Showing posts with label feature. Show all posts
Showing posts with label feature. Show all posts

07 October 2023

Menjadi Orangtua Baru: Gangguan Kesehatan Mental Ibu

Selamat ya, untuk kamu yang sedang membaca ini, kamu telah menjadi orangtua--menjadi Ayah dan Ibu. Tentu saja tanggung jawabmu juga akan bertambah. Bukan hanya Ibu, tapi juga Ayah. Meski Ibu mempunyai lebih banyak waktu bersama anak, namun tetap saja tanggung jawab untuk membesarkan dan mendidik anak adalah tanggung jawab bersama--ayah dan ibu. Betul ya, buibu?

baru anak 1 :D
Jangan kaget ya, ayah/ibu! Semua orang tua "baru" mengalami hal ini. Asalkan ayah/ibu bergelimang syukur dan ikhlas, semua akan baik-baik saja 😊

Memiliki anak yang baru lahir--bayi memang merepotkan ya ayah/ibu. Tidak sedikit ibu yang sehabis melahirkan mengalami baby blues ataupun juga depresi post partum. Yang keduanya sama-sama merupakan gangguan kesehatan mental ibu selepas melahirkan. Jangan sampai lengah ya, Ayah. Terkadang Ibu yang mengalami baby blues maupun depresi post partum tidak menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan ini.

Kalau aku ditanya, pernah mengalami hal ini? Oh... pernah dong 😁 dan ini terjadi ketika aku lahiran anak pertama. Padahal waktu itu aku masih serumah dengan orang tuaku, harusnya kan seneng ya karena dibantu ibu sendiri. Tapi ya itu, banyak hal yang menyebabkan naik turunnya mental aku atau ibu-ibu yang lain pasca melahirkan. Bahkan terkadang sebabnya tidak terduga. Sensitifnya ibu pasca melahirkan bisa sama bahkan lebih parah dari sensitifnya ibu ketika PMS.

Dari artikel yang aku baca, ada beberapa hal yang memengaruhi kesehatan mental ibu pasca melahirkan;

Yang pertama, psikologis.
Psikologis dari sang ibu ya. Bisa jadi ibu mempunyai riwayat depresi atau kecemasan; ibu memiliki sindrom PMS, karena pasca melahirkan ibu mengalami masa nifas ya; sikap negatif terhadap bayi--hal ini bisa terjadi ketika mungkin bayi tersebut (mohon maaf) tidak diinginkan; hingga riwayat pelecehan seksual; dan yang terakhir penolakan (sikap tidak terima) dengan jenis kelamin bayi yang ibu lahirkan.

ilustrasi prolaps tali pusat
Yang kedua, faktor risiko ketika hamil maupun melahirkan.
Kehamilan yang berisiko tentu saja sangat memengaruhi kesehatan mental ibu. Hal ini meliputi operasi caesar yang tidak terencana, sehingga menyebabkan rawat inap; keluarnya mekonium (feses/pup pertama bayi yang keluar di dalam kantung ketuban--yang normalnya dikeluarkan bayi ketika bayi sudah lahir; prolaps tali pusat (kondisi dimana tali pusat bayi turun melewati janin sehingga menutupi jalan lahir--hal ini dapat menyebabkan bayi kekurangan oksigen); bayi lahir prematur dan atau berat badan rendah; kadar hemoglobin ibu yang rendah.

Yang ketiga, faktor sosial.
Dalam masa kehamilan, selain penyesuaian hormon yang menyebabkan naik turunnya emosi ibu, kurangnya dukungan lingkungan di sekitar ibu juga dapat memengaruhi kesehatan mental ibu. Kekerasan dalam rumah tangga seperti kekerasan seksual maupun fisik pada pasangan juga termasuk dalam faktor sosial. Hal lain yang termasuk juga dalam kekerasan adalah kekerasan verbal, yaaa mirip-mirip sama komentar deterjen, eh netizen hihihi.

Yang keempat, faktor gaya hidup.
Gaya hidup menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) diartikan sebagai cara seseorang untuk mengekspresikan diri melalui aktivitas, minat, dan opini, khususnya yang berkaitan dengan citra diri.  Masih dalam artikel yang aku baca, juga sesuai dengan arti di atas; kebiasaan makan, siklus tidur, gaya hidup ibu--seperti aktivitas fisik dan olahraga,selama sebelum menjalani persalinan hingga pasca melahirkan sangat memengaruhi kesehatan mental seorang ibu.

Dari keempat faktor di atas, dapak kusimpulkan kalau semuanya yang berhubungan dengan ibu dan lingkungannya sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental ibu. Maka dari itu, akan sangat baik jika ibu dan lingkungan di sekitarnya sangat mendukung dan memberi semangat kepada ibu agar ibu tetap "waras".

Saran nih, buat Ayah. Tolong, selalu dampingi ibu dan memperhatikannya. Sebab, terkadang ibu bahkan tidak menyadari dirinya sendiri ketika ia sedang mengalami gangguan kesehatan mental. Contohnya, ibu sering melamun, membentak bayi, tiba-tiba menangis, tidak mau memegang bayinya, bahkan ada yang lebih fatal, seorang ibu bisa (maaf) membunuh bayinya sendiri, dan lain sebagainya.

Harus siaga ya, Ayah! Gak cuma pas hamil aja yang butuh siaga, tapi juga pasca melahirkan. Tahu kan ya, sloga suami SIAGA >> siap antar dan jaga :D  tapi kalau pasca melahirkan mah, siap momong anak dan jaga :) betul ya buibu.... hihihi.

Hayuk bu, yah. Kuncinya selalu menciptakan suasana yang harmonis dan bahagia. Iya, aku tahu, kadang kenyataan tidak sejalan dengan apa yang kita harapkan. Tapi tetaplah tenang dan sabar, roda itu berputar dan sehabis hujan muncullah pelangi. Harus yakin ya ibu/ayah. Gak usah dengerin omongan orangtua/tetangga/saudara ketika mereka berkomentar negatif. Toh, kita yang ngurus dan biayain anak kita, bukan mereka hehehe. Pokoke ibu dan ayah harus kompak yaaa ❤

Wis, ya. Kusudah bingung mau ngetik apalagi. Sebenarnya masih banyak yang mau aku ceritain, tapi untuk cerita di postingan lain saja yaaa. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk ibu dan ayah yang membacanya, dan untuk aku juga ketika mungkin aku sedang dalam keadaan mental yang turun. Sebab ngurus tiga anak juga butuh semangat dan daya juang yang tinggi ya buibu hahaha.

Okelah, cukup sampai di sini dulu.
Terima kasih yang sudah mau membaca tulisan amburadul ini.
Jangan lupa komentar positif untuk tulisan maupun untuk aku biar aku selalu semangat menulis blog ❤
.
.
.

01 May 2014

IMD, ASI, Sufor, dan Alat Bantu Menyusui

Hari ini usia adek tepat 4 Minggu. Alhamdulillah, adek sehat dan baik-baik saja. Rewel juga jarang. Paling kalau rewel karena minta ASI (air susu ibu) emaknya atau karena pipis/pup.

Ngemeng-ngemeng soal ASI. ASI memang penting untuk bayi dan setiap ibu sudah pasti (bisa) memproduksi ASI. Benarkah?

Jujur saja saya kesulitan memproduksi ASI. Awalnya, dulu ketika IMD (inisiasi menyusui dini) saya sudah mencoba untun menyusui adek. Sampai adek nangis karena ASI saya belum keluar dan puting yang tidak keluar. Sebentar! Ini bukan hal yang tabu ya. Bagi (calon) ibu seperti saya informasi seperti ini sangat penting sekali. Oke, lanjut!

Iya, waktu itu ASI saya belum mau keluar dan puting juga susah untuk disusu oleh adek. Alhasil, karena kasihan, saya meminta bidan untuk menyusui adek dengan susu formula (sufor).

Teori dan penelitian membuktikan—dari yang saya baca di web-web kesehatan (melalui jejaring internet), bahwa seorang (calon) ibu pasti bisa menghasilkan ASI dan menyusui bayinya. Praktiknya, hal ini memang (agak) susah. Banyak (calon) ibu yang kesusahan dan merasa bersalah karena tidak bisa memberikan bayinya ASI. Contoh kasus, saya sendiri. Daripada ngambil kasus orang lain toh.

Nah, dari Informasi yang saya baca di web-web kesehatan tersebut menyatakan bahwa seorang ibu pasti bisa menghasilkan ASI dan menyusui bayinya. Dalam kasus saya, banyak hal yang bisa menyebabkan ASI tidak lancar keluar. Di antara hal-hal yang banyak itu, hal yang paling mengena di hati saya adalah posisi saat menyusui. Kenapa?

Posisi saat menyusui banyak berpengaruh pada kuantitas ASI yang keluar. Hal ini juga dipengaruhi oleh posisi bayi dalam menyusu payudara ibu dan atau posisi ibu dalam menyusui bayi. Saya sendiri mengetahui hal ini (lagi-lagi) dari internet. Posisi ibu yang salah atau kurang nyaman saat menyusui mengakibatkan ASI yang keluar hanya sedikit. Oleh karena itu, dianjurkan bagi ibu untuk mengetahui tatacara menyusui yang baik. Sayangnya, ketika saya melahirkan di bidan, bidan tersebut tidak memberitahu saya. Mungkin bidang tersebut tahu, tetapi karena pasien tidak bertanya jadinya tidak diberi tahu. Tahukah Anda, puting yang lecet itu disebabkan oleh posisi menyusui yang salah?

Lanjut mengenai posisi bayi ketika menyusu. Menurut teori (lagi-lagi teori), agar ASI keluar dengan lancar, bayi seharusnya menyusu pada payudara ibu. Jadi, bukan hanya pada puting ibu. Jadi ketika bayi melahap puting ibu, usahakan bayi juga melahap bagian areola (bagian yang berwarna hitam pada sekitar puting ibu).

Yang di atas itu menurut teori dan penelitian yak. Faktanya, banyak ibu-ibu di sekitar saya yang tidak bisa menyusui anaknya karena produksi asinya sedikit atau bahkan tidak keluar sama sekali. Nah loh? Aneh kan? Contoh kasus: saya lagi :D

Awal mula memang saya tidak bisa menyusui adek. Hal ini berlangsung selama lebih kurang empat hari. Banyak yang bilang karena puting saya yang terlalu pendek—ini waktu saya belum mengetahui tatacara menyusui yang baik. Akhirnya saya membeli puting sambungan. Padahal puting sambungan ini juga ternyata tidak bagus untuk produksi ASI. Dan ini juga tidak berhasil. Adek sudah lama menyusu tapi ASI juga tidak mau keluar. Saya dan adek tidak bisa bekerja sama dengan baik. Lalu atas saran orang-orang juga, saya akhirnya beli pompa ASI—dan beberapa hari ini saya baru tahu kalau memakai pompa juga tidak baik untuk kesehatan payudara. Ya, memang pompa ASI lumayan agak membantu. ASInya mau keluar meski sangat sedikit sekali. Saya taruh di gelas hanya dapat 1/20-nya gelas. Jadi sangat sangat dan sangat sedikit sekali.

Saya hampir putus asa. Tapi suami dan keluarga tetap mendukung agar adek bisa menyusu dengan ASI. Tak urung, saya kadang juga sedih dan menangis. Apa lagi adek sudah nyaman dengan sufornya. Tapi saya tetap bertekad ingin menyusui adek. Meskipun sedikit tak apa, nanti bisa diselingi dengan sufor.

Kurang lebih satu minggu saya masih menggunakan pompa dan puting sambungan. Masih mencoba-coba. Memang ada sedikit peningkatan produksi ASI dari hari ke hari. Meski puting lecet karena kurang nyaman juga pakai puting sambungan. Hingga akhirnya saya mengakhiri semuanya *dibikin dramatis*. Saya tidak pakai puting sambungan dan pompa ASI lagi ketika mengetahui hal-hal buruk yang terjadi akibat alat bantu tersebut. Lantas saya memakai apa?

Setelah mengetahui teori-teori dan penelitian yang saya ceritakan di atas (tatacara menyusui yang baik) saya mencoba tidak memakai alat bantu apapun. Awalnya memang susah karena adek sudah terbiasa pakai botol susu dan sufor. Sampai akhirnya adek bisa menyusu juga pada payudara saya. Adek dan saya bisa bekerjasama dengan sangat baik, meski sampai sekarang ASI yang saya produksi masih belum bisa memenuhi kebutuhan adek. Sehingga di samping adek menyusu dengan ASI, adek juga minum sufor dari botol susu.


Semoga tulisan ini berguna untuk (calon) ibu-ibu yang kesulitan untuk menyusui ASI bayinya. Semangat ya, Mom! Jangan pantang menyerah :* *bighug*

18 April 2014

Lepas Jarit dan Mitos Suleten

18 april 2014

Hiihihi, saya agak girang sekarang. Kenapa? Saya sudah diperbolehkan pakai rok. Siapa yang memperbolehkan? Tentu saja saya sendiri. Hmm, ini sudah hari ke-16 pasca melahirkan. Saya sudah merasa baikan. Darah nifas pun juga sudah jarang keluar. Rasanya benang jahitan pun sudah menghilang dengan sendirinya. Ya, lumayan sekarang saya sudah agak santai ketika BAB. Hehehe. Cuman masih agak was-was aja karena minum jamu, BAB saya agak lumayan keras. Padahal sudah banyak minum air putih dan makan sayur/buah. Its ok, tak apa! Yang penting saya sudah merasa oke, dan saya sudah banyak membantu di rumah meski belum diperbolehkan keluar rumah.

Yak, saya baru diperbolehkan keluar rumah kalau usia bayi sudah selapan atau 38 hari. Hoho, Alhamdulillah, pasti saya sudah sangat oke sekali usai selapan. Bisa kerja lagi di pabrik. Bisa gajian lagi. Haha. Yaiyalah sekarang mikirin gaji, anak mau dikasih makan apa kalau gak kerja :3

Eh, sekarang sudah pakai rok ya tapi kalau malam saya tetep minta pakai jarit. Kenapa? Takut kebablasan (kakinya) kalau tidur. Memang saya sudah baikan, tapi tetep jalan lahir masih belum sehat seperti sebelum melahirkan. Jadi tetep jaga attitude ketika melakukan aktifitas, seperti berjalan, duduk, tidur, dan sebagainya.

Yang sekarang bikin saya lumayan sedih, si adek lagi kena penyakit kulit. Gak tau gegara apa. Saya cari-cari di internet, banyak hal yang bisa menyebabkan bayi bisa terserang penyakit kulit. Entah itu alergi, bakteri, atau yang lain. Nah yang agak bikin saya kesel, ini orang-orang pada ngomongin mitos lagi -_- yak, lagi-lagi berhubungan dengan mitos. MEreka menyebutnya suleten. Atau kalau saya lihat di google, namanya eksem apa eksim gitu. Bentuknya merah, kalau si adek terletak di paha dalam, terus ada gelembung berisi cairan. Mitosnya hal ini terjadi karena ada peralatan si adek yang terbakar. Bisa saja popok, tisu/kapas bekas cebok/kotoran BAB, dan lain-lain, yang pasti ada bagian dari peralatan si adek di sana/yang keluar dari tubuh si adek.

Berhubung saya gak percaya karena gak masuk akal, saya pun diem aja -_- untungnya kemarin waktu si adek puputan, Alhamdulillah ada yang ngasih kado paket box produk cuss*ns. Di dalamnya ada krim/salep untuk mengatasi iritasi kulit. Alhasil saya pakaikan itu krim ke kulit si adek yang kemerahan/melepuh tersebut. Alhamdulillah sekarang sudah mulai kering. Kasihan adek kalau BAK/BAB kadang nangis kalau kulit yang kemerahan tersebut terkena tisu basah atau pas mandi kena air :(

Lekas sembuh ya, sayang. Mom’s love you :*


27 April 2013

Cek Kadar Yodium Garam: 30--80 ppm (SNI)

CV. Dua Roda Transportation
Orang pecinta kuliner macam saya, tak bisa jauh-jauh dari yang namanya garam. Ditambah lagi daerah saya yang memang merupakan daerah pesisir pantai utara dengan mata pencaharian utama penduduknya nelayan/petani garam. Dan juga, rumah saya dekat sekali dengan pabrik garam.

Berhubung Ibu harus istirahat total, jadinya saya ikut ngerusuh di salah satu pabrik garam di desa Agung Mulyo, Juwana yaitu CV. Dua Roda. Karena saya baru di sini, saya pun harus banyak belajar, belajar, dan belajar. Salah satunya adalah cek kadar yodium dalam garam yang sudah siap edar.

Jujur, saya orangnya pelupa (ngaku), jadi saya mencatat cara kerja cairan-cairan tester ini ke dalam notes. Kenapa memindahkannya ke sini? Takut nanti lupa naruh notes, terus gak bisa ngapa-ngapain :D *alasan

Awal posting, saya mulai dari sini :p

Almari penyimpan
Beberapa bulan yang lalu, pemerintah mulai menggencarkan kembali garam dengan kadar yodium berSNI yaitu 30--80 ppm. Razia dikerahkan langsung ke pabrik-pabrik garam untuk dicek kadar yodium dalam garamnya. Sempat ada penyegelan beberapa pabrik karena kadar yodium garam siap edarnya kurang dari standar yang telah ditentukan.

timbangan, suntikan,
penumbuk, gelas ukur
Sebagai seorang yang baru dalam dunia pergaraman, saya pun hanya bisa melongo dengan pemerintah dan juga pengusaha garam. Oke, saya hanya sebagai warga Indonesia di sini. Saya tidak ingin membela siapa-siapa. Pemerintah menginginkan garam yang akan beredar mengandung yodium 30--80 ppm. Pun pengusaha garam juga ingin memenuhi SNI tersebut dengan menggunakan yodium sesuai dengan SNI. Akan tetapi, harga pasar yodium masih mahal. Hal ini berdampak pada harga jual garam yang harus dinaikkan untuk pemenuhan tersebut. Akan tetapi, ada kendala di sini. Tak sedikit pengusaha-pengusaha nakal yang menurunkan harga garam di pasaran lantaran yodium yang mereka gunakan di bawah SNI tapi berlabel SNI. Jadi, gimana ini pemerintah, tolong bantuannya :3

Oke kembali ke topik.

aquades  dan gelas ukur
Tak banyak dari pengusahan yodium yang mahfum dengan cara kerja pengecekan yodium dengan menggunakan alat sederhana yang diberikan oleh pemerintah. Pun kami, baru mengerti alat kerja ini setelah mengikuti seminar dan workshop yang diberikan oleh pemerintah di Salatiga beberapa tahun silam. Padahal peralatan ini sudah diberikan semenjak kami mendapat surat izin dari dinas perizinan.

Langsung aja dah!

Siapkan alat!
1. Timbangan tentu saja beserta bandulnya
2. Penumbuk/penghalus garam
3. Suntikan
bandul
4. Tabung reaksi
5. Gelas ukur

Siapkan bahan!
1. 25 gram garam beryodium yang sudah matang, haluskan
2. Aquades 100 ml
3. Regen A (Asam Phosfat)
4. Regen B (Indikator)
5. Larutan standar

Cara kerja:
1. Garam yang sudah dihaluskan di masukkan ke dalam tabung reaksi
2. Tuang aquades ke dalam tabung reaksi bercampur dengan garam beryodium yang sebelumnya sudah dimasukkan
3. Campur hingga garam larut
4. Teteskan regen A sebanyak 5 tetes ke dalam larutan di atas, campurkan sebentar
5. Teteskan regen B sebanyak 5 tetes ke dalam larutan di atas, campurkan sebentar (larutan akan berwarna kuning/biru tua)
6. Campurkan larutan standar ke dalam larutan, dan ukur berapa larutan yang dibutuhkan untuk menetralkan warna larutan tersebut.
7. Kalikan hasil ml larutan standa dengan 7,27
8. Hasil kali tersebut adalah kandungan yodium dalam garam beryodium tersebut.

Pengecekan dengan cara ini tentu saja belum valid karena akan lebih valid lagi dengan menggunakan peralatan laboratorium yang lebih canggih :)

Selamat mengecek kadar yodium dalam garam Anda :D

Nah, dibaca sendiri aja daftar isinya 
Regen A
Regen B




Larutan standar



24 September 2012

Profesi: Petani Garam

Sejak di rumah, saya selalu bergelut dengan garam. Ya, sempat takut juga kalau ternyata setelah di rumah saya akan menjadi asin dan keasinan :D Sayang kan, kalau sudah manis gini jadi asin? << lupakan!

Rumah saya yang notabene sangat dekat sekali dengan perairan laut Jawa membuat saya dan warga desa yang saya tinggali ini memiliki mata pencaharian utama sebagai petani tambak dan garam.

Sebentar, terlepas dari itu semua orang yang memiliki profesi mengolah tambak dan garam tidak bisa disebut nelayan bukan? Mungkin harus ada kosakata baru untuk profesi ini agar tidak meminjam kata petani.

Di musim kemarau seperti ini, hampir 90% warga di desa ini akan mengolah lahan tambaknya untuk dijadikan lahan bertani garam. Mereka biasa menyebut ini dengan koen (baca: kowen). Sama seperti tambak, biasanya berbentuk segi empat dengan luas kira-kira 5--8 meter persegi. Akan tetapi, kedalamannya tidak sampai 1 meter. Paling hanya 10--20 cm.

koen petani garam
Proses pengkristalan garam biasanya membutuhkan waktu sehari (apabila cuaca panas dan disertai angin). Pernah suatu ketika cuacanya sangat panas tetapi tak ada angin, pengkristalan garam tidak berlangsung dengan baik. Garam yang dihasilkan lembut, seperti es krim. Bahkan ada kowen yang pengkristalannya tidak terjadi. Mereka menyebutnya gandor yang artinya tidak keluar. Kata ini biasa digunakan dalam istilah garam dan tambak.

Seusai garam tersebut digaruk, garam tersebut akan dicuci terlebih dahulu agar putih. Oh ya, kualitas garam terlihat pada putihnya garam dan hal ini dipengaruhi oleh proses pemanasan dan pencucian.

Garam yang sudah dicuci tersebut biasanya ditimbun di suatu tempat, kami biasa menyebutnya godang >> gudang garam. Transportasi yang dipakai untuk mengangkut garam yang sudah jadi tersebut (garam curah) adalah sepeda onthel dan sepeda motor. Sepeda motor ini merupakan dampak modernisasi karena lebih efisien, hemat, dan tidak menguras banyak tenaga. 75% pengangkut garam di desa ini telah menggunakan kendaraan bermotor. Sisanya, masih menggunakan sepeda onthel.

pengankut dengan sepeda yang waktu itu karena sepeda sudah tua, rodanya tak sengaja bengkok

pengangkut dengan kendaraan bermotor @ CV. Dua Roda

Terkadang ada pula yang godang-nya sudah penuh sehingga mereka langsung menjualnya ke pengepul. Biasanya pengepul ini adalah orang-orang yang memiliki pabrik garam atau memiliki pasarnya sendiri. Untuk saat ini (tertanggal 24 September 2012) harga garam perbojog dibeli seharga Rp.50.000,00. Garam per bojog beratnya rata-rata 175--200 kg.

Yak, sekian laporan dari TKP >> Ds. Agung Mulyo >> desaku yang sangat kucinta. Desa penghasil garam dan penghasil bandeng serta udang.

Mengenai proses garam ini dapat dlihat di Lika-Liku Garam.

11 February 2012

Menulis Cerita, Apa yang harus ditulis terlebih dulu?


SOP (Seputar Obrolan Penulisan) CeKers 01 (11 Februari 2012)
Tema: Menulis Cerita, Apa yang harus ditulis terlebih dulu?

Ide udah dapet. Jalan cerita udah kebayang. Sampai endingnya pun sudah kepikiran. Nah, pas mau mulai nih, kok jadi bingung bener ya apa yang mau ditulis. Nah, kalo bingung, jangan lupa tanya ke pulisi. Buat apa kita bayar (pajak) mahal kan? Nah loh apa hubungannya sama pulisi ya?

Lanjoottt! Nah, biar nggak bingung, begini aja deh. Ketika akan mulai menulisan jangan lupa ini ya:
Pertama, mandi dulu biar otaknya encer. Imajinasinya mengalir. Nah, kalo sudah mandi, ya bolehlah lanjut ke no 2. Kedua, Pakai baju dulu ya. Jangan lupa celana juga. Ya, iyalah masak telanjang. Malu sama Boboho. (Apa hubungannya yak? Bodo amat ah!) Nah, yang Ketiga, duduk manis. Jangan lupa minum susu, teh hangat, atau embat cokelatnya Bunda. Asal jangan icip-icip kopinya Ayah ya. Eh, sambil tiduran juga boleh. Kalo sudah, lanjut ke no 4. Nah loh, kapan mulainya nih.

Jika sudah siap semuanya, baru deh ini step stepnya:

1). Siapkan sinopsis
Cerita singkat mengenai keseluruhan ceritamu. Itu yang tadi nongol diimajinasi itu. Singkat aja tapi harus jelas ya.

2). Kerangka cerita
Adalah alur cerita yang akan kalian uraikan.

Setelah kedua langkah itu kamu siapkan, maka sedikitnya kamu tahu bagaimana membuka cerita. Karena, dalam kerangka cerita itu sendiri sudah ada atau sudah terlihat alur ceritanya. Alur maju yang nggak mundur-mundur atau alur mundur yang nggak maju-maju. Atau alur bingung, alur maju mundur. Kok jadi keinget setrikaan ya.

06 October 2011

Cantik Itu Luka

Adakah yang pernah mendengar atau membaca judul posting di atas?

Yap, itu adalah judul sebuah novel karya Eka Kurniawan. Saya pinjem ya mas, buat judul posting. Tapi maaf, saya tidak akan membahasa tentang novel tersebut. Baca aja belum :D

Setiap perempuan menginginkan dirinya selalu tampil cantik, tak terkecuali saya pribadi. Tapi bahwasanya semua perempuan itu pada dasarnya cantik memang benar adanya. Tidak ada perempuan tak cantik di dunia ini. Yang ada hanya perempuan baik, dan tidak baik *pinjem kata-kata ibunya Khan, dalam film My Name is Khan*.

Lalu bagaimana dengan pandangan orang lain akan hal ini?

Itulah masalahnya. Manusia telah dicekoki kebudayaan tentang perempuan yang cantik sewajarnya. Sewajarnya dalam tanda kutip. Artinya, kata wajar di sini adalah wajar menurut pandangan dan trend kecantikan pada waktu tersebut.

Ini ketika saya ultah dan dikerjai untuk dandan
Misalnya, pada tahun 50-an, perempuan yang dianggap cantik pada waktu itu adalah perempuan yang bersanggul, yang bahenol (gemuk), berkebaya. Bayangan saya yang terlihat untuk mendeskripsikan cantik ini adalah Mrs. Waljinah. Yak! Beliau adalah penyanyi keroncong yang sangat disukai oleh alm. Simbah saya.

Lalu, ketika masuk di tahun 2000-an, banyak model bermunculan dan terkenal di Indonesia. Representasi cantik berubah lagi. Cantik itu adalah kurus-tinggi, kaki jenjang, tidak semok, rambut kecokelatan, dan (maaf) dada yang pas-pasan dan atau rata. Deskripsi ini dapat dilihat pada sosok model cantik Chaterin Wilson, atau Davina.

Jika ditilik dari mode di atas, maka saya dikatakan cantik pada tahun 50-an :D

19 November 2010

Cermin

Siapa yang tidak mengenal cermin? Setiap harinya manusia selalu bercermin dengan segala rupa yang melekat pada tubuhnya. Apalagi bagi seorang wanita, cermin bagaikan jati diri yang apabila ditinggalkan akan menjadi suatu malapetaka. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) cermin memiliki banyak makna. Makna yang pertama (merupakan makna leksikal), cermin merupakan kaca bening yang salah satu mukanya dicat dengan air raksa dan sebagainya sehingga dapat memperlihatkan bayangan benda yang ada di depannya, biasanya untuk melihat wajah kita bersolek dan sebagainya. Makna yang kedua (merupakan makna gramatikal), cermin adalah sesuatu yang menjadi teladan atau pelajaran; sesuatu yang membayangkan perasaan (isi hati, keadaan batin, dan sebagainya).

18 November 2010

TIONGHOA ISLAM, LAKSAMANA CHENG HO

Cheng Ho yang nama aslinya Ma He atau dikenal juga dengan sebutan Ma Sanbao adalah seorang keturunan suku Hui yang beragama islam dan hidup dengan keluarganya di bagian K’un yang terletak di ujung baratdaya danau Tien Chih di provinsi Yun-nan. Cheng Ho dilahirkan sekitar tahun 1371, putra kedua dari Ma Hazhi (Haji Ma) dan Wen. Tahun 1382 ketika Cheng Ho berusia 11 tahun Yun-an yang dikuasai Dinasti Yuan direbut oleh Dinasti Ming. Para pemuda ditawan, bahkan dikebiri, lalu dibawa ke Nanjing untuk dijadikan kasim istana. Termasuk juga Cheng Ho yang diabdikan kepada Raja Zhu Di di istana Beiping (sekarang Beijing).

Ma He termasuk orang yang berpendidikan, ia mempelajari seni-perang dan mempunyai disiplin yang tinggi. Tahun 1403, ketika putra mahkota Yen yaitu Chuti (putra keempat Kaisar Hung-wu) menjadi kaisar Ch’eng-tsu, Ma He diangkat menjadi pembantu terdekatnya. Pada tahun 1404 ia mendapatkan perhatian Kaisar sehingga diberikanlah julukan Cheng, dan diangkat sebagai Laksama Besar yang bertugas membawahi para laksamana. Pada suatu ketika Raja Yen berhasil mengalahkan musuh-musuhnya dan naik tahta di Kekaisaran Ming dengan menggunakan gelar Zhu Di.

02 August 2010

Lika-Liku “Garam”

Garam (garam dapur dan garam makan) di Jawa kebanyakan diproduksi di daerah pesisir pantai utara Jawa. Garam merupakan senyawa kristalin NaCl yang merupakan klorida dan sodium, dapat larut dalam air, dan asin rasanya. Dalam pengertian kimia, garam adalah hasil reaksi asam dengan basa, yaitu satu atau lebih atom hidrogen pada asam diganti oleh satu atau lebih kation suatu basa.

menggaruk garam kristal
Di daerah Pati, khusunya Juwana di desa Agung Mulyo, banyak terdapat petani garam tradisional. Hal ini dikarenakan daerahnya yang dekat dengan laut (fungsinya untuk mempermudah suplai air laut dan pembuangannya), tanahnya yang landai, merupakan tanah liat sehingga daya retaknya rendah. Biasanya tanah yang dipergunakan untuk lahan pembuatan garam kristal (koen) merupakan bekas lahan tambak. Ketika musim kemarau, lahan tambak yang banyak airnya itu dikeringkan. Lahan yang sudah kering tersebut kemudian diratakan sehingga merata. Lahan yang permukaannya rata itu kemudian diberi air laut hingga lebih kurang 8 cm. Setiap 10—15 hari, garam yang telah mengkristal di atas lahan padat tersebut dipungut dengan menggunakan garuk khusus garam.

24 February 2010

Nasi Gandul: Kuliner Khas Pati, di Jogja?

Feature ini saya buat semata-mata karena tugas perkuliahan MEnulis Kreatif. Dari pada hanya menjadi bacaan sendiri, lebih baik aku share ke blog. hehe

SEdikit cerita. Mahasiswa yang mengikuti kuliah ini kira-kira empat puluh orang. Nah dari ke-40 feature itu, oleh Bapak Aprinus Salam (dosen pengampu) menyeleksi menjadi sepuluh feature. Hihihi, walaupun hanya sebatas latihan, tapi saya senang karena bisa masuk kesepuluh feature tersebut. HAnya sayangnya, belum bisa menjadi yang terbaik dari feature2 teman2 yang juga baik dan sangat menarik.

Hihi, dosen pengampu mata kuliah ini memang unik. Beliau tidak segan mencaci karangan kita apabila memang tidak sesuai dengan keinginannya. TApi menurut saya, hal itu justru memacu semangat untuk lebih baik lagi. Yang terbaik dapat duit 50rb (uang yang terkumpul dari mahasiswa yg mengikuti kuliah @ Rp1.000,- kalau kurang dari 50rb, Bpk Aprinus akan menambahi)...hahahahha tapi kalau yang terbaiknya dua, 50rb-nya juga dibagi dua. Hehehehe... Lumayanlah, sebagai anak kos.

Berikut feature saya ^^

Apa yang akan terlintas di benak Anda jika Anda mendengar sebutan “nasi gandul”? Mungkin Anda akan mengira bahwasanya itu adalah nasi yang bergelantung, atau nasi yang digantungkan, atau mungkin hal-hal lain yang berkaitan dengan hal “gandul” tergantung dari imajinasi seseorang. “Pertama kali saya mendengar nasi gandul, yang saya pikirkan, apakah nasinya itu digantung? Namanya gondal-gandul?” tutur Tina (24) mahasiswi asal Palembang. Berbeda lagi dengan penuturan Denta (22), mahasiswi asal Tulungagung, “saya penasaran, apa artinya ‘gandul’?” Akan tetapi, hal itu tidak akan terjadi apabila yang mendengar sebutan tersebut adalah masyarakat Pati (Jawa Tengah) dan sekitarnya.