11 July 2024

Orang-Orang

Banyak yang mencela
Banyak yang mencibir
Banyak yang tetiba menusuk dari belakang

Mau bilang capek, tapi bahkan aku masih bisa tidur dengan nyenyak di kasur yang empuk
Mau bilang payah, tapi bahkan aku masih bisa makan dengan kenyang

Mau bilang apa lagi?
Ya Alloh, betapa kurang bersyukurnya aku

Mudahkanlah jalan kami ya Alloh


11072024
-ts

18 February 2024

Sinopsis Drakor Welcome To Samdal Ri Episode 1

Cerita berawal dari kisah pertemanan antara Cho Yong Pil (diperankan oleh Ji Chang Wook) dan Cho Sam Dal (diperankan oleh Shin Hae Sun) sedari kecil--bahkan dari bayi, karena mereka lahir bersamaan. Mereka adalah penduduk Pulau Jeju. Di episode pertama, langsung bercerita ketika mereka sudah dewasa. Mereka sempat pacaran dan akhirnya putus.

Cerita perjalanan cinta mereka dibungkus dengan genre komedi. Pecinta drama komedi romantis, wajib nonton ini sih. Lanjut, Samdal mengejar impiannya menjadi fotografer handal di Seoul, sedangkan Yong Pil masih bertahan di Jeju bekerja sebagai PNS di pusat cuaca pulau Jeju.

Yang kocak nih, doi ini sangat sangat hapal di luar kepala tentang cuaca di Jeju dan tidak percaya dengan hasil analisa data ilmiah. Jadi, saking ngeyelnya, doi sering berantem sama pimpinan dan sering pula menyanggah dengan teriakannya ketika meeting video dengan komisaris pusat.

Yang masih jadi pertanyaan, Yong Pil ini sudah dapat panggilan untuk pindah ke kantor pusat di Seoul, dengan gaji dan kedudukan yang lebih tinggi tentunya. Tapi doi tetep gak mau. Kira-kira kenapa ya?

Ganti ceritain si Sam Dal, ya. Oke, di Seoul Samdal sudah mendapatkan popularitas sebagai fotografer handal. Ia dikenal dengan nama Cho Eun Hye. Ia tinggal di Seoul bersama 2 saudaranya dan 1 ponakan--orangtuanya menetap di Jeju. 

Sam Dal  memiliki pribadi yang optimis dan yakin bahwa dirinya adalah yang terbaik. Hingga akhirnya dia dikhianati oleh asisten yang bekerja dengannya. Mulai dari pacarnya yang dirayu hingga mau selingkuh dengan asisten itu; sampai saking irinya, si asisten bunuh diri di gedung yang rencananya akan dijadikan tempat pameran Sam Dal. Tapi asistennya ini gak meninggal gaes, doi masih selamat dan dirawat di RS.

Nah, berita yang beredar bener-bener nyalahin Sam Dal. Yang katanya asistennya sering kena bully lah, diperintah seenaknya lah, pokoknya yang jelek-jelek. Hingga akhirnya, seluruh artis yang sudah membuat kontrak kerja sama pameran dengan Sam Dal membatalkan kontraknya. Dan, pameran gagal diadakan.

Saking stressnya karena diuber-uber sama wartawan, 3 bersaudara ini akhirnya pulang kampung ke pulau Jeju. Tetiba mereka sudah berada di depan rumah orang tuanya. Orang tuanya yang baru pulang dari pantai pun shock.

Bersambung yaa.... Unch, kasian ya Sam Dal. Apakah di episode selanjutnya akan terkuak siapa yang salah antara Sam Dal dan asistennya?

Lalu, apakah Yong Pil menerima undangan untuk bekerja di pusat? Apa alasannya sampai doi gak mau berangkat ke Seoul?

Dan, mengapa tiba-tiba Sam Dal dan kedua saudaranya memutuskan kembali ke Jeju, padahal doi dari dulu bersikeras untuk tidak kembali ke pulau Jeju?

Okelah! Cukup sampai di sini dulu ya. Nantikan sinopsis episode keduanya.

Terima kasih sudah mau membaca tulisan ini.

Jangan lupa komentar positif untuk tulisan ini maupun untuk aku, biar aku makin semangat menulis blog. Sehat dan bahagia selalu yaaaa ❤

.

.

.

19 November 2023

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Kalian tentu pernah mengalami ini: ketemu temen yang sudah lama gak pernah jumpa, bahkan setelah 20 tahun.

Gimana perasaan kalian? Harusnya seneng dan bahagia yaaa. Terus peluk-pelukan, cipika-cipiki, yaaa minimal tanya kabar. Tapi ini gak berlaku buatku kemarin. Bukan kemarin sih, tepatnya satu setengah tahun yang lalu.

Kok bisa?
Yaaa, kenyataannya bisa. Hahahah.
Kamu pasti orangnya sombong ya?
Enggak yaaa, yakin. Aku sudah pengin banget nyapa dan nanya kabar satu setengah tahun yang lalu. Tapi apalah daya... rasa maluku mengalahkan logikaku.

https://imgcdn.solopos.com/@space/2023/07/Pameran-Seni-TKMTS-di-Lokananta-2.jpg
Makanya baca dulu ceritanya ya.

Satu setengah tahun yang lalu.
Aku bertemu dia pertama kali ketika aku mengantarkan mba Shanum sekolah TK A. Jadi, gak sengaja ketemu pas nganter anak sekolah gitulah gampangnya. Tapi aku ataupun dia gak langsung saling sapa. Entah mungkin karena mau memastikan lagi apakah itu memang aku temennya, atau gimana aku gak tau.

Sedangkan aku? Aku sangat ingat dia teman sekelasku waktu kelas 2 SMP. Ya, aku ingat sekali wajahnya walapun sekarang dia pake jilbab. Tapi, yang jadi masalahnya adalah aku terlalu malu untuk mengakui bahwa aku hanya ingat julukannya, bukan namanya T.T dan aku juga beranggapan, "iya kalau dia inget aku, kalau enggak?"

Kan parah banget yak. Udah gak tahu namanya, cuman tau nama julukannya, dan itu bukan julukan yang bagus :( Ada yang pernah dalam posisi seperti ini? Coba sharing cerita di komentar :) buat pelajaran kita selanjutnya.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, setiap kami gak sengaja ketemu pas jemput anak sekolah, pasti kami cuma saling lihat-lihatan gak berani saling sapa. Unik sih ini hahaha. Hingga sampai pada akhirnya, kemarin itu, pas aku melewatinya karena anak-anak sudah keluar kelas, dia nyapa aku dong T.T aaaaaaakkkk pengin nangis. Terharu akutuuuuu.

"Eh, dirimu temeku waktu SMP dulu kan, Santi bukan?"
Dengan terharu aku merangkul pundaknya sebagai permintaan maaf juga, sebab aku melupakan namanya :(
"Ho'o. Ya Allah, akutu inget kamu, cuman aku lupa namamu, cuman inget julukanmu aja. dulu kan kamu seringnya dipanggil itu, jadinya itu yang diinget. Maaf yaaa huhuhuhu."
Yakin pas ini, aku beneran yang terharu banget karena dia sudah menyapaku duluan.
"Ya, wis. Yoo kenalan lagi"
Kemudian kami berjabat tangan, dengan dia memberitahukan namanya.

Dan akhirnya setelah satu setengah tahun, aku mengingat kembali namanya. PLONG banget gak sih rasanya.

Alhamdulillah, hilang sudah rasa bersalahku sebab hanya mengingat julukannya, sehingga aku tidak berani menyapanya. Dan, obrolan kami berlanjut hingga sekarang. Ketika kami saling berpapasan ketika menjemput anak-anak, kami sudah tidak diem-dieman lagi. Kami sudah bisa saling bertegur sapa maupun terlibat obrolan singkat.

Walupun sampai saat ini aku belum berani bertukar nomor ponsel, tak apa. Yang penting kami sudah saling sambung silaturahmi. Benar kata pepatah, TAK KENAL MAKA TAK SAYANG. Dan cerita ini telah mendeskripsikan itu.

Bahkan mengenai pepatah itu, aku pernah membatahnya di postingan bertahun-tahun yang lalu DI SINI ketika aku mengenal seorang perempuan satu daerah kos, satu fakultas, dan sering ketemu pas jalan kaki. Dia tidak tahu namaku, pun aku juga tidak tahu namanya, tapi kami sering saling sapa. Di baca aja sendiri yaaaa >>> Tak kenal (bukan berarti) tak sayang.

Okelah! Cukup sampai di sini dulu ya.

Terima kasih sudah mau membaca tulisan ini.
Jangan lupa komentar positif untuk tulisan ini maupun untuk aku, biar aku makin semangat menulis blog. Sehat dan bahagia selalu yaaaa ❤
.
.
.

19 October 2023

Menikah Bukan Perkara Sah

Ngomongin nikah bakalan gak ada habisnya. Iya gak sih? Walaupun usia pernikahanku baru 10 tahun, tidak menjamin semua yang sudah terjadi berjalan mulus sesuai keinginanku ataupun keinginan suami; keinginan kami. Banyak hal yang terjadi terkadang di luar kendali. Sebab sebaik-baiknya rencana kami, (pasti) lebih baik rencana Tuhan untuk kami.

Tulisan ini kupersembahkan untuk kamu yang mungkin saat ini sedang dilanda pertanyaan "kapan nikah?" atau kamu yang sedang galau karena umur sekian belum ada pasangan, atau bahkan kamu yang sekarang sedang menunggu pujaan hati untuk melamar/menikah denganmu.

Sabar ya, menikah bukan perkara sah. Abaikan saja perkataan orang-orang yang mungkin menyudutkanmu. Abaikan saja prasangka meraka tentang pilihan hidupmu. Abaikan saja!

Ya, sebab hanya akan ada dirimu dan pasanganmu yang akan menjalani hidup bersama, bukan orang lain itu. 

Setuju ya? 😄

https://img.lovepik.com/photo/45009/0032.jpg_wh860.jpg
Dirimu adalah kepunyaanmu. Jika ada yang berpikiran bahwa dengan menikah semuanya menjadi halal dan barokah, ya... iyaaa, memang benar. Tapi prosesnya itu lhoooo, hehehe. Ada step by step yang harus dilalui untuk pernikahan itu bisa berbuah manis.

Gak! Di sini aku gak akan cerita mengenai step by step itu. Aku cuma mau ngasih support ke kamu, bahwa pilihan kamu saat ini untuk menunda pernikahan adalah sudah tepat. Jika kamu belum siap, jika kamu belum menemukan tujuan yang jelas atas hubunganmu dengan calon pasanganmu, maka jedalah sejenak. Sendiri aja dulu. Coba introspeksi diri dulu, dan tanyakan ini pada dirimu;

Apa sih yang aku inginkan dalam hidup ini?
Benarkah keputusanku atas pernikahan ini?
Sudah siapkah aku berbagi dan hidup berdampingan selamanya dengannya?
Bisakah aku menurunkan egoku dan berdamai dengan egonya ketika kami tak seirama?
Apakah aku menerima semua yang melekat padanya, kelebihan dan kekurangannya?

Dan meskipun ini pertanyaan yang kesekian, tapi ini juga penting;

Bagaimana dengan keluarganya? Apakah aku diterima di keluarganya?

Benar adanya jika hanya akan ada kamu dan pasangan ketika telah menikah. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa keluarga seperti orang tua, kakak, adik, tetap akan menjadi lingkungan terdekat yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Kok pertanyaannya banyak? Iya banyak banget, bahkan itu bisa lebih banyak jika memang kamu belum yakin dengan pilihanmu. Karena jika kamu sudah ridho dengan pilihanmu saat ini, makan pertanyaan-pertanyaan di atas tidak akan muncul dan mengganggu pikiran dan kehidupannmu.

Pengalaman ya? :D yaaa, tipis-tipis xixixi.

Karena kujuga pernah mengalami masa ini. Masa-masa bimbang menuju hari H pernikahan. Alhamdulillah, semua berjalan dengan berliku-liku dan sudah terlewati 10 tahun.

Gak papa kuulangi lagi, yaa. Menikah bukan perkara sah. Dan tulisan ini adalah bentuk support aku untuk kamu. Karena tidak semua hal bisa kamu ceritakan ke orang lain, bahkan support system terdekatmu, maka kutulis sedikit pengalaman yang pernah kualami ini untuk kamu. Bukan untuk membuat kamu lebih bimbang, bukan yaa, tapi untuk membuatmu membulatkan lagi tekadmu untuk menikah.

Enak lho, menikah.
Bisa punya teman ngobrol 24 jam.
Bisa punya besti yang siap mendengarkan keluh kesahmu apapun itu.
Bisa punya anak juga xixixixi.
Bisa punya lebih banyak kenalan.
Dan yang pasti kamu punya belahan jiwa 👫

Okelah! Cukup sampai di sini dulu ya.

Terima kasih sudah mau membaca tulisan yang amburadul ini.
Jangan lupa komentar positif untuk tulisan ini maupun untuk aku, biar aku lebih semangat menulis blog ❤ 
.
.
.

07 October 2023

Menjadi Orangtua Baru: Gangguan Kesehatan Mental Ibu

Selamat ya, untuk kamu yang sedang membaca ini, kamu telah menjadi orangtua--menjadi Ayah dan Ibu. Tentu saja tanggung jawabmu juga akan bertambah. Bukan hanya Ibu, tapi juga Ayah. Meski Ibu mempunyai lebih banyak waktu bersama anak, namun tetap saja tanggung jawab untuk membesarkan dan mendidik anak adalah tanggung jawab bersama--ayah dan ibu. Betul ya, buibu?

baru anak 1 :D
Jangan kaget ya, ayah/ibu! Semua orang tua "baru" mengalami hal ini. Asalkan ayah/ibu bergelimang syukur dan ikhlas, semua akan baik-baik saja 😊

Memiliki anak yang baru lahir--bayi memang merepotkan ya ayah/ibu. Tidak sedikit ibu yang sehabis melahirkan mengalami baby blues ataupun juga depresi post partum. Yang keduanya sama-sama merupakan gangguan kesehatan mental ibu selepas melahirkan. Jangan sampai lengah ya, Ayah. Terkadang Ibu yang mengalami baby blues maupun depresi post partum tidak menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan ini.

Kalau aku ditanya, pernah mengalami hal ini? Oh... pernah dong 😁 dan ini terjadi ketika aku lahiran anak pertama. Padahal waktu itu aku masih serumah dengan orang tuaku, harusnya kan seneng ya karena dibantu ibu sendiri. Tapi ya itu, banyak hal yang menyebabkan naik turunnya mental aku atau ibu-ibu yang lain pasca melahirkan. Bahkan terkadang sebabnya tidak terduga. Sensitifnya ibu pasca melahirkan bisa sama bahkan lebih parah dari sensitifnya ibu ketika PMS.

Dari artikel yang aku baca, ada beberapa hal yang memengaruhi kesehatan mental ibu pasca melahirkan;

Yang pertama, psikologis.
Psikologis dari sang ibu ya. Bisa jadi ibu mempunyai riwayat depresi atau kecemasan; ibu memiliki sindrom PMS, karena pasca melahirkan ibu mengalami masa nifas ya; sikap negatif terhadap bayi--hal ini bisa terjadi ketika mungkin bayi tersebut (mohon maaf) tidak diinginkan; hingga riwayat pelecehan seksual; dan yang terakhir penolakan (sikap tidak terima) dengan jenis kelamin bayi yang ibu lahirkan.

ilustrasi prolaps tali pusat
Yang kedua, faktor risiko ketika hamil maupun melahirkan.
Kehamilan yang berisiko tentu saja sangat memengaruhi kesehatan mental ibu. Hal ini meliputi operasi caesar yang tidak terencana, sehingga menyebabkan rawat inap; keluarnya mekonium (feses/pup pertama bayi yang keluar di dalam kantung ketuban--yang normalnya dikeluarkan bayi ketika bayi sudah lahir; prolaps tali pusat (kondisi dimana tali pusat bayi turun melewati janin sehingga menutupi jalan lahir--hal ini dapat menyebabkan bayi kekurangan oksigen); bayi lahir prematur dan atau berat badan rendah; kadar hemoglobin ibu yang rendah.

Yang ketiga, faktor sosial.
Dalam masa kehamilan, selain penyesuaian hormon yang menyebabkan naik turunnya emosi ibu, kurangnya dukungan lingkungan di sekitar ibu juga dapat memengaruhi kesehatan mental ibu. Kekerasan dalam rumah tangga seperti kekerasan seksual maupun fisik pada pasangan juga termasuk dalam faktor sosial. Hal lain yang termasuk juga dalam kekerasan adalah kekerasan verbal, yaaa mirip-mirip sama komentar deterjen, eh netizen hihihi.

Yang keempat, faktor gaya hidup.
Gaya hidup menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) diartikan sebagai cara seseorang untuk mengekspresikan diri melalui aktivitas, minat, dan opini, khususnya yang berkaitan dengan citra diri.  Masih dalam artikel yang aku baca, juga sesuai dengan arti di atas; kebiasaan makan, siklus tidur, gaya hidup ibu--seperti aktivitas fisik dan olahraga,selama sebelum menjalani persalinan hingga pasca melahirkan sangat memengaruhi kesehatan mental seorang ibu.

Dari keempat faktor di atas, dapak kusimpulkan kalau semuanya yang berhubungan dengan ibu dan lingkungannya sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental ibu. Maka dari itu, akan sangat baik jika ibu dan lingkungan di sekitarnya sangat mendukung dan memberi semangat kepada ibu agar ibu tetap "waras".

Saran nih, buat Ayah. Tolong, selalu dampingi ibu dan memperhatikannya. Sebab, terkadang ibu bahkan tidak menyadari dirinya sendiri ketika ia sedang mengalami gangguan kesehatan mental. Contohnya, ibu sering melamun, membentak bayi, tiba-tiba menangis, tidak mau memegang bayinya, bahkan ada yang lebih fatal, seorang ibu bisa (maaf) membunuh bayinya sendiri, dan lain sebagainya.

Harus siaga ya, Ayah! Gak cuma pas hamil aja yang butuh siaga, tapi juga pasca melahirkan. Tahu kan ya, sloga suami SIAGA >> siap antar dan jaga :D  tapi kalau pasca melahirkan mah, siap momong anak dan jaga :) betul ya buibu.... hihihi.

Hayuk bu, yah. Kuncinya selalu menciptakan suasana yang harmonis dan bahagia. Iya, aku tahu, kadang kenyataan tidak sejalan dengan apa yang kita harapkan. Tapi tetaplah tenang dan sabar, roda itu berputar dan sehabis hujan muncullah pelangi. Harus yakin ya ibu/ayah. Gak usah dengerin omongan orangtua/tetangga/saudara ketika mereka berkomentar negatif. Toh, kita yang ngurus dan biayain anak kita, bukan mereka hehehe. Pokoke ibu dan ayah harus kompak yaaa ❤

Wis, ya. Kusudah bingung mau ngetik apalagi. Sebenarnya masih banyak yang mau aku ceritain, tapi untuk cerita di postingan lain saja yaaa. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk ibu dan ayah yang membacanya, dan untuk aku juga ketika mungkin aku sedang dalam keadaan mental yang turun. Sebab ngurus tiga anak juga butuh semangat dan daya juang yang tinggi ya buibu hahaha.

Okelah, cukup sampai di sini dulu.
Terima kasih yang sudah mau membaca tulisan amburadul ini.
Jangan lupa komentar positif untuk tulisan maupun untuk aku biar aku selalu semangat menulis blog ❤
.
.
.

10 September 2023

Jangan Siakan Orangtuamu

Pernah gak sih kalian kepikiran tiba-tiba orangtua kalian meninggal? Nggak kan, ya!

Tapi bagaimana kalau itu benar terjadi? Kalian tiba-tiba menjadi yatim atau piatu, bahkan yatim piatu? 😢

............................

Pagi tadi ketika di kamar mandi tetiba nangis sesenggukan keingat ibu sama bapak. Rindu yang entah bagaimana caranya kubisa salurkan kepada mereka kecuali hanya lewat doa. Kok bisa tetiba nangis? Biasa, kadang kalau udah di kamar mandi, dan bilik termenung bawaannya pikiran ke mana-mana :)) entah, kayaknya kamar mandiku ada apa-apanya. Hahaha....

Bapak dan Ibuk waktu wisuda Mas,
dan aku yang sedang ujian tofle

untuk masuk UGM
Sudah dua kali tiap Kamis malam Jum'at kemarin selalu ketemu sama (sebut saja namanya) Eko di tempat pemakaman. Eko masih bersekolah di tingkat menengah kejuruan. Sedangkan Kakaknya kuliah semester akhir di sebuah perguruan tinggi di Semarang. Lalu orangtuanya, sudah tiada. Ya, aku bertemu Eko karena ia sedang berkunjung ke makam kedua orangtuanya, pun begitu juga denganku :(

Sebagai catatan, kalau di sini, tiap malam Jum'at, tempat pemakaman pasti ramai. Banyak keluarga atapun sanak saudara yang masih hidup berkunjung ke makam untuk mendoakan yang sudah tiada.

Sedih, pastinya iya. Kubandingkan Eko denganku yang sudah berusia 30an dengannya yang masih belasan. Aku yang sudah tua ini--yang sudah punya suami serta tiga anak saja masih merasa kosong karena kehilangan orangtua, bagaimana dengannya? Yang hidup di rumah sendirian--karena Kakaknya sepertinya jarang pulang, yang entah bagaimana ia makan tiga kali sehari, yang entah bagaimana ia berkeluh kesah di tiap harinya, yang entah bagaimana caranya ia jika rindu dengan orangtuanya, dan sebagainya. Banyak terlintas di pikiran aku, bagaimana caranya ia menahan itu semua?

Memang harus banyak-banyak bersyukur agar semua yang sudah terlanjur terjadi tak menjadi penyesalan.

Memang harus banyak-banyak melihat ke bawah agar semua yang lebih kurang daripadamu terlihat jelas.

Memang harus banyak-banyak berdoa agar Tuhan memberikan petunjuknya untuk kita dan kita bisa menerimanya dengan lapang dada.

Hai untuk kamu yang saat ini masih dibersamai oleh orang tua, baik-baiklah kepada mereka. Sayangilah mereka. Jenguklah mereka jika tempat tinggal kalian sudah tidak lagi bersama. Atau jika terkendala oleh jarak, sering-seringlah bertukar kabar via telepon atau panggilan video. Teknologi sekarang sudah semakin canggih, jangan jadikan "tidak punya waktu" sebagai alasan. 

Dan,

Untuk kamu yang saat ini sedang berjuang tanpa orangtua, tetap semangat ya! Kamu tidak sendirian. Kamu masih punya Tuhan yang tidak akan pernah bosan mendengar keluh kesahmu. Yang tidak akan pernah bosan melihatmu menangis tersedu-sedu. Yang tidak akan pernah lelah membersamaimu. Jadilah manusia yang kuat. Jadilah penerus orangtuamu, dan buatlah orangtuamu bangga telah melahirkanmu. Boleh kamu menangis, boleh kamu berkeluh kesah, boleh kamu menjadi lemah, tapi sebentar saja yaaa! Kumpulkan kekuatan, dan buktikan pada dunia bahwa kamu bisa. Kamu tidak lemah. Dan, kamu pantang menyerah.

Gak punya orangtua itu gak enak, ya kan? Jadi buatlah dirimu kelak menjadi orangtua yang baik untuk penerusmu.

Love banyak-banyak untuk kamu yang saat ini berada dalam kondisi ini ❤ 

.

.

.

.

21 August 2023

Anak Ke-3 : Elyn

Baru dibuka lagi blognya setelah sekian lama pensiun. Hahaha, lebih pantes cuti sih pilihan katannya. Dan tulisan ini saya bikin di tanggal ini 21 Agustus 2023. Dan yang di bawah ini adalah ketikan entah tahun kapan, karena Elyn pun sekarang sudah usia 3 tahun.


elyn 2 tahun

Akhirnya, update blog lagi. Hahaha

Gak berasa ya, ternyata sudah setahun lagi. Haha, masak ngisi blog setahun sekali... Sungguh terlalu memang.

Dan, selama setahun ini, saya mengandung anak ketiga. "Hamil lagi, Mak?" Iyak. Hehe... Tumben ya, saya gak nyurhat di blog. Tapi beberapa kali posting tulisan panjang kok di IG tapi hehe.

Dan, lagi, bayi yang saya kandung itu juga sudah lahir. Alhamdulillah, seorang perempuan. Sehat. 19 Juni lalu, tepat di tanggal ulang tahun pernikahan kami yang ke-7.

Ia lahir dengan persalinan normal, meskipun harus mendapatkan induksi terlebih dahulu karena bukaan yang lamban dan saya kesakitan, "ya yang namanya melahirkan ada ya yang gak sakit?" kata netijen.

Dengan berat 3,4 kg dan panjang 49 cm, kami namai ia Misha Evelyn Safaraz. Harapan kami kelak akan menjadi perempuan dengan kebahagian/senyum yang kekal dan dihormati.

Elyn yang sekarang sudah 3 tahun, maafin Ibuk yang sok sibuk sehingga Ibuk belum menulis tentang kamu. Dan sekarang lunas yaaa. Sama seperti Mas Ken dan Mbak Shanum yang juga Ibuk tulis di sini, di blog tempat berkumpulnya curhatan Ibuk. Kelak jika suatu saat kalian sudah dewasa dan Ibuk mungkin sudah tiada dan belum sempat bercerita banyak, kalian bisa mampir ke sini ya hehe.

Terima kasih sudah hadir di kehidupan Ibuk dan Ayah. Tanpa kalian, tentu warna yang kami punya tak akan sebanyak ini. Sebab adanya kalian, hidup kami menjadi lebih berwarna.


13 September 2019

(Tanggalnya) Gigi Susu Mas Ken




Dua pekan lalu, akhirnya mas Ken harus ke dokter gigi untuk pertama kalinya. Dari deretan gigi bawahnya, ada 2 giginya yang sudah goyang-goyang. Mulanya cuma satu. Emaknya pikir, "ah nanti lepas sendiri, Nak, kalau digoyang-goyangin terus." Hasilnya, sebelahnya ikutan goyang juga 😌

Dan bukan hanya itu. Ternyata, gigi goyang yang pertama, di belakangnya sudah ada tumbuh gigi baru.

Dan maknya akhirnya bingung sendiri. Padahal baru beberapa hari goyang, dan gigi pertama yang goyangpun masih belum mau lepas.

Berbekal kegalauan hati, sebab gigi sebelah yang ikut-ikutan goyang dan dikhawatirkan tumbuh baru juga, mas Ken segera kami selamatkan ke dokter gigi.

Mulanya mau cabut satu gigi saja yang pertama goyang, tapi dokternya menyarankan sekalian saja cabutnya, dan meyakinkan emaknya bahwa anaknya akan baik-baik saja.

Waktu itu yang mak pikirin cuma satu, "kalau hari ini dicabut satu, dan dia sudah tahu rasanya cabut gigi, jangan-jangan besok dia tidak akan mau lagi dibawa ke dokter gigi!"

Yawislah, akhirnya mak memantapkan hati untuk mencabut dua gigi mas Ken yang bergoyang-goyang berjoget ria.

Muka mas Ken biasa saja waktu dokter mulai mengulik mulutnya. Kok bisa? Iyalah bisa, sebab mas Ken tahunya dia diajak ke dokter gigi bukan untuk mencabut gigi, tapi untuk menyembuhkan giginya yang goyang-goyang. Dan dia tidak tahu kalau caranya adalah dengan dicabut. Mwehehehehehe. Ini namanya strategi mak 😂😂

Setelah memberikan kapas dingin (yang tidak tahu telah dicampur apa oleh dokter), dokter mulai mecabut giginya satu demi satu.

Mau tahu reaksi mas ken?
"Lho, bue kok loru!" (Lho, bue kok sakit)
Dan dengan muka polos dia meraba bekas cabutan giginya yang ompong dan masih mengeluarkan darah.
"Lho, kok ono getihe!" (Lho, kok ada darahnya)
Untungnya, mas ken tidak menangis di tempat dan saat itu juga 😂

Tapi di dalam mobil, dia sepertinya baru mengerti semuanya, dan dia menangis 😂

Le, ini ceritamu waktu kamu harus kehilangan dua gigi pertamamu. Sebagai tanda, bahwa sebentar lagi, ibuk mungkin sedikit demi sedikit harus rela membiarkan dirimu membaur dengan sesamamu.

Mas Ken, 5 tahun 5 bulan.

10 May 2018

Perpanjang Kartu SIM di Pelayanan SIM Keliling

Lalu lintas makin padat merayap seiring dengan banyaknya penduduk yang lebih memilih menggunakan kendaraan bermotor roda 2 ketimbang roda 4. Kenapa? Tentu saja lebih hemat waktu ya, karena bisa ngepot sana-ngepot sini. Salip sana-salip sini. Hihi.

Demi kenyamanan dan keamanan dalam berkendara itulah Satlantas mewajibkan setiap pengendara kendaraan bermotor memiliki SIM (Surat Izin Menikah Mengemudi). Tak terkecuali saya yang cuma pembalap motor, yang kecepatannya tidak lebih cepat dari laju odong-odong.

Tapi bukan yang pertama kalinya untuk saya tentu saja, kemarin saya memperpanjang kartu SIM saya sebelum masanya habis. Dulu, 5 tahun yang lalu sudah pernah perpanjangan SIM di polres. Tapi itu dulu, sekarang mah semua serba cepat dan efisien. Tidak perlu lagi jauh-jauh ke Polres Pati. Karena sekarang (sudah beberapa tahun yang lalu sih sebenarnya) telah berkeliling mobil pelayanan perpanjang SIM dan STNK keliling.

Untuk Kecamatan Juwana, kebagian hari Selasa. Biasanya hari Senin sudah dibuka pendaftaran di bangunan tengah Alun-alun Juwana (masuk saja) waktu pagi hari.

Untuk pendaftaran perpanjang SIM, kemarin saya membayar 150rb rupiah. Syaratnya hanya membawa 1 fotokopi KTP dan 1 fotokopi SIM. Sesudah membayar dengan menyertakan fotokopi ktp dan sim sim tersebut, Anda akan diberikan no antrian untuk digunakan pada hari Selasa ketika pengambilan berkas di lokasi tersebut.

Di hari Selasanya, saya kembali lagi ke alun-alun Juwana, memberikan no antrian, dan kemudian dicarikan berkasnya sesuai no antrian saya. Bapak tersebut memberikan map berisi berkas formulis yang sudah diisi, fotokopi KTP dan SIM, serta uang 100rb rupiah yang distaples jadi 1 di map tersebut.

Kemudian saya meluncur ke Kantor Kecamatan Juwana. Di situ sudah ada mobil pelayanan SIM dan STNK keliling. Di situ Anda harus memberikan berkas tersebut dan SIM lama yang akan diganti dengan yang baru. Selepas memberikan berkas tersebut, saya menunggu panggilan untuk foto, cek sidik jempol, dan tanda tangan. Taraaaa... Nunggu diprint tidak ada 10 menit, sudah jadi.


Yay!

Oh iya, untuk sim dan STNk keliling ini hanya melayani perpanjangan sim dan pembayaran pajak stnk. Jadi tidak bisa untuk pembuatan SIM baru atau tidak untuk pembayaran stnk 5 tahunan untuk penggantian plat no.pol.

Hihi, terimakasih ya sudah dibaca. Semoga informasi ini bermanfaat khususnya untuk yang masa aktif SIMnya mau habis. Jangan tunggu sampai habis jika tidak mau mengulang dan membuat SIM baru.

15 April 2018

Curhat Kisah POTRET

Hai, maaf ya telat posting. Ini sudah hari Minggu. Hehe.

Mau cerita apa ya... Hmm... Rencananya sih mau ngelanjutin cerita potret, tapi gagal total. Karena saya gak sanggup. Ternyata menerima tantangan dari orang lain itu berat, kamu gak akan kuat #terDilan.

Kenapa berat?

Pertama,
Topik spontan dan ternyata bukan passion saya. Kembali ke tahun 1930 itu bukan perkara mudah. Gak bisa asal njeplak membuat cerita rekaan karena musti tahu latar belakang sosial-budaya yang terjadi di masyarakat pada waktu itu.

Kedua,
Meskipun sudah dapat gambaran kembali ke tahun 1930, tapi untuk menyatukannya dengan tahun ini ternyata lebih rumit dari yang saya kira #ngeles.

Ketiga,
Hal yang paling rumit dari sebuah cerita adalah menyelesaikannya. Iya, menyelesaikan cerita. Dan, cerita potret belum kelar. Dan, ceritanya kacau mau dibawa ke mana. Dan, ah, sudahlah.

Mungkin ada baiknya saya nulis yang mudah-mudah dulu. Yang gak terlalu berat alurnya. Yang gak berat juga topiknya #salahsendiri. Lha yang mudah ya ini, curhat haha.

Biarlah blog ini isinya cuma curhatan tok, yang penting hati saya plong 😀

Lalu apa kabar cerita potret?

Nanti lah ya, kalau mood lagi bagus dilanjutin lagi hehehe

06 April 2018

Potret (Judul Sementara)

Selamat hari Jumat.

Sebenarnya Jumat ini rencana mau review novelnya Permaisuri Dee Lestari yang terbaru Aroma Karsa. Tapi nihh, berhubung saya lagi dapat challenge dari temen gila saya, akhirnya saya terimalah tantangannya.

Paragraf ini dia yang bikin:
"Seorang pria terkejut saat bangun dari tidur, dan berada ditahun 1930, sementara orang2 yang dikenalnya memakai pakaian jaman dulu, padahal pria ini memakai pakaian jaman sekarang dan membawa smartphone. Apa yang terjadi sehingga pria ini terkapar di Rumah Sakit Belanda saat itu? Apa yang terjadi dengan semua orang?"

Challenge-nya, saya disuruh ngembangin ntu paragraf.

Dan, voila! Silakan dibaca 😁

<<<<<<<<<Chek this out >>>>>>>>>>

Seorang pria terkejut ketika mendapati dirinya terlentang di tempat tidur Rumah Sakit dengan keadaan pakaian lengkap yang masih ia kenakan ketika di kantor tempat ia bekerja hari itu. Ia mendongak ke luar ruangan yang ternyata ada banyak orang lalu lalang dengan memakai baju yang lain dari yang biasanya ia lihat. Ia mengerut pelipisnya yang pening. Masih setengah tersadar, seorang suster menghampiri kasurnya dan mengecek komputer yang ada di sebelahnya. Beberapa kabel tertempel di dadanya. Suster tersebut tak memedulikan reaksi dan tatapan pria yang ada di sampingnya itu. Seakan pria itu tertidur lelap.

Dalam kebingungan yang belum ada jawabnya, seorang pria lain yang ia kira dokter datang menghampiri suster tersebut. Ia mengenakan setelan dan jas serba putih.

"Bagaimana keadaannya, Sus? Sudah ada kemajuan?" tanya dokter itu yang dikenali sebagai Dokter Herman lewat papan nama yang tersemat di bajunya.

Suster mengecek data yang ia bawa sekali lagi,  "seharusnya sudah bisa siuman, Dok, karena semua kondisi sudah bagus!"

Pria itu tercekat. "Sus, ini saya sudah siuman masak dibilang belum siuman? Ngajak bercanda suster ini."

Suster dan dokter Herman tidak mengindahkan perkataan pria tersebut.

"Dok, ini saya sudah siuman Dok! Suster, saya sudah siuman! Sussster, lihat ke sini, Sus! Keterlaluan!" rutuk pria tersebut dan kemudian bangun untuk menarik tangan suster. Tak disangka, ia tak bisa menyentuh tangan suster. Tembus. Kepalanya semakin pening.

___

"Ren, hari ini kita shoot terakhir pukul 3 sore ya?" ujar Fatih, manager Rendra. "Kita akan shoot di ruangan terakhir di Villa ini yang paling eksotis. Lain dari pada yang lain," lanjutnya.

Rendra masih sibuk dengan smartphone di genggamannya ketika Fatih dengan semangat membara menceritakan villa yang kini menjadi tempat kerjanya.

"Lain daripada yang lain gimana sih? Perasaan juga sama saja, angker begini bentuknya," rutuk Rendra, bergidik.

Fatih semakin memasang raut wajah tegang, "kata pemilik terakhir Villa ini, ruangan itu dulu adalah ruangan yang dipakai untuk meditasi." Tutur Fatih lirih dan dramatis dengan menambahkan tekanan di kata meditasi.

Rendra melengos.

___

Pria itu akhirnya bangkit. Ia berdiri memunggungi tempat tidur. Ada yang tertinggal di sana. Ya, ada yang tertinggal. Dan ia merutuki dirinya sendiri kenapa hal yang paling tidak masuk akal ini terjadi padanya. Dengan sisa pening yang mereda, ia berupaya membalik badannya, memastikan bahwa yang ada di atas tempat tidur itu adalah guling.

Pria itu menarik napas panjang, kemudian membuangnya kembali.

"Baik, aku siap!"

Ia membalik langkah kakinya pelan-pelan. Mengatupkan kedua matanya.

"Jika memang ini mimpi, semoga mimpi ini segera berakhir. Jika ini kenyataan, hah, sialah aku!" rutuknya.

Setelah berbalik, ia membuka kedua matanya perlahan. Menyiapkan segenap hatinya untuk menerima kenyataan yang akan ia ingat seumur hidup.

Senyap.

Pria itu melihat seseorang yang mirip dengannya tengah berbaring tak sadarkan diri. Ia memakai baju kemeja lengan panjang dengan sedikit kerut di pergelangan tangan. Kancing baju yang terbuka karena beberapa kabel yang tertempel di dadanya. Celana panjangnya juga berwarna putih. Semua putih, selaras dengan warna kulitnya.

"Ini ... Aku?"

Belum genap ia tamatkan rasa penasaran yang membuncah oleh sebab dan harap akan penjelasan entah dari siapapun, tiba-tiba seorang perempuan datang dengan mengendap-endap.

___

Rendra memasuki ruangan itu dengan takzim. Ia berkeliling ruangan yang penuh dengan lukisan taman, villa yang sekarang ia tempati, dan beberapa foto keluarga serba hitam putih. Ia mengamati salah satu foto. Seperti foto keluarga. Ada seorang Pria berjenggot yang berdiri dengan seorang putri di depannya, lalu di sampingnya duduk seorang wanita dan memangku seorang putra. Ia menemukan angka di sudut foto, dekat dengan garis figura "June 1930". "Wow, ini sudah lama sekali," pikir Rendra.

Fatih masih tampak sibuk duduk bersilandengan memangku leptop. Jemarinya sibuk menggeser tetikus, memindahkan foto yang menurutnya layak jual dan tidak.

Sang fotografer, Dito, masih sibuk membenahi area kerjanya. Sesekali mengecek lampu dan kamera. Sesekali Yasmin terlihat membantu Dito, sebelum akhirnya mendekati Rendra.

"Asyik sekali sepertinya," sapa Yasmin ke arah Rendra.

Rendra memalingkan wajahnya ke arah Yasmin. "Eh, iya. Ini, fotonya. Tertulis di sini tahun 1930. Sudah lama sekali bukan?" tanya Rendra kepada Yasmin, yang sesungguhnya cocok disebut sebagai pernyataan.

Yasmin hanya tersenyum. Ia tahu itu, lebih dari yang Rendra dan timnya ketahui.

____

Perempuan itu terlihat sangat memesona. Kulitnya tampak putih, dengan wajah yang merona merah. Ia memakai terusan, ah gaun tepatnya dengan ikatan longtorso dari dada hingga pinggang. Membuatnya tampak ramping dan menyembulkan sedikit dadanya yang membusung.

"Habis main opera di mana perempuan ini?" pria itu tak habis pikir. Ia tahu, perempuan itu tak akan bisa melihat dirinya.

Perempuan itu menuju tempat tidur. Menatap pria yang tengah tak sadarkan diri itu.

"Leon, ini aku Patricia. Kamu masih di sana?"

Perempuan yang bernama Patricia itu tampak gelisah. Ia mendekatkan wajahnya ke kening pria yang ternyata bernama Leon itu kemudian mendaratkan bibir yang merah meski tanpa polesan lipstik.

"Besok aku akan ke sini lagi. Maafkan jika aku hanya bisa sebentar ke sini. Ayah melarangku untuk menjengukmu."

Wajah itu muram. Pelan, ia longgarkan jemari tangan Leon yang terpaut, yang sejak kedatangannya tadi ia raih untuk digenggam.

Pria yang masih tak terlihat itu tertegun. "Leon, siapa kamu? Kenapa kamu bisa mirip denganku? Siapa itu Patricia? Kenapa aku di sini?" Ia menjambaki rambutnya sendiri. Serasa kepalanya tak sanggup menopang banyaknya pertanyaan.

___

"Oke Rendra, semuanya sudah siaap!" seru Fatih.

Yasmin masih memuas bedak dan beberapa polesan lipbalm untuk Rendra ketika Fatih memanggilnya. Yasmin hanya mengacungkan jempol tanda siap kepada Fatih.

Selesai meletakkannya semua peralatan make-upnya, Yasmin memandang Rendra, mengukir hasil kerja kerasnya selama ini. Rendra tersenyum.

"Jangan lama-lama liatinnya, nanti kamu suka lagi sama saya," goda Rendra.

Yasmin hanya membalas dengan senyum kecil. Hingga kemudian mengulum senyum itu cepat, "Rendra, kamu harus siap dannn ... berhati-hatilah."

Lirih ia mengucapkan kata "berhati-hati", seakan tak rela jika kata itu terdengar oleh Rendra. Rendra tak menjawab, hanya membulatkan ibu jari dan telunjuknya, memperlihatkan kesiapannya.

"Ini bukan sekedar pemotretan Rendra. Ada seseorang yang membutuhkan pertolonganmu. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa karena bukan aku yang bisa, tapi kamu."

Dito sudah siap di belakang lensa kameranya, "yok, Rendra di posisi!"

Rendra mulai mengambil posisi di tengah ruangan. Ruangan itu memang lengang. Tak ada kursi dan meja. Hanya lemari kuno yang sempat tadi Rendra mau buka ternyata dikunci, dan pajangan dinding termasuk foto yang ia amati tadi.

"Rendra, saya mau kamu bersila di sana dengan kedua tanganmu bertemu dan taruh di depan dada," perintah Dito sambil memeragakan apa yang diintruksikan olehnya.

Rendra mulai bersila, mempertemukan kedua telapak tangannya dan menaruhnya di depan dada.

"Merem, Ren," lanjut Dito memberikan intruksi. "Oke ... Sempurna! Satuu, duaa, tiigaa ...!"

Cahaya berkilat, dan semuanya gelap bagi Rendra.

___

Dan kisah ini dibikin BERSAMBUNG karena waktunya gak nyandak kurang lama.

Oh iya, judulnya sementara dulu ya. Soalnya masih belum jelas ini kisahnya mau dibawaaa ke mana hahaha.

Kalau ada kripik pedas alias masukan, boleh loh dikomentarin. Biar ada secercah harapan mau dibawa ke mana ini arah ceritanya. Hehehe

30 March 2018

Ketika Bayi Besuk Pasien


Beberapa hari yang lalu, saya dan keluarga menengok tetangga (perempuan, janda, usia 24 th -an) di rumah sakit. Yang sakit anaknya, usia 6 tahunan. Bapaknya sudah tiada meninggalkan anak pertama putri (yang sedang sakit) dan kedua putra.

Kasihan, tentu saja. Dan yang lebih membuat hati siapapun tak akan tega melihatnya, putri tersebut berbeda dengan anak seusianya. Dia berjalan ketika dipapah, bicara seperlunya, sorot mata yang tidak fokus ke lawan bicara, badannya kurus, dan kadang ada liur yang masih menetes dari ujung mulutnya. Iba, pasti :(

Ketika kemarin kami menjenguk, putri (bukan namanya) sudah dipindahkan ke ruang rawat. Mulanya di ruang ICU selama 3 hari karena harus mendapatkan perawatan intensif.

Pembiayaan perawatan Putri sepenuhnya ditanggung oleh BPJS. Ia di rawat di ruangan dengan 3 tiga springbad yang berlapis tirai, kemudian disekat lagi dengan dinding yang berongga sekitar 1,5 meter lebarnya kemudian ada ruangan lagi dengan 3 springbad, sama. Ruangan yg sebelah kiri tadi hanya putri yang menghuni dan ruangan lain yang bersekat itu juga di isi satu pasien, bayi kalau tidak salah karena waktu kami masuk mendekati springbad Putri, pasien bayi tersebut sedang menangis.

Tapi bukan perkara soal ini yang seharusnya saya ceritakan. Saya menjenguk putri dengan mengajak kedua anak saya. Mas ken dan shanum. Shanum saya gendong waktu itu. Ketika di dalam, ibu dari pasien bayi yang di sebelah tadi berjalan ke arah tempat sampah di dekat saya karena mau membuang sampah tentunya dan berujar, "aduhh, bayinya kasihan mba, kok diajak njenguk pasien."

Pelan, menggetarkan, sekaligus menohok.

Iya, saya tahu mba. Memang tidak patut sebenarnya kalau menjenguk pasien di rumah sakit mengajak bayi. Tapi niat saya InsyaAllah baik :( maafkan ibu, nak.

Yasudalah, mungkin ada baiknya, ya, barangkali saya bisa menjenguknya ketika sudah tiba di rumah (padahal nyawa manusia hanya Tuhan Yang Tahu) atau barangkali bisa dititipkan saja.

Ya, itu mungkin lebih baik.

Hidup mati Tuhan yang menentukan. Kami hanya berusaha berbuat baik untuk orang lain. Semoga direstui, amin...

23 March 2018

Mas Ken (Daftar) TK


Tgl 14 Maret kemarin mas ken daftar sekolah. Iya, sekolah. Kau sangat bahagia Nak. Menikmati setiap jalan dan ruang yang kita lewati. Bungah dan sumringah engkau tunjukkan lewat senyum paling merekah. Ahh, ibukmu ini  terlalu melow untuk melepasmu ternyata Nak. Baru pendaftaran saja ibukmu ini sudah  gelisah.

Kamu bertanya banyak hal yang membuat ibu sampai bingung karena di antara pertanyaan yang kau ajukan, ibuk sedang mengisi lembar demi lembar formulir pendaftaran. Bukan hanya selembar dua lembar, nomor halamannya hingga no.12 dan itu rangkap 2--karena mas ken daftar TK A dan sekalian dititipkan.

Ternyata mau masuk sekolah TK saja pertanyaannya selengkap itu sekarang. Beda dengan yang dulu waktu saya masuk TK, paling cuma bawa akta dan KK sudah selesai. Gak pakai tanya-tanya soal lingkungan tempat tinggal atau kapan kamu mulai bisa berinteraksi dengan dunia yang fana ini?

Mas ken akan genap 4 tahun, tanggal 2, bulan depan. Sudah pantes kan ya kalau masuk TK kecil. Badannya memang bongsor. Berat badannya 25 kg -_- gak papa ya Nak, yang penting kau segar dan aktif.

Oke, untuk berhitung dan bernyanyi huruf Hijaiyah kamu sudah bisa. Tinggal warna saja Nak. Iya... Warna. Ibuk sampai gemes kalau tebak-tebakan warna sama kamu.


Ah, sudahlah Nak. Ibuk yakin nanti engkau bisa menyebutkan warna dengan baik dan benar.

Nak, sudah siap kah kau untuk bersekolah?

Sepertinya ibuk masih setengah hati melepasmu, Nak.

15 March 2018

Kebetulan Atawa ....

Baru-baru ini, saya kontakan WhatsApp sama temen-temen SMA dulu. Bukan, bukan temen, lebih ke sahabat sebetulnya.
Akhirnya, saya menemukan mereka di jejaring Facebook--selama ini kami kehilangan kontak. Sungguh Mark, terima kasih kamu sudah menciptakan Facebook.

Setelah 10 tahun, saya akhirnya bisa bertemu (di facebook) dengan sahabat SMA saya. Sebenarnya sudah lama saya mencarinya di search engine-nya google, dan akhirnya ketemu di Facebook. Setelah saling meng-inbox, kami saling bertukar nomor WhatsApp.

Setelah ngobrol, bertukar informasi dan sebagainya, ia pun bertanya salah satu sahabat terbaik kami juga. Syukur saya sudah punya kontak WA nya, grup pun akhirnya saya buat.

trio wek wek

Begitulah nama grupnya. Karena kami bersahabat bertiga, 3 tahun di SMA dan tak pernah sekelas. Entah ya, saya lupa gimana caranya kita dulu pernah kenal 😁😁 entar deh, saya tanyakan ke grup hahaha.

Dari triok wek wek ini rasanya saya terlempar ke masa lalu yang lain. Ketika saya masih bau kencur, ketika saya SD, SMP, SMA, dan kuliah. Ternyata banyak sekali trio yang sudah saya jalin. Kebetulankah?

Nama Saya, Tri Susanti. Anak ketiga dari empat bersaudara. Almarhum simbah kakung pernah bercerita kalau Tri itu artinya tiga, dan Susanti itu bareng-bareng. Jadi lengkapnya tiga orang barengan--dulu niatnya gak bakalan mau punya anak lagi, eh nongol si adek.

Tiga orang barengan, begitulah kebetulannya.

Dari masih bau kencur, saya mainnya sama temen depan rumah dan anak dari karyawannya simbah--sudah almarhumah saat SD.

Waktu SD trio wek wek sama si cerewet dan si rambut keriting--kayak eike.



Waktu SMP, masih bertahan sama trio wek wek ketika SD karena sering pulang-pergi sekolah barengan.

Waktu SMA trio wek wek SD/SMP masih berlanjut hahaha karena kebetulan memang satu sekolah terus.

Selain itu juga ngegrup sama si cerewet yang aslinya Jawa Timur dan si diam-diam menghanyutkan.

Selain itu juga ngegrup sama kecil-kecil cabe rawit dan si melankolis abis.

Waktu kuliah ngegrup sama kecil-kecil cabe rawit dan si melankolis abis. Di samping itu juga ngegrup sama si modis yang ceplas-ceplos dan si melankolis abis.

Dari beberapa trio wek wek yang sempat saya gabung di dalamnya memiliki karakter yang berbeda ya--baru nyadar setelah nulis ini. Dan kenapa setiap grup ada kesamaan? Barangkali karena kesamaan itulah yang membuat trio wek wek nyaman?

Saya tidak pernah mengira saya akan bertemu dengan mereka. Bahkan saya tidak menyangka jika memang benar apa yang telah diujarkan oleh almarhum Simbah kakung. Kami saling mengisi, bertiga.

Ah, sudahlah. Sahabatku yang tertulis di sini ataupun tidak, semoga sehat selalu menyertai.... Amin

Love

09 March 2018

WARNING! Jangan Tinggalkan Bayi Tidur Sendiri

Kenapa Buibu? Gak seneng ya baca judul post saya? Sama, saya juga bete sama judul yang saya bikin sendiri.

"Ah ibu kan enak punya irt? Jadi ada yang nungguin bayinya ketika ibu tidak bisa menemani..." << Gak bu. Saya hidup dengan suami, anak lanang usia 3 tahun 11 bulan dan bayi perempuan usia 10 bulan. Tanpa irt.

"Ah ibu ada yang bantuin, orantua, tetangga, saudara?" << Alhamdulillah, kadang-kadang saja dibantuin momong sebentar ketika saya harus mandi atau pergi ke belakang.

"Yowis Bu, terus itu kenapa judulnya kok memprovokasi begitu?"

Baik Buibu, begini.

Saya fullday stay di rumah, mengurus rumah tangga dan menjalankan bisnis toko busana muslim offline maupun online. Jadi untuk masak dan beres-beres rumah dikerjakan sendiri. Apakah pernah beres? Tidak. Buibu yang fullday di rumah pasti merasakan yang saya rasakan.

Bangun pagi, nyiapin sarapan untuk suami dan buah hati, masak makan siang sekalian malam, nyapu, mandiin anak-anak. Pun ini terkendala jika si bayi minta kelon (red: tidur ditemani sambil nenen). Yang harusnya pukul 9 sudah selesai, bisa molor sesuai senggangnya.

"Bu, ngelondri ya? Kok gak ada di list PR?" << Kagak bu. Saya mah sesuka hati kalau mencuci baju. Bisa ketika fajar, siang, malam. Hehe, sesenggangnya saja. Alhamdulillah, suami tidak pernah protes. Asal gak kehabisan baju saja sih.

Jujur bu, saya tidak bisa mandi pagi sebelum PR (pekerjaan rumah) nyapu dan cuci perkakas masak dan makan selesai. Kenapa? Bau keringat 😔 jadi saya pasti mandi sekitar pukul 9an hingga 10 pagi, atau ketika gak masak, saya bisa mandi pukul 8 pagi. Dan itu menunggu bayi saya tidur atau ketika ada saudara yang bersedia mengajak si bayi dulu.

Kemarin, ... rasanya tak ingin mengingatnya lagi.

Ketika Shanum (nama anak kedua saya) sudah tertidur, di rumah tidak ada orang. Kebetulan kakaknya, Mas Ken (nama anak pertama saya) sedang ikut Simbahnya. Mba saya yang rumahnya sampingan dengan saya, kebetulan juga tidak ada. Saya pikir, tenang karena tidak ada mas ken yang ganggu dan bisa saya tinggal sebentar untuk mandi.

Byur byur, baru setelah selesai pakai sabun, shanum nangis. Langsung mandi bebek. Cuma lilitan handuk, langsung menghambur ke kamar. Dan shanum sudah di bawah kasur 😥  alias sudah terjatuh dari kasur springbed lesehan, nangis kenceng.

Saya ikut mewek.

Maafkan ibuk, Nak.

Saya perkirakan, shanum kebangun, nangis, nyari ibuknya. Guling-guling tengkurap dan terjatuh.

Kapok.

Sudah, sekali saja Nak. Biarin ibukmu ini bau asem sampai siang. Biarin ibukmu ini gak bisa dandan seger waktu ayah pulang, karena yang terpenting adalah kamu Nak. Keselamatanmu lebih penting dari apapun.

Seha-sehat ya anak-anak ibuk 😚

04 March 2018

Just Wrote!


Alhamdulillah, sudah lama ternyata. Hehe setahun yang lalu terakhir nulis di blog. Kangen? Banget. Ternyata saya tak cukup pandai untuk sekedar berbasa-basi dan menulis hal tak penting yang bisa dijadikan penting di blog ini.

Kok tetiba ingat blog? Ho'oh tumben kan?

Blog menurut saya pribadi sudah seperti bagian diri saya yang tercecer. Remahannya tersimpan di sini. Pernah makan remahan rengginang? Atau iwak peyek? Nah, enak kan walaupun hanya remahan? Ya, begitulah. Hanya remahan, tapi enak dan sangat sayang jika hanya dibuadi begitu saja. Kurang lebih seperti itulah blog ini. Tulisan-tulisan kecil yang mungkin menurut orang lain tak berguna 😀

Hanya menulis!

Ya, postingan ini sebenarnya tidak ada yang berarti. Hanya saja saya sedang kepengin nulis, dan tidak tahu harus menulis dari mana. Oleh karena itu, yaaa menulis saja. Sebagai mula. Sebagai awal. Semoga setelah ini akan muncul tulisan-tulisan yang lain.

Ya, sebagai peregangan jari dan otak hehe. Karena sudah terlalu lama vakum dan hanya menulis status di FB maupun IG.

Yasudalah, anak anak sudah tidur. Pun suami. Saatnya emak-emak strong juga harus istirahat.

See u ❤ 

15 May 2017

Anak Kedua: Shanum

Alhamdulillah, masih bisa nulis lagi meski gak konsisten lagi hehe...



Oh ya, dulu saya belum pernah cerita soal anak kedua saya. Alhamdulillah, setelah anak pertama laki-laki, yang kedua dikasih Allah anak perempuan.

Nabila Shanum Safaraz, begitu kami menamainya. Yang berarti seorang perempuan pintar yang dihormati dan mendapatkan berkah dari Allah. Amin

Ia lahir tepat di tanggal kelahiran saya, 13 Mei di tahun 2017, ketika saya berumur 28 tahun.

Alhamdulillah, selalu kami panjatkan kepada Allah, atas karunia yang diberikan. Seorang putri, setelah 3 tahun sebelumnya Allah kirimkan seorang putra, anak pertama kami untuk menemani kami terlebih dahulu. Lengkap, sudah!

Shanum lahir dengan persalinan normal, setelah 2 hari kontraksi. Ia lahir di klinik bidan dengan berat 3,2 kg, dan tinggi 50cm.

Sholehah ya, Nak.. ❤️

~tulisan diselesaikan tanggal 7 September 2020


21 April 2017

Anak Ke-2: Usia Kandungan 38 Minggu

Tepatnya 2 hari yang lalu, Nak. Ibu, Ayah  dan Masmu, diantar simbah kakung-putri ke dokter obgin langganan Ibu di Pati. Usiamu dalam kandungan Ibu ternyata sudah 38 Minggu. Cepat betul waktu berlalu. Tak terasa sudah 9 bulan kamu membersamai Ibu di dalam rahim.

"Hpl insyaallah 2 Mei (2017)...," begitu kata dokter obginnya.

Senang? Pastinya, Nak. Sebentar lagi Ibu akan segera memeluk wujudmu.

Yang sabar di dalam perut Ibu ya, Nak. Ibu tahu perut ibu sudah terasa sempit untukmu bergerak.

Always love :*

17 April 2017

Anak ke-2: Usia Kandungan Jalan ke-9 Bulan

Alhamdulillahirobbil 'alamin...

Gak terasa, ternyata tulisan terakhir saya jatuh di tahun 2016. Hehe... Maafkan, masih tetep sibuk kuliyah (baca: kuli uyah--kuli garam) dan jualan online di tokopedia bukalapak dan shopee--hah, alesan :p

Kenapa saya menulis lagi?
Jawabannya simpel kok... Karena tiba-tiba saya pengin nulis saja. Hehe.

Percayalah, saya sampai lupa alamat url blog saya. Kirain masih yang pakai threesuntea.blogspot.com ternyata sudah saya ganti :D

Sungguh, sangat usang sekali blog ini. Ibarat besi mah sudah karatan. Sudah tidak berbentuk lagi. Paling isinya cuma curhat haha...dan kali inipun saya juga mau curhat. Sekedar menuliskan fakta yang sekarang saya rasakan, sebelum ingatan hilang menjadi memori tak terbingkai... Ceilah, bahasanya...

Alhamdulillah, hari ini saya, suami, dan kenzie masih diberikan nikmat sehat. Alhamdulillah juga adeknya kenzie sudah mau masuk usia kehamilan 9 bulan. Perjuangan sekali, Nak kehamilan ibu kali ini.

Kalau dulu trimester pertama mual muntah sedikit, hamil kedua ini hingga usia kandungan mau masuk 5 bulan masih huek huek mual, muntah, pusing. Tapi demi kamu, Nak ibu harus kuat.

Memasuki usiamu 9 bulan di rahim ibu, kamu semakin sulit bergerak ya...tapi tendanganmu di perut ibu sangat kuat. Sehat-sehat ya, Nak. Semoga persalinan kita nanti dimudahkan Allah. Amin...

Kami semua menunggu kehadiranmu :*

30 September 2016

Hari di mana Ibu Menyapihmu (Anak Pertama)

Hari ini ibu memang bertekad untuk menyapihmu, Nak. Usiamu sudah 2 tahun 6 bulan kurang 2 hari. Kamu sudah mulai cerewet berbicara :) tingkahmu lucu, bahkan kadang tiba-tiba kamu membuat takjub ibu dengan celotehan atau perilakumu yang tidak biasanya.

Maafkan ibu, Nak. Sejak usiamu 2 tahun, ibu sudah mulai mencari informasi tentang menyapih. Ibu coba cari di google, tapi yang dibahaspun hanya catatan umum. Bukan rincian ataupun deskripsi lengkap tentang tatacara menyapih.

Ibu juga sudah mencari informasi dari ibu-ibu muda yang lain, mereka juga bingung, bahkan ada yang hingga 3 tahun masih belum bisa disapih.

Akhirnya, ibu mencari informasi dari simbah dan budhemu, Nak. Juga dari tetangga-tetangga.

Dan ibu mencobanya hari ini.
Hari di mana ibu menyapihmu.
Hari di mana ibu tidak akan sedekat dengan kamu ketika menyusuimu.
Hari di mana ibu merasa berdosa karena telah membuat susah tidur.
Hari di mana ibu membuatmu menangis karena tidak bisa menyusu pada ibu.

Maafkan, Nak. Tapi inilah kewajiban ibu. Membiarkanmu tumbuh dewasa...

Jahat memang, menaruh empedu ikan di area tempat menyusui. Kamu bilang, "pahit, pahit..." dan membersihkan lidahmu dengan tanganmu sendiri. Kamu merengek, dan ibu hanya bisa menangis dalam hati.
"Mas kan sudah besar, jadi nenennya pahit..." berulang-ulang ibu katakan itu kepadamu, Nak supaya kamu mengingatnya :(

Dan, kamu menangis ketika mengantuk berat... huhu...sungguh gak tega ibu liat kamu.

Maafkan ibu, Nak...
Ibu selalu sayang kamu...