Showing posts with label Ornamen Cinta. Show all posts
Showing posts with label Ornamen Cinta. Show all posts

12 June 2013

Tentang Rasa yang (Mungkin) Ada

Aku belum pernah membicarakan cinta kepadamu. Aku juga belum pernah memintamu untuk mengisi hatiku. Tapi tanpa itu semua, kamu mestinya tau tentang rasaku padamu. Tentang rasa yang mungkin tak pernah nyata ada, yang tak pernah nyata terlontar dari mulutku. Tentang semua rasa yang kusimpan diam-diam meski aku tak pernah bisa untuk menahannya. Dan kamu mengamini. Lantas kita dengan pendirian yang sama, harus saling menjauh. Aku memberi batas maya demi lelaki penghidupan nyataku. Maafkan aku.

*thanks a lot to mr. f

31 March 2013

#4

Selamat Tinggal

Seiring kepergiaanya, mata ini memanas.
Memproduksi bulir bening yang kutahu bernama air mata.
Yang tiap tetesnya mengandung milyaran rasa luka, duka, lara.
Mengalir begitu saja.
Seperti rasa yang dulu kupunya.
Yang tersemai apa adanya.
Lantas sekarang?
Selamat tinggal, cinta! 

310313

29 March 2013

#3

Rasa Cinta

Kunamai dia Cinta.
Yang datangnya perlahan.
Menggetarkan. 
Bahkan, terkadang tak kenal waktu maupun usia.
Yang jika dia datang bertubi-tubi, mampu membutakan pikiran.
Setiap orang pasti pernah merasakan.
Cinta datang di antara dua insan.
Bahkan lebih. 
Untuk yang terspesial.
Untuk yang teristimewa.
Untuk semua manusia.
Andai Cinta bernyawa, tak terhitung lagi banyaknya rasa yang berkeliaran di alam raya. 

29032013

23 January 2012

#2

aku gila, tanpa kabar dari sebelah nyawa
seperti semut yang menginginkan gula
seperti kering yang merindukan basah

aku gusar, tanpa kabar dari mata liar
seperti simfoni yang kehilangan melodi
seperti senja yang bimbang di antara siang dan malam

aku lenyap, tanpa kabar dari penjaga gelap
seperti daun yang berguguran
seperti embun yang menguap pelan

aku... merana!

02 October 2011

#1

Aku merindukamu tanpa syarat.
Tanpa kata terucap.
Hanya tatap mata nanar yang bisa aku ungkap sebagai tanda betapa rasa itu membuncah mememuhi jiwa.
Mata sendumu yang selalu membuatku nyaman untuk menatapnya selalu membuat ragaku tak terkendali untuk menemuimu.
Hanya untuk sekedar pelepas dahaga rindu yang tak bisa terelakkan.
Jika kamu menginginkan aku mengucapkan kata rindu, kamu takkan pernah mendengarnya.
Berjuta kata yang terucap takkan mampu mewakili buncahan rasa rindu yang aku rasakan.
Yang rasanya membuatku limbung ingin pingsan karena jiwaku tak lengkap tanpa adanya dirimu di sisiku.
Penglihatanku seakan buram karena tak ada cahaya darimu yang menyinari segala penghidupanku.
Gerak langkahku seakan tak dapat lurus karena tak ada kamu yang memapahku untuk menunjukkan jalanku.
Semuanya tentangmu.
Aku membutuhkanmu.
Salahkah aku?