Rasa itu bernama rindu
Kenapa?
Bisa kamu rasakan hati para petani ketika musim kemarau?
Kenapa?
Bisa kamu rasakan keringnya tanah di musim kemarau menunggu musim penghujan?
Kenapa?
Bisa kamu rasakan penantian Ibu kepada anaknya?
Kenapa?
Sudah, tak usah bertanya lagi ...
Cukup aku saja dengan pengakuanku!
Selamat Datang
a simple person, a simple blog, but its'n a simple story :)
Menu
#FF2in1
anak
anak kedua
anak ketiga
anak lanang
anak pertama
babyboy
Babygirl
Bisnis
cernak (cerita anak)
cerpen
cinta
Curhat
Dongeng
download
Drakor
DramaKorea
ekspedisi
Ekspo Herbal
esei
fakta
feature
fiksi
FILM
FlashFiction
friendship
Humaniora
iseng
kehidupan
Kritisi berita
Kucing
Kuliner
love
LYK
mitos
Motivasi
NONFIKSI
Novel
orangtua
Ornamen Cinta
parenting
pasangan
pascamelahirkan
pendidikan
pengalaman
pengetahuan
pernikahan
puisi
Resensi
Review apa aja
rumah sakit
sahabat
sajak
sastra
Sim keliling
skripsweet
syair
UlangTahun
video
30 December 2012
15 December 2012
Selembar Kertas: Infak
Pagi hari agak sedikit ribut karena mendapatkan selembar kertas dari sebuah desa. Sebut saja desa A. Ya, hanya selembar kertas dan bisa menggegerkan dua keluarga plus gosip gosip dari warga desa tersebut. Selembat
kertas itu adalah ini:
Selembar kertas ini diberikan oleh seorang warga dari desa A tadi. Letak desa A memang tidak jauh dari desa saya. Jadi, ya (sedikit) wajar kalau inforehabilitasi
renovasi masjid ini sampai juga di tangan keluarga saya.
2. Infaq Rp. 2.000.000
Membaca infaq yang ada dibenak saya adalah sumbangan sesuai keikhlasan hati si pemberi. Saya bingung ketika membaca infaq sebesar 2 juta rupiah. Ini bentuknya sumbangan kan? Bukan kewajiban kan? Seikhlasnya kan? Karena saya pun awam mengenai hal ini, saya mencari arti kata infaq >> infak. Berikut artinya,
3. Seikhlasnya
Semakin lama, saya membaca selembar kertas itu saya semakin geram :D Gak konsisten. Dan kayaknya mengada-ada. Padahal, renovasi yang dilakukan memang benar adanya. Kalau di atas sudah disebutkan 2 juta rupiah, kenapa di situ ditulis lagi seikhlasnya? Aaaakkk, aneh! -.-
4. Ketua Hasil Musyawarah
Dan ini juga semakin membingungkan. Saya gak ngerti ini maunya gimana. Apakah yang dimaksud itu ketua tersebut dipilih berdasarkan hasil musyawarah, atau ketua tersebut dipilih berdasarkan hasil musyawarah dan tidak mengetahui bahwasanya dia telah terpilih menjadi ketua?
Yang namanya ketua, pastilah dirundingkan bersama-sama bukan? Atau setidaknya, apabila calon ketua mengajukan dirinya sendiri, ini tentu bukan hasil musyawarah. Melainkan pencalonan diri lalu disetujui oleh anggota.
5. Drs. H dan S. Pd
Dan yang terakhir ini membuat saya semakin galau dan WOW. Ketua dan sekretaris dijabat oleh seseorang yang memiliki pendidikan tinggi. Kalau di sana tertera tanda tangan sekretaris, otomatis sekretaris sudah membaca selembar kertas itu. Atau mungkin sekretaris tersebut tanda tangan sebelum tulisan tangan itu diisi?
Entahlah.
Sedikit menyarankan, untuk ketua yang namanya tertera dalam selembar kertas tersebut, yang menjadi penanggungjawab atas renovasi tersebut. Mohon diteliti ulang sebelum menyebarkan informasi pada selembar kertas itu. Kami bingung dan galau waktu membaca itu. Itu renovasi untuk tempat ibadah lhoh! Jangan sampai lah ada sesuatu yang tidak ikhlas di sana :)
Terima kasih.
Jika pembaca posting ini ada kritik, saran, dan sanggahan, SILAKAN ^^
Selembar kertas ini diberikan oleh seorang warga dari desa A tadi. Letak desa A memang tidak jauh dari desa saya. Jadi, ya (sedikit) wajar kalau info
Oke,
mengenai selembar kertas ini.
Selesai baca
selembar kertas tersebut saya langsung ngekek. Maaf, bukannya menghina atau
bagaimana ya. Tapi saya memang agak curiga dengan orang-orang di belakang
selembar kertas ini << jangan ditiru. Karena foto sudah saya edit, jadi
bisa dilihat sendiri apa-apa saja yang membuat saya curiga. Hmm bukan curiga,
lebih tepatnya ngekek :D
1. Rehabilitasi
Waktu baca rehabilitasi otak saya langsung mengarah ke orang kecanduan atau orang yang sedang dalam pemulihan keadaan, dan semacamnya. Kalau liat di KBBI online, rehabilitasi berarti
1 pemulihan kpd kedudukan (keadaan, nama baik) yg dahulu (semula); 2 perbaikan anggota tubuh yg cacat dsb atas individu (msl pasien rumah sakit, korban bencana) supaya menjadi manusia yg berguna dan memiliki tempat dl masyarakat.Lebih cocok jika rehabilitasi tersebut diganti renovasi. Iya kan? Biar tidak terjadi salah paham. Saya menduga kalau pembuat selembar kertas itu memang orang Jawa tulen. Biasanya orang Jawa sering menggunakan kata rehab untuk menunjukkan bahwa tengah berlangsung pemugaran/renovasi. Padahal kalau dalam bahasa Indonesia tidak seperti itu maknanya.
2. Infaq Rp. 2.000.000
Membaca infaq yang ada dibenak saya adalah sumbangan sesuai keikhlasan hati si pemberi. Saya bingung ketika membaca infaq sebesar 2 juta rupiah. Ini bentuknya sumbangan kan? Bukan kewajiban kan? Seikhlasnya kan? Karena saya pun awam mengenai hal ini, saya mencari arti kata infaq >> infak. Berikut artinya,
pemberian (sumbangan) harta dsb (selain zakat wajib) untuk kebaikan; sedekah; nafkahHmm, agak gimana gitu sama selembar kertas itu -.-
3. Seikhlasnya
Semakin lama, saya membaca selembar kertas itu saya semakin geram :D Gak konsisten. Dan kayaknya mengada-ada. Padahal, renovasi yang dilakukan memang benar adanya. Kalau di atas sudah disebutkan 2 juta rupiah, kenapa di situ ditulis lagi seikhlasnya? Aaaakkk, aneh! -.-
4. Ketua Hasil Musyawarah
Dan ini juga semakin membingungkan. Saya gak ngerti ini maunya gimana. Apakah yang dimaksud itu ketua tersebut dipilih berdasarkan hasil musyawarah, atau ketua tersebut dipilih berdasarkan hasil musyawarah dan tidak mengetahui bahwasanya dia telah terpilih menjadi ketua?
Yang namanya ketua, pastilah dirundingkan bersama-sama bukan? Atau setidaknya, apabila calon ketua mengajukan dirinya sendiri, ini tentu bukan hasil musyawarah. Melainkan pencalonan diri lalu disetujui oleh anggota.
5. Drs. H dan S. Pd
Dan yang terakhir ini membuat saya semakin galau dan WOW. Ketua dan sekretaris dijabat oleh seseorang yang memiliki pendidikan tinggi. Kalau di sana tertera tanda tangan sekretaris, otomatis sekretaris sudah membaca selembar kertas itu. Atau mungkin sekretaris tersebut tanda tangan sebelum tulisan tangan itu diisi?
Entahlah.
Sedikit menyarankan, untuk ketua yang namanya tertera dalam selembar kertas tersebut, yang menjadi penanggungjawab atas renovasi tersebut. Mohon diteliti ulang sebelum menyebarkan informasi pada selembar kertas itu. Kami bingung dan galau waktu membaca itu. Itu renovasi untuk tempat ibadah lhoh! Jangan sampai lah ada sesuatu yang tidak ikhlas di sana :)
Terima kasih.
Jika pembaca posting ini ada kritik, saran, dan sanggahan, SILAKAN ^^
04 December 2012
Pemilihan Kades
Hujan ini
membawaku mengalun ke beberapa hari yang lalu ketika pilkades berlangsung. Aku
belum cerita bukan mengenai hasil dari pilkades itu.
“Memang
penting?” tanyamu pasti.
“Tentu saja
penting!” kataku tegas.
“Kenapa
penting?” tanyamu lagi.
Dan berulang,
aku menjawab pertanyaanmu, “karena aku akan banyak bercerita di sini. Banyak
bercerita mengenai hal-hal yang tentu saja baru bagiku.”
Lantas kamu
terdiam dan aku terus bercerita.
Aku mulai
ceritaku.
Pilkades
kemarin menghadirkan dua calon dengan simbol gambar kelapa dan jagung. Aku
sendiri tentu saja memilih salah satu dari salah dua pilihan tersebut. Jika pihak kelapa aku sebut sebagai penguasa
dukuh Barat, aku menyebut pihak
jagung sebagai penguasa dukuh Timur. Dan desa aku tinggali bernama desa Barat-Timur (BT)
Masing-masing calon beserta tim suksesnya akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaring dan mendata siapa saja kiranya yang akan masuk menjadi pemilih tetap. Di BT, kami menyebutnya SABET. Sabet inilah yang menjadi tim sukses dan kadang merangkap menjadi penyandang dana. Sabet ini akan mencari BITING (calong pemilih tetap) untuk dijadikan sasaran.
Hmmm… pernah
mendengar adanya “amplop” sebagai tanda ucapan terima kasih karena telah
memilih calon kades? Iya, amplop ini ternyata dibagikan secara nyata. Tidak lagi sembunyi-sembunyi atau melalui jalur belakang. Aku sendiri tak mengira bahwa ternyata antara calon pemimpin dan rakyatnya saling mendukung untuk berbuat tidak baik.
Jumlah nominal di dalam amplop juga mempengaruhi besar minat calon pemilih untuk memilih calon kades. Semakin tingga nominal, semakin tinggi hasrat calon pemilih untuk menjadi pemilih tetap. Kecuali orang-orang terdekat calon kades. Biasanya mereka akan dengan sukarela memilih calon kades tersebut.
Sebenarnya aku tak terlalu heran dengan istilah "amplop" ini. Sudah biasa bagiku yang hidup di tengah-tengah kepalsuan keadilan. Yang aku herankan adalah bukti dari kesanggupan mereka untuk memilih calon kades ketika pemilihan berlangsung. Tau apa yang mereka perbuat? Mereka memotret kertas yang digunakan untuk memilih dengan coblosan pada gambar tertentu. Inilah bukti yang mereka maksud. Bukti bahwa mereka benar-benar telah menerima amplop dan menyanggupi untuk memilih calon kades tersebut.
Waktu aku di dalam bilik pemilih, aku tak habis pikir akan masalah ini. Bahkan aku tak pernah berpikir mengabadikan moment pencoblosan itu. Aku baru mengetahui ini beberapa hari setelah merebak kabar banyak pemilih yang ingkar. Iya, ingkar menjadi biting.
"Sudah selesai ceritanya?" tanyamu memotong ceritaku.
Aku langsung tergagap, "apa kamu bosan?"
"Tidak. Hanya saja, mungkin kamu perlu menyembunyikan permasalahan yang kamu ceritakan tadi itu," katanya tegas membuatku bingung.
"Ada yang salah dengan ceritaku? Apa kamu tidak suka?"
"Bukan begitu. Aku hanya tak ingin jika suatu saat nanti aku menemuimu di bui."
Tak ada lagi ucap. Tak ada lagi kata. Semua ceritaku berakhir dalam kepalsuan.
Sebenarnya aku tak terlalu heran dengan istilah "amplop" ini. Sudah biasa bagiku yang hidup di tengah-tengah kepalsuan keadilan. Yang aku herankan adalah bukti dari kesanggupan mereka untuk memilih calon kades ketika pemilihan berlangsung. Tau apa yang mereka perbuat? Mereka memotret kertas yang digunakan untuk memilih dengan coblosan pada gambar tertentu. Inilah bukti yang mereka maksud. Bukti bahwa mereka benar-benar telah menerima amplop dan menyanggupi untuk memilih calon kades tersebut.
Waktu aku di dalam bilik pemilih, aku tak habis pikir akan masalah ini. Bahkan aku tak pernah berpikir mengabadikan moment pencoblosan itu. Aku baru mengetahui ini beberapa hari setelah merebak kabar banyak pemilih yang ingkar. Iya, ingkar menjadi biting.
"Sudah selesai ceritanya?" tanyamu memotong ceritaku.
Aku langsung tergagap, "apa kamu bosan?"
"Tidak. Hanya saja, mungkin kamu perlu menyembunyikan permasalahan yang kamu ceritakan tadi itu," katanya tegas membuatku bingung.
"Ada yang salah dengan ceritaku? Apa kamu tidak suka?"
"Bukan begitu. Aku hanya tak ingin jika suatu saat nanti aku menemuimu di bui."
Tak ada lagi ucap. Tak ada lagi kata. Semua ceritaku berakhir dalam kepalsuan.
25 November 2012
PILKADES
Sudah lama ya gak posting xixi. Keasikan main game, maaf maaf.
Hmm, mau cerita apa ya? Oke, mumpung sekarang di kampung lagi rame pemilihan kepala desa mungkin saya ingin sedikit membahas mengenai ini.
Pernah baca novel Jatisaba karya Ramayda Akmal? Belum? Silakan beli ya, itu novel punya kakak tingkat saya wkwkwkw *promosi
Yak, waktu saya baca Jatisaba. Saya sempat tidak percaya bahwa pemilihan kepala desa itu penuh intrik. Penuh dengan strategi yang terkadang susah untuk dinalar. Banyak masyarakat yang saling curiga. Saling menghimpun kekuatan untuk melawan pesaingnya dan sebagainya. Tidak jarang, hal-hal kecil seperti letak rumah, no urut pencalonan, nama calon, lambang, menjadi perbincangan hangat yang disangkutpautkan dengan hasil yang akan diperoleh nanti ketika pengumuman Kades.
Dulu, waktu saya kecil--masih SMA--baik-baik saja ketika mengetahui adanya pemilihan Kades. Meskipun orang tua membicarakan hal ini, saya tak pernah ambil pusing karena toh saya tidak memiliki hak suara. Sekarang? Sekarang saya punya hak suara dan saya galau. Mau pilih yang mana? Hmm, tapi bukan itu yang akan saya bahas di sini.
Lanjut!
Dari sekian banyak cerita yang saya terima mengenai pemilihan Kades saya hanya menyimpulkan satu kata: KEREN.
Keren karena banyak orang yang terpecah akibat salah satu atau dua dst.nya mendukung pihak yang lain. Keren karena banyak antek-antek di belakang sana berkeliaran. Keren karena ternyata berlaku jujur itu susah. Keren karena jika tak bersikap curang, justru akan dikucilkan oleh yang lain. Keren karena bukan hanya manusia yang berjalan di pemilihan. Dan masih banyak kekerenan yang lain.
Lalu saya cuma bisa bilang WOW :D
Yuk ah, kalau bisa budayakan bersikap jujur dan adil. Rakyatmu membutuhkan kejujuran dan keadilan. Bukan membutuhkan persaingan yang tidak adil.
Ttd
Warga (yang juga kurang) baik
Hmm, mau cerita apa ya? Oke, mumpung sekarang di kampung lagi rame pemilihan kepala desa mungkin saya ingin sedikit membahas mengenai ini.
Pernah baca novel Jatisaba karya Ramayda Akmal? Belum? Silakan beli ya, itu novel punya kakak tingkat saya wkwkwkw *promosi
Yak, waktu saya baca Jatisaba. Saya sempat tidak percaya bahwa pemilihan kepala desa itu penuh intrik. Penuh dengan strategi yang terkadang susah untuk dinalar. Banyak masyarakat yang saling curiga. Saling menghimpun kekuatan untuk melawan pesaingnya dan sebagainya. Tidak jarang, hal-hal kecil seperti letak rumah, no urut pencalonan, nama calon, lambang, menjadi perbincangan hangat yang disangkutpautkan dengan hasil yang akan diperoleh nanti ketika pengumuman Kades.
Dulu, waktu saya kecil--masih SMA--baik-baik saja ketika mengetahui adanya pemilihan Kades. Meskipun orang tua membicarakan hal ini, saya tak pernah ambil pusing karena toh saya tidak memiliki hak suara. Sekarang? Sekarang saya punya hak suara dan saya galau. Mau pilih yang mana? Hmm, tapi bukan itu yang akan saya bahas di sini.
Lanjut!
Dari sekian banyak cerita yang saya terima mengenai pemilihan Kades saya hanya menyimpulkan satu kata: KEREN.
Keren karena banyak orang yang terpecah akibat salah satu atau dua dst.nya mendukung pihak yang lain. Keren karena banyak antek-antek di belakang sana berkeliaran. Keren karena ternyata berlaku jujur itu susah. Keren karena jika tak bersikap curang, justru akan dikucilkan oleh yang lain. Keren karena bukan hanya manusia yang berjalan di pemilihan. Dan masih banyak kekerenan yang lain.
Lalu saya cuma bisa bilang WOW :D
Yuk ah, kalau bisa budayakan bersikap jujur dan adil. Rakyatmu membutuhkan kejujuran dan keadilan. Bukan membutuhkan persaingan yang tidak adil.
Ttd
Warga (yang juga kurang) baik
12 October 2012
Akhir Musim Kemarau, Awal Musim Penghujan
Beberapa hari lalu, gerimis dan hujan sempat singgah di
desa Agung Mulyo. Ya, masih sekedar pelepas dahaga tanah yang telah lama tak
basah karenanya. Musim kemarau kali ini lebih panjang dari yang seharusnya.
Jika para petani sawah, ladang, dan sebangsanya rebut karena kemarau dan tak
ada air, lain halnya dengan warga desa Agung Mulyo. Mereka bersuka cita
menyambut lamanya kemarau karena hal ini tentu saja memperpanjang masa
produktif penghasilan mereka.
Bagi petani garam, kemarau adalah ladang “uang”. Hampir
seluruh penduduk desa Agung Mulyo akan berbondong-bondong ke lahannya masing-masing
untuk membuat garam. Saat ini, karena mendekati musing penghujan para petani
garam akan semakin semangat memanen garamnya. Berlomba-lomba memasarkan hasil
panen. Kenapa? Karena mendekati musim penghujan, biasanya harga garam akan
mulai naik.
Untuk harga garam sendiri tak bisa diprediksi kapan akan
naik karena hal ini tergantung dengan cuaca dan juga banyaknya pasokan garam
yang diproduksi. Seperti kemarin, hanya semalam hujan deras, harga garam mulai
naik kembali. Ini juga berpengaruh terhada penjualan garam curah/briket ke konsumen.
Memasuki bulan Oktober yang biasanya terhitung sebagai
musim hujan, para petani garam sudah mulai gelisah. Gerimis dan hujan sudah
mulai menyapa mesti belum rutin setiap hari. Mendung yang mulai menebal semakin
menambah was-was petani garam karena hal tersebut adalah sinyal akan
berakhirnya masa produksi garam.
11 October 2012
Pembuatan SKCK
Mungkin hari ini saya seperti orang kebanyakan yang
sedang mencari persyaratan untuk melamar pekerjaan. Tapi untuk saya, ini hanya
sebatas pengen mencoba. Kalau diterima ya syukur Alhamdulillah, kalau misalnya
gak yasuda gak papa saya akan mencari yang lain.
Pertanyaan yang masih terngiang seputar informasi pribadi dan menurut saya “lucu” yaitu mengenai ciri-ciri fisik kita. Antara lain, bentuk dan warna rambut, warna kulit, bentuk wajah, perawakan badan, tanda/ciri khusus pada tubuh. Waktu ngisi ini saya sempat tertawa. Hehe. Apa yang saya isi:
Salah satu persyaratan yang dicantumkan adalah SKCK. Ya,
Surat Keterangan Catatan Kepolisian. Dulunya bernama SKKB, Surat Keterangan
Kelakuan Baik (kalau gak salah).
Sebagai seorang yang masih awam di dunia pekerjaan, tentu
saja saya gak terlalu ngerti kenapa
seorang pelamar harus menunjukkan surat keterangan ini. Setelah saya
telusuri lewat internet, saya menyimpulkan: surat ini adalah keterangan tentang
kehidupan kita sebagai seorang individu sosial yang hidup di Negara Republik
Indonesia tercinta ini yang penuh dengan tata aturan (hukum) dan
perundang-undangan >> ini terlalu panjang, abaikan!
Intinya, SKCK adalah rekab kehidupan sosial kita di mata
hukum dan perundangan.
Seperti yang saya baca di beberapa situs Polres, persyaratan yang
ditulis dalam situs tersebut juga berlaku di Polsek Juwana dan Polres Pati.
Uraian mengenai pembuatan SKCK kurang lebih kalau di
Juwana seperti ini:
1. Meminta
surat keterangan/pengantar dari desa tempat tinggal yang ditandatangani Kades
dan capnya. (Ini saya tidak dipungut biaya)
2. Ke
Kantor kecamatan untuk meminta tanda tangan dan cap, melengkapi surat
keterangan/pengantar yang dibawa dari desa. (ini dipungut biaya seikhlasnya)
Sekedar cerita sebelum no.3, karena tadi beliau
mengatakan seikhlasnya. Saya pun memberikan seikhlasnya. Berapa? Nanti dulu. Di
kantor camat, saya hanya meminta tanda tangan dan cap saja. Tidak ada yang
lain, serta tidak ada peraturan yang mengharuskan pengaju SKCK untuk membayar
jasa dll. Dengan seikhlasnya saya memberikan nominal 2,5 k. Berapa itu? Sila
pikir sendiri. Tadi itu yang menerima nominal tersebut sempat memandang saya
lama. Haha. Saya gak ngerti apakah itu tatapan gak suka, atau gimana. Kan Bapak
bilang seikhlasnya, toh?
3. Ke
Polsek Juwana. Memberikan persyaratan yang dibutuhkan untuk membuat SKCK di
Polres Pati. Di polsek kita akan diberi
3 lembar formulir. Isinya mengenai informasi pribadi kita dan keluarga kita. (dikenai
biaya 10 k, ini menurut UU yang berlaku)
![]() |
| ini yang saya foto dari polsek Juwana |
Pertanyaan yang masih terngiang seputar informasi pribadi dan menurut saya “lucu” yaitu mengenai ciri-ciri fisik kita. Antara lain, bentuk dan warna rambut, warna kulit, bentuk wajah, perawakan badan, tanda/ciri khusus pada tubuh. Waktu ngisi ini saya sempat tertawa. Hehe. Apa yang saya isi:
Rambut: hitam berombak
Warna kulit: cokelat
Bentuk wajah: bundar
Perawakan: tinggi gemuk
Ciri khusus pada tubuh: tailalat di bawah mata
Selalu ngekek waktu inget ini karena sama polisi yang
mengoreksi dibetulin jadi gini:
Warna kulit: sawo matang
Bentuk wajah: oval
Sempat bertanya, cokelat kan warna, Bapak? Beliau menjawab,
nanti kalau cokelat kesannya kayak makanan. Lalu tentang wajah, kenapa bundar
harus dibetulkan, Bapak? Beliau menjawab, nanti kalau bundar kesannya juga
kayak makanan, mirip bakpao dong.
Saya ngekek sejadi-jadinya.
4. Ke
Polres Pati. Menyerahkan data dari Polsek Juwana. Isi formulir.
Formulir yang diisi kurang lebih sama dengan yang
diberikan di Polsek Juwana, tetapi yang di Polres Pati ini lebih terperinci
lagi. Karena termasuk bentuk hidung, gigi, telinga, kening, dll.
5. Cap
jari, isi formulir. Formulir yang ini untuk cap 10 jari tangan. Sekedar info,
zat cair yang dipakai untuk cap jari bukanlah tinta yang biasa dipakai untuk
cap, namun olie (kayaknya). Waktu cuci tangan gak hilang-hilang. Baru hilang
ketika diberi sabun colek. Usai cap 10 jari, pengaju SKCK dikenai biaya 10 k
dan menyerahkan 2 lembar foto 4x6 cm.
6. Proses
print SKCK—Selesai. Hasil akhirnya adalah selembar kertas SKCK. Pemilik SKCK
akan dikenai biaya 15 k dan menyerahkan 4 lembar foto 4x6 cm.
7. Fotokopi
8. Legalisasi
(gratis)
9. Finish!
Sekian cerita pembuatan SKCK saya hari ini. Oia, untuk yang
perpanjangan SKCK kayaknya alurnya berbeda. Juga SKCK yang digunakan untuk
tenaga kerja luar negeri, syarat-syaratnya agak berbeda.
*Untuk pas foto 4x6 cm itu jangan lupa menggunakan background
foto warna merah.
07 October 2012
Happy Song: ShowTime Indonesia
| Tampilan awal, ada mba Citra Scholastika |
Game tersebut adalah Showtime Indonesia. Gara-gara game ini suara saya jadi kayak kodok. Oke, sekilas mengenai game ini.
ShowTime Indonesia (saya singkat STI) merupakan game buatan Indonesia dan gratis alias tidak dipungut biasa. Biaya yang dikeluarkan cukup biaya modem/wifi/speedy dll karena game ini hanya bisa dilakukan secara online.
Seperti game-game kebanyakan, game ini juga menggunakan avatar. Dan avatar juga dapat didandani sedemikian rupa menurut selera masing-masing.
Di STI, pemain game akan bertemu dengan manusia-manusia yang juga addict dengan menyanyi. Ya, ada yang suaranya pas-pasan kayak saya, tapi ada juga yang suaranya emang beneran bagus. Lhoh kok bisa tahu? Iya dong. Jadi, di game ini kamu bisa mendengarkan suara orang lain ketika kamu tidak dalam mode menyanyi. Seru kan! hehehe
Yah, jadi begitulah. Saya jadi keseringan main di depan leptop sambil nyanyi-nyanyi sendiri dan ketawa-ketawa sendiri.
Happy Song!
Subscribe to:
Posts (Atom)


