30 December 2012

untiteld

Rasa itu bernama rindu

Kenapa?

Bisa kamu rasakan hati para petani ketika musim kemarau?

Kenapa?

Bisa kamu rasakan keringnya tanah di musim kemarau menunggu musim penghujan?

Kenapa?

Bisa kamu rasakan penantian Ibu kepada anaknya?

Kenapa?

Sudah, tak usah bertanya lagi ...

Cukup aku saja dengan pengakuanku!

15 December 2012

Selembar Kertas: Infak

Pagi hari agak sedikit ribut karena mendapatkan selembar kertas dari sebuah desa. Sebut saja desa A. Ya, hanya selembar kertas dan bisa menggegerkan dua keluarga plus gosip gosip dari warga desa tersebut. Selembat kertas itu adalah ini:


Selembar kertas ini diberikan oleh seorang warga dari desa A tadi. Letak desa A memang tidak jauh dari desa saya. Jadi, ya (sedikit) wajar kalau info rehabilitasi renovasi masjid ini sampai juga di tangan keluarga saya.

Oke, mengenai selembar kertas ini.

Selesai baca selembar kertas tersebut saya langsung ngekek. Maaf, bukannya menghina atau bagaimana ya. Tapi saya memang agak curiga dengan orang-orang di belakang selembar kertas ini << jangan ditiru. Karena foto sudah saya edit, jadi bisa dilihat sendiri apa-apa saja yang membuat saya curiga. Hmm bukan curiga, lebih tepatnya ngekek :D

1. Rehabilitasi
Waktu baca rehabilitasi otak saya langsung mengarah ke orang kecanduan atau orang yang sedang dalam pemulihan keadaan, dan semacamnya. Kalau liat di KBBI online, rehabilitasi berarti
1 pemulihan kpd kedudukan (keadaan, nama baik) yg dahulu (semula); perbaikan anggota tubuh yg cacat dsb atas individu (msl pasien rumah sakit, korban bencana) supaya menjadi manusia yg berguna dan memiliki tempat dl masyarakat.
Lebih cocok jika rehabilitasi tersebut diganti renovasi. Iya kan? Biar tidak terjadi salah paham. Saya menduga kalau pembuat selembar kertas itu memang orang Jawa tulen. Biasanya orang Jawa sering menggunakan kata rehab untuk menunjukkan bahwa tengah berlangsung pemugaran/renovasi. Padahal kalau dalam bahasa Indonesia tidak seperti itu maknanya.

2. Infaq Rp. 2.000.000
Membaca infaq yang ada dibenak saya adalah sumbangan sesuai keikhlasan hati si pemberi. Saya bingung ketika membaca infaq sebesar 2 juta rupiah. Ini bentuknya sumbangan kan? Bukan kewajiban kan? Seikhlasnya kan? Karena saya pun awam mengenai hal ini, saya mencari arti kata infaq >> infak. Berikut artinya,
pemberian (sumbangan) harta dsb (selain zakat wajib) untuk kebaikan; sedekah; nafkah
Hmm, agak gimana gitu sama selembar kertas itu -.-

3. Seikhlasnya
Semakin lama, saya membaca selembar kertas itu saya semakin geram :D Gak konsisten. Dan kayaknya mengada-ada. Padahal, renovasi yang dilakukan memang benar adanya. Kalau di atas sudah disebutkan 2 juta rupiah, kenapa di situ ditulis lagi seikhlasnya? Aaaakkk, aneh! -.-

4. Ketua Hasil Musyawarah
Dan ini juga semakin membingungkan. Saya gak ngerti ini maunya gimana. Apakah yang dimaksud itu ketua tersebut dipilih berdasarkan hasil musyawarah, atau ketua tersebut dipilih berdasarkan hasil musyawarah dan tidak mengetahui bahwasanya dia telah terpilih menjadi ketua?

Yang namanya ketua, pastilah dirundingkan bersama-sama bukan? Atau setidaknya, apabila calon ketua mengajukan dirinya sendiri, ini tentu bukan hasil musyawarah. Melainkan pencalonan diri lalu disetujui oleh anggota.

5. Drs. H dan S. Pd
Dan yang terakhir ini membuat saya semakin galau dan WOW. Ketua dan sekretaris dijabat oleh seseorang yang memiliki pendidikan tinggi. Kalau di sana tertera tanda tangan sekretaris, otomatis sekretaris sudah membaca selembar kertas itu. Atau mungkin sekretaris tersebut tanda tangan sebelum tulisan tangan itu diisi?

Entahlah.

Sedikit menyarankan, untuk ketua yang namanya tertera dalam selembar kertas tersebut, yang menjadi penanggungjawab atas renovasi tersebut. Mohon diteliti ulang sebelum menyebarkan informasi pada selembar kertas itu. Kami bingung dan galau waktu membaca itu. Itu renovasi untuk tempat ibadah lhoh! Jangan sampai lah ada sesuatu yang tidak ikhlas di sana :)

Terima kasih.
Jika pembaca posting ini ada kritik, saran, dan sanggahan, SILAKAN ^^

04 December 2012

Pemilihan Kades


Hujan ini membawaku mengalun ke beberapa hari yang lalu ketika pilkades berlangsung. Aku belum cerita bukan mengenai hasil dari pilkades itu.

“Memang penting?” tanyamu pasti.

“Tentu saja penting!” kataku tegas.

“Kenapa penting?” tanyamu lagi.

Dan berulang, aku menjawab pertanyaanmu, “karena aku akan banyak bercerita di sini. Banyak bercerita mengenai hal-hal yang tentu saja baru bagiku.”

Lantas kamu terdiam dan aku terus bercerita.

Aku mulai ceritaku.

Pilkades kemarin menghadirkan dua calon dengan simbol gambar kelapa dan jagung. Aku sendiri tentu saja memilih salah satu dari salah dua pilihan tersebut. Jika pihak kelapa aku sebut sebagai penguasa dukuh Barat, aku menyebut pihak jagung sebagai penguasa dukuh Timur. Dan desa aku tinggali bernama desa Barat-Timur (BT)

Masing-masing calon beserta tim suksesnya akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaring dan mendata siapa saja kiranya yang akan masuk menjadi pemilih tetap. Di BT, kami menyebutnya SABET. Sabet inilah yang menjadi tim sukses dan kadang merangkap menjadi penyandang dana. Sabet ini akan mencari BITING (calong pemilih tetap) untuk dijadikan sasaran.

Hmmm… pernah mendengar adanya “amplop” sebagai tanda ucapan terima kasih karena telah memilih calon kades? Iya, amplop ini ternyata dibagikan secara nyata. Tidak lagi sembunyi-sembunyi atau melalui jalur belakang. Aku sendiri tak mengira bahwa ternyata antara calon pemimpin dan rakyatnya saling mendukung untuk berbuat tidak baik.

Jumlah nominal di dalam amplop juga mempengaruhi besar minat calon pemilih untuk memilih calon kades. Semakin tingga nominal, semakin tinggi hasrat calon pemilih untuk menjadi pemilih tetap. Kecuali orang-orang terdekat calon kades. Biasanya mereka akan dengan sukarela memilih calon kades tersebut.

Sebenarnya aku tak terlalu heran dengan istilah "amplop" ini. Sudah biasa bagiku yang hidup di tengah-tengah kepalsuan keadilan. Yang aku herankan adalah bukti dari kesanggupan mereka untuk memilih calon kades ketika pemilihan berlangsung. Tau apa yang mereka perbuat? Mereka memotret kertas yang digunakan untuk memilih dengan coblosan pada gambar tertentu. Inilah bukti yang mereka maksud. Bukti bahwa mereka benar-benar telah menerima amplop dan menyanggupi untuk memilih calon kades tersebut.

Waktu aku di dalam bilik pemilih, aku tak habis pikir akan masalah ini.  Bahkan aku tak pernah berpikir mengabadikan moment pencoblosan itu. Aku baru mengetahui ini beberapa hari setelah merebak kabar banyak pemilih yang ingkar. Iya, ingkar menjadi biting.

"Sudah selesai ceritanya?" tanyamu memotong ceritaku.

Aku langsung tergagap, "apa kamu bosan?"

"Tidak. Hanya saja, mungkin kamu perlu menyembunyikan permasalahan yang kamu ceritakan tadi itu," katanya tegas membuatku bingung.

"Ada yang salah dengan ceritaku? Apa kamu tidak suka?"

"Bukan begitu. Aku hanya tak ingin jika suatu saat nanti aku menemuimu di bui."

Tak ada lagi ucap. Tak ada lagi kata. Semua ceritaku berakhir dalam kepalsuan.

25 November 2012

PILKADES

Sudah lama ya gak posting xixi. Keasikan main game, maaf maaf.

Hmm, mau cerita apa ya? Oke, mumpung sekarang di kampung lagi rame pemilihan kepala desa mungkin saya ingin sedikit membahas mengenai ini.

Pernah baca novel Jatisaba karya Ramayda Akmal? Belum? Silakan beli ya, itu novel punya kakak tingkat saya wkwkwkw *promosi

Yak, waktu saya baca Jatisaba. Saya sempat tidak percaya bahwa pemilihan kepala desa itu penuh intrik. Penuh dengan strategi yang terkadang susah untuk dinalar. Banyak masyarakat yang saling curiga. Saling menghimpun kekuatan untuk melawan pesaingnya dan sebagainya. Tidak jarang, hal-hal kecil seperti letak rumah, no urut pencalonan, nama calon, lambang, menjadi perbincangan hangat yang disangkutpautkan dengan hasil yang akan diperoleh nanti ketika pengumuman Kades.

Dulu, waktu saya kecil--masih SMA--baik-baik saja ketika mengetahui adanya pemilihan Kades. Meskipun orang tua membicarakan hal ini, saya tak pernah ambil pusing karena toh saya tidak memiliki hak suara. Sekarang?  Sekarang saya punya hak suara dan saya galau. Mau pilih yang mana? Hmm, tapi bukan itu yang akan saya bahas di sini.

Lanjut!

Dari sekian banyak cerita yang saya terima mengenai pemilihan Kades saya hanya menyimpulkan satu kata: KEREN.

Keren karena banyak orang yang terpecah akibat salah satu atau dua dst.nya mendukung pihak yang lain. Keren karena banyak antek-antek di belakang sana berkeliaran. Keren karena ternyata berlaku jujur itu susah. Keren karena jika tak bersikap curang, justru akan dikucilkan oleh yang lain. Keren karena bukan hanya manusia yang berjalan di pemilihan. Dan masih banyak kekerenan yang lain.

Lalu saya cuma bisa bilang WOW :D

Yuk ah, kalau bisa budayakan bersikap jujur dan adil. Rakyatmu membutuhkan kejujuran dan keadilan. Bukan membutuhkan persaingan yang tidak adil.

Ttd
Warga (yang juga kurang) baik

12 October 2012

Akhir Musim Kemarau, Awal Musim Penghujan

Beberapa hari lalu, gerimis dan hujan sempat singgah di desa Agung Mulyo. Ya, masih sekedar pelepas dahaga tanah yang telah lama tak basah karenanya. Musim kemarau kali ini lebih panjang dari yang seharusnya. Jika para petani sawah, ladang, dan sebangsanya rebut karena kemarau dan tak ada air, lain halnya dengan warga desa Agung Mulyo. Mereka bersuka cita menyambut lamanya kemarau karena hal ini tentu saja memperpanjang masa produktif penghasilan mereka.

Bagi petani garam, kemarau adalah ladang “uang”. Hampir seluruh penduduk desa Agung Mulyo akan berbondong-bondong ke lahannya masing-masing untuk membuat garam. Saat ini, karena mendekati musing penghujan para petani garam akan semakin semangat memanen garamnya. Berlomba-lomba memasarkan hasil panen. Kenapa? Karena mendekati musim penghujan, biasanya harga garam akan mulai naik.

Untuk harga garam sendiri tak bisa diprediksi kapan akan naik karena hal ini tergantung dengan cuaca dan juga banyaknya pasokan garam yang diproduksi. Seperti kemarin, hanya semalam hujan deras, harga garam mulai naik kembali. Ini juga berpengaruh terhada penjualan garam curah/briket ke konsumen.

Memasuki bulan Oktober yang biasanya terhitung sebagai musim hujan, para petani garam sudah mulai gelisah. Gerimis dan hujan sudah mulai menyapa mesti belum rutin setiap hari. Mendung yang mulai menebal semakin menambah was-was petani garam karena hal tersebut adalah sinyal akan berakhirnya masa produksi garam.

Hmmm, tapi itulah musim di Indonesia. Jika kemarau terus, bagaimana dengan nasib masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada musim hujan? Yuk, marilah sama-sama kita bersyukur atas segala kemurahan yang diberikan oleh Tuhan YME.

Petani garam dengan garamnya

11 October 2012

Pembuatan SKCK

Mungkin hari ini saya seperti orang kebanyakan yang sedang mencari persyaratan untuk melamar pekerjaan. Tapi untuk saya, ini hanya sebatas pengen mencoba. Kalau diterima ya syukur Alhamdulillah, kalau misalnya gak yasuda gak papa saya akan mencari yang lain.


Salah satu persyaratan yang dicantumkan adalah SKCK. Ya, Surat Keterangan Catatan Kepolisian. Dulunya bernama SKKB, Surat Keterangan Kelakuan Baik (kalau gak salah).

Sebagai seorang yang masih awam di dunia pekerjaan, tentu saja saya gak terlalu ngerti kenapa  seorang pelamar harus menunjukkan surat keterangan ini. Setelah saya telusuri lewat internet, saya menyimpulkan: surat ini adalah keterangan tentang kehidupan kita sebagai seorang individu sosial yang hidup di Negara Republik Indonesia tercinta ini yang penuh dengan tata aturan (hukum) dan perundang-undangan >> ini terlalu panjang, abaikan!

Intinya, SKCK adalah rekab kehidupan sosial kita di mata hukum dan perundangan.

Seperti yang saya baca di beberapa situs Polres, persyaratan yang ditulis dalam situs tersebut juga berlaku di Polsek Juwana dan Polres Pati.

Uraian mengenai pembuatan SKCK kurang lebih kalau di Juwana seperti ini:

1.       Meminta surat keterangan/pengantar dari desa tempat tinggal yang ditandatangani Kades dan capnya. (Ini saya tidak dipungut biaya)

2.       Ke Kantor kecamatan untuk meminta tanda tangan dan cap, melengkapi surat keterangan/pengantar yang dibawa dari desa. (ini dipungut biaya seikhlasnya)

Sekedar cerita sebelum no.3, karena tadi beliau mengatakan seikhlasnya. Saya pun memberikan seikhlasnya. Berapa? Nanti dulu. Di kantor camat, saya hanya meminta tanda tangan dan cap saja. Tidak ada yang lain, serta tidak ada peraturan yang mengharuskan pengaju SKCK untuk membayar jasa dll. Dengan seikhlasnya saya memberikan nominal 2,5 k. Berapa itu? Sila pikir sendiri. Tadi itu yang menerima nominal tersebut sempat memandang saya lama. Haha. Saya gak ngerti apakah itu tatapan gak suka, atau gimana. Kan Bapak bilang seikhlasnya, toh?

3.       Ke Polsek Juwana. Memberikan persyaratan yang dibutuhkan untuk membuat SKCK di Polres Pati. Di polsek  kita akan diberi 3 lembar formulir. Isinya mengenai informasi pribadi kita dan keluarga kita. (dikenai biaya 10 k, ini menurut UU yang berlaku)

ini yang saya foto dari polsek Juwana

Pertanyaan yang masih terngiang seputar informasi pribadi dan menurut saya “lucu” yaitu mengenai ciri-ciri fisik kita. Antara lain, bentuk dan warna rambut, warna kulit, bentuk wajah, perawakan badan, tanda/ciri khusus pada tubuh. Waktu ngisi ini saya sempat tertawa. Hehe. Apa yang saya isi:
Rambut: hitam berombak
Warna kulit: cokelat
Bentuk wajah: bundar
Perawakan: tinggi gemuk
Ciri khusus pada tubuh: tailalat di bawah mata

Selalu ngekek waktu inget ini karena sama polisi yang mengoreksi dibetulin jadi gini:
Warna kulit: sawo matang
Bentuk wajah: oval

Sempat bertanya, cokelat kan warna, Bapak? Beliau menjawab, nanti kalau cokelat kesannya kayak makanan. Lalu tentang wajah, kenapa bundar harus dibetulkan, Bapak? Beliau menjawab, nanti kalau bundar kesannya juga kayak makanan, mirip bakpao dong.

Saya ngekek sejadi-jadinya.

4.       Ke Polres Pati. Menyerahkan data dari Polsek Juwana. Isi formulir.

Formulir yang diisi kurang lebih sama dengan yang diberikan di Polsek Juwana, tetapi yang di Polres Pati ini lebih terperinci lagi. Karena termasuk bentuk hidung, gigi, telinga, kening, dll.

5.       Cap jari, isi formulir. Formulir yang ini untuk cap 10 jari tangan. Sekedar info, zat cair yang dipakai untuk cap jari bukanlah tinta yang biasa dipakai untuk cap, namun olie (kayaknya). Waktu cuci tangan gak hilang-hilang. Baru hilang ketika diberi sabun colek. Usai cap 10 jari, pengaju SKCK dikenai biaya 10 k dan menyerahkan 2 lembar foto 4x6 cm.

6.       Proses print SKCK—Selesai. Hasil akhirnya adalah selembar kertas SKCK. Pemilik SKCK akan dikenai biaya 15 k dan menyerahkan 4 lembar foto 4x6 cm.

7.       Fotokopi

8.       Legalisasi (gratis)

9.       Finish!

Sekian cerita pembuatan SKCK saya hari ini. Oia, untuk yang perpanjangan SKCK kayaknya alurnya berbeda. Juga SKCK yang digunakan untuk tenaga kerja luar negeri, syarat-syaratnya agak berbeda.

*Untuk pas foto 4x6 cm itu jangan lupa menggunakan background foto warna merah.

07 October 2012

Happy Song: ShowTime Indonesia

Tampilan awal, ada mba Citra Scholastika
Setiap orang pasti pernah menyanyi bukan? Dan menyanyi ini bisa dijadikan hobi, iseng, cita-cita, bahkan menjadi profesi. Anyway, saya suka nyanyi--padahal suara saya memang gak sebagus suara Desta (keseringan nonton OVJ). Berkat teman saya--yang tidak perlu disebutkan namanya--saya addict sama game yang berkaitan dengan menyanyi ini.

Game tersebut adalah Showtime Indonesia. Gara-gara game ini suara saya jadi kayak kodok. Oke, sekilas mengenai game ini.

ShowTime Indonesia (saya singkat STI) merupakan game buatan Indonesia dan gratis alias tidak dipungut biasa. Biaya yang dikeluarkan cukup biaya modem/wifi/speedy dll karena game ini hanya bisa dilakukan secara online.

Seperti game-game kebanyakan, game ini juga menggunakan avatar. Dan avatar juga dapat didandani sedemikian rupa menurut selera masing-masing.

Di STI, pemain game akan bertemu dengan manusia-manusia yang juga addict dengan menyanyi. Ya, ada yang suaranya pas-pasan kayak saya, tapi ada juga yang suaranya emang beneran bagus. Lhoh kok bisa tahu? Iya dong. Jadi, di game ini kamu bisa mendengarkan suara orang lain ketika kamu tidak dalam mode menyanyi. Seru kan! hehehe

Yah, jadi begitulah. Saya jadi keseringan main di depan leptop sambil nyanyi-nyanyi sendiri dan ketawa-ketawa sendiri.

Happy Song!