusul ke klinik. Oke!

Sampai klinik diperiksi Bu Bidan, sudah bukaan 3. Rasanya punggung kayak dipaku, tegang banget waktu kontraksi. Pukul 12, pukul 1, pukul 2, pukul 3 terlewati sangat lamaaaaaaaaa dan gak bisa tidur karena kontraksi datang tiap 15 menit. Saya ditemani 3 bidan (asisten) waktu itu. Sekitar pukul 2 suami datang ke klinik.

Pukul 4 pagi (2/04/14) akhirnya diperiksa Bu Bidan lagi. Sudah waktunya, tinggal nunggu sebentar lagi. Saya sudah tidak tahan lagi, akhirnya saya dibolehin ngeden sama bu Bidannya. Kok ngeden? Iya, ngeden. Ngeden kayak orang mau BAB. Akhirnya, setelah ngeden-ngeden hampir satu jam, tangisan itu terdengar jugakkkkk :’)

Suasana haru datang tiba-tiba. Rasa sakit saat kontraksi terbayar sudah. Bahagianya saat mendengar tangisan pertama si kecil gak ada tandingannya. Subhanallah, rasanya amazing sangatttttt meskipun meninggalkan 6 jahitan di jalan lahir—lahiran normal :D

Alhamdulillah, atas izin Allah, lahir putra kami yang pertama Naufal Kenzie Safaraz pukul 05.50 WIB, hari Rabu, 2 April 2014 dengan berat 2,90 kg dan panjang 47 cm :’) Semoga kelak engkau menjadi putra sholeh seperti namamu, Nak. Itu doa kami. Jadilah pemimpin baik yang dermawan dan terhormat. Amin :’)

Tulisan ini saya persembahkan untuk buah hati saya yang pertama. Ini untukmu, Nak. Jika kelak kamu dewasa, lantas kamu ingin tahu bagaimana ibu melahirkanmu, dengan bangga ibu akan berkata, “Bukalah blog ibu nak. Archive di bulan April 2014. Di sana ada tulisan tentang kelahiranmu.” Begitu. Jadi ibu tak perlu berpanjang kali lebar hingga berbusa-busa untuk menceritakan kisah ini kepadamu, Nak. Atau mungkin nanti cucu-cucu ibu ingin juga membaca kisah ini? Ah, sungguh pede sekali ibumu ini, Nak :P

03 September 2013

Kehidupan Baru - 9 Minggu

Alhamdulillah, bisa ngisi blog lagi. Setelah sekian lama :D

Ada yang pernah bilang ke saya, bahwa manusia tak kan selama menjadi kecil. Dalam artian, tidak selamanya manusia menjadi anak-anak yang masih menggelayuti orangtuanya. Saya menyetujuinya. Bahkan meskipun sekarang saya masih menumpang di rumah orangtua saya meski sudah mempunyai suami, mungkin saya akan tetap merasa menjadi seorang yang kecil (untuk urusan tertentu).

Waktu yang dulu, ketika saya telah lulus kuliah saya pergunakan untuk main-main di rumah, sekarang sudah berkurang. Waktu yang dulu, ketika saya masih single saya pergunakan untuk keluyuran gebet sana gebet sini, sekarang sudah tak ada :v (ini (tidak) bohong). Namun sekarang, tentu saja semuanya berubah. Bahkan ketika saya mulai merasakan ada kehidupan dalam Rahim saya, rasanya sungguh luar biasa :’)

Alhamdulillah, kata dokter umurnya 9 Minggu. Masih masa “rentan” kalau mereka bilang. Jadi, harus dijaga baik-baik. Bagi saya, tentunya menjadi pengalaman baru. Mual, muntah, pusing, males, baru gerak dikit kecape’an, manja sama suami, pengen ini itu, posisi tidur rasanya semua salah, baju rasanya sempit semua di perut padahal sudah longgar, dan masih banyak lagi. Untuk menulis ini saja saya perlu berganti posisi entah berapa kali, karena punggung tak bisa diajak kompromi duduk lesehan berlama-lama.


Awalnya saya panik, serba salah. Alhamdulillah, kalau semua dijalani dengan ikhlas rasanya sangat menyenangkan karena saya tidak pernah sendiri. Ada yang menemani saya di dalam tubuh saya. Semoga kamu baik-baik di sana ya, sayang :*

waiting you grow up ....

30 June 2013

Curahan "Nguawur"

Sudah lama ya, hmm iya sepertinya lama sekali tidak berbagi cerita di sini.

"Apa? Berbagi cerita katamu?"

"Iya  berbagi cerita," kataku sambil malu-malu.

Dan seperti kamu bisa menebak apa yang aku pikirkan kamu berkata kembali, "berbagi cerita apa curhat?"

Aku diam. Lantas menganggukkan kepala. *ngigau bersama bayangan--sekilas info

Aaaak bingung mau nulis dari mana. Gini ni kalau sudah lama gak ketak ketik panjang. Bisanya cuman buat status facebook dan twitter hehe.

Untuk permulaan, mungkin segini dulu ya :v saya bingung mau ketak ketik dari mana. Atau mungkin dari sini *nunjuk hati. Eit, hati saya ternyata sudah ada yang punya. Sudah ada yang mengisi. Terima kasih, suamiku :P

12 June 2013

Tentang Rasa yang (Mungkin) Ada

Aku belum pernah membicarakan cinta kepadamu. Aku juga belum pernah memintamu untuk mengisi hatiku. Tapi tanpa itu semua, kamu mestinya tau tentang rasaku padamu. Tentang rasa yang mungkin tak pernah nyata ada, yang tak pernah nyata terlontar dari mulutku. Tentang semua rasa yang kusimpan diam-diam meski aku tak pernah bisa untuk menahannya. Dan kamu mengamini. Lantas kita dengan pendirian yang sama, harus saling menjauh. Aku memberi batas maya demi lelaki penghidupan nyataku. Maafkan aku.

*thanks a lot to mr. f