Showing posts with label pengetahuan. Show all posts
Showing posts with label pengetahuan. Show all posts

07 October 2023

Menjadi Orangtua Baru: Gangguan Kesehatan Mental Ibu

Selamat ya, untuk kamu yang sedang membaca ini, kamu telah menjadi orangtua--menjadi Ayah dan Ibu. Tentu saja tanggung jawabmu juga akan bertambah. Bukan hanya Ibu, tapi juga Ayah. Meski Ibu mempunyai lebih banyak waktu bersama anak, namun tetap saja tanggung jawab untuk membesarkan dan mendidik anak adalah tanggung jawab bersama--ayah dan ibu. Betul ya, buibu?

baru anak 1 :D
Jangan kaget ya, ayah/ibu! Semua orang tua "baru" mengalami hal ini. Asalkan ayah/ibu bergelimang syukur dan ikhlas, semua akan baik-baik saja 😊

Memiliki anak yang baru lahir--bayi memang merepotkan ya ayah/ibu. Tidak sedikit ibu yang sehabis melahirkan mengalami baby blues ataupun juga depresi post partum. Yang keduanya sama-sama merupakan gangguan kesehatan mental ibu selepas melahirkan. Jangan sampai lengah ya, Ayah. Terkadang Ibu yang mengalami baby blues maupun depresi post partum tidak menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan ini.

Kalau aku ditanya, pernah mengalami hal ini? Oh... pernah dong 😁 dan ini terjadi ketika aku lahiran anak pertama. Padahal waktu itu aku masih serumah dengan orang tuaku, harusnya kan seneng ya karena dibantu ibu sendiri. Tapi ya itu, banyak hal yang menyebabkan naik turunnya mental aku atau ibu-ibu yang lain pasca melahirkan. Bahkan terkadang sebabnya tidak terduga. Sensitifnya ibu pasca melahirkan bisa sama bahkan lebih parah dari sensitifnya ibu ketika PMS.

Dari artikel yang aku baca, ada beberapa hal yang memengaruhi kesehatan mental ibu pasca melahirkan;

Yang pertama, psikologis.
Psikologis dari sang ibu ya. Bisa jadi ibu mempunyai riwayat depresi atau kecemasan; ibu memiliki sindrom PMS, karena pasca melahirkan ibu mengalami masa nifas ya; sikap negatif terhadap bayi--hal ini bisa terjadi ketika mungkin bayi tersebut (mohon maaf) tidak diinginkan; hingga riwayat pelecehan seksual; dan yang terakhir penolakan (sikap tidak terima) dengan jenis kelamin bayi yang ibu lahirkan.

ilustrasi prolaps tali pusat
Yang kedua, faktor risiko ketika hamil maupun melahirkan.
Kehamilan yang berisiko tentu saja sangat memengaruhi kesehatan mental ibu. Hal ini meliputi operasi caesar yang tidak terencana, sehingga menyebabkan rawat inap; keluarnya mekonium (feses/pup pertama bayi yang keluar di dalam kantung ketuban--yang normalnya dikeluarkan bayi ketika bayi sudah lahir; prolaps tali pusat (kondisi dimana tali pusat bayi turun melewati janin sehingga menutupi jalan lahir--hal ini dapat menyebabkan bayi kekurangan oksigen); bayi lahir prematur dan atau berat badan rendah; kadar hemoglobin ibu yang rendah.

Yang ketiga, faktor sosial.
Dalam masa kehamilan, selain penyesuaian hormon yang menyebabkan naik turunnya emosi ibu, kurangnya dukungan lingkungan di sekitar ibu juga dapat memengaruhi kesehatan mental ibu. Kekerasan dalam rumah tangga seperti kekerasan seksual maupun fisik pada pasangan juga termasuk dalam faktor sosial. Hal lain yang termasuk juga dalam kekerasan adalah kekerasan verbal, yaaa mirip-mirip sama komentar deterjen, eh netizen hihihi.

Yang keempat, faktor gaya hidup.
Gaya hidup menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) diartikan sebagai cara seseorang untuk mengekspresikan diri melalui aktivitas, minat, dan opini, khususnya yang berkaitan dengan citra diri.  Masih dalam artikel yang aku baca, juga sesuai dengan arti di atas; kebiasaan makan, siklus tidur, gaya hidup ibu--seperti aktivitas fisik dan olahraga,selama sebelum menjalani persalinan hingga pasca melahirkan sangat memengaruhi kesehatan mental seorang ibu.

Dari keempat faktor di atas, dapak kusimpulkan kalau semuanya yang berhubungan dengan ibu dan lingkungannya sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental ibu. Maka dari itu, akan sangat baik jika ibu dan lingkungan di sekitarnya sangat mendukung dan memberi semangat kepada ibu agar ibu tetap "waras".

Saran nih, buat Ayah. Tolong, selalu dampingi ibu dan memperhatikannya. Sebab, terkadang ibu bahkan tidak menyadari dirinya sendiri ketika ia sedang mengalami gangguan kesehatan mental. Contohnya, ibu sering melamun, membentak bayi, tiba-tiba menangis, tidak mau memegang bayinya, bahkan ada yang lebih fatal, seorang ibu bisa (maaf) membunuh bayinya sendiri, dan lain sebagainya.

Harus siaga ya, Ayah! Gak cuma pas hamil aja yang butuh siaga, tapi juga pasca melahirkan. Tahu kan ya, sloga suami SIAGA >> siap antar dan jaga :D  tapi kalau pasca melahirkan mah, siap momong anak dan jaga :) betul ya buibu.... hihihi.

Hayuk bu, yah. Kuncinya selalu menciptakan suasana yang harmonis dan bahagia. Iya, aku tahu, kadang kenyataan tidak sejalan dengan apa yang kita harapkan. Tapi tetaplah tenang dan sabar, roda itu berputar dan sehabis hujan muncullah pelangi. Harus yakin ya ibu/ayah. Gak usah dengerin omongan orangtua/tetangga/saudara ketika mereka berkomentar negatif. Toh, kita yang ngurus dan biayain anak kita, bukan mereka hehehe. Pokoke ibu dan ayah harus kompak yaaa ❤

Wis, ya. Kusudah bingung mau ngetik apalagi. Sebenarnya masih banyak yang mau aku ceritain, tapi untuk cerita di postingan lain saja yaaa. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk ibu dan ayah yang membacanya, dan untuk aku juga ketika mungkin aku sedang dalam keadaan mental yang turun. Sebab ngurus tiga anak juga butuh semangat dan daya juang yang tinggi ya buibu hahaha.

Okelah, cukup sampai di sini dulu.
Terima kasih yang sudah mau membaca tulisan amburadul ini.
Jangan lupa komentar positif untuk tulisan maupun untuk aku biar aku selalu semangat menulis blog ❤
.
.
.

10 May 2018

Perpanjang Kartu SIM di Pelayanan SIM Keliling

Lalu lintas makin padat merayap seiring dengan banyaknya penduduk yang lebih memilih menggunakan kendaraan bermotor roda 2 ketimbang roda 4. Kenapa? Tentu saja lebih hemat waktu ya, karena bisa ngepot sana-ngepot sini. Salip sana-salip sini. Hihi.

Demi kenyamanan dan keamanan dalam berkendara itulah Satlantas mewajibkan setiap pengendara kendaraan bermotor memiliki SIM (Surat Izin Menikah Mengemudi). Tak terkecuali saya yang cuma pembalap motor, yang kecepatannya tidak lebih cepat dari laju odong-odong.

Tapi bukan yang pertama kalinya untuk saya tentu saja, kemarin saya memperpanjang kartu SIM saya sebelum masanya habis. Dulu, 5 tahun yang lalu sudah pernah perpanjangan SIM di polres. Tapi itu dulu, sekarang mah semua serba cepat dan efisien. Tidak perlu lagi jauh-jauh ke Polres Pati. Karena sekarang (sudah beberapa tahun yang lalu sih sebenarnya) telah berkeliling mobil pelayanan perpanjang SIM dan STNK keliling.

Untuk Kecamatan Juwana, kebagian hari Selasa. Biasanya hari Senin sudah dibuka pendaftaran di bangunan tengah Alun-alun Juwana (masuk saja) waktu pagi hari.

Untuk pendaftaran perpanjang SIM, kemarin saya membayar 150rb rupiah. Syaratnya hanya membawa 1 fotokopi KTP dan 1 fotokopi SIM. Sesudah membayar dengan menyertakan fotokopi ktp dan sim sim tersebut, Anda akan diberikan no antrian untuk digunakan pada hari Selasa ketika pengambilan berkas di lokasi tersebut.

Di hari Selasanya, saya kembali lagi ke alun-alun Juwana, memberikan no antrian, dan kemudian dicarikan berkasnya sesuai no antrian saya. Bapak tersebut memberikan map berisi berkas formulis yang sudah diisi, fotokopi KTP dan SIM, serta uang 100rb rupiah yang distaples jadi 1 di map tersebut.

Kemudian saya meluncur ke Kantor Kecamatan Juwana. Di situ sudah ada mobil pelayanan SIM dan STNK keliling. Di situ Anda harus memberikan berkas tersebut dan SIM lama yang akan diganti dengan yang baru. Selepas memberikan berkas tersebut, saya menunggu panggilan untuk foto, cek sidik jempol, dan tanda tangan. Taraaaa... Nunggu diprint tidak ada 10 menit, sudah jadi.


Yay!

Oh iya, untuk sim dan STNk keliling ini hanya melayani perpanjangan sim dan pembayaran pajak stnk. Jadi tidak bisa untuk pembuatan SIM baru atau tidak untuk pembayaran stnk 5 tahunan untuk penggantian plat no.pol.

Hihi, terimakasih ya sudah dibaca. Semoga informasi ini bermanfaat khususnya untuk yang masa aktif SIMnya mau habis. Jangan tunggu sampai habis jika tidak mau mengulang dan membuat SIM baru.

01 May 2014

IMD, ASI, Sufor, dan Alat Bantu Menyusui

Hari ini usia adek tepat 4 Minggu. Alhamdulillah, adek sehat dan baik-baik saja. Rewel juga jarang. Paling kalau rewel karena minta ASI (air susu ibu) emaknya atau karena pipis/pup.

Ngemeng-ngemeng soal ASI. ASI memang penting untuk bayi dan setiap ibu sudah pasti (bisa) memproduksi ASI. Benarkah?

Jujur saja saya kesulitan memproduksi ASI. Awalnya, dulu ketika IMD (inisiasi menyusui dini) saya sudah mencoba untun menyusui adek. Sampai adek nangis karena ASI saya belum keluar dan puting yang tidak keluar. Sebentar! Ini bukan hal yang tabu ya. Bagi (calon) ibu seperti saya informasi seperti ini sangat penting sekali. Oke, lanjut!

Iya, waktu itu ASI saya belum mau keluar dan puting juga susah untuk disusu oleh adek. Alhasil, karena kasihan, saya meminta bidan untuk menyusui adek dengan susu formula (sufor).

Teori dan penelitian membuktikan—dari yang saya baca di web-web kesehatan (melalui jejaring internet), bahwa seorang (calon) ibu pasti bisa menghasilkan ASI dan menyusui bayinya. Praktiknya, hal ini memang (agak) susah. Banyak (calon) ibu yang kesusahan dan merasa bersalah karena tidak bisa memberikan bayinya ASI. Contoh kasus, saya sendiri. Daripada ngambil kasus orang lain toh.

Nah, dari Informasi yang saya baca di web-web kesehatan tersebut menyatakan bahwa seorang ibu pasti bisa menghasilkan ASI dan menyusui bayinya. Dalam kasus saya, banyak hal yang bisa menyebabkan ASI tidak lancar keluar. Di antara hal-hal yang banyak itu, hal yang paling mengena di hati saya adalah posisi saat menyusui. Kenapa?

Posisi saat menyusui banyak berpengaruh pada kuantitas ASI yang keluar. Hal ini juga dipengaruhi oleh posisi bayi dalam menyusu payudara ibu dan atau posisi ibu dalam menyusui bayi. Saya sendiri mengetahui hal ini (lagi-lagi) dari internet. Posisi ibu yang salah atau kurang nyaman saat menyusui mengakibatkan ASI yang keluar hanya sedikit. Oleh karena itu, dianjurkan bagi ibu untuk mengetahui tatacara menyusui yang baik. Sayangnya, ketika saya melahirkan di bidan, bidan tersebut tidak memberitahu saya. Mungkin bidang tersebut tahu, tetapi karena pasien tidak bertanya jadinya tidak diberi tahu. Tahukah Anda, puting yang lecet itu disebabkan oleh posisi menyusui yang salah?

Lanjut mengenai posisi bayi ketika menyusu. Menurut teori (lagi-lagi teori), agar ASI keluar dengan lancar, bayi seharusnya menyusu pada payudara ibu. Jadi, bukan hanya pada puting ibu. Jadi ketika bayi melahap puting ibu, usahakan bayi juga melahap bagian areola (bagian yang berwarna hitam pada sekitar puting ibu).

Yang di atas itu menurut teori dan penelitian yak. Faktanya, banyak ibu-ibu di sekitar saya yang tidak bisa menyusui anaknya karena produksi asinya sedikit atau bahkan tidak keluar sama sekali. Nah loh? Aneh kan? Contoh kasus: saya lagi :D

Awal mula memang saya tidak bisa menyusui adek. Hal ini berlangsung selama lebih kurang empat hari. Banyak yang bilang karena puting saya yang terlalu pendek—ini waktu saya belum mengetahui tatacara menyusui yang baik. Akhirnya saya membeli puting sambungan. Padahal puting sambungan ini juga ternyata tidak bagus untuk produksi ASI. Dan ini juga tidak berhasil. Adek sudah lama menyusu tapi ASI juga tidak mau keluar. Saya dan adek tidak bisa bekerja sama dengan baik. Lalu atas saran orang-orang juga, saya akhirnya beli pompa ASI—dan beberapa hari ini saya baru tahu kalau memakai pompa juga tidak baik untuk kesehatan payudara. Ya, memang pompa ASI lumayan agak membantu. ASInya mau keluar meski sangat sedikit sekali. Saya taruh di gelas hanya dapat 1/20-nya gelas. Jadi sangat sangat dan sangat sedikit sekali.

Saya hampir putus asa. Tapi suami dan keluarga tetap mendukung agar adek bisa menyusu dengan ASI. Tak urung, saya kadang juga sedih dan menangis. Apa lagi adek sudah nyaman dengan sufornya. Tapi saya tetap bertekad ingin menyusui adek. Meskipun sedikit tak apa, nanti bisa diselingi dengan sufor.

Kurang lebih satu minggu saya masih menggunakan pompa dan puting sambungan. Masih mencoba-coba. Memang ada sedikit peningkatan produksi ASI dari hari ke hari. Meski puting lecet karena kurang nyaman juga pakai puting sambungan. Hingga akhirnya saya mengakhiri semuanya *dibikin dramatis*. Saya tidak pakai puting sambungan dan pompa ASI lagi ketika mengetahui hal-hal buruk yang terjadi akibat alat bantu tersebut. Lantas saya memakai apa?

Setelah mengetahui teori-teori dan penelitian yang saya ceritakan di atas (tatacara menyusui yang baik) saya mencoba tidak memakai alat bantu apapun. Awalnya memang susah karena adek sudah terbiasa pakai botol susu dan sufor. Sampai akhirnya adek bisa menyusu juga pada payudara saya. Adek dan saya bisa bekerjasama dengan sangat baik, meski sampai sekarang ASI yang saya produksi masih belum bisa memenuhi kebutuhan adek. Sehingga di samping adek menyusu dengan ASI, adek juga minum sufor dari botol susu.


Semoga tulisan ini berguna untuk (calon) ibu-ibu yang kesulitan untuk menyusui ASI bayinya. Semangat ya, Mom! Jangan pantang menyerah :* *bighug*

30 April 2014

Saat Jarit Sudah Terlalu Mainstream (Pascamelahirkan)


Dalam posting kemarin saya sudah membahas mengenai anjuran menggunakan jarit pascamelahirkan. Kebanyakan orang desa menganjurkan seorang ibu untuk menggunakan jarit dan udet (semacam korset). Kenapa harus pakai jarit? Biar langkahnya gak panjang-panjang. Supaya apa? Supaya gitu dah. Hoho, saya agak kurang ini menjelaskan ini. Jadi begini ….

Orang zaman dulu sangat mengutamakan keharmonisan rumah tangga. Jadi banyak hal yang direka-reka sendiri untuk kebaikan ibu pascamelahirkan. Seperti jarit di atas. Mereka mengangsumsikan pakai jarit supaya langkahnya tidak panjang. Kenapa? Agar kerapatan daerah kewanitaan tetap terjaga pascamelahirkan. Nah, seperti itulah.

Saya coba searching informasi via internet. Sebenarnya bukan hal itu yang diutamakan. Pascamelahirkan pun seorang ibu boleh menggunakan celana. Tapi jika pengin praktis, lebih nyaman menggunakan rok. Kalau mau ke belakang tinggal nyingkap doang :P

Terlepas dari itu semua saya kurang tahu apakah panjangnya langkah kaki berpengaruh pada kerapatan daerah kewanitaan pascamelahirkan. Saya baca-baca di web-web kesehatan belum ada yang membahas hal ini. Tapi secara abstrak saya mendapati banyak alasan bahwa pengaruh panjang langkah kaki dengan kerapatan daerah kewanitaan ini hanyalah mitos yang belum terbukti. Karena hal ini juga dibarengi dengan seorang ibu pascamelahirkan dilarang jongkok sebelum masa nifas berakhir. Alasan-alasan yang menguatkan diantaranya;

Bahwa pascamelahirkan beberapa jam setelah melahirkan ibu dianjurkan untuk senam nifas. Nah gerakan senam nifas ini (bisa dilihat di web tetangga) menggunakan gerakan-gerakan kaki juga. Padahal orang (di desa) jaman dulu lebih mengutamakan ibu hamil untuk istirahat total. Bahkan kata ibu saya, dulu selepas maghrib seorang ibu pascamelahirkan harus sudah di atas tempat tidur. Hal ini berlangsung selama selapan (36 hari) atau 40 hari.

Bahwa jongkok-berdiri pascamelahirkan lebih cepat mengembalikan kekuatan otot pinggul dan mengecilnya rahim. Nah lho, padahal orang jaman dulu menganjurkan ibu hamil tidak jongkok selama selapan hari. Katanya hal ini berpengaruh pada kerapatan daerah kewanitaan. Berbanding terbalik kan?

Tapi kata ibu saya, anjuran-anjuran orang jaman dulu semuanya tidak salah, juga tidak semuanya benar. Mereka hanya kawatir jika ibu pascamelahirkan setelah itu hubungan rumah tangganya tidak harmonis lagi. Tau sendiri kan ya, kebanyakan ibu pascamelahirkan bentuk badannya banyak berubah. Dan ibu saya juga mengatakan ibu pascamelahirkan sekarang ini justru sehat-sehat gak kayak orang jaman dulu. Iya, karena apa? Karena banyak anjuran yang salah kaprah, menjadikan ibu jaman dulu bukannya cepat pulih malah sebaliknya. Lama pulihnya.


Yak, tulisan ini hanya sebatas pemikiran saya yang kurang sependapat dengan mitos mengenai pemakain jarit (kalau udet/korset saya setuju) dan tidak boleh jongkok. Kembali ke pribadi masing-masing lagi, apakah mau mempercayai mitos tersebut tanpa mengetahui alasan ilmiahnya atau hanya mempercayainya tanpa berpikir alasannya, dan atau tidak percaya sama sekali :)

18 April 2014

Lepas Jarit dan Mitos Suleten

18 april 2014

Hiihihi, saya agak girang sekarang. Kenapa? Saya sudah diperbolehkan pakai rok. Siapa yang memperbolehkan? Tentu saja saya sendiri. Hmm, ini sudah hari ke-16 pasca melahirkan. Saya sudah merasa baikan. Darah nifas pun juga sudah jarang keluar. Rasanya benang jahitan pun sudah menghilang dengan sendirinya. Ya, lumayan sekarang saya sudah agak santai ketika BAB. Hehehe. Cuman masih agak was-was aja karena minum jamu, BAB saya agak lumayan keras. Padahal sudah banyak minum air putih dan makan sayur/buah. Its ok, tak apa! Yang penting saya sudah merasa oke, dan saya sudah banyak membantu di rumah meski belum diperbolehkan keluar rumah.

Yak, saya baru diperbolehkan keluar rumah kalau usia bayi sudah selapan atau 38 hari. Hoho, Alhamdulillah, pasti saya sudah sangat oke sekali usai selapan. Bisa kerja lagi di pabrik. Bisa gajian lagi. Haha. Yaiyalah sekarang mikirin gaji, anak mau dikasih makan apa kalau gak kerja :3

Eh, sekarang sudah pakai rok ya tapi kalau malam saya tetep minta pakai jarit. Kenapa? Takut kebablasan (kakinya) kalau tidur. Memang saya sudah baikan, tapi tetep jalan lahir masih belum sehat seperti sebelum melahirkan. Jadi tetep jaga attitude ketika melakukan aktifitas, seperti berjalan, duduk, tidur, dan sebagainya.

Yang sekarang bikin saya lumayan sedih, si adek lagi kena penyakit kulit. Gak tau gegara apa. Saya cari-cari di internet, banyak hal yang bisa menyebabkan bayi bisa terserang penyakit kulit. Entah itu alergi, bakteri, atau yang lain. Nah yang agak bikin saya kesel, ini orang-orang pada ngomongin mitos lagi -_- yak, lagi-lagi berhubungan dengan mitos. MEreka menyebutnya suleten. Atau kalau saya lihat di google, namanya eksem apa eksim gitu. Bentuknya merah, kalau si adek terletak di paha dalam, terus ada gelembung berisi cairan. Mitosnya hal ini terjadi karena ada peralatan si adek yang terbakar. Bisa saja popok, tisu/kapas bekas cebok/kotoran BAB, dan lain-lain, yang pasti ada bagian dari peralatan si adek di sana/yang keluar dari tubuh si adek.

Berhubung saya gak percaya karena gak masuk akal, saya pun diem aja -_- untungnya kemarin waktu si adek puputan, Alhamdulillah ada yang ngasih kado paket box produk cuss*ns. Di dalamnya ada krim/salep untuk mengatasi iritasi kulit. Alhasil saya pakaikan itu krim ke kulit si adek yang kemerahan/melepuh tersebut. Alhamdulillah sekarang sudah mulai kering. Kasihan adek kalau BAK/BAB kadang nangis kalau kulit yang kemerahan tersebut terkena tisu basah atau pas mandi kena air :(

Lekas sembuh ya, sayang. Mom’s love you :*


13 April 2014

Seputar Mitos Zaman Dulu dan Fakta Pasca Melahirkan

Ini hari ke-11 pasca melahirkan. Boring? Bangetttttt. Beginilah di desa, nasib ibu pasca melahirkan. Dikurung selama selapan. Yaitu sekitar 5 Minggu, atau lebih kurang 36 hari. Kenapa begitu? Saya juga gak tahu. Pokoknya orang tua zaman dahulu (zadul) punya peraturan seperti itu. Oh bukan, bukan hanya itu saja peraturannya, tapi banyaaaaaaaaak sekaliiiiiii.

Minum obat dan jamu
Ini obat yang diberikan oleh bidan. Jadi harus dihabiskan. Setelah itu dilanjutkan dengan jamu yang dibeli sendiri. Kalau jamu saya mau lah ya. Karena demi kesehatan juga. Toh, herbal. Minum jamu sebenarnya dianjurkan hingga selapan dan diminum 2 kali sehari. Tapi berhubung emak saya sudah agak modern, jadinya setengah selapan saja tak apa hihihi. Terus minumnya juga diperbolehkan sekali sehari karena menghindari gangguan BAB.

Pakai udet (bengkung/stagen) dan jarit (selendang)
Pasca melahirkan ibu diwajibkan memakai udet. Gunanya untuk menahan perut. Pasca melahirkan perut ibu akan terlihat “menjijikkan” dengan gelambir di mana-mana hehe. Ini juga saya mau saja. Karena lebih enak kalau pakai udet. Perut rasanya kenceng.
Kenapa pakai jarit? Kenapa bukan rok? Saya juga kurang tahu. Cuman setelah saya memakai jarit ini, seperti ini pengalaman saya. Mudah dipakai dan mudah dibuka sewaktu-waktu ketika kebelet BAB atau BAK. Sewaktu dipakai, langkah kaki tidak jauh-jauh dan ketika duduk, paha ngumpul karena sempit. Jadi duduknya teratur.

Pakai param (bobok)
Param ini ada beragam. Ada param untuk badan, yaitu bedak dingin. Ada param yang untuk perut—entah apa namanya lupa. Ada param untuk kening *jadi waktu pakai ini itu keningnya kayak ada pelanginya warna hijau tua :D*. Sebenarnya yang paling ngefek waktu dipakai itu cuman bedak dingin sama param untuk perut. Waktu pakai bedak dingin rasanya badan jadi adem. Ya, walaupun harus rela tiap hari seluruh badan “dilukis” warna putih tiap habis mandi pagi dan sore. Yang namanya muka sudah kayak badut abeesss tiap habis mandi :D. Juga param untuk perut, perut jadi anget. Gak rugi pakai ini, meski baunya gak terlalu enak.

Tidak boleh tidur siang
Saya sempat marah dan jengkel waktu ditegur karena waktu itu saya ketiduran sebentar. Niatnya sih memang mau tidur, tapi sejam aja gitu. Eh baru 15 menit, saya dimarahin karena tidur siang -_- jengkel banget toh! Akhirnya, sampai sekarang saya tak pernah tidur siang lagi. Bukannya karena percaya mitos/faktanya, tapi karena saya malas dan jengkel kalau ditegur lagi. Mitosnya, kalau pasca melahirkan ibu hamil tidur siang, pipi/muka akan bengkak-bengkak. “Yaiyalaaahhh!” gerutu saya dalam hati waktu itu. Biasanya kalau orang habis bangun tidur kan memang mukanya agak sembeb. Setelah saya browsing di internet—karena cuma ini yang bisa saya andalkan—yang bilang gitu cuma dukun bayi. Saya tidak menemukan alasan ilmiah. Toh malah banyak yang menyarankan ibu pasca melahirkan lebih baik banyak istirahat ataupun tidur siang juga gak masalah asalkan masih dalam batas yang wajar.

Tidak boleh keluar rumah sebelum selapan
Nah ini dia! Saya menjadi tahanan rumah selama 38 hari. Dan sekarang baru berapa hari? *ngitung* 11 hari. Oke! Masih lama!!!! Menurut saya nih, larangan ini dibuat agar si ibu tidak kelayapan dan merawat bayinya. Menurut saya lagi nih, masa nifas seorang ibu pasca melahirkan kan 40 hari, jadi mungkin si ibu diharapkan bisa fokus dalam menikmati masa nifas. Sehingga ibu dilarang keluar rumah agar tidak tergoda dengan dunia luar. Ini cuma pikiran saya aja sih, kalau salah ya gak tahu jugaak :D hahaha.

Selain hal-hal tersebut, masih banyak lagi larangan dan anjuran dari orang tua zadul. Mitos mitos yang bisa dijelaskan dengan ilmiah dan juga yang tidak bisa dijelaskan dengan logika sekalipun. Misalnya nih, saya coba jelasin satu-satu.

Jangan minum air putih terlalu banyak nanti bayinya pilek
-_- saya geregetan waktu denger nenek saya bilang kayak gitu. Saya cuman diemmm aja, padahal dalam hati rasanya saya pengen nyerocos ngejelasin pentingnya minum air putih. Gini ya, Nek. Sebenarnya, yang bikin bayi pilek itu bukan air putihnya, tapi karena kuman atau mungkin air putihnya kurang higienis, atau mungkin botol atau lingkungan bayi yang menyebabkan bayi pilek. Justru, kebutuhan air tetap harus dicukupi min 8 gelas/hari. Biar saya kalau BAB lancar, Nek. Biar gak dehidrasi juga karena sering keringetan. Tapi apa gunanya. Saya ngejelasinpun Beliau tidak akan percaya. Jadi saya diem aja. Cuman  bisa ngasih senyum palsu :)

Jangan makan sayur
Aaaak! Saya nahan amarah waktu tetangga saya bilang begitu. Katanya, “ya memang seger kalau habis melahirkan makannya pakai kuah dan sayur! Dulu lhoh, saya makannya cuma nasi sama tempe. Liat saja nanti badanmu pasti bengkak (makin gendut)!” Ya ya ya, saya cuma bisa ngelus dada. Tetangga saya yang saya cintai, saya juga butuh asupan vitamin dari sayuran. Anak saya juga butuh asi. Bekas jahitan saya juga butuh protein. Kalau saya tidak makan sayuran dan cuma makan nasi sama lauk, mana 4 sehat 5 sempurnanya? Pun saya sudah tidak minum susu lagi. Kalau saya tidak makan sayuran, saya bisa pingsan nahan sakit waktu BAB (ini lebay :D). Tetangga saya yang baik hatinya, sebenarnya yang mungkin bisa bikin saya gendut itu bukan sayurannya, tapi bisa dari pola makan dan makanan yang dimakan. Contoh nih, tiap makan tambah dua piring. Itu bisa bikin saya gendut. Terus, kalau tiap kali makan pakai santan. Ini juga bisa bikin saya tambah gendut bahkan mungkin kolesterol. Dan masih banyak lagi. Asalkan saya bisa menjaga asupan gizi dan pola makan, insyaallah berat bedan tetap stabil. Toh yang namanya Ibu menyusui bukannya disuruh makan banyak ya? :D

Jangan menekuk kaki ketika tidur
Yang ini saya setuju. Kenapa? Setelah saya cari-cari info dari blog dokter/bidan/web kesehatan sebelah, pasca melahirkan dianjurkan ibu tidak terlalu lama menekuk kaki. Hal ini dikarenakan kaki yang ditekuk akan menghambat aliran darah. Sehingga dapat menyebabkan kaki bengkak bahkan varises. Kenapa ibu pasca melahirkan yang dilarang? Karena peredaran darah ibu pasca melahirkan masih belum stabil diakibatkan ada bagian organ tubuh yang “trauma”. Lebih jelasnya bisa browsing sendiri di web-web kesehatan :D

Pasti dulu kamu sering cuci kaki sama bekas air cucian baju!
Saya maklum, Nenek saya memang sudah tua. Usianya lebih dari 75 tahun. Punya 5 orang anak, cucunya sudah tidak terhitung, dan buyutnya sekarang sudah 15. Jadi memang “pengalaman”-nya dalam hal bayi memang sudah banyak. Tapi yang saya gak terlalu suka, Nenek saya ini kalau ngasih petuah/larangan/anjuran gak pakai alasan ilmiah. Nek, sekarang zaman sudah berubah. Saya maklum kalau yang namanya anak muda harus nurut sama yang tua. Tapi kalau gak ada penjelasannya? Ya, walaupun saya tahu, mungkin ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Tapi setidaknya berilah saya sedikit “pencerahan”! Seperti kasus ini: APA HUBUNGAN KAKI SEMBET PASCA MELAHIRKAN DENGAN DULU (SEBELUM MENIKAH DAN PUNYA ANAK) PERNAH CUCI KAKI SAMA BEKAS AIR CUCIAN BAJU ATAU TIDAK? Ini yang paling gak masuk diakal -_- *sing sabar, San* Kemarin saya dirasani (dipergunjingkan) sama nenek, “dulu pasti kamu sering cuci kaki pakai bekas cucian baju, makanya kakimu sekarang (pasca melahirkan) sering sembet.” Dan seperti biasa, saya cuma ngelus dada.

Masih banyak hal lain lagi, yang “aneh-aneh” dan tidak bisa dianalisis dengan logika. Kalau saya curahkan semua di sini, isinya mungkin bercampur dengan (sedikit) kemarahan saya atas mitos-mitos zadul yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara riil T.T Seandainya para orang tua ini mengerti bahwa saya pun juga punya alasan dan pembelaan diri kenapa saya tidak mau menuruti keinginan mereka.


Mudah-mudahan suatu saat, kelak saya punya cucu, saya tidak secerewet mereka. Semoga saya bisa memutus “tali” mitos ini. Semoga … :)

12 April 2014

Indahnya AnugerahMu--Anak Pertama

adek usia 4 hari
Alhamdulillah … Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas anugerah tak ternilai yang diamanatkan kepada kami. Setelah 9 bulan lebih 6 hari mengandungnya :’) #terharu

Sebenarnya sudah sejak lama pengin update blog lagi. Sayangnya, koneksi internet sudah diputus sama kakak. Sedangkan mau beli modem juga masih mikir, takutnya nanti di rumah gak ada signal. Saya trauma dulu pernah punya modem pakai provider tertentu ternyata lemot abeeesss dan terkadang malah gak ada signal sama sekali. Maklum, ehm … dusun.

Banyak banget yang pengin saya ceritain. Mulai dari tendangan pertama janin hingga proses gimana akhirnya ia terlahir di dunia ini dan berada dalam dekapan saya :’) sungguh tak terkira bahagianya.

Menginjak usia kandungan ke-sembilan bulan, tendangan-tendangan mulai menguat. Rasanya si kecil sudah tak sabar untuk terlahir di dunia. Hihihi, Ibu-Ayahnya sebenarnya yang tak sabar. Kesibukan kerja masih saya jalani seperti biasa. Karena kalau cuman duduk-duduk, istirahat, bengong di rumah, kaki malah pada bengkak. Jadi mending dibawa enjoy buat kerja :D hingga pada hari Minggu (30/3/14) pagi saya mengeluarkan flek dan setelahnya mengalami kontraksi. Mulai agak was-was juga karena kehamilan pertama. Browsing-browsing ke internet, memang seperti itu persiapan tubuh dalam menyambut persalinan. Tapi perasaan khawatir masih ada. Akhirnya, Bapak-Ibu ngajak ke klinik bidan supaya jelas statusnya.

Pukul 10.00 pagi berangkat ke klinik bidan. Sayangnya Bu Bidan yang dicari tidak ada. Adanya bidan (asisten). Ya sudah, dari pada balik. Diperiksa sama bidan tersebut katanya, “tidak apa-apa. Itu ciri-ciri mau melahirkan. Ditunggu saja karena baru bukaan satu.”

Saya coba cuek. Masih bantu pekerjaan rumah, masih mondar-mandir ke pabrik, pokoknya kalau bisa jangan diem. Tapi kalau capek ya tetep istirahat. Hehehe.

Malamnya, Minggu malam Senin, kontraksi makin sering. Tidur pun terganggu. Tetep ngandalin info dari internet, saya coba jalan keliling kamar—padahal kamar juga gak besar :D—mondar-mandir, ngurangi rasa tegang punggung saat kontraksi.

Paginya, Senin (31/03/14), disuruh istirahat saja sama Ibu. Tapi gak mau. Dibawa tidur atau duduk malah gak enak semua rasanya. Jadinya tetep dipakai jalan-jalan mondar-mandir di rumah meski gak bantuin pekerjaan rumah. Pas waktu kontraksi pasti keliatan, mukanya jadi aneh karena nahan nyeri punggung :D Sorenya saya juga masih pergi ke pabrik. Hehe, dasarnya gak bisa diem di rumah.

Senin malam, waktu tidur berkurang lagi. Kontraksi makin sering. Mondar-mandir di kamar juga makin sering. Alhasil tidur setengah jam, bangun seperempat jam. Begitu berulang, sampai pagi hari masih terkantuk-kantuk.

Selasa (1/04/14) pagi, gegara kurang tidur, mata jadi gak enak. Penginnya dibawa tidur. Tapi kontraksi dan punggung gak bisa diajak kompromi. Pilih mandi pagi biar seger. Sebelum mandi, ternyata saya mengeluarkan lendir dan darah cokelat. Saya lap pakai tisu. Berhubung penasaran, saya bilang ke Ibu saya. Beliau bilang, “memang begitu. Itu tanda-tanda mau melahirkan.” Oke! Saya mandi dengan perasaan masih was-was. Tapi saya sadar, janin baik-baik saja karena saya masih merasakan tendangan-tendangan.

Siangnya saya coba untuk tidur karena mata sudah tidak bisa diajak kompromi. Alhamdulillah, si dedek bisa diajak kompromi. Kontraksi berkurang. Seneng? Lumayan :D soalnya sakitnya berkurang, hehe.

Seperti biasa pukul 08.00 malam saya sudah tiduran. Masih merasakan kontraksi-kontraksi. Tapi masih dibawa enjoy. Mulai tiduran, tiba-tiba kontraksi mulai menyerang. 10 menit tidur, 30 menit kontraksi. Aaaak sakitnya gak kebayang waktu itu. Akhirnya gak kuat karena kontraksi makin sering.

Akhirnya, tengah malem bangunin Ibu-Bapak minta tolong diantrin ke klinik. Ibu ngajak Mbak Sis. Saya bangunin suami karena masih tidur. Berhubung di rumah cuman ada Wulan, jadinya suami disuruh jaga rumah saja. Nanti kalau memang lahiran dikabari dan nyusul ke klinik. Oke!

Sampai klinik diperiksi Bu Bidan, sudah bukaan 3. Rasanya punggung kayak dipaku, tegang banget waktu kontraksi. Pukul 12, pukul 1, pukul 2, pukul 3 terlewati sangat lamaaaaaaaaa dan gak bisa tidur karena kontraksi datang tiap 15 menit. Saya ditemani 3 bidan (asisten) waktu itu. Sekitar pukul 2 suami datang ke klinik.

Pukul 4 pagi (2/04/14) akhirnya diperiksa Bu Bidan lagi. Sudah waktunya, tinggal nunggu sebentar lagi. Saya sudah tidak tahan lagi, akhirnya saya dibolehin ngeden sama bu Bidannya. Kok ngeden? Iya, ngeden. Ngeden kayak orang mau BAB. Akhirnya, setelah ngeden-ngeden hampir satu jam, tangisan itu terdengar jugakkkkk :’)

Suasana haru datang tiba-tiba. Rasa sakit saat kontraksi terbayar sudah. Bahagianya saat mendengar tangisan pertama si kecil gak ada tandingannya. Subhanallah, rasanya amazing sangatttttt meskipun meninggalkan 6 jahitan di jalan lahir—lahiran normal :D

Alhamdulillah, atas izin Allah, lahir putra kami yang pertama Naufal Kenzie Safaraz pukul 05.50 WIB, hari Rabu, 2 April 2014 dengan berat 2,90 kg dan panjang 47 cm :’) Semoga kelak engkau menjadi putra sholeh seperti namamu, Nak. Itu doa kami. Jadilah pemimpin baik yang dermawan dan terhormat. Amin :’)

Tulisan ini saya persembahkan untuk buah hati saya yang pertama. Ini untukmu, Nak. Jika kelak kamu dewasa, lantas kamu ingin tahu bagaimana ibu melahirkanmu, dengan bangga ibu akan berkata, “Bukalah blog ibu nak. Archive di bulan April 2014. Di sana ada tulisan tentang kelahiranmu.” Begitu. Jadi ibu tak perlu berpanjang kali lebar hingga berbusa-busa untuk menceritakan kisah ini kepadamu, Nak. Atau mungkin nanti cucu-cucu ibu ingin juga membaca kisah ini? Ah, sungguh pede sekali ibumu ini, Nak :P

27 April 2013

Cek Kadar Yodium Garam: 30--80 ppm (SNI)

CV. Dua Roda Transportation
Orang pecinta kuliner macam saya, tak bisa jauh-jauh dari yang namanya garam. Ditambah lagi daerah saya yang memang merupakan daerah pesisir pantai utara dengan mata pencaharian utama penduduknya nelayan/petani garam. Dan juga, rumah saya dekat sekali dengan pabrik garam.

Berhubung Ibu harus istirahat total, jadinya saya ikut ngerusuh di salah satu pabrik garam di desa Agung Mulyo, Juwana yaitu CV. Dua Roda. Karena saya baru di sini, saya pun harus banyak belajar, belajar, dan belajar. Salah satunya adalah cek kadar yodium dalam garam yang sudah siap edar.

Jujur, saya orangnya pelupa (ngaku), jadi saya mencatat cara kerja cairan-cairan tester ini ke dalam notes. Kenapa memindahkannya ke sini? Takut nanti lupa naruh notes, terus gak bisa ngapa-ngapain :D *alasan

Awal posting, saya mulai dari sini :p

Almari penyimpan
Beberapa bulan yang lalu, pemerintah mulai menggencarkan kembali garam dengan kadar yodium berSNI yaitu 30--80 ppm. Razia dikerahkan langsung ke pabrik-pabrik garam untuk dicek kadar yodium dalam garamnya. Sempat ada penyegelan beberapa pabrik karena kadar yodium garam siap edarnya kurang dari standar yang telah ditentukan.

timbangan, suntikan,
penumbuk, gelas ukur
Sebagai seorang yang baru dalam dunia pergaraman, saya pun hanya bisa melongo dengan pemerintah dan juga pengusaha garam. Oke, saya hanya sebagai warga Indonesia di sini. Saya tidak ingin membela siapa-siapa. Pemerintah menginginkan garam yang akan beredar mengandung yodium 30--80 ppm. Pun pengusaha garam juga ingin memenuhi SNI tersebut dengan menggunakan yodium sesuai dengan SNI. Akan tetapi, harga pasar yodium masih mahal. Hal ini berdampak pada harga jual garam yang harus dinaikkan untuk pemenuhan tersebut. Akan tetapi, ada kendala di sini. Tak sedikit pengusaha-pengusaha nakal yang menurunkan harga garam di pasaran lantaran yodium yang mereka gunakan di bawah SNI tapi berlabel SNI. Jadi, gimana ini pemerintah, tolong bantuannya :3

Oke kembali ke topik.

aquades  dan gelas ukur
Tak banyak dari pengusahan yodium yang mahfum dengan cara kerja pengecekan yodium dengan menggunakan alat sederhana yang diberikan oleh pemerintah. Pun kami, baru mengerti alat kerja ini setelah mengikuti seminar dan workshop yang diberikan oleh pemerintah di Salatiga beberapa tahun silam. Padahal peralatan ini sudah diberikan semenjak kami mendapat surat izin dari dinas perizinan.

Langsung aja dah!

Siapkan alat!
1. Timbangan tentu saja beserta bandulnya
2. Penumbuk/penghalus garam
3. Suntikan
bandul
4. Tabung reaksi
5. Gelas ukur

Siapkan bahan!
1. 25 gram garam beryodium yang sudah matang, haluskan
2. Aquades 100 ml
3. Regen A (Asam Phosfat)
4. Regen B (Indikator)
5. Larutan standar

Cara kerja:
1. Garam yang sudah dihaluskan di masukkan ke dalam tabung reaksi
2. Tuang aquades ke dalam tabung reaksi bercampur dengan garam beryodium yang sebelumnya sudah dimasukkan
3. Campur hingga garam larut
4. Teteskan regen A sebanyak 5 tetes ke dalam larutan di atas, campurkan sebentar
5. Teteskan regen B sebanyak 5 tetes ke dalam larutan di atas, campurkan sebentar (larutan akan berwarna kuning/biru tua)
6. Campurkan larutan standar ke dalam larutan, dan ukur berapa larutan yang dibutuhkan untuk menetralkan warna larutan tersebut.
7. Kalikan hasil ml larutan standa dengan 7,27
8. Hasil kali tersebut adalah kandungan yodium dalam garam beryodium tersebut.

Pengecekan dengan cara ini tentu saja belum valid karena akan lebih valid lagi dengan menggunakan peralatan laboratorium yang lebih canggih :)

Selamat mengecek kadar yodium dalam garam Anda :D

Nah, dibaca sendiri aja daftar isinya 
Regen A
Regen B




Larutan standar



10 April 2013

Kenali TB (Tuberculosis) MDR (Multi Drug Resistanse) Sejak Dini!

Update: kuposting lagi cerita ini, setelah sekian lama kusimpan di draft. Ini cerita tentang penyakit Ibuku. Beliau berpulang di tahun 2017.
.
.
Akhirnya bisa posting di blog. Sudah lama ya. Bulan kemarin pun saya tidak posting sama sekali. Aih kangennya nulis blog :3

Kemarin saya memang agak sibuk. Bukannya mau buka rahasia keluarga, tapi ini kenyataan. Toh ngapain ditutup-tutupin. Ini sudah bukan rahasia umum lagi. Justru dapat dijadikan pelajaran.

Oke! Saya baru pulang dari Solo, tepatnya dari RS. Moewardi. Ngapain? Pindah tidur. Hehehe…

Ibu saya habis dirawat dan opname di sana. Sakitnya TB (Tuberculosis). TB lanjut, biasa disebut TB MDR (Multi Drug Resistanse) atau biasa lebih mudahnya TB resistensi obat  atau lebih mudahnya lagi TB kebal obat. Yang dimaksud kebal obat di sini ialah kebal obat untuk pngobatan yang pertama.

Saya cerita dulu dari pengobatan pertama. Pengobatan pertama ini biasanya suntik selama dua bulan dan dibarengi obat kapsul selama 6 bulan. Ibu saya sudah melakukan pengobatan ini. Setelah pengobatn ini pun sudah dinyatakan negative oleh lab dan disetujui oleh dokter. Hingga beberapa bulan kemudian ibu mulai batuk kembali, dan kami coba untuk lab dahak. Hasilnya positif (bakteri TB)./ Kemudian kami dirujuk ke Solo untuk hasil cek lab karena dicurigai positif TB MDR. Kenapa di solo? Karena di pulau Jawa baru ada di Jakarta, Surabaya, dan Solo. Proyek inipun merupakan donate dari US AID (United States Agency International Development) dan diresmikan di Solo pada tanggal 1 April 2011. Jadi semua pembiayaan opname dan lain-lain untuk TB MDR gratis tis tis tis.

Berhubung hasilnya positif, Ibu harus dirawat di sana. Inipun ternyata antri. Di ruang isolasi tersebut baru ada 6 kasur, untuk 6 pasien. Tempatnya hanya disekat oleh kain. Setelah menunggu sekitar 3 bulan, Ibu akhirnya dipanggil dan melakukan perawatan intensif di ruang isolasi TB MDR tersebut.

Kami sampai di Solo, tanggal 22 Maret 2013, dan langsung mondok. Kebetulan saya yang kebagian menunggui Ibu. Jadi dari awal masuk sampai keluar RS, hari ini tanggal 9 April 2013, saya yang bertanggung jawab menjaga Ibu.

Oke, gak perlu berpanjang lebar ya.
tersangka :v

Masuk ke pengobatan selama di ruang isolasi TB MDR. Selama di ruangan, semua pasien, pegawai, penunggu, penjenguk diharapkan memakai masker. Tidurpun saya harus memakai masker sampai-sampai hidung saya tambah mancung ke dalam :D *gak ding gak sampe mancung ke dalam kok hehe. Sebelum pengobatan pun pasien menjalani beberapa cek dan tes. Seperti detak jantung, THT, darah, dahak, kadar gula, berat badan (BB), tinggi badan (TB), rongsen *ini gimana tulisannya ya, dll. Kenapa perlu dicek, karena ternyata efek dari obat yang ditimbulkan sangat beragam. Juga untuk menentukan jumlah obat yang akan diberikan kepada pasien. Ibu saya kebagian 20 obat tiap hari + suntik.

Pengobatan kedua ini akan berlangsung selama 2 tahun tidak putus, yaitu 6 bulan obat kapsul + suntik, sisanya 1,5 hanya obat kapsul saja.

Keluarga sangat dibutuhkan sekali dalam penyembuhan ini. Karena ternyata ini tidak mudah. Selain TB yang merupakan penyakit menular dan efek samping yang beragam, minum obat tiap hari selama 2 tahun penuh itu tidaklah mudah. Apalagi untuk Ibu, 20 butir obat tiap hari. Semangat mom :*

Kenali gejala TB sejak dini karena penyakit ini ada di sekitar Anda. Selalu jaga kesehatan dan senantiasa terapkan pola hidup sehat. Semoga sukses! :)
.
.

13 February 2013

Software, Website, Rekaman, dan Video (Narsis)

Saya kepengin cerita mengenai kenarsisan saya. Ya, mumpung saya lagi pede (percaya diri). Sombong? Bukan bukan! Ini bukan sombong. Ini hanya sekedar pamer hmm bukan juga, sekedar sharing, ahh mungkin itu kata yang tepat :D

Saya memang suka nyanyi dan suka main alat musik. Meskipun ketika saya nyanyi, bahan-bahan yang terbuat dari kaca pasti akan pecah, dan ketika saya memainkan alat musik, pasti alat tersebut akan rusak. Tapi inilah saya. Yang penting hepiiii :)

Beberapa bulan yang lalu saya berkenalan dengan game online ShowTime Indonesia (pernah saya bahas di SINI). Dan semenjak itu kenarsisan saya semakin memanas. Iya, benar-benar memanas.

Sebelum saya mengenal game ini, saya memang sudah sering merekam suara saya dan gitar saya yang cempreng melalui rekam hape atau laptop. Hingga pada akhirnya ketika teman saya mengupload beberapa rekamannya di SounCloud.com saya penasaran bertanya, "ini rekamnya pakai apa? Suaranya bisa bagus begitu?" Dia menjawab, " pakai Audacity."

Yak, setelah itu saya mencari software rekaman tersebut. Audacity ini keren. Bisa dimiliki secara gratis dan editornya lengkap. Sayangnya, saya masih belum pandai mengoperasikan software ini :D Untuk download software ini bisa langsung didownload di website resminya AUDACITY.

Setelah memiliki audacity saya jadi rajin rekaman. Jadi sering genjreng dan ketawa-ketawa sendiri di kamar. Tingkat kenarsisan saya meningkat 1% Lhah! Emang dulunya berapa? Heheheh... entahlah.

Seperti yang sudah saya ketik di atas, saya mengetahui upload rekaman teman saya di soundcload.com. Kenapa saya memilih soundcloud? Jawabannya gampang! Karena itu yang saya tahu, dan teman-teman banyak menggunakan jasa web tersebut. Sehingga sayapun ngintil pakai jasa web tersebut untuk memajang rekaman-rekaman cempreng nan wagu saya di situ.

Apa! Penasaran? Oh, sebentar! :D
Di sana sudah ada 10 rekaman saya. Ahaha gak ada yang bener sebenarnya. Semuanya cempreng dan cacad. Tapi memang prinsip saya hanya satu, have fun. Yang penting hepi :D

Profil dan rekaman saya di soundcloud bisa dibuka di SINI.

Sudah cukup sampai di sini? Belum :D

Ternyata tingkat kenarsisan saya tidak hanya meningkat 1 % tapi lebih dari itu. Dengan pedenya saya membuat video rekaman saya pas nyanyi dan gitar. Tanpa ada rekayasa dan edit. Semuanya murni dan tentu saja hasilnya gak ada yang bener :D

Baru ada 2 video yang saya upload di Youtube.com. Sebenarnya masih ada banyak rekaman video di leptop, tapi cacadnya nauzubillah. Untuk rekaman videonya bisa dilihat di SINI. Dan ini salah satunya :D


Oke, sekian kepedean saya yang ingin saya ceritakan. Ini bukan sombong, hanya sekedar mengajak hepi temen-temen.

Terima kasih yang tak terhingga untuk pemilik software dan website yang saya cantumkan di sini :)

Berkat kalian, kenarsisan saya tersalurkan :D

12 October 2012

Akhir Musim Kemarau, Awal Musim Penghujan

Beberapa hari lalu, gerimis dan hujan sempat singgah di desa Agung Mulyo. Ya, masih sekedar pelepas dahaga tanah yang telah lama tak basah karenanya. Musim kemarau kali ini lebih panjang dari yang seharusnya. Jika para petani sawah, ladang, dan sebangsanya rebut karena kemarau dan tak ada air, lain halnya dengan warga desa Agung Mulyo. Mereka bersuka cita menyambut lamanya kemarau karena hal ini tentu saja memperpanjang masa produktif penghasilan mereka.

Bagi petani garam, kemarau adalah ladang “uang”. Hampir seluruh penduduk desa Agung Mulyo akan berbondong-bondong ke lahannya masing-masing untuk membuat garam. Saat ini, karena mendekati musing penghujan para petani garam akan semakin semangat memanen garamnya. Berlomba-lomba memasarkan hasil panen. Kenapa? Karena mendekati musim penghujan, biasanya harga garam akan mulai naik.

Untuk harga garam sendiri tak bisa diprediksi kapan akan naik karena hal ini tergantung dengan cuaca dan juga banyaknya pasokan garam yang diproduksi. Seperti kemarin, hanya semalam hujan deras, harga garam mulai naik kembali. Ini juga berpengaruh terhada penjualan garam curah/briket ke konsumen.

Memasuki bulan Oktober yang biasanya terhitung sebagai musim hujan, para petani garam sudah mulai gelisah. Gerimis dan hujan sudah mulai menyapa mesti belum rutin setiap hari. Mendung yang mulai menebal semakin menambah was-was petani garam karena hal tersebut adalah sinyal akan berakhirnya masa produksi garam.

Hmmm, tapi itulah musim di Indonesia. Jika kemarau terus, bagaimana dengan nasib masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada musim hujan? Yuk, marilah sama-sama kita bersyukur atas segala kemurahan yang diberikan oleh Tuhan YME.

Petani garam dengan garamnya

11 October 2012

Pembuatan SKCK

Mungkin hari ini saya seperti orang kebanyakan yang sedang mencari persyaratan untuk melamar pekerjaan. Tapi untuk saya, ini hanya sebatas pengen mencoba. Kalau diterima ya syukur Alhamdulillah, kalau misalnya gak yasuda gak papa saya akan mencari yang lain.


Salah satu persyaratan yang dicantumkan adalah SKCK. Ya, Surat Keterangan Catatan Kepolisian. Dulunya bernama SKKB, Surat Keterangan Kelakuan Baik (kalau gak salah).

Sebagai seorang yang masih awam di dunia pekerjaan, tentu saja saya gak terlalu ngerti kenapa  seorang pelamar harus menunjukkan surat keterangan ini. Setelah saya telusuri lewat internet, saya menyimpulkan: surat ini adalah keterangan tentang kehidupan kita sebagai seorang individu sosial yang hidup di Negara Republik Indonesia tercinta ini yang penuh dengan tata aturan (hukum) dan perundang-undangan >> ini terlalu panjang, abaikan!

Intinya, SKCK adalah rekab kehidupan sosial kita di mata hukum dan perundangan.

Seperti yang saya baca di beberapa situs Polres, persyaratan yang ditulis dalam situs tersebut juga berlaku di Polsek Juwana dan Polres Pati.

Uraian mengenai pembuatan SKCK kurang lebih kalau di Juwana seperti ini:

1.       Meminta surat keterangan/pengantar dari desa tempat tinggal yang ditandatangani Kades dan capnya. (Ini saya tidak dipungut biaya)

2.       Ke Kantor kecamatan untuk meminta tanda tangan dan cap, melengkapi surat keterangan/pengantar yang dibawa dari desa. (ini dipungut biaya seikhlasnya)

Sekedar cerita sebelum no.3, karena tadi beliau mengatakan seikhlasnya. Saya pun memberikan seikhlasnya. Berapa? Nanti dulu. Di kantor camat, saya hanya meminta tanda tangan dan cap saja. Tidak ada yang lain, serta tidak ada peraturan yang mengharuskan pengaju SKCK untuk membayar jasa dll. Dengan seikhlasnya saya memberikan nominal 2,5 k. Berapa itu? Sila pikir sendiri. Tadi itu yang menerima nominal tersebut sempat memandang saya lama. Haha. Saya gak ngerti apakah itu tatapan gak suka, atau gimana. Kan Bapak bilang seikhlasnya, toh?

3.       Ke Polsek Juwana. Memberikan persyaratan yang dibutuhkan untuk membuat SKCK di Polres Pati. Di polsek  kita akan diberi 3 lembar formulir. Isinya mengenai informasi pribadi kita dan keluarga kita. (dikenai biaya 10 k, ini menurut UU yang berlaku)

ini yang saya foto dari polsek Juwana

Pertanyaan yang masih terngiang seputar informasi pribadi dan menurut saya “lucu” yaitu mengenai ciri-ciri fisik kita. Antara lain, bentuk dan warna rambut, warna kulit, bentuk wajah, perawakan badan, tanda/ciri khusus pada tubuh. Waktu ngisi ini saya sempat tertawa. Hehe. Apa yang saya isi:
Rambut: hitam berombak
Warna kulit: cokelat
Bentuk wajah: bundar
Perawakan: tinggi gemuk
Ciri khusus pada tubuh: tailalat di bawah mata

Selalu ngekek waktu inget ini karena sama polisi yang mengoreksi dibetulin jadi gini:
Warna kulit: sawo matang
Bentuk wajah: oval

Sempat bertanya, cokelat kan warna, Bapak? Beliau menjawab, nanti kalau cokelat kesannya kayak makanan. Lalu tentang wajah, kenapa bundar harus dibetulkan, Bapak? Beliau menjawab, nanti kalau bundar kesannya juga kayak makanan, mirip bakpao dong.

Saya ngekek sejadi-jadinya.

4.       Ke Polres Pati. Menyerahkan data dari Polsek Juwana. Isi formulir.

Formulir yang diisi kurang lebih sama dengan yang diberikan di Polsek Juwana, tetapi yang di Polres Pati ini lebih terperinci lagi. Karena termasuk bentuk hidung, gigi, telinga, kening, dll.

5.       Cap jari, isi formulir. Formulir yang ini untuk cap 10 jari tangan. Sekedar info, zat cair yang dipakai untuk cap jari bukanlah tinta yang biasa dipakai untuk cap, namun olie (kayaknya). Waktu cuci tangan gak hilang-hilang. Baru hilang ketika diberi sabun colek. Usai cap 10 jari, pengaju SKCK dikenai biaya 10 k dan menyerahkan 2 lembar foto 4x6 cm.

6.       Proses print SKCK—Selesai. Hasil akhirnya adalah selembar kertas SKCK. Pemilik SKCK akan dikenai biaya 15 k dan menyerahkan 4 lembar foto 4x6 cm.

7.       Fotokopi

8.       Legalisasi (gratis)

9.       Finish!

Sekian cerita pembuatan SKCK saya hari ini. Oia, untuk yang perpanjangan SKCK kayaknya alurnya berbeda. Juga SKCK yang digunakan untuk tenaga kerja luar negeri, syarat-syaratnya agak berbeda.

*Untuk pas foto 4x6 cm itu jangan lupa menggunakan background foto warna merah.

24 September 2012

Profesi: Petani Garam

Sejak di rumah, saya selalu bergelut dengan garam. Ya, sempat takut juga kalau ternyata setelah di rumah saya akan menjadi asin dan keasinan :D Sayang kan, kalau sudah manis gini jadi asin? << lupakan!

Rumah saya yang notabene sangat dekat sekali dengan perairan laut Jawa membuat saya dan warga desa yang saya tinggali ini memiliki mata pencaharian utama sebagai petani tambak dan garam.

Sebentar, terlepas dari itu semua orang yang memiliki profesi mengolah tambak dan garam tidak bisa disebut nelayan bukan? Mungkin harus ada kosakata baru untuk profesi ini agar tidak meminjam kata petani.

Di musim kemarau seperti ini, hampir 90% warga di desa ini akan mengolah lahan tambaknya untuk dijadikan lahan bertani garam. Mereka biasa menyebut ini dengan koen (baca: kowen). Sama seperti tambak, biasanya berbentuk segi empat dengan luas kira-kira 5--8 meter persegi. Akan tetapi, kedalamannya tidak sampai 1 meter. Paling hanya 10--20 cm.

koen petani garam
Proses pengkristalan garam biasanya membutuhkan waktu sehari (apabila cuaca panas dan disertai angin). Pernah suatu ketika cuacanya sangat panas tetapi tak ada angin, pengkristalan garam tidak berlangsung dengan baik. Garam yang dihasilkan lembut, seperti es krim. Bahkan ada kowen yang pengkristalannya tidak terjadi. Mereka menyebutnya gandor yang artinya tidak keluar. Kata ini biasa digunakan dalam istilah garam dan tambak.

Seusai garam tersebut digaruk, garam tersebut akan dicuci terlebih dahulu agar putih. Oh ya, kualitas garam terlihat pada putihnya garam dan hal ini dipengaruhi oleh proses pemanasan dan pencucian.

Garam yang sudah dicuci tersebut biasanya ditimbun di suatu tempat, kami biasa menyebutnya godang >> gudang garam. Transportasi yang dipakai untuk mengangkut garam yang sudah jadi tersebut (garam curah) adalah sepeda onthel dan sepeda motor. Sepeda motor ini merupakan dampak modernisasi karena lebih efisien, hemat, dan tidak menguras banyak tenaga. 75% pengangkut garam di desa ini telah menggunakan kendaraan bermotor. Sisanya, masih menggunakan sepeda onthel.

pengankut dengan sepeda yang waktu itu karena sepeda sudah tua, rodanya tak sengaja bengkok

pengangkut dengan kendaraan bermotor @ CV. Dua Roda

Terkadang ada pula yang godang-nya sudah penuh sehingga mereka langsung menjualnya ke pengepul. Biasanya pengepul ini adalah orang-orang yang memiliki pabrik garam atau memiliki pasarnya sendiri. Untuk saat ini (tertanggal 24 September 2012) harga garam perbojog dibeli seharga Rp.50.000,00. Garam per bojog beratnya rata-rata 175--200 kg.

Yak, sekian laporan dari TKP >> Ds. Agung Mulyo >> desaku yang sangat kucinta. Desa penghasil garam dan penghasil bandeng serta udang.

Mengenai proses garam ini dapat dlihat di Lika-Liku Garam.

18 May 2012

Herbs Highlights The Kings Archipelago 2012

Just to share a letter of introduction to working with us: Herbs Highlights The Kings Archipelago 2012 to be held on 3 - July 9, 2012 @ Taman Pintar Yogyakarta, Indonesia


to
Domestic public / non-domestic

The presence of the Health Law No. 36/2009 has brought a breath of fresh air for the future of Indonesian herb industry. The presence of herbs, especially medicinal phytopharmaca now been accepted as a complementary medicine, meaning that herbs have begun to be compared to chemical drugs in the national health system.

This recognition is a strategic momentum, it is a pity if the momentum is not immediately be utilized to enhance the positive attitude of society at large, especially among the upper middle class. As we know, the middle class consumer is a unique entity, other than to have high purchasing power, they also aspirator for all the acts of his horns easily replicated by other communities.

It must be admitted that the revenue gains in achieving the degree phytopharmaca ability to suck is not as fast as investment, however, no denying that the presence of bias is able to scrape medicinal phytopharmaca negative stigma of herbal medicine as a product that is "not scientific" into something "scientific" and measurable properties. No problem, although the numbers until 2011, no more than 5 pieces of products (phytopharmaca) and 17 herb standardized.

For various types of herbs that have been shown to carry hereditary benefit, sooner or later it will soon find a chance to show who he is as a divine work of the utilization of products: cheap, safe, perfect and friendly to humans and the environment. Moreover herb is in conformity with the new paradigm in which the development of national health-promotive and preventive efforts, more emphasis than curative then when we speak of this new paradigm health department, herb presumably the most suitable for this purpose.

In order that, Herbs Highlights The Kings Archipelago 2012 was held, at the same time in order to commemorate the establishment of vocational Herbal throughout Indonesia. Of course without the participation of all stakeholders, including lectures herbs Indonesia employes the Father / Mother-lead this activity will not find the optimization of benefits. For the organizers are expecting the participation of the company Mr / Ms gentlemen, both as exhibitors and sponsors support.

regard
chief organizing committee

Herien Priyono



*To much information, you can email three_suntea@yahoo.com or Indonesian Language http://Ekspoherbal.com

Thank you