"Iya. Kenalkan, ini Agung, Reni, Wijaya, Ketut. Dan, nanti di dalam masih banyak lagi," katanya sambil menunjuk ke ruang latihan teater mereka.
Aku tak sempat menanyakan kepada mas, nama teater itu. Setahuku, aku kemudian bergabung dalam bengkel teater tersebut. Aku berusaha keras untuk mengakrabkan diri, karena aku orang baru.
Beberapa hari di sana aku mulai terbiasa dengan obrolan-obrolan mereka. Maklum, aku orang baru, dan kadang tidak mengerti perkataan yang mereka utarakan. Masih ada sekat di antara aku dan mereka. Masku sendiri terlalu sibuk dengan urusan teater yang lain. Aku dibiarkannya beradaptasi sendiri. Bersusah payah, aku juga mencoba untuk latihan reading naskah. Ahhh..., aku masih tertawa-tawa membawakan karakter tokoh. Aku belum bisa dengan sepenuh hati, menjiwai peran.Hingga suatu hari....




