Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

19 October 2023

Menikah Bukan Perkara Sah

Ngomongin nikah bakalan gak ada habisnya. Iya gak sih? Walaupun usia pernikahanku baru 10 tahun, tidak menjamin semua yang sudah terjadi berjalan mulus sesuai keinginanku ataupun keinginan suami; keinginan kami. Banyak hal yang terjadi terkadang di luar kendali. Sebab sebaik-baiknya rencana kami, (pasti) lebih baik rencana Tuhan untuk kami.

Tulisan ini kupersembahkan untuk kamu yang mungkin saat ini sedang dilanda pertanyaan "kapan nikah?" atau kamu yang sedang galau karena umur sekian belum ada pasangan, atau bahkan kamu yang sekarang sedang menunggu pujaan hati untuk melamar/menikah denganmu.

Sabar ya, menikah bukan perkara sah. Abaikan saja perkataan orang-orang yang mungkin menyudutkanmu. Abaikan saja prasangka meraka tentang pilihan hidupmu. Abaikan saja!

Ya, sebab hanya akan ada dirimu dan pasanganmu yang akan menjalani hidup bersama, bukan orang lain itu. 

Setuju ya? 😄

https://img.lovepik.com/photo/45009/0032.jpg_wh860.jpg
Dirimu adalah kepunyaanmu. Jika ada yang berpikiran bahwa dengan menikah semuanya menjadi halal dan barokah, ya... iyaaa, memang benar. Tapi prosesnya itu lhoooo, hehehe. Ada step by step yang harus dilalui untuk pernikahan itu bisa berbuah manis.

Gak! Di sini aku gak akan cerita mengenai step by step itu. Aku cuma mau ngasih support ke kamu, bahwa pilihan kamu saat ini untuk menunda pernikahan adalah sudah tepat. Jika kamu belum siap, jika kamu belum menemukan tujuan yang jelas atas hubunganmu dengan calon pasanganmu, maka jedalah sejenak. Sendiri aja dulu. Coba introspeksi diri dulu, dan tanyakan ini pada dirimu;

Apa sih yang aku inginkan dalam hidup ini?
Benarkah keputusanku atas pernikahan ini?
Sudah siapkah aku berbagi dan hidup berdampingan selamanya dengannya?
Bisakah aku menurunkan egoku dan berdamai dengan egonya ketika kami tak seirama?
Apakah aku menerima semua yang melekat padanya, kelebihan dan kekurangannya?

Dan meskipun ini pertanyaan yang kesekian, tapi ini juga penting;

Bagaimana dengan keluarganya? Apakah aku diterima di keluarganya?

Benar adanya jika hanya akan ada kamu dan pasangan ketika telah menikah. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa keluarga seperti orang tua, kakak, adik, tetap akan menjadi lingkungan terdekat yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Kok pertanyaannya banyak? Iya banyak banget, bahkan itu bisa lebih banyak jika memang kamu belum yakin dengan pilihanmu. Karena jika kamu sudah ridho dengan pilihanmu saat ini, makan pertanyaan-pertanyaan di atas tidak akan muncul dan mengganggu pikiran dan kehidupannmu.

Pengalaman ya? :D yaaa, tipis-tipis xixixi.

Karena kujuga pernah mengalami masa ini. Masa-masa bimbang menuju hari H pernikahan. Alhamdulillah, semua berjalan dengan berliku-liku dan sudah terlewati 10 tahun.

Gak papa kuulangi lagi, yaa. Menikah bukan perkara sah. Dan tulisan ini adalah bentuk support aku untuk kamu. Karena tidak semua hal bisa kamu ceritakan ke orang lain, bahkan support system terdekatmu, maka kutulis sedikit pengalaman yang pernah kualami ini untuk kamu. Bukan untuk membuat kamu lebih bimbang, bukan yaa, tapi untuk membuatmu membulatkan lagi tekadmu untuk menikah.

Enak lho, menikah.
Bisa punya teman ngobrol 24 jam.
Bisa punya besti yang siap mendengarkan keluh kesahmu apapun itu.
Bisa punya anak juga xixixixi.
Bisa punya lebih banyak kenalan.
Dan yang pasti kamu punya belahan jiwa 👫

Okelah! Cukup sampai di sini dulu ya.

Terima kasih sudah mau membaca tulisan yang amburadul ini.
Jangan lupa komentar positif untuk tulisan ini maupun untuk aku, biar aku lebih semangat menulis blog ❤ 
.
.
.

01 May 2014

IMD, ASI, Sufor, dan Alat Bantu Menyusui

Hari ini usia adek tepat 4 Minggu. Alhamdulillah, adek sehat dan baik-baik saja. Rewel juga jarang. Paling kalau rewel karena minta ASI (air susu ibu) emaknya atau karena pipis/pup.

Ngemeng-ngemeng soal ASI. ASI memang penting untuk bayi dan setiap ibu sudah pasti (bisa) memproduksi ASI. Benarkah?

Jujur saja saya kesulitan memproduksi ASI. Awalnya, dulu ketika IMD (inisiasi menyusui dini) saya sudah mencoba untun menyusui adek. Sampai adek nangis karena ASI saya belum keluar dan puting yang tidak keluar. Sebentar! Ini bukan hal yang tabu ya. Bagi (calon) ibu seperti saya informasi seperti ini sangat penting sekali. Oke, lanjut!

Iya, waktu itu ASI saya belum mau keluar dan puting juga susah untuk disusu oleh adek. Alhasil, karena kasihan, saya meminta bidan untuk menyusui adek dengan susu formula (sufor).

Teori dan penelitian membuktikan—dari yang saya baca di web-web kesehatan (melalui jejaring internet), bahwa seorang (calon) ibu pasti bisa menghasilkan ASI dan menyusui bayinya. Praktiknya, hal ini memang (agak) susah. Banyak (calon) ibu yang kesusahan dan merasa bersalah karena tidak bisa memberikan bayinya ASI. Contoh kasus, saya sendiri. Daripada ngambil kasus orang lain toh.

Nah, dari Informasi yang saya baca di web-web kesehatan tersebut menyatakan bahwa seorang ibu pasti bisa menghasilkan ASI dan menyusui bayinya. Dalam kasus saya, banyak hal yang bisa menyebabkan ASI tidak lancar keluar. Di antara hal-hal yang banyak itu, hal yang paling mengena di hati saya adalah posisi saat menyusui. Kenapa?

Posisi saat menyusui banyak berpengaruh pada kuantitas ASI yang keluar. Hal ini juga dipengaruhi oleh posisi bayi dalam menyusu payudara ibu dan atau posisi ibu dalam menyusui bayi. Saya sendiri mengetahui hal ini (lagi-lagi) dari internet. Posisi ibu yang salah atau kurang nyaman saat menyusui mengakibatkan ASI yang keluar hanya sedikit. Oleh karena itu, dianjurkan bagi ibu untuk mengetahui tatacara menyusui yang baik. Sayangnya, ketika saya melahirkan di bidan, bidan tersebut tidak memberitahu saya. Mungkin bidang tersebut tahu, tetapi karena pasien tidak bertanya jadinya tidak diberi tahu. Tahukah Anda, puting yang lecet itu disebabkan oleh posisi menyusui yang salah?

Lanjut mengenai posisi bayi ketika menyusu. Menurut teori (lagi-lagi teori), agar ASI keluar dengan lancar, bayi seharusnya menyusu pada payudara ibu. Jadi, bukan hanya pada puting ibu. Jadi ketika bayi melahap puting ibu, usahakan bayi juga melahap bagian areola (bagian yang berwarna hitam pada sekitar puting ibu).

Yang di atas itu menurut teori dan penelitian yak. Faktanya, banyak ibu-ibu di sekitar saya yang tidak bisa menyusui anaknya karena produksi asinya sedikit atau bahkan tidak keluar sama sekali. Nah loh? Aneh kan? Contoh kasus: saya lagi :D

Awal mula memang saya tidak bisa menyusui adek. Hal ini berlangsung selama lebih kurang empat hari. Banyak yang bilang karena puting saya yang terlalu pendek—ini waktu saya belum mengetahui tatacara menyusui yang baik. Akhirnya saya membeli puting sambungan. Padahal puting sambungan ini juga ternyata tidak bagus untuk produksi ASI. Dan ini juga tidak berhasil. Adek sudah lama menyusu tapi ASI juga tidak mau keluar. Saya dan adek tidak bisa bekerja sama dengan baik. Lalu atas saran orang-orang juga, saya akhirnya beli pompa ASI—dan beberapa hari ini saya baru tahu kalau memakai pompa juga tidak baik untuk kesehatan payudara. Ya, memang pompa ASI lumayan agak membantu. ASInya mau keluar meski sangat sedikit sekali. Saya taruh di gelas hanya dapat 1/20-nya gelas. Jadi sangat sangat dan sangat sedikit sekali.

Saya hampir putus asa. Tapi suami dan keluarga tetap mendukung agar adek bisa menyusu dengan ASI. Tak urung, saya kadang juga sedih dan menangis. Apa lagi adek sudah nyaman dengan sufornya. Tapi saya tetap bertekad ingin menyusui adek. Meskipun sedikit tak apa, nanti bisa diselingi dengan sufor.

Kurang lebih satu minggu saya masih menggunakan pompa dan puting sambungan. Masih mencoba-coba. Memang ada sedikit peningkatan produksi ASI dari hari ke hari. Meski puting lecet karena kurang nyaman juga pakai puting sambungan. Hingga akhirnya saya mengakhiri semuanya *dibikin dramatis*. Saya tidak pakai puting sambungan dan pompa ASI lagi ketika mengetahui hal-hal buruk yang terjadi akibat alat bantu tersebut. Lantas saya memakai apa?

Setelah mengetahui teori-teori dan penelitian yang saya ceritakan di atas (tatacara menyusui yang baik) saya mencoba tidak memakai alat bantu apapun. Awalnya memang susah karena adek sudah terbiasa pakai botol susu dan sufor. Sampai akhirnya adek bisa menyusu juga pada payudara saya. Adek dan saya bisa bekerjasama dengan sangat baik, meski sampai sekarang ASI yang saya produksi masih belum bisa memenuhi kebutuhan adek. Sehingga di samping adek menyusu dengan ASI, adek juga minum sufor dari botol susu.


Semoga tulisan ini berguna untuk (calon) ibu-ibu yang kesulitan untuk menyusui ASI bayinya. Semangat ya, Mom! Jangan pantang menyerah :* *bighug*

30 April 2014

Saat Jarit Sudah Terlalu Mainstream (Pascamelahirkan)


Dalam posting kemarin saya sudah membahas mengenai anjuran menggunakan jarit pascamelahirkan. Kebanyakan orang desa menganjurkan seorang ibu untuk menggunakan jarit dan udet (semacam korset). Kenapa harus pakai jarit? Biar langkahnya gak panjang-panjang. Supaya apa? Supaya gitu dah. Hoho, saya agak kurang ini menjelaskan ini. Jadi begini ….

Orang zaman dulu sangat mengutamakan keharmonisan rumah tangga. Jadi banyak hal yang direka-reka sendiri untuk kebaikan ibu pascamelahirkan. Seperti jarit di atas. Mereka mengangsumsikan pakai jarit supaya langkahnya tidak panjang. Kenapa? Agar kerapatan daerah kewanitaan tetap terjaga pascamelahirkan. Nah, seperti itulah.

Saya coba searching informasi via internet. Sebenarnya bukan hal itu yang diutamakan. Pascamelahirkan pun seorang ibu boleh menggunakan celana. Tapi jika pengin praktis, lebih nyaman menggunakan rok. Kalau mau ke belakang tinggal nyingkap doang :P

Terlepas dari itu semua saya kurang tahu apakah panjangnya langkah kaki berpengaruh pada kerapatan daerah kewanitaan pascamelahirkan. Saya baca-baca di web-web kesehatan belum ada yang membahas hal ini. Tapi secara abstrak saya mendapati banyak alasan bahwa pengaruh panjang langkah kaki dengan kerapatan daerah kewanitaan ini hanyalah mitos yang belum terbukti. Karena hal ini juga dibarengi dengan seorang ibu pascamelahirkan dilarang jongkok sebelum masa nifas berakhir. Alasan-alasan yang menguatkan diantaranya;

Bahwa pascamelahirkan beberapa jam setelah melahirkan ibu dianjurkan untuk senam nifas. Nah gerakan senam nifas ini (bisa dilihat di web tetangga) menggunakan gerakan-gerakan kaki juga. Padahal orang (di desa) jaman dulu lebih mengutamakan ibu hamil untuk istirahat total. Bahkan kata ibu saya, dulu selepas maghrib seorang ibu pascamelahirkan harus sudah di atas tempat tidur. Hal ini berlangsung selama selapan (36 hari) atau 40 hari.

Bahwa jongkok-berdiri pascamelahirkan lebih cepat mengembalikan kekuatan otot pinggul dan mengecilnya rahim. Nah lho, padahal orang jaman dulu menganjurkan ibu hamil tidak jongkok selama selapan hari. Katanya hal ini berpengaruh pada kerapatan daerah kewanitaan. Berbanding terbalik kan?

Tapi kata ibu saya, anjuran-anjuran orang jaman dulu semuanya tidak salah, juga tidak semuanya benar. Mereka hanya kawatir jika ibu pascamelahirkan setelah itu hubungan rumah tangganya tidak harmonis lagi. Tau sendiri kan ya, kebanyakan ibu pascamelahirkan bentuk badannya banyak berubah. Dan ibu saya juga mengatakan ibu pascamelahirkan sekarang ini justru sehat-sehat gak kayak orang jaman dulu. Iya, karena apa? Karena banyak anjuran yang salah kaprah, menjadikan ibu jaman dulu bukannya cepat pulih malah sebaliknya. Lama pulihnya.


Yak, tulisan ini hanya sebatas pemikiran saya yang kurang sependapat dengan mitos mengenai pemakain jarit (kalau udet/korset saya setuju) dan tidak boleh jongkok. Kembali ke pribadi masing-masing lagi, apakah mau mempercayai mitos tersebut tanpa mengetahui alasan ilmiahnya atau hanya mempercayainya tanpa berpikir alasannya, dan atau tidak percaya sama sekali :)

18 April 2014

Lepas Jarit dan Mitos Suleten

18 april 2014

Hiihihi, saya agak girang sekarang. Kenapa? Saya sudah diperbolehkan pakai rok. Siapa yang memperbolehkan? Tentu saja saya sendiri. Hmm, ini sudah hari ke-16 pasca melahirkan. Saya sudah merasa baikan. Darah nifas pun juga sudah jarang keluar. Rasanya benang jahitan pun sudah menghilang dengan sendirinya. Ya, lumayan sekarang saya sudah agak santai ketika BAB. Hehehe. Cuman masih agak was-was aja karena minum jamu, BAB saya agak lumayan keras. Padahal sudah banyak minum air putih dan makan sayur/buah. Its ok, tak apa! Yang penting saya sudah merasa oke, dan saya sudah banyak membantu di rumah meski belum diperbolehkan keluar rumah.

Yak, saya baru diperbolehkan keluar rumah kalau usia bayi sudah selapan atau 38 hari. Hoho, Alhamdulillah, pasti saya sudah sangat oke sekali usai selapan. Bisa kerja lagi di pabrik. Bisa gajian lagi. Haha. Yaiyalah sekarang mikirin gaji, anak mau dikasih makan apa kalau gak kerja :3

Eh, sekarang sudah pakai rok ya tapi kalau malam saya tetep minta pakai jarit. Kenapa? Takut kebablasan (kakinya) kalau tidur. Memang saya sudah baikan, tapi tetep jalan lahir masih belum sehat seperti sebelum melahirkan. Jadi tetep jaga attitude ketika melakukan aktifitas, seperti berjalan, duduk, tidur, dan sebagainya.

Yang sekarang bikin saya lumayan sedih, si adek lagi kena penyakit kulit. Gak tau gegara apa. Saya cari-cari di internet, banyak hal yang bisa menyebabkan bayi bisa terserang penyakit kulit. Entah itu alergi, bakteri, atau yang lain. Nah yang agak bikin saya kesel, ini orang-orang pada ngomongin mitos lagi -_- yak, lagi-lagi berhubungan dengan mitos. MEreka menyebutnya suleten. Atau kalau saya lihat di google, namanya eksem apa eksim gitu. Bentuknya merah, kalau si adek terletak di paha dalam, terus ada gelembung berisi cairan. Mitosnya hal ini terjadi karena ada peralatan si adek yang terbakar. Bisa saja popok, tisu/kapas bekas cebok/kotoran BAB, dan lain-lain, yang pasti ada bagian dari peralatan si adek di sana/yang keluar dari tubuh si adek.

Berhubung saya gak percaya karena gak masuk akal, saya pun diem aja -_- untungnya kemarin waktu si adek puputan, Alhamdulillah ada yang ngasih kado paket box produk cuss*ns. Di dalamnya ada krim/salep untuk mengatasi iritasi kulit. Alhasil saya pakaikan itu krim ke kulit si adek yang kemerahan/melepuh tersebut. Alhamdulillah sekarang sudah mulai kering. Kasihan adek kalau BAK/BAB kadang nangis kalau kulit yang kemerahan tersebut terkena tisu basah atau pas mandi kena air :(

Lekas sembuh ya, sayang. Mom’s love you :*


12 April 2014

Indahnya AnugerahMu--Anak Pertama

adek usia 4 hari
Alhamdulillah … Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas anugerah tak ternilai yang diamanatkan kepada kami. Setelah 9 bulan lebih 6 hari mengandungnya :’) #terharu

Sebenarnya sudah sejak lama pengin update blog lagi. Sayangnya, koneksi internet sudah diputus sama kakak. Sedangkan mau beli modem juga masih mikir, takutnya nanti di rumah gak ada signal. Saya trauma dulu pernah punya modem pakai provider tertentu ternyata lemot abeeesss dan terkadang malah gak ada signal sama sekali. Maklum, ehm … dusun.

Banyak banget yang pengin saya ceritain. Mulai dari tendangan pertama janin hingga proses gimana akhirnya ia terlahir di dunia ini dan berada dalam dekapan saya :’) sungguh tak terkira bahagianya.

Menginjak usia kandungan ke-sembilan bulan, tendangan-tendangan mulai menguat. Rasanya si kecil sudah tak sabar untuk terlahir di dunia. Hihihi, Ibu-Ayahnya sebenarnya yang tak sabar. Kesibukan kerja masih saya jalani seperti biasa. Karena kalau cuman duduk-duduk, istirahat, bengong di rumah, kaki malah pada bengkak. Jadi mending dibawa enjoy buat kerja :D hingga pada hari Minggu (30/3/14) pagi saya mengeluarkan flek dan setelahnya mengalami kontraksi. Mulai agak was-was juga karena kehamilan pertama. Browsing-browsing ke internet, memang seperti itu persiapan tubuh dalam menyambut persalinan. Tapi perasaan khawatir masih ada. Akhirnya, Bapak-Ibu ngajak ke klinik bidan supaya jelas statusnya.

Pukul 10.00 pagi berangkat ke klinik bidan. Sayangnya Bu Bidan yang dicari tidak ada. Adanya bidan (asisten). Ya sudah, dari pada balik. Diperiksa sama bidan tersebut katanya, “tidak apa-apa. Itu ciri-ciri mau melahirkan. Ditunggu saja karena baru bukaan satu.”

Saya coba cuek. Masih bantu pekerjaan rumah, masih mondar-mandir ke pabrik, pokoknya kalau bisa jangan diem. Tapi kalau capek ya tetep istirahat. Hehehe.

Malamnya, Minggu malam Senin, kontraksi makin sering. Tidur pun terganggu. Tetep ngandalin info dari internet, saya coba jalan keliling kamar—padahal kamar juga gak besar :D—mondar-mandir, ngurangi rasa tegang punggung saat kontraksi.

Paginya, Senin (31/03/14), disuruh istirahat saja sama Ibu. Tapi gak mau. Dibawa tidur atau duduk malah gak enak semua rasanya. Jadinya tetep dipakai jalan-jalan mondar-mandir di rumah meski gak bantuin pekerjaan rumah. Pas waktu kontraksi pasti keliatan, mukanya jadi aneh karena nahan nyeri punggung :D Sorenya saya juga masih pergi ke pabrik. Hehe, dasarnya gak bisa diem di rumah.

Senin malam, waktu tidur berkurang lagi. Kontraksi makin sering. Mondar-mandir di kamar juga makin sering. Alhasil tidur setengah jam, bangun seperempat jam. Begitu berulang, sampai pagi hari masih terkantuk-kantuk.

Selasa (1/04/14) pagi, gegara kurang tidur, mata jadi gak enak. Penginnya dibawa tidur. Tapi kontraksi dan punggung gak bisa diajak kompromi. Pilih mandi pagi biar seger. Sebelum mandi, ternyata saya mengeluarkan lendir dan darah cokelat. Saya lap pakai tisu. Berhubung penasaran, saya bilang ke Ibu saya. Beliau bilang, “memang begitu. Itu tanda-tanda mau melahirkan.” Oke! Saya mandi dengan perasaan masih was-was. Tapi saya sadar, janin baik-baik saja karena saya masih merasakan tendangan-tendangan.

Siangnya saya coba untuk tidur karena mata sudah tidak bisa diajak kompromi. Alhamdulillah, si dedek bisa diajak kompromi. Kontraksi berkurang. Seneng? Lumayan :D soalnya sakitnya berkurang, hehe.

Seperti biasa pukul 08.00 malam saya sudah tiduran. Masih merasakan kontraksi-kontraksi. Tapi masih dibawa enjoy. Mulai tiduran, tiba-tiba kontraksi mulai menyerang. 10 menit tidur, 30 menit kontraksi. Aaaak sakitnya gak kebayang waktu itu. Akhirnya gak kuat karena kontraksi makin sering.

Akhirnya, tengah malem bangunin Ibu-Bapak minta tolong diantrin ke klinik. Ibu ngajak Mbak Sis. Saya bangunin suami karena masih tidur. Berhubung di rumah cuman ada Wulan, jadinya suami disuruh jaga rumah saja. Nanti kalau memang lahiran dikabari dan nyusul ke klinik. Oke!

Sampai klinik diperiksi Bu Bidan, sudah bukaan 3. Rasanya punggung kayak dipaku, tegang banget waktu kontraksi. Pukul 12, pukul 1, pukul 2, pukul 3 terlewati sangat lamaaaaaaaaa dan gak bisa tidur karena kontraksi datang tiap 15 menit. Saya ditemani 3 bidan (asisten) waktu itu. Sekitar pukul 2 suami datang ke klinik.

Pukul 4 pagi (2/04/14) akhirnya diperiksa Bu Bidan lagi. Sudah waktunya, tinggal nunggu sebentar lagi. Saya sudah tidak tahan lagi, akhirnya saya dibolehin ngeden sama bu Bidannya. Kok ngeden? Iya, ngeden. Ngeden kayak orang mau BAB. Akhirnya, setelah ngeden-ngeden hampir satu jam, tangisan itu terdengar jugakkkkk :’)

Suasana haru datang tiba-tiba. Rasa sakit saat kontraksi terbayar sudah. Bahagianya saat mendengar tangisan pertama si kecil gak ada tandingannya. Subhanallah, rasanya amazing sangatttttt meskipun meninggalkan 6 jahitan di jalan lahir—lahiran normal :D

Alhamdulillah, atas izin Allah, lahir putra kami yang pertama Naufal Kenzie Safaraz pukul 05.50 WIB, hari Rabu, 2 April 2014 dengan berat 2,90 kg dan panjang 47 cm :’) Semoga kelak engkau menjadi putra sholeh seperti namamu, Nak. Itu doa kami. Jadilah pemimpin baik yang dermawan dan terhormat. Amin :’)

Tulisan ini saya persembahkan untuk buah hati saya yang pertama. Ini untukmu, Nak. Jika kelak kamu dewasa, lantas kamu ingin tahu bagaimana ibu melahirkanmu, dengan bangga ibu akan berkata, “Bukalah blog ibu nak. Archive di bulan April 2014. Di sana ada tulisan tentang kelahiranmu.” Begitu. Jadi ibu tak perlu berpanjang kali lebar hingga berbusa-busa untuk menceritakan kisah ini kepadamu, Nak. Atau mungkin nanti cucu-cucu ibu ingin juga membaca kisah ini? Ah, sungguh pede sekali ibumu ini, Nak :P

14 April 2013

(Salah) Persepsi: Baik!


Dulu saya pernah membuat posting tentang Memberikan Kesan yang Baik Kepada Orang Lain. Ternyata hal ini berlaku atas persepsi kita sendiri bukan? Bahwa (sesuatu) hal ini baik menurut saya. Menurut saya, saya sudah memberikan kesan yang baik untuk orang lain. Tapi apakah orang lain tersebut menganggap kesan yang kita buat merupakan hal yang baik? Ternyata belum tentu. Orang lain belum tentu berpersepsi sama dengan kita. Bahkan terkadang menganggap hal yang kita lakukan ternyata buruk/salah di mata orang lain. Lantas saya harus bagaimana? Saya juga tidak tahu *lhohh? :D

Jujur saya bingung. Ternyata apa yang saya lakukan salah di mata mereka, padahal benar menurut saya. Apakah saya terlalu egois? Mungkin. Saya egois karena saya menganggap hal itu baik. Saya sudah dan masih mencari di mana letak keegoisan saya, menurut mereka tentunya. Apa yang harus saya ubah dari sikap saya yang menurut saya baik?

Kembali saya mengorek diri saya. Menyetel ulang memori, apa yang sudah saya perbuat kemarin? Saya akui memang ada beberapa yang agak lebay. Saya tahu. Tapi ternyata mereka (yang lain) terhibur dengan kelebay-an saya. Saya senang. Saya senang bisa membuat orang lain senang. Tapi ya itu, ternyata ada yang tidak menyenanginya :D

Berhubung saya sudah buntu, akhirnya saya tanya. Saya tanya kepada mereka di mana letak ke-aku-an saya. Sayangnya mereka bungkam. Mereka membiarkan saya menekuri sikap/pribadi saya sendiri. Mungkin mereka menganggap saya sudah dewasa sehingga saya harus mencarinya sendiri? Sayangnya, saya tidak dewasa dalam hal ini. Bahkan, saya berkali-kali mengatakan bahwa kritik dan saran pedas sekalipun akan saya terima dengan lapang dada. Justru saya berterima kasih karena telah diingatkan sehingga saya dapat memperbaiki sikap saya.

Apakah ini ada ujungnya? Saya tidak tahu. Apakah saya egois? Saya jawab, iya, saya egois. Bahkan di semua tulisan saya dalam blog ini, saya egois. Semua atas dasar pemikiran saya (meski mungkin terinspirasi dari orang lain--terima kasih). Apakah saya sedih? Iya, saya sedih. Saya sedih karena saya belum menemukan yang terbaik menurut mereka. Dan saya sedih karena mereka bungkam tak mengingatkan saya, padahal mereka tahu apa yang harus mereka perbuat. Iya kalau saya segera sadar, kalau ternyata tidak. Apakah tidak mungkin nantinya mereka akan membenci saya?

No body's is perfect, perfect only belongs to Allah :-)

31 January 2013

Kehormatan

Seperti biasa di musim penghujan, seharian terkadang hanya melihat tangisan langit mengaliri jalan-jalan setapak di sekitar rumah. Untungnya hari ini cerah. Pakaian-pakaian sisa kemarin yang masih basah, akhirnya kering juga hari ini << penting gak sih?

Sore yang lalu--entah sore ditanggal berapa--saya masih enak di rumah memainkan game online pujaan hati saat ini (read: Showtime Indonesia). Ditemani riuh dari seberang jalan depan rumah yang memang warung kopi. Sore itu ramai akan pemuda-pemuda yang sedang nongkrong. Tentu saja untuk menghabiskan sore indah itu.

Obrolan-obrolan mereka kadang timbul tenggelam sampai di telinga saya. Kadang tertawa, terbahak, teriak, saling caci meski dalam konteks gurauan, dan terkadang juga senyap. Di antara kegaduhan yang terjadi tersebut, ada satu lontaran pernyataan yang diucapkan dengan keras yang membuat saya serta merta berhenti bermain.

Pernyataan asli >> Mbak tiiiiiiiiiiiiiittt (sensor) bok*ngem gedine lehh!

Terjemahan >> Mbak tiiiiiiiiiiiiiiitt (sensor) pant*tnya kok besar sih!

Saya bengong >.<

Gimana gak bengong? Itu si mbak tiiiit sudah punya suami dan tiga anak. Ditambah lagi, ketika lewat, dia sedang boncengan bersama dengan suaminya. Saya hanya bisa heran.

Setelah kejadian itu, saya cerita ke Ibu saya. Tentang mbak tiiiiiit yang digoda pemuda-pemuda yang nongkrong di warung depan seberang rumah. Ibu cuman bisa ngasih petuah gini,
"Itulah pentingnya kehormatan. Jagalah kehormatanmu. Sekali kena, pasti membekas dan susah hilangnya"

Memang sebelum kejadian itu, saya mendengar desas desus tak sedap mengenai tingkah laku mbak tiiittttt. Yah, kita yang mendengar cukup bisa mengambil hikmah atas kejadian tersebut.

Ahh, selamat sore dan selamat menikmati senja :)

22 July 2012

Happy Ramadhan 1433 H

Segenap tim (yang isinya cuma aku doang) trisusanti.com mengucapkan,
 
"Marhaban Ya Ramadhan"

Meskipun awal puasa kita tidak sama tapi kita tetap Indonesia.
Semoga ibadah kita semua di bulan suci ini diterima oleh Allah SWT.


11 July 2012

Ketika di-DADAR

Dan inilah yang saya rasakan saat ini: gak bisa berhenti tersenyum selama beberapa menit, berat badan terasa turun 50kg, kayak sudah ngeluarin kentut yang ditahan selama beberapa jam karena berada di mobil >> PLONG!

sebelum di dadar; di pintu masuk ruang ujian

Aaaakkkk ... akhirnya, anakku dinyatakan lulus sensor dari 3 penguji. Umm ... tetep harus ada revisi tapi tak apa. Hakhak :)

Nah, berhubung aku sudah melaksanakan kewajiban sebagai seorang mahasiswa yang sebentar lagi akan dicap sebagai pengangguran *menurut bukunya Alitt—Skripshit*. Aku akan memberikan tips dan trik melewati kelulussensoran tersebut :D hehe #songong

Yang pertama,
Jangan pernah berpikir kalau ujian merupakan hal yang mengerikan. Karena semakin mengerikan kamu membayangkan, akan semakin cepat pula ritme drumband jantung kamu deg-degan. Walaupun, tadi sebelum ujian, aku juga melakukan hal itu. Hehe. Sempet nyanyi-nyanyi dan menghentak-hentakkan kaki demi mengurangi nervous.

Yang kedua,
Persiapkan semua bahan yang berkaitan dengan skripsimu. Sebenarnya tidak harus dibawa semua. Paling tidak, kamu menguasai bahan itu semua dari mulai hal yang paling kecil sampai yang paling besar. Oia, juga perlu sekali memahami kembali dasar dari tema/topik/teori yang kamu pergunakan. Persiapan bahan ini juga termasuk bahan-bahan untuk presentasi: cek leptop, AC, pencahayaan, dan LCD.

Yang ketiga,
Penampilan tidak harus oke, tapi sopan. Di Sastra Indonesia sebetulnya tidak mewajibkan peserta ujian skripsi mengenakan hem putih-rok/celana hitam. Akan tetapi, hal ini sudah membudaya sehingga tetap diterapkan oleh mahasiswa. Fakta yang harus diluruskan yakni mengenai kesopanan/etika tersebut. Mengapa pemakaian warna hitam-putih itu menjadi budaya? hal ini karena hitam dan putih adalah warna yang lumayan netral. Coba ketika didadar pakai warna merah? Mungkin alur cerita ujianmu akan berbeda denganku :D Lalu mengenai rok dan celana. Kenapa yang perempuan pakai rok dan laki-laki pakai celana? Karena kalau perempuan pakai rok, lebih sopan dibandingkan memakai celana. Kalau yang laki-laki gak mungkin pakai rok kan? Nanti dikira mau sunatan. Jangan lupa pakai sepatu!

Yang keempat,
Snack dan minum. Okelah kalau minum memang sudah disiapkan dari tempat ujiannya. Tapi kalau makanan: TIDAK. Jika Mba Ayu mengatakan, “snack juga mempengaruhi mood penguji,” itu ada betulnya juga. Selain biar penguji ada kesibukan lain ketika menunggu untuk berbicara, setidaknya ketika penguji lapar ketika itu, mahasiswa tidak menjadi sasaran “makanan”. Akan tetapi, ini juga tidak berlebihan, misalnya dengan membawa parsel karena semakin banyak yang kamu bawa, semakin tinggi firasat penguji bahwa penguji sedang di-“sogok”. Jadi, snacknya secukupnya saja.

Yang kelima,
Supporter. Sebenarnya ini tergantung dari teman-temanmu. Jika beruntung, temanmu dengan sukarela akan menawarkan diri untuk hadir dan menunggumu di luar. Tapi jika tidak beruntung, kalau bisa undang mereka untuk datang. Semakin banyak supporter,semakin semangat kamu menjalani ujian. Ummm ... tapi ini gak ngefek kalau kamu bukan tipe orang yang suka berkumpul atau lebih suka menyendiri. Mungkin kamu akan lebih cenderung membutuhkan kesunyian untuk merenungi ujian yang akan terjadi.

Yang keenam,
Ketika penguji mulai berdatangan, TERSENYUMLAH dan IKHLAS. Apapun nanti yang terjadi, ya terjadilah. Hehe. Bukan bukan. Apapun yan terjadi di dalam ruang sidang mungkin tidak bisa kamu kendalikan karena di sana kamu hanya sebagai seorang yang diuji. Pemegang kendali kekuasaan adalah penguji. Oleh karena itu, berusahalah ikhlas dan tentu saja dibarengi dengan doa dan usaha untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah kamu kerjakan. Jika kamu menemukan kesalahan dalam skripsimu, jujurlah dan benahi ketika itu juga (walaupun hanya dalam bentuk ucapan—nanti diubah ketika revisi).

Yang ketujuh,
Lapang dada. Lapang dada dan ikhlas memang gak beda jauh. Memang. Aku mengulangnya dua kali. Supaya kalian mengerti, hasil final dari penguji merupakan hasil dari kerja keras kamu. Jadi apapun nilai yang akan diberikan, itu sesuai dengan apa yang sudah kamu pertanggungjawabkan.

Sekian dan terima kasih. Semoga bermanfaat.

*lulus—revisi skripsi—yudisium—wisuda. Lalu, senyum yang terkembang seusai didadar berubah sekejap karena menjadi pengangguran—bukan mahasiswa lagi* #penggaluanmasal

Special thanks to: Meyriska Wulandari, Yogi Sutopo, Siti Sayidah K, Muh. Yasir A, dan Zainal Arifin yang tadi sudah menungguiku di luar ruang sidang #bighug

10 July 2012

Menjelang Di-DADAR

Dari pada aku galau karena belajar gak masuk-masuk. Jadi, aku mau curhat dan nge-Galau dulu di sini.

Oke! 2 hari yang lalu, tepatnya kemarin, hari Senin tanggal 9 Juli 2012, ketika aku mengumpulkan syarat pendaftaran ujian anak saya yang kurang, kata itu terdengar MENGGELEGAR -.-

*mengenai awal mula anak saya dapat dilihat di SINI

Seperti bledek di siang bolong!

Aku: Mba, mau mengumpulkan ini *sambil menyerahkan form

Mbak2 Staf Jurusan (MSJ): Iya.

Sebenarnya waktu itu aku sudah mau meninggalkan ruangan. Kemudian, MSJ melanjutkan perkataannya.

MSJ: Oh iya mba. Sekalian ini jadwal ujiannya. Ummm ... besok Rabu, pukul 09.00 di C 203 ya Mba.

Aku: Oo, iya Mba. *setengah gak sadar--hening

Aku: Umm ... besok Rabu mba? Pukul 09.00? di C 203? <<< pertanyaan bodo karena diulang lagi!

MSJ: Iya *sambil menganggukkan kepalanya dengan mantap

Aku: Eng, iya mba. *berlalu ... kemudian GALAU


06 July 2012

TIPS dan TRIK KKN

Umm ... dibilang iri, tapi aku sudah pernah melakukannya. Tapi tapi tapi ... kangen. Pengin mengulangnya lagi dan lagi ^^
Itulah kutipan yang bisa aku kasih buat kalian yang akan menunaikan kewajiban sebagai seorang mahasiswa S1, yaitu KKN. Tepat satu tahun olehku mengenang peristiwa-peristiwa di masa KKN.

Kolusi, Korupsi, Nepotisme?

BUKAN! Kuliah Kerja Nyata. Tapi di sini aku tidak akan menjelaskan mengenai sejarah KKN karena hal itu sudah dijelaskan dalam buku panduan KKN. Hehe.

Dalam posting ini, aku akan menjelaskan apa yang tidak dijelaskan dalam buku panduan KKN.

Cekidot!

Posting ini berjudul Persiapan Perang: KKN. Ya, persiapan perang menuju tempat yang (waktu itu aku kira) MENGERIKAN! Penuh intrik dan politik--ini lebay. Sampai aku bertanya pada diriku sendiri, "Sejahterakah hidupku di sana?". Dan, sekarang aku bisa menjawabnya: itu adalah pertanyaan bodoh! 0.0

KKN merupakan hal yang menyenangkan. Umm... ini tergantung sih nyehehehe. Bergantung pada cara kalian memaknai arti kebersamaan dalam KKN. Bagaimana teman-teman timnya dan bagaimana warga-warganya. Coba tanamkan keindahan sedari kalian menapakkan kaki untuk yang pertama kalinya di tanah tempat ber-KKN ceria. Niscaya, kaalian akan selalu merasa nyaman meski mungkin hal itu tidak seindah yang dibayangkan >> ini namanya kekuatan mindset :D

Kewajiban akademik sebelum dan sesudah KKN seperti LRK, LPK, K3, K1, dsb—padahal aku sudah lupa, entah itu kepanjangan dari apa—memang wajib dikerjakan. Akan tetapi, sebetulnya bukan itu tujuan utama kita melakukan KKN. Tujuan utama KKN adalah memanusiakan mahasiswa. Kalau dalam bahasa Jawa biasanya disebut di-uwong-kan (diorangkan). Kenapa? Karena di belantara KKN, kita akan benar-benar diberikan tanggung jawab dan dianggap serba bisa melaksanakan segala hal. Jadi, besok jangan heran kalau nantinya kalian akan didewakan (red: dewa memecahkan masalah).

05 July 2012

Uji Kelayakan: di-DADAR

Hari ini, aku mendaftarkan anakku. Iya, mendaftarkan anak yang aku kandung selama 5 tahun. Siapa Bapaknya? Bisa di baca di SINI.

Kenapa? Apa untungnya mendaftarkan anak?

Tentu saja biar diuji kelayakannya sebagai anak. Apakah dia sudah siap untuk diberikan akta kelulusan atau tidak. Ya, deg-degan juga sih. Semoga anakku layak uji dan juga layak untuk diberi kelulusan. Dan menunggu hari ketika akan diuji itu adalah siksaan. Was-was dan tidak tenang.

Orang menyebut ujian kelayakan anakku ini sebagai PENDADARAN. Inget burjo? Sama. Aku juga jadi keingetan warung burjo. Biasanya kalau ke warung burjo aku mesen nasi telor. Khususnya, telor dadar: telor yang didadar.

Kalau dibuat skema, PENDADARAN itu kalau tidak salah seperti bagan di bawah ini:


Dari KBBIKitab Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti DADAR seperti ini:
1. telur yg diaduk (dikocok) bersama bumbu (bawang, merica, garam, dsb) kemudian digoreng, berbentuk pipih;
2. atau pendadaran: pelatihan; tempat pelatihan.

Dari arti yang kedua, dalam KBBI dituliskan bahwa kata pendadaran merupakan kata benda yang disadur dari bahasa Jawa.

Dan, peN-/-an:
berfungsi untuk membentuk kata benda. Dalam kata pendadaran, imbuhan peN-/-an bermakna proses.

Jadi begitulah, kata PENDADARAN memang sangat fenomenal sekali bagi kaum mahasiswa yang akan mendaftarkan anaknya untuk diuji. Mengingat arti dari kata dadar yang pertama, pendadaran memang identik dengan “dikocok”, “digoreng”, “didendeng” hingga pipih bersama dengan “bumbu-bumbu” dari para penguji.

Aku doakan, untuk para mahasiswa yang akan mengujikan anaknya, semoga sukses dan tidak gosong di dalam ruangan.

Salam ...

04 July 2012

Ngesot atau Berlari?

Akhirnya, anakku lahir. Setelah mengandungnya selama 5 tahun, anakku mbrojol juga.

Kenapa? Mengandung 5 tahun? Apa yang dikandung?

Oh, ya. Anakku itu tidak lain dan tak bukan adalah skripshit skripsweet skripsi hehe. Iya, aku mengandungnya selama 5 tahun. Biasanya memang 3,5 tahun. Cuman aku takut kalau nanti bayi yang aku lahirkan prematur. Jadi, aku memilih untuk mengandungnya lama. #ngeles

Selama beberapa minggu terakhir ini aku jarang posting di blog. Ya, salah satu penyebabnya karena anak yang aku kandung ini. Tapi ada juga penyebab lainnya. Ialah kerjaan. Bukan ding, bukan kerjaan. Hanya iseng mencari pengalaman. Dari cerita menjelajah ke Kroya dan Cilacap, hingga Klaten-Solo-Sukoharjo-Wonogiri. Dan berakhir di pengunduran acara  Photobucket

Fiuuhh, tak apalah. Semua ada jalannya sendiri. Sampai aku kami, dipertemukan clien dari Malang #alhamdulillah Photobucket

Ya, banyak jalan yang berliku, terjal, menikuk, berlobang dan berpolisi tidur tapi harus tetap semangat. Semangat menjalani hidup yang tentu saja semakin menanjak. Tinggal bagaimana kekuatan kita untuk ngesot, merangkak, berjalan, atau berlari di atas jalan itu. Pokoknya semangatlah ya! hehe

"darah itu merah, Jendral!"

25 April 2012

Proses: Tulis-Kerjakan-Tulis

Selamat malam pemirsah ....

Sepertinya sudah lama sekali aku tidak mencoret-coret web ini. Maklum orang sibuk (main). Aku jadi bingung mau posting. Terlalu banyak kejadian yang berseliweran hingga kemudian aku terlupa dan ... lenyap.

Benar petuah dari tetua EO-ku:
Tulislah apa yang akan kamu kerjakan! Kerjakan apa yang sudah kamu tulis!
Menulis membuat seseorang akan mengingat, karena dalam proses menulis itu sendiri, penulis merasakan proses tersebut. Ketika melakukan proses itulah, rasa yang kemudian memunculkan emosi: DATANG!

Ya gak apa-apa lah ya aku posting sesuatu gak penting. Haha, sebenarnya sudah setengah sadar antara ngantuk-dan-pengen-nulis-sesuatu :)

Yah, semoga uneg-uneg ini bisa kujadikan memori ketika aku berproses menjadi hal tertentu.

28 February 2012

Aku, Kamu, Dia: Judika - Bukan Dia Tapi Aku

Setelah sekian lama menyimpan lagu ini di dalam playlist mp3 HP, ternyata lagu Judika: Bukan Dia Tapi Aku sangat keren! *ulang sekali lagi biar dramatis* SANGAT KEREN! KEREN! KEREN!

Lagi-lagi aku nyesek juga kalau lama-lama mendengarkan lagu ini. Tapi beginilah aku: akan selalu mendengarkan-memutar-menyanyikan lagu yang baru kusuka sampai aku bosan #ketawajin.

Ngemeng-ngemeng soal nyesek. Gimana aku gak nyesek? Berpadu dengan suara sekseh vibra Judika dengan liriknya yang so sad abis, kalau misalnya aku lagi patah hati, aku bakalan semakin nangis darah sampai anemia kalau dengerin lagu ini. Untungnya, pas gak lagi patah hati. Hehehe.

Lirik lagu ini memang menggetarkan hati. Ya sesuailah dengan suara vibra si Judika--8 skala R.

Berkisah mengenai seorang lelaki (Aku) yang ternyata diselingkuhi oleh pacarnya (Kamu). Dan cowok itu (Dia) tidak mengetahui bahwasanya si Kamu telah berselingkuh. Akhirnya, si Aku memilih untuk mundur dan meninggalkan si Kamu dengan orang lain. Padahal, si Aku telah berusaha untuk memahami dan memaafkan si Kamu tapi si Kamu tetap mengulangi kesalahan yang sama.

Sedikit kutipan lirik:
berulang kali kau menyakiti, berulang kali kau khianati, sakit ini coba pahami, kupunya hati bukan tuk disakiti
>> ini perselingkuhan yang dilakukan oleh Kamu.

Bagi yang sedang patah hati karena pacarnya selingkuh, lagu ini sangat cocok buat kamu. Ya, bukannya doain kamu biar patah hati, tapi paling tidak kamu merasakan pahitnya patah hati supaya kamu lebih bisa menghargai cinta, dan memaknai kesungguhan cinta.

Ketika kamu mengalami patah hati, di sisi lain kamu akan menjadi seorang yang sadar akan pentingnya kesetian, romantisme cinta, dan kepercayaan.

11 February 2012

Menulis Cerita, Apa yang harus ditulis terlebih dulu?


SOP (Seputar Obrolan Penulisan) CeKers 01 (11 Februari 2012)
Tema: Menulis Cerita, Apa yang harus ditulis terlebih dulu?

Ide udah dapet. Jalan cerita udah kebayang. Sampai endingnya pun sudah kepikiran. Nah, pas mau mulai nih, kok jadi bingung bener ya apa yang mau ditulis. Nah, kalo bingung, jangan lupa tanya ke pulisi. Buat apa kita bayar (pajak) mahal kan? Nah loh apa hubungannya sama pulisi ya?

Lanjoottt! Nah, biar nggak bingung, begini aja deh. Ketika akan mulai menulisan jangan lupa ini ya:
Pertama, mandi dulu biar otaknya encer. Imajinasinya mengalir. Nah, kalo sudah mandi, ya bolehlah lanjut ke no 2. Kedua, Pakai baju dulu ya. Jangan lupa celana juga. Ya, iyalah masak telanjang. Malu sama Boboho. (Apa hubungannya yak? Bodo amat ah!) Nah, yang Ketiga, duduk manis. Jangan lupa minum susu, teh hangat, atau embat cokelatnya Bunda. Asal jangan icip-icip kopinya Ayah ya. Eh, sambil tiduran juga boleh. Kalo sudah, lanjut ke no 4. Nah loh, kapan mulainya nih.

Jika sudah siap semuanya, baru deh ini step stepnya:

1). Siapkan sinopsis
Cerita singkat mengenai keseluruhan ceritamu. Itu yang tadi nongol diimajinasi itu. Singkat aja tapi harus jelas ya.

2). Kerangka cerita
Adalah alur cerita yang akan kalian uraikan.

Setelah kedua langkah itu kamu siapkan, maka sedikitnya kamu tahu bagaimana membuka cerita. Karena, dalam kerangka cerita itu sendiri sudah ada atau sudah terlihat alur ceritanya. Alur maju yang nggak mundur-mundur atau alur mundur yang nggak maju-maju. Atau alur bingung, alur maju mundur. Kok jadi keinget setrikaan ya.

31 January 2012

Aku tanpa Saya dan Kamu tanpa Anda

bukan karena aku egois, tapi aku ingin mendekatkan diri :)

Hahahah :D saya mau curhat untuk yang entah kesekian kalinya....

Sebenarnya bukan curhat galau seperti ababil (ABG labil) tapi galau karena nemu sesuatu yang ternyata gak enak untuk diteruskan.

Sudah saya pikirkan sampe rambut jadi pendek, sudah saya timbang sampe pinjem timbangan di tetangga sebelah, sudah saya rasakan hingga hati saya rasanya berantakan, dan sekarang saya putuskan: Gimana kalau kata SAYA dalam posting-posting saya, diganti dengan kata AKU.

MULAI SEKARANG, SAYA, mengganti diri menjadi AKU. DAN ANDA menjadi KAMU.

Butuh alasan? *sila dibaca :)

Sebenarnya kenapa dulu aku pakai 'saya' dan 'anda' karena lebih ke ungkapan santun dan rasa hormat. Cuman setelah aku rasa kembali, aku jadi berpikir, "Kok berasa JAUH gitu ya??"

Aku punya cerita ^^

Di salah satu jurusan di fakultas tempat aku 'ngampus' (mau ngetik kuliah kayaknya berat betul) aku sempat heran ketika ada seorang teman yang menyebut nama dosennya yang sudah sepuh dengan panggilan MAS. Lalu aku bertanya dengan temanku itu.

Aku: panggilnya, MAS?
Teman: iya. Biasa kok kalo ditempatku mah gitu semua. Kalo cewek, panggilnya ya MBAK.
Aku: kok bisa gitu?
Teman: ya, sebenarnya sih gini. Kami mengakrabkan diri dengan panggilan itu. Nggak pandang bulu (kayak apa aja, ingetnya aku cuma bulu kucing) mau tua apa muda. Biar gak ada jarak di antara kami, dan terlihat deket.
Aku: nanti disebut gak sopan?
Teman: nggak juga ah. Tinggal mahasiswanya aja pandai bawa diri. LAgian di tempat kami emang sudah biasa gitu, dan dibiasakan.
Aku: .... *manggut-manggut*

Yak, dari situlah aku berpikir. Okelah, aku pingin mendekatkan diri dengan pembaca blogku *emang ada yang baca? | aku kan PD :P*

Adakah cerita lagi? Tentu ada....

Mulanya aku heran, ini kenapa si dosen seneng banget berucap 'aku' padahal lagi dalam keadaan formal (mengajar di kelas). Kok kayaknya gak sopan, gitu kan. Akhirnya aku jadi sadar. Ada salah seorang mahasiswa "kesayangannya" yang juga seringkali berucap seperti itu. Beliau memilih menggunakan kata 'aku' dari pada 'saya'. Mulanya memang terkesan EGOIS ya, tapi ahh gak juga. 'Aku' dipilih untuk mendekatkan dirinya kepada orang lain, kepada seseorang yang tengah diajak bicara.

Jadi, ya beginilah jadinya AKU tanpa SAYA, dan KAMU tanpa ANDA :)

29 January 2012

Perhatian Si Uda Warung Makan Padang

Dari kemarin malam, saya memang belum makan nasi (tapi makan mie dan cemilan, serta susu kedelai). Saya memutuskan sore ini untuk makan nasi padang, mendobel makanan tadi pagi dan tadi siang. Saya membeli nasi padang di warung makan padang tempat biasa saya beli. Sebetulnya saya gak sering ke situ. Tetapi.... Ya, beginilah ceritanya.

Dua hari yang lalu saya potong rambut karena ya tahu sendirilah "sesuatu" membuat saya agak stress. Ditambah pula bentuk rambut saya yang memang ikal, bergelombang, mengembang, kering--tapi ini bukan roti kering-- dan susah di atur, dan satu lagi, bersalju *silakan ditebak sendiri maknanya*. Jadi saya memutuskan untuk potong rambut sampai habis, tapi gak sampai plontos. Saya memotong rambut sampai setengkuk.

Hmmm....dulu saya memang pernah potong rambut pendek, tapi yang ini lebih pendek lagi.

ini potongan yang dulu, sekarang lebih pendek lagi dan lebih chubby >.<
Orang-orang yang sering melihat saya, sudah terbiasa dengan penampilan saya yang berambut panjang. Hingga akhirnya saya memotongnya. Dan hasilnya? Ya begitulah :D

Oke, kembali ke topik.

Tadi saya membeli makan nasi padang, dan si mas penjual atau biasa dipanggil Uda itu mengucapkan sesuatu yang tidak saya duga #sumpahdemiapa? *kalo kata Moammar Emka dijawab begini: DEMI.....kianlah cintaku kepadamu #eaaaa*

14 December 2011

Shooting Film Hari Ke-1

crew PRANESTRA PRODUCTION

Maaf mbro, sudah beberapa minggu ini gak pernah posting. Ada hal-hal tertentu yang menyita seluruh perhatian saya, tidak terkecuali pacar saya yang harus saya diamkan ketika saya tidur *yaiyalah*.

Oke, beberapa minggu ini saya khususnya kami (PRANESTRA PRODUCTION) sibuk mempersiapkan shooting film (gak layar lebar) dan juga drama. Shooting (selanjutnya akan ditulis syuting biar gak ribet) dan drama ini adalah bagian dari tugas akhir untuk matakuliah Dramaturgi. Asik!

Ternyata, bikin film itu gak segampang yang saya pikirkan. Mulai sekarang saya tidak akan mencaci film, atau sinetron sekalipun *meskipun terkadang masih suka bawel ketika liat artis sinetron yang kaget bisa di shoot sampe 5 menit*.

Pranestra Production terdiri dari saya sebagai Sutradara (hahaha....sutradarah macam saya bakal bikin film parno) dan tokoh Ibu, Liu sebagai asisten sutradara dan tokoh Kakak, Ardi sebagai kameramen I dan pembuat naskah, Septi sebagai kameramen II, Nina sebagai manager produksi, Dilla sebagai unit manager dan Ibu penggosip 1, Ciprut sebagai penata artistik dan Ibu penggosip 2, Lilis sebagai klipper, Riski sebagai penata lampu dan pemeran utama (Adek autis).

29 November 2011

USAHA dan SABAR untuk "SESUATU"

Setiap manusia, tidak terkecuali saya, senantiasa berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Sesuatu yang berujung dengan kebahagiaan, cita-cita, cinta, impian, dan sebagainya. Tidak ada kata menyerah untuk mendapatkan sesuatu itu. Meskipun, proses untuk mencapai sesuatu tersebut tidaklah mudah.

Adakalanya putus asa, merasa tidak percaya diri, minder, capek, tidak sabar, dan rasa yang lain itu adalah sesuatu yang harus disyukuri sebagai “bumbu” untuk meraih apa yang diinginkan.