Selamat Datang
Menu
11 July 2024
Orang-Orang
18 February 2024
Sinopsis Drakor Welcome To Samdal Ri Episode 1
Cerita berawal dari kisah pertemanan antara Cho Yong Pil (diperankan oleh Ji Chang Wook) dan Cho Sam Dal (diperankan oleh Shin Hae Sun) sedari kecil--bahkan dari bayi, karena mereka lahir bersamaan. Mereka adalah penduduk Pulau Jeju. Di episode pertama, langsung bercerita ketika mereka sudah dewasa. Mereka sempat pacaran dan akhirnya putus.
Cerita perjalanan cinta mereka dibungkus dengan genre komedi. Pecinta drama komedi romantis, wajib nonton ini sih. Lanjut, Samdal mengejar impiannya menjadi fotografer handal di Seoul, sedangkan Yong Pil masih bertahan di Jeju bekerja sebagai PNS di pusat cuaca pulau Jeju.
Yang kocak nih, doi ini sangat sangat hapal di luar kepala tentang cuaca di Jeju dan tidak percaya dengan hasil analisa data ilmiah. Jadi, saking ngeyelnya, doi sering berantem sama pimpinan dan sering pula menyanggah dengan teriakannya ketika meeting video dengan komisaris pusat.
Yang masih jadi pertanyaan, Yong Pil ini sudah dapat panggilan untuk pindah ke kantor pusat di Seoul, dengan gaji dan kedudukan yang lebih tinggi tentunya. Tapi doi tetep gak mau. Kira-kira kenapa ya?
Ganti ceritain si Sam Dal, ya. Oke, di Seoul Samdal sudah mendapatkan popularitas sebagai fotografer handal. Ia dikenal dengan nama Cho Eun Hye. Ia tinggal di Seoul bersama 2 saudaranya dan 1 ponakan--orangtuanya menetap di Jeju.
Sam Dal memiliki pribadi yang optimis dan yakin bahwa dirinya adalah yang terbaik. Hingga akhirnya dia dikhianati oleh asisten yang bekerja dengannya. Mulai dari pacarnya yang dirayu hingga mau selingkuh dengan asisten itu; sampai saking irinya, si asisten bunuh diri di gedung yang rencananya akan dijadikan tempat pameran Sam Dal. Tapi asistennya ini gak meninggal gaes, doi masih selamat dan dirawat di RS.
Nah, berita yang beredar bener-bener nyalahin Sam Dal. Yang katanya asistennya sering kena bully lah, diperintah seenaknya lah, pokoknya yang jelek-jelek. Hingga akhirnya, seluruh artis yang sudah membuat kontrak kerja sama pameran dengan Sam Dal membatalkan kontraknya. Dan, pameran gagal diadakan.
Saking stressnya karena diuber-uber sama wartawan, 3 bersaudara ini akhirnya pulang kampung ke pulau Jeju. Tetiba mereka sudah berada di depan rumah orang tuanya. Orang tuanya yang baru pulang dari pantai pun shock.
Bersambung yaa.... Unch, kasian ya Sam Dal. Apakah di episode selanjutnya akan terkuak siapa yang salah antara Sam Dal dan asistennya?
Lalu, apakah Yong Pil menerima undangan untuk bekerja di pusat? Apa alasannya sampai doi gak mau berangkat ke Seoul?
Dan, mengapa tiba-tiba Sam Dal dan kedua saudaranya memutuskan kembali ke Jeju, padahal doi dari dulu bersikeras untuk tidak kembali ke pulau Jeju?
Okelah! Cukup sampai di sini dulu ya. Nantikan sinopsis episode keduanya.
Terima kasih sudah mau membaca tulisan ini.
Jangan lupa komentar positif untuk tulisan ini maupun untuk aku, biar aku makin semangat menulis blog. Sehat dan bahagia selalu yaaaa ❤
.
.
.
19 November 2023
Tak Kenal Maka Tak Sayang
19 October 2023
Menikah Bukan Perkara Sah
Tulisan ini kupersembahkan untuk kamu yang mungkin saat ini sedang dilanda pertanyaan "kapan nikah?" atau kamu yang sedang galau karena umur sekian belum ada pasangan, atau bahkan kamu yang sekarang sedang menunggu pujaan hati untuk melamar/menikah denganmu.
Benarkah keputusanku atas pernikahan ini?
Sudah siapkah aku berbagi dan hidup berdampingan selamanya dengannya?
Bisakah aku menurunkan egoku dan berdamai dengan egonya ketika kami tak seirama?
Apakah aku menerima semua yang melekat padanya, kelebihan dan kekurangannya?
Bisa punya besti yang siap mendengarkan keluh kesahmu apapun itu.
Bisa punya anak juga xixixixi.
Bisa punya lebih banyak kenalan.
Dan yang pasti kamu punya belahan jiwa 👫
.
.
.
07 October 2023
Menjadi Orangtua Baru: Gangguan Kesehatan Mental Ibu
![]() |
| baru anak 1 :D |
![]() |
| ilustrasi prolaps tali pusat |
10 September 2023
Jangan Siakan Orangtuamu
Pernah gak sih kalian kepikiran tiba-tiba orangtua kalian meninggal? Nggak kan, ya!
Tapi bagaimana kalau itu benar terjadi? Kalian tiba-tiba menjadi yatim atau piatu, bahkan yatim piatu? 😢
............................
Pagi tadi ketika di kamar mandi tetiba nangis sesenggukan keingat ibu sama bapak. Rindu yang entah bagaimana caranya kubisa salurkan kepada mereka kecuali hanya lewat doa. Kok bisa tetiba nangis? Biasa, kadang kalau udah di kamar mandi, dan bilik termenung bawaannya pikiran ke mana-mana :)) entah, kayaknya kamar mandiku ada apa-apanya. Hahaha....
| Bapak dan Ibuk waktu wisuda Mas, dan aku yang sedang ujian tofle untuk masuk UGM |
Sebagai catatan, kalau di sini, tiap malam Jum'at, tempat pemakaman pasti ramai. Banyak keluarga atapun sanak saudara yang masih hidup berkunjung ke makam untuk mendoakan yang sudah tiada.
Sedih, pastinya iya. Kubandingkan Eko denganku yang sudah berusia 30an dengannya yang masih belasan. Aku yang sudah tua ini--yang sudah punya suami serta tiga anak saja masih merasa kosong karena kehilangan orangtua, bagaimana dengannya? Yang hidup di rumah sendirian--karena Kakaknya sepertinya jarang pulang, yang entah bagaimana ia makan tiga kali sehari, yang entah bagaimana ia berkeluh kesah di tiap harinya, yang entah bagaimana caranya ia jika rindu dengan orangtuanya, dan sebagainya. Banyak terlintas di pikiran aku, bagaimana caranya ia menahan itu semua?
Memang harus banyak-banyak bersyukur agar semua yang sudah terlanjur terjadi tak menjadi penyesalan.
Memang harus banyak-banyak melihat ke bawah agar semua yang lebih kurang daripadamu terlihat jelas.
Memang harus banyak-banyak berdoa agar Tuhan memberikan petunjuknya untuk kita dan kita bisa menerimanya dengan lapang dada.
Hai untuk kamu yang saat ini masih dibersamai oleh orang tua, baik-baiklah kepada mereka. Sayangilah mereka. Jenguklah mereka jika tempat tinggal kalian sudah tidak lagi bersama. Atau jika terkendala oleh jarak, sering-seringlah bertukar kabar via telepon atau panggilan video. Teknologi sekarang sudah semakin canggih, jangan jadikan "tidak punya waktu" sebagai alasan.
Dan,
Untuk kamu yang saat ini sedang berjuang tanpa orangtua, tetap semangat ya! Kamu tidak sendirian. Kamu masih punya Tuhan yang tidak akan pernah bosan mendengar keluh kesahmu. Yang tidak akan pernah bosan melihatmu menangis tersedu-sedu. Yang tidak akan pernah lelah membersamaimu. Jadilah manusia yang kuat. Jadilah penerus orangtuamu, dan buatlah orangtuamu bangga telah melahirkanmu. Boleh kamu menangis, boleh kamu berkeluh kesah, boleh kamu menjadi lemah, tapi sebentar saja yaaa! Kumpulkan kekuatan, dan buktikan pada dunia bahwa kamu bisa. Kamu tidak lemah. Dan, kamu pantang menyerah.
Gak punya orangtua itu gak enak, ya kan? Jadi buatlah dirimu kelak menjadi orangtua yang baik untuk penerusmu.
Love banyak-banyak untuk kamu yang saat ini berada dalam kondisi ini ❤
.
.
.
.
21 August 2023
Anak Ke-3 : Elyn
Baru dibuka lagi blognya setelah sekian lama pensiun. Hahaha, lebih pantes cuti sih pilihan katannya. Dan tulisan ini saya bikin di tanggal ini 21 Agustus 2023. Dan yang di bawah ini adalah ketikan entah tahun kapan, karena Elyn pun sekarang sudah usia 3 tahun.
![]() |
| elyn 2 tahun |
Akhirnya, update blog lagi. Hahaha
Gak berasa ya, ternyata sudah setahun lagi. Haha, masak ngisi blog setahun sekali... Sungguh terlalu memang.
Dan, selama setahun ini, saya mengandung anak ketiga. "Hamil lagi, Mak?" Iyak. Hehe... Tumben ya, saya gak nyurhat di blog. Tapi beberapa kali posting tulisan panjang kok di IG tapi hehe.
Dan, lagi, bayi yang saya kandung itu juga sudah lahir. Alhamdulillah, seorang perempuan. Sehat. 19 Juni lalu, tepat di tanggal ulang tahun pernikahan kami yang ke-7.
Ia lahir dengan persalinan normal, meskipun harus mendapatkan induksi terlebih dahulu karena bukaan yang lamban dan saya kesakitan, "ya yang namanya melahirkan ada ya yang gak sakit?" kata netijen.
Dengan berat 3,4 kg dan panjang 49 cm, kami namai ia Misha Evelyn Safaraz. Harapan kami kelak akan menjadi perempuan dengan kebahagian/senyum yang kekal dan dihormati.
Elyn yang sekarang sudah 3 tahun, maafin Ibuk yang sok sibuk sehingga Ibuk belum menulis tentang kamu. Dan sekarang lunas yaaa. Sama seperti Mas Ken dan Mbak Shanum yang juga Ibuk tulis di sini, di blog tempat berkumpulnya curhatan Ibuk. Kelak jika suatu saat kalian sudah dewasa dan Ibuk mungkin sudah tiada dan belum sempat bercerita banyak, kalian bisa mampir ke sini ya hehe.
Terima kasih sudah hadir di kehidupan Ibuk dan Ayah. Tanpa kalian, tentu warna yang kami punya tak akan sebanyak ini. Sebab adanya kalian, hidup kami menjadi lebih berwarna.
13 September 2019
(Tanggalnya) Gigi Susu Mas Ken
Dua pekan lalu, akhirnya mas Ken harus ke dokter gigi untuk pertama kalinya. Dari deretan gigi bawahnya, ada 2 giginya yang sudah goyang-goyang. Mulanya cuma satu. Emaknya pikir, "ah nanti lepas sendiri, Nak, kalau digoyang-goyangin terus." Hasilnya, sebelahnya ikutan goyang juga 😌
Dan bukan hanya itu. Ternyata, gigi goyang yang pertama, di belakangnya sudah ada tumbuh gigi baru.
Dan maknya akhirnya bingung sendiri. Padahal baru beberapa hari goyang, dan gigi pertama yang goyangpun masih belum mau lepas.
Berbekal kegalauan hati, sebab gigi sebelah yang ikut-ikutan goyang dan dikhawatirkan tumbuh baru juga, mas Ken segera kami selamatkan ke dokter gigi.
Mulanya mau cabut satu gigi saja yang pertama goyang, tapi dokternya menyarankan sekalian saja cabutnya, dan meyakinkan emaknya bahwa anaknya akan baik-baik saja.
Waktu itu yang mak pikirin cuma satu, "kalau hari ini dicabut satu, dan dia sudah tahu rasanya cabut gigi, jangan-jangan besok dia tidak akan mau lagi dibawa ke dokter gigi!"
Yawislah, akhirnya mak memantapkan hati untuk mencabut dua gigi mas Ken yang bergoyang-goyang berjoget ria.
Muka mas Ken biasa saja waktu dokter mulai mengulik mulutnya. Kok bisa? Iyalah bisa, sebab mas Ken tahunya dia diajak ke dokter gigi bukan untuk mencabut gigi, tapi untuk menyembuhkan giginya yang goyang-goyang. Dan dia tidak tahu kalau caranya adalah dengan dicabut. Mwehehehehehe. Ini namanya strategi mak 😂😂
Setelah memberikan kapas dingin (yang tidak tahu telah dicampur apa oleh dokter), dokter mulai mecabut giginya satu demi satu.
Mau tahu reaksi mas ken?
"Lho, bue kok loru!" (Lho, bue kok sakit)
Dan dengan muka polos dia meraba bekas cabutan giginya yang ompong dan masih mengeluarkan darah.
"Lho, kok ono getihe!" (Lho, kok ada darahnya)
Untungnya, mas ken tidak menangis di tempat dan saat itu juga 😂
Tapi di dalam mobil, dia sepertinya baru mengerti semuanya, dan dia menangis 😂
Le, ini ceritamu waktu kamu harus kehilangan dua gigi pertamamu. Sebagai tanda, bahwa sebentar lagi, ibuk mungkin sedikit demi sedikit harus rela membiarkan dirimu membaur dengan sesamamu.
Mas Ken, 5 tahun 5 bulan.
10 May 2018
Perpanjang Kartu SIM di Pelayanan SIM Keliling
Demi kenyamanan dan keamanan dalam berkendara itulah Satlantas mewajibkan setiap pengendara kendaraan bermotor memiliki SIM (Surat Izin
Yay!
Oh iya, untuk sim dan STNk keliling ini hanya melayani perpanjangan sim dan pembayaran pajak stnk. Jadi tidak bisa untuk pembuatan SIM baru atau tidak untuk pembayaran stnk 5 tahunan untuk penggantian plat no.pol.
Hihi, terimakasih ya sudah dibaca. Semoga informasi ini bermanfaat khususnya untuk yang masa aktif SIMnya mau habis. Jangan tunggu sampai habis jika tidak mau mengulang dan membuat SIM baru.
15 April 2018
Curhat Kisah POTRET
Mau cerita apa ya... Hmm... Rencananya sih mau ngelanjutin cerita potret, tapi gagal total. Karena saya gak sanggup. Ternyata menerima tantangan dari orang lain itu berat, kamu gak akan kuat #terDilan.
Kenapa berat?
Pertama,
Topik spontan dan ternyata bukan passion saya. Kembali ke tahun 1930 itu bukan perkara mudah. Gak bisa asal njeplak membuat cerita rekaan karena musti tahu latar belakang sosial-budaya yang terjadi di masyarakat pada waktu itu.
Kedua,
Meskipun sudah dapat gambaran kembali ke tahun 1930, tapi untuk menyatukannya dengan tahun ini ternyata lebih rumit dari yang saya kira #ngeles.
Ketiga,
Hal yang paling rumit dari sebuah cerita adalah menyelesaikannya. Iya, menyelesaikan cerita. Dan, cerita potret belum kelar. Dan, ceritanya kacau mau dibawa ke mana. Dan, ah, sudahlah.
Mungkin ada baiknya saya nulis yang mudah-mudah dulu. Yang gak terlalu berat alurnya. Yang gak berat juga topiknya #salahsendiri. Lha yang mudah ya ini, curhat haha.
Biarlah blog ini isinya cuma curhatan tok, yang penting hati saya plong 😀
Lalu apa kabar cerita potret?
Nanti lah ya, kalau mood lagi bagus dilanjutin lagi hehehe
06 April 2018
Potret (Judul Sementara)
Sebenarnya Jumat ini rencana mau review novelnya Permaisuri Dee Lestari yang terbaru Aroma Karsa. Tapi nihh, berhubung saya lagi dapat challenge dari temen
Paragraf ini dia yang bikin:
"Seorang pria terkejut saat bangun dari tidur, dan berada ditahun 1930, sementara orang2 yang dikenalnya memakai pakaian jaman dulu, padahal pria ini memakai pakaian jaman sekarang dan membawa smartphone. Apa yang terjadi sehingga pria ini terkapar di Rumah Sakit Belanda saat itu? Apa yang terjadi dengan semua orang?"
Challenge-nya, saya disuruh ngembangin ntu paragraf.
Dan, voila! Silakan dibaca 😁
Seorang pria terkejut ketika mendapati dirinya terlentang di tempat tidur Rumah Sakit dengan keadaan pakaian lengkap yang masih ia kenakan ketika di kantor tempat ia bekerja hari itu. Ia mendongak ke luar ruangan yang ternyata ada banyak orang lalu lalang dengan memakai baju yang lain dari yang biasanya ia lihat. Ia mengerut pelipisnya yang pening. Masih setengah tersadar, seorang suster menghampiri kasurnya dan mengecek komputer yang ada di sebelahnya. Beberapa kabel tertempel di dadanya. Suster tersebut tak memedulikan reaksi dan tatapan pria yang ada di sampingnya itu. Seakan pria itu tertidur lelap.
Dalam kebingungan yang belum ada jawabnya, seorang pria lain yang ia kira dokter datang menghampiri suster tersebut. Ia mengenakan setelan dan jas serba putih.
"Bagaimana keadaannya, Sus? Sudah ada kemajuan?" tanya dokter itu yang dikenali sebagai Dokter Herman lewat papan nama yang tersemat di bajunya.
Suster mengecek data yang ia bawa sekali lagi, "seharusnya sudah bisa siuman, Dok, karena semua kondisi sudah bagus!"
Pria itu tercekat. "Sus, ini saya sudah siuman masak dibilang belum siuman? Ngajak bercanda suster ini."
Suster dan dokter Herman tidak mengindahkan perkataan pria tersebut.
"Dok, ini saya sudah siuman Dok! Suster, saya sudah siuman! Sussster, lihat ke sini, Sus! Keterlaluan!" rutuk pria tersebut dan kemudian bangun untuk menarik tangan suster. Tak disangka, ia tak bisa menyentuh tangan suster. Tembus. Kepalanya semakin pening.
___
"Ren, hari ini kita shoot terakhir pukul 3 sore ya?" ujar Fatih, manager Rendra. "Kita akan shoot di ruangan terakhir di Villa ini yang paling eksotis. Lain dari pada yang lain," lanjutnya.
Rendra masih sibuk dengan smartphone di genggamannya ketika Fatih dengan semangat membara menceritakan villa yang kini menjadi tempat kerjanya.
"Lain daripada yang lain gimana sih? Perasaan juga sama saja, angker begini bentuknya," rutuk Rendra, bergidik.
Fatih semakin memasang raut wajah tegang, "kata pemilik terakhir Villa ini, ruangan itu dulu adalah ruangan yang dipakai untuk meditasi." Tutur Fatih lirih dan dramatis dengan menambahkan tekanan di kata meditasi.
Rendra melengos.
___
Pria itu akhirnya bangkit. Ia berdiri memunggungi tempat tidur. Ada yang tertinggal di sana. Ya, ada yang tertinggal. Dan ia merutuki dirinya sendiri kenapa hal yang paling tidak masuk akal ini terjadi padanya. Dengan sisa pening yang mereda, ia berupaya membalik badannya, memastikan bahwa yang ada di atas tempat tidur itu adalah guling.
Pria itu menarik napas panjang, kemudian membuangnya kembali.
"Baik, aku siap!"
Ia membalik langkah kakinya pelan-pelan. Mengatupkan kedua matanya.
"Jika memang ini mimpi, semoga mimpi ini segera berakhir. Jika ini kenyataan, hah, sialah aku!" rutuknya.
Setelah berbalik, ia membuka kedua matanya perlahan. Menyiapkan segenap hatinya untuk menerima kenyataan yang akan ia ingat seumur hidup.
Senyap.
Pria itu melihat seseorang yang mirip dengannya tengah berbaring tak sadarkan diri. Ia memakai baju kemeja lengan panjang dengan sedikit kerut di pergelangan tangan. Kancing baju yang terbuka karena beberapa kabel yang tertempel di dadanya. Celana panjangnya juga berwarna putih. Semua putih, selaras dengan warna kulitnya.
"Ini ... Aku?"
Belum genap ia tamatkan rasa penasaran yang membuncah oleh sebab dan harap akan penjelasan entah dari siapapun, tiba-tiba seorang perempuan datang dengan mengendap-endap.
___
Rendra memasuki ruangan itu dengan takzim. Ia berkeliling ruangan yang penuh dengan lukisan taman, villa yang sekarang ia tempati, dan beberapa foto keluarga serba hitam putih. Ia mengamati salah satu foto. Seperti foto keluarga. Ada seorang Pria berjenggot yang berdiri dengan seorang putri di depannya, lalu di sampingnya duduk seorang wanita dan memangku seorang putra. Ia menemukan angka di sudut foto, dekat dengan garis figura "June 1930". "Wow, ini sudah lama sekali," pikir Rendra.
Fatih masih tampak sibuk duduk bersilandengan memangku leptop. Jemarinya sibuk menggeser tetikus, memindahkan foto yang menurutnya layak jual dan tidak.
Sang fotografer, Dito, masih sibuk membenahi area kerjanya. Sesekali mengecek lampu dan kamera. Sesekali Yasmin terlihat membantu Dito, sebelum akhirnya mendekati Rendra.
"Asyik sekali sepertinya," sapa Yasmin ke arah Rendra.
Rendra memalingkan wajahnya ke arah Yasmin. "Eh, iya. Ini, fotonya. Tertulis di sini tahun 1930. Sudah lama sekali bukan?" tanya Rendra kepada Yasmin, yang sesungguhnya cocok disebut sebagai pernyataan.
Yasmin hanya tersenyum. Ia tahu itu, lebih dari yang Rendra dan timnya ketahui.
____
Perempuan itu terlihat sangat memesona. Kulitnya tampak putih, dengan wajah yang merona merah. Ia memakai terusan, ah gaun tepatnya dengan ikatan longtorso dari dada hingga pinggang. Membuatnya tampak ramping dan menyembulkan sedikit dadanya yang membusung.
"Habis main opera di mana perempuan ini?" pria itu tak habis pikir. Ia tahu, perempuan itu tak akan bisa melihat dirinya.
Perempuan itu menuju tempat tidur. Menatap pria yang tengah tak sadarkan diri itu.
"Leon, ini aku Patricia. Kamu masih di sana?"
Perempuan yang bernama Patricia itu tampak gelisah. Ia mendekatkan wajahnya ke kening pria yang ternyata bernama Leon itu kemudian mendaratkan bibir yang merah meski tanpa polesan lipstik.
"Besok aku akan ke sini lagi. Maafkan jika aku hanya bisa sebentar ke sini. Ayah melarangku untuk menjengukmu."
Wajah itu muram. Pelan, ia longgarkan jemari tangan Leon yang terpaut, yang sejak kedatangannya tadi ia raih untuk digenggam.
Pria yang masih tak terlihat itu tertegun. "Leon, siapa kamu? Kenapa kamu bisa mirip denganku? Siapa itu Patricia? Kenapa aku di sini?" Ia menjambaki rambutnya sendiri. Serasa kepalanya tak sanggup menopang banyaknya pertanyaan.
___
"Oke Rendra, semuanya sudah siaap!" seru Fatih.
Yasmin masih memuas bedak dan beberapa polesan lipbalm untuk Rendra ketika Fatih memanggilnya. Yasmin hanya mengacungkan jempol tanda siap kepada Fatih.
Selesai meletakkannya semua peralatan make-upnya, Yasmin memandang Rendra, mengukir hasil kerja kerasnya selama ini. Rendra tersenyum.
"Jangan lama-lama liatinnya, nanti kamu suka lagi sama saya," goda Rendra.
Yasmin hanya membalas dengan senyum kecil. Hingga kemudian mengulum senyum itu cepat, "Rendra, kamu harus siap dannn ... berhati-hatilah."
Lirih ia mengucapkan kata "berhati-hati", seakan tak rela jika kata itu terdengar oleh Rendra. Rendra tak menjawab, hanya membulatkan ibu jari dan telunjuknya, memperlihatkan kesiapannya.
"Ini bukan sekedar pemotretan Rendra. Ada seseorang yang membutuhkan pertolonganmu. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa karena bukan aku yang bisa, tapi kamu."
Dito sudah siap di belakang lensa kameranya, "yok, Rendra di posisi!"
Rendra mulai mengambil posisi di tengah ruangan. Ruangan itu memang lengang. Tak ada kursi dan meja. Hanya lemari kuno yang sempat tadi Rendra mau buka ternyata dikunci, dan pajangan dinding termasuk foto yang ia amati tadi.
"Rendra, saya mau kamu bersila di sana dengan kedua tanganmu bertemu dan taruh di depan dada," perintah Dito sambil memeragakan apa yang diintruksikan olehnya.
Rendra mulai bersila, mempertemukan kedua telapak tangannya dan menaruhnya di depan dada.
"Merem, Ren," lanjut Dito memberikan intruksi. "Oke ... Sempurna! Satuu, duaa, tiigaa ...!"
Cahaya berkilat, dan semuanya gelap bagi Rendra.
___
Dan kisah ini dibikin BERSAMBUNG karena waktunya
Oh iya, judulnya sementara dulu ya. Soalnya masih belum jelas ini kisahnya mau dibawaaa ke mana hahaha.
Kalau ada kripik pedas alias masukan, boleh loh dikomentarin. Biar ada secercah harapan mau dibawa ke mana ini arah ceritanya. Hehehe
30 March 2018
Ketika Bayi Besuk Pasien
Beberapa hari yang lalu, saya dan keluarga menengok tetangga (perempuan, janda, usia 24 th -an) di rumah sakit. Yang sakit anaknya, usia 6 tahunan. Bapaknya sudah tiada meninggalkan anak pertama putri (yang sedang sakit) dan kedua putra.
Pelan, menggetarkan, sekaligus menohok.
Ya, itu mungkin lebih baik.
23 March 2018
Mas Ken (Daftar) TK
Tgl 14 Maret kemarin mas ken daftar sekolah. Iya, sekolah. Kau sangat bahagia Nak. Menikmati setiap jalan dan ruang yang kita lewati. Bungah dan sumringah engkau tunjukkan lewat senyum paling merekah. Ahh, ibukmu ini terlalu melow untuk melepasmu ternyata Nak. Baru pendaftaran saja ibukmu ini sudah gelisah.
Kamu bertanya banyak hal yang membuat ibu sampai bingung karena di antara pertanyaan yang kau ajukan, ibuk sedang mengisi lembar demi lembar formulir pendaftaran. Bukan hanya selembar dua lembar, nomor halamannya hingga no.12 dan itu rangkap 2--karena mas ken daftar TK A dan sekalian dititipkan.
Ternyata mau masuk sekolah TK saja pertanyaannya selengkap itu sekarang. Beda dengan yang dulu waktu saya masuk TK, paling cuma bawa akta dan KK sudah selesai. Gak pakai tanya-tanya soal lingkungan tempat tinggal atau kapan kamu mulai bisa berinteraksi dengan dunia yang fana ini?
Mas ken akan genap 4 tahun, tanggal 2, bulan depan. Sudah pantes kan ya kalau masuk TK kecil. Badannya memang bongsor. Berat badannya 25 kg -_- gak papa ya Nak, yang penting kau segar dan aktif.
Oke, untuk berhitung dan bernyanyi huruf Hijaiyah kamu sudah bisa. Tinggal warna saja Nak. Iya... Warna. Ibuk sampai gemes kalau tebak-tebakan warna sama kamu.
Ah, sudahlah Nak. Ibuk yakin nanti engkau bisa menyebutkan warna dengan baik dan benar.
Nak, sudah siap kah kau untuk bersekolah?
Sepertinya ibuk masih setengah hati melepasmu, Nak.
15 March 2018
Kebetulan Atawa ....
Akhirnya, saya menemukan mereka di jejaring Facebook--selama ini kami kehilangan kontak. Sungguh Mark, terima kasih kamu sudah menciptakan Facebook.
Setelah 10 tahun, saya akhirnya bisa bertemu (di facebook) dengan sahabat SMA saya. Sebenarnya sudah lama saya mencarinya di search engine-nya google, dan akhirnya ketemu di Facebook. Setelah saling meng-inbox, kami saling bertukar nomor WhatsApp.
Setelah ngobrol, bertukar informasi dan sebagainya, ia pun bertanya salah satu sahabat terbaik kami juga. Syukur saya sudah punya kontak WA nya, grup pun akhirnya saya buat.
trio wek wek
Begitulah nama grupnya. Karena kami bersahabat bertiga, 3 tahun di SMA dan tak pernah sekelas. Entah ya, saya lupa gimana caranya kita dulu pernah kenal 😁😁 entar deh, saya tanyakan ke grup hahaha.
Dari triok wek wek ini rasanya saya terlempar ke masa lalu yang lain. Ketika saya masih bau kencur, ketika saya SD, SMP, SMA, dan kuliah. Ternyata banyak sekali trio yang sudah saya jalin. Kebetulankah?
Nama Saya, Tri Susanti. Anak ketiga dari empat bersaudara. Almarhum simbah kakung pernah bercerita kalau Tri itu artinya tiga, dan Susanti itu bareng-bareng. Jadi lengkapnya tiga orang barengan--dulu niatnya gak bakalan mau punya anak lagi, eh nongol si adek.
Tiga orang barengan, begitulah kebetulannya.
Dari masih bau kencur, saya mainnya sama temen depan rumah dan anak dari karyawannya simbah--sudah almarhumah saat SD.
Waktu SD trio wek wek sama si cerewet dan si rambut keriting--kayak eike.
Waktu SMP, masih bertahan sama trio wek wek ketika SD karena sering pulang-pergi sekolah barengan.
Waktu SMA trio wek wek SD/SMP masih berlanjut hahaha karena kebetulan memang satu sekolah terus.
Selain itu juga ngegrup sama si cerewet yang aslinya Jawa Timur dan si diam-diam menghanyutkan.
Selain itu juga ngegrup sama kecil-kecil cabe rawit dan si melankolis abis.
Waktu kuliah ngegrup sama kecil-kecil cabe rawit dan si melankolis abis. Di samping itu juga ngegrup sama si modis yang ceplas-ceplos dan si melankolis abis.
Dari beberapa trio wek wek yang sempat saya gabung di dalamnya memiliki karakter yang berbeda ya--baru nyadar setelah nulis ini. Dan kenapa setiap grup ada kesamaan? Barangkali karena kesamaan itulah yang membuat trio wek wek nyaman?
Saya tidak pernah mengira saya akan bertemu dengan mereka. Bahkan saya tidak menyangka jika memang benar apa yang telah diujarkan oleh almarhum Simbah kakung. Kami saling mengisi, bertiga.
Ah, sudahlah. Sahabatku yang tertulis di sini ataupun tidak, semoga sehat selalu menyertai.... Amin
Love
09 March 2018
WARNING! Jangan Tinggalkan Bayi Tidur Sendiri
"Ah ibu kan enak punya irt? Jadi ada yang nungguin bayinya ketika ibu tidak bisa menemani..." << Gak bu. Saya hidup dengan suami, anak lanang usia 3 tahun 11 bulan dan bayi perempuan usia 10 bulan. Tanpa irt.
"Ah ibu ada yang bantuin, orantua, tetangga, saudara?" << Alhamdulillah, kadang-kadang saja dibantuin momong sebentar ketika saya harus mandi atau pergi ke belakang.
"Yowis Bu, terus itu kenapa judulnya kok memprovokasi begitu?"
Baik Buibu, begini.
Saya fullday stay di rumah, mengurus rumah tangga dan menjalankan bisnis toko busana muslim offline maupun online. Jadi untuk masak dan beres-beres rumah dikerjakan sendiri. Apakah pernah beres? Tidak. Buibu yang fullday di rumah pasti merasakan yang saya rasakan.
Bangun pagi, nyiapin sarapan untuk suami dan buah hati, masak makan siang sekalian malam, nyapu, mandiin anak-anak. Pun ini terkendala jika si bayi minta kelon (red: tidur ditemani sambil nenen). Yang harusnya pukul 9 sudah selesai, bisa molor sesuai senggangnya.
"Bu, ngelondri ya? Kok gak ada di list PR?" << Kagak bu. Saya mah sesuka hati kalau mencuci baju. Bisa ketika fajar, siang, malam. Hehe, sesenggangnya saja. Alhamdulillah, suami tidak pernah protes. Asal gak kehabisan baju saja sih.
Jujur bu, saya tidak bisa mandi pagi sebelum PR (pekerjaan rumah) nyapu dan cuci perkakas masak dan makan selesai. Kenapa? Bau keringat 😔 jadi saya pasti mandi sekitar pukul 9an hingga 10 pagi, atau ketika gak masak, saya bisa mandi pukul 8 pagi. Dan itu menunggu bayi saya tidur atau ketika ada saudara yang bersedia mengajak si bayi dulu.
Kemarin, ... rasanya tak ingin mengingatnya lagi.
Ketika Shanum (nama anak kedua saya) sudah tertidur, di rumah tidak ada orang. Kebetulan kakaknya, Mas Ken (nama anak pertama saya) sedang ikut Simbahnya. Mba saya yang rumahnya sampingan dengan saya, kebetulan juga tidak ada. Saya pikir, tenang karena tidak ada mas ken yang ganggu dan bisa saya tinggal sebentar untuk mandi.
Byur byur, baru setelah selesai pakai sabun, shanum nangis. Langsung mandi bebek. Cuma lilitan handuk, langsung menghambur ke kamar. Dan shanum sudah di bawah kasur 😥 alias sudah terjatuh dari kasur springbed lesehan, nangis kenceng.
Saya ikut mewek.
Maafkan ibuk, Nak.
Saya perkirakan, shanum kebangun, nangis, nyari ibuknya. Guling-guling tengkurap dan terjatuh.
Kapok.
Sudah, sekali saja Nak. Biarin ibukmu ini bau asem sampai siang. Biarin ibukmu ini gak bisa dandan seger waktu ayah pulang, karena yang terpenting adalah kamu Nak. Keselamatanmu lebih penting dari apapun.
Seha-sehat ya anak-anak ibuk 😚
04 March 2018
Just Wrote!
15 May 2017
Anak Kedua: Shanum
21 April 2017
Anak Ke-2: Usia Kandungan 38 Minggu
"Hpl insyaallah 2 Mei (2017)...," begitu kata dokter obginnya.
Senang? Pastinya, Nak. Sebentar lagi Ibu akan segera memeluk wujudmu.
Yang sabar di dalam perut Ibu ya, Nak. Ibu tahu perut ibu sudah terasa sempit untukmu bergerak.
Always love :*
17 April 2017
Anak ke-2: Usia Kandungan Jalan ke-9 Bulan
Gak terasa, ternyata tulisan terakhir saya jatuh di tahun 2016. Hehe... Maafkan, masih tetep sibuk kuliyah (baca: kuli uyah--kuli garam) dan jualan online di tokopedia bukalapak dan shopee--hah, alesan :p
Kenapa saya menulis lagi?
Jawabannya simpel kok... Karena tiba-tiba saya pengin nulis saja. Hehe.
Percayalah, saya sampai lupa alamat url blog saya. Kirain masih yang pakai threesuntea.blogspot.com ternyata sudah saya ganti :D
Sungguh, sangat usang sekali blog ini. Ibarat besi mah sudah karatan. Sudah tidak berbentuk lagi. Paling isinya cuma curhat haha...dan kali inipun saya juga mau curhat. Sekedar menuliskan fakta yang sekarang saya rasakan, sebelum ingatan hilang menjadi memori tak terbingkai... Ceilah, bahasanya...
Alhamdulillah, hari ini saya, suami, dan kenzie masih diberikan nikmat sehat. Alhamdulillah juga adeknya kenzie sudah mau masuk usia kehamilan 9 bulan. Perjuangan sekali, Nak kehamilan ibu kali ini.
Kalau dulu trimester pertama mual muntah sedikit, hamil kedua ini hingga usia kandungan mau masuk 5 bulan masih huek huek mual, muntah, pusing. Tapi demi kamu, Nak ibu harus kuat.
Memasuki usiamu 9 bulan di rahim ibu, kamu semakin sulit bergerak ya...tapi tendanganmu di perut ibu sangat kuat. Sehat-sehat ya, Nak. Semoga persalinan kita nanti dimudahkan Allah. Amin...
Kami semua menunggu kehadiranmu :*
30 September 2016
Hari di mana Ibu Menyapihmu (Anak Pertama)
Maafkan ibu, Nak. Sejak usiamu 2 tahun, ibu sudah mulai mencari informasi tentang menyapih. Ibu coba cari di google, tapi yang dibahaspun hanya catatan umum. Bukan rincian ataupun deskripsi lengkap tentang tatacara menyapih.
Ibu juga sudah mencari informasi dari ibu-ibu muda yang lain, mereka juga bingung, bahkan ada yang hingga 3 tahun masih belum bisa disapih.
Akhirnya, ibu mencari informasi dari simbah dan budhemu, Nak. Juga dari tetangga-tetangga.
Dan ibu mencobanya hari ini.
Hari di mana ibu menyapihmu.
Hari di mana ibu tidak akan sedekat dengan kamu ketika menyusuimu.
Hari di mana ibu merasa berdosa karena telah membuat susah tidur.
Hari di mana ibu membuatmu menangis karena tidak bisa menyusu pada ibu.
Maafkan, Nak. Tapi inilah kewajiban ibu. Membiarkanmu tumbuh dewasa...
Jahat memang, menaruh empedu ikan di area tempat menyusui. Kamu bilang, "pahit, pahit..." dan membersihkan lidahmu dengan tanganmu sendiri. Kamu merengek, dan ibu hanya bisa menangis dalam hati.
"Mas kan sudah besar, jadi nenennya pahit..." berulang-ulang ibu katakan itu kepadamu, Nak supaya kamu mengingatnya :(
Dan, kamu menangis ketika mengantuk berat... huhu...sungguh gak tega ibu liat kamu.
Maafkan ibu, Nak...
Ibu selalu sayang kamu...











