22 September 2012

Final Destination!


19 September 2012, kemarin saya menunaikan hal yang mungkin berpengaruh besar terhadap kehidupan saya: kembali ke rumah. Ini bukan hanya sekedar kembali ke rumah, tapi pindah ke rumah. Iya, pindah dari kos ke rumah sampai waktu yang belum ditentukan. Mungkin selamanya? Entah! Biarlah waktu yang menentukan ….

---------------------------------------------------------------------

Berawal pada hari Senin, 17 September 2012.
Saya dan kedua orangtua saya berangkat ke Jogja pukul 10.00 WIB menaiki mobil. Sampai Jogja sekitar pukul 15.30 WIB. Tanpa basa-basi kami langsung mengangkut semua barang kepunyaan saya di kos. Semuanyaaaa! Dengan pengecualian motor (yang akan saya bawa pulang sendiri) dan beberapa baju untuk ganti selama 2 hari. Lalu sekitar pukul 17.00 WIB beres-beres sudah rampung. Semua sudah tersusun rapi di dalam mobil. Mobilnya penuh tanpa ada sisa celah.

barang dari Jogja yang ada di kamar kos

Oia, sebelumnya, ketika di rumah. Kursi mobil yang bagian tengah dan belakang sudah dicopot terlebih dahulu agar luas dan muat barang-barang. Salah satu barangnya saya karena saya duduk lesehan ketika berangkat ke Jogja.

Malamnya, saya tetap tidur di kos dengan kasur pinjam sama mbak kos yang kebetulan memiliki kasur berlebih. Saya tidur ditemani suasana kamar yang lengang karena memang tak ada apa-apanya.

bagian kiri
bagian kanan













Selasa, 18 September 2012
Saya sudah rapi sejak pukul 07.30 WIB. Tak lupa untuk sarapan. Lalu capcus ke BI karena mau nuker uang rusak yang dibawa dari rumah. Setelah dari sana, memutuskan untuk menemui senior saya di EO untuk menyerahkan berkas-berkas penting yang saya bawa selama kerja part-time di EO. Perpisahan dengan senior terasa cengeng. Saya sedih dan Beliau juga sedih. Saya berterima kasih sekali karena telah mengenal Beliau dan diperkenankan untuk “merusuh” di EO yang Beliau pimpin. Sekali lagi, terima kasih Bapak.

Selepas ngobrol panjang lebar, akhirnya saya pamit. Cus, ke tempat servis motor. Si BH perlu perawatan intensif karena akan dibawa perjalanan jauh: Kos-Jogja-Purwodadi-Pati-Juwana-Agung Mulyo-Rumah.

Setelah servis, sengaja ke toko buku untuk beli beberapa buku. Yes! Dan pulangnya mampir ke BARKAS (Toko Barang Bekas di seberang Toga Mas Gejayan) untuk menilik gitar.

Sekilas info: Gitar saya yang saya beli karena pengen belajar gitar telah rusak dan terbelah menjadi dua bagian—atas dan bawah. Gak sengaja dibanting sama ponakan saya.

gitar lama (penuh kenangan) dan gitar baru
Oke! Berhubung harga gitarnya masih terjangkau di kantong saya, akhirnya saya membelinya. Sekalian tasnya juga karena akan saya bawa pulang.

Perburuan, BERAKHIR!

Rabu, 19 September 2012
Pukul 04.00 WIB saya sudah bangun dan segera mandi. Pukul 05.00 WIB saya sudah bersiap pamitan. Meski ada beberapa hal yang saya gak sangka.

Hal 1: Dapat tentengan dari Mbak Kos >> Brownies Amanda Original cokelat. NYAM!
Hal 2: Dapat bingkisan dari adek kos: Hepi dan Dini >> Kaos Gareng (Jogja) dan Pasmina. OKE!
Hal 3: Dapat petuah dari Ibu kos karena kos saya yang belum habis masa mau diminta. DAMN!

Pukul 05.30 WIB cus meninggalkan kos dan Jogja, juga pacar setelah pamitan :(

-------------------------------------------------------------------

Saya (dan juga ortu saya ikut andil) telah merencanakan jalan hidup dan cita-cita saya. Tapi Tuhan yang mengatur jalan hidup tersebut. Saya pun gak ngerti apakah jalan ini akan berakhir sesuai dengan harapan saya, ataukah akan berakhir dengan hal yang lebih luar biasa dari harapan saya. Hanya Tuhan YangMahaTahu.

Fighting!

11 September 2012

Kembali Pulang

Sudah beberapa hari ini aku di rumah setelah wisuda kelulusan S1-ku. Sebenarnya aku ingin sekali seperti perempuan-perempuan kota kebanyakan yang mencari lowongan pekerjaan, memasukkan lamaran, tes tertulis, interview dan sebagainya. Namun sayangnya, aku tak memilih itu.

Mulanya aku sudah mencari lowongan pekerjaan itu. Dari mulai ikut berlangganan email dari joobstreet hingga tiap hari melacak jejak lowongan pekerjaan di akun twitter @jogjalowker. Beberapa ada yang aku minati tetapi “rasa” itu masih tak bisa aku raba.

Aku suka traveling. Aku suka kuliner. Aku suka bersama dengan tim yang kompak. Aku suka bekerja sendiri. Tapi aku tak (terlalu) suka jika berada dalam ruangan yang menjemukan. Tapi aku suka kamarku. Tentu beda bukan, antara ruang kamar (sendiri dan pribadi) dan kantor?

Ya, aku suka berlama-lama di kamar sendiri—pribadi. Namun sayangnya lagi, di rumah aku sudah tak punya kamar. Aku satu kamar dengan adeku. Kamar ini dulunya aku huni. Tapi ketika aku mulai meninggalkan rumah karena harus kuliah, kamarku kosong dan akhirnya ditempati oleh adeku. Sehingga sekarang, aku harus numpang tidur dan barang-barang juga di kamar bekas punyaku adeku.

Kembali ke kamar pribadi.

Di kamar aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam entah itu hanya sebatas melamun, membaca buku, nonton film, nulis, tidur, umpetin nangis, umpetin rasa kesel ketika sebel sama keluarga, dan masih banyak lagi. Di kamar ini aku bisa bermimpi, menjadi diri sendiri, mengeja tiap detik cita-cita yang telah kususun rapi (meski masih belum terlaksana semuanya).

Dan karena itulah, aku memilih untuk tidak mengirimkan email ke beberapa lowongan kerja yang sudah aku kumpulkan. Aku sempat curiga ketika aku mencoba mengirimkan lamaran ke salah satu bank berbasis syariah. Setelah 3 kali aku mencoba mengirimkan email dan selalu mendapatkan email balasan dari MAILER-DAEMON@yahoo.com akhirnya aku menyerah (entah ini pilihan yang baik atau tidak).

Beginilah adanya aku. Kembali ke Juwana. Kampung halaman tercinta, Ds. Agung Mulyo. Membersihkan kamar belakang (di bantu Ibu) yang sudah lama tak dihuni untuk kujadikan kamar pribadi lagi. Untuk merangkai mimpi yang pernah terbengkalai. Untuk mencari tujuan hidup yang baik. Semoga diridhoi oleh YangMahaKuasa. Amin ....

Fighting!

30 August 2012

de Javu - Herlinatiens

Dejavu, Sayap yang Pecah
Dejavu, Sayap yang Pecah by Herlinatiens

My rating: 3 of 5 stars

deJavu merupakan logi kedua dari novel Garis Tepi Seorang Lesbian. Masih dengan pemilihan diksi yang khas, Herlinatiens mengemas deJavu dengan cara yang sama. Hmm ... sebenarnya saya agak kecewa dengan ending cerita deJavu karena banyak hal yang tidak terselesaikan. Seperti kasus Aspasia dan kliennya, lalu karakter tokoh Samoa yang menurut saya kurang berkesan.

Sebenarnya saya ingin bertanya? Sebenarnya novel deJavu ini mau bercerita mengenai siapa? Ending dari kisah Sabine sendiri juga gantung. Kecuali kisah Rie, Paria, Mahendra, serta Dek Retno dan Damas yang terselesaikan dengan baik. Rie dan Paria, lesbian yang tak bisa bersatu. Mahendra yang mencintai Rie namun tak ingin menikahi Rie ketika Rie meminta untuk menikahinya. Dek Retno yang akhirnya (akan menikah) dengan Damas, seorang yang telah merenggut keperawanan Sabine (sahabat Dek Retno) dan menghilang ketika seminggu sebelum pernikahannya dengna Sabine.

Saya membaca novel ini sekali. Di awal saya kebingungan karena gaya penceritaan novel ini berbeda dari novel-novel lain yang pernah saya baca. Pembaca baru akan mendapatkan pencerahan ketika menyelesaikan buku ini.

Sedikit kutipan dari de Javu yang "gue banget" :D

Hidup itu seperti rimba. Kita bisa dengan bebas menentukan ke mana kita menapakkan kaki kita. Akankah kita memilih dan mencari jalan sendiri, ataukah sekedar mengikuti jalan-jalan setapak yang dibuat oleh orang-orang yang lebih dulu melewatinya. Semuanya penuh risiko dan rintangan yang seringkali mematikan. Pun, jika kita berjalan dengan cara meloncat dari satu pohon ke pohon yang lain untuk menghindari singa-singa yang lapar di bawah, kemudian ternyata pada akhirnya kita mati dibelit ular yang bersarang di pohon. Itu juga sebuah risiko yang perlu kita sikapi dengan arif. (2004:106)

View all my reviews

Blogger Pati

*merenung

Posting ini merupakan respect saya terhadap tulisan saudara Asmari di blognya mengenai Blogger Pati atau Komunitas Blogger Pati.

Saya mengaku sebagai orang Pati, tepatnya Juwana karena memang saya dilahirkan dan dibesarkan di kota tersebut. Akan tetapi, ketika saya menyebut diri saya sebagai seorang yang lahir dan dibesarkan di Pati, saya kecewa dengan diri saya karena saya tidak pernah menyinggung Pati dalam setiap posting saya. Saya baru sadar *elus dada. Terima kasih kepada saudara Asmari yang telah menyadarkan saya -.-

Mengenai blogger?

Semenjak saya menulis di blog (tepatnya CURHAT), saya tidak pernah mendedikasikan diri saya sebagai blogger. Sampai sekarangpun saya tidak tahu apa itu blogger? Buka google-search arti blogger!

Dari artikel Apa Itu Blogger? saya mendapatkan pencerahan. Berikut beberapa kutipannya.

Blogger adalah sebutan bagi orang yang menulis di blog tersebut.
>> berarti saya termasuk :D

Syarat seseorang bisa menjadi blogger hanya satu: bisa menulis!
>> yang penting bisa menulis kan? Berarti saya termasuk.

Nah, dalam komunitas blogger yang semuanya adalah penulis, ada beberapa yang memang punya kemampuan teknis lebih, ada beberapa yang lebih suka menulis karya seni, ada beberapa yang suka menulis dengan gaya jurnalis, dan seterusnya.

>> saya tidak memiliki kemampuan teknis lebih tapi saya suka menulis. Menulis apa saja, tanpa aturan :D Apakah yang ini saya termasuk?

Dari tiga penjelasan di atas apakah saya pantas disebut sebagai blogger? Sepertinya sudah pantas. Tapi saya tetap merasa tidak pantas karena saya masih jarang update blog. Pun saya tidak pernah mengikuti komunitas blogger atau apapun itu namanya. Okelah, apapun sebutan untuk saya, entah saya disebut seorang blogger atau penulis (diary) saya terima apa adanya ehehe...

Maju terus blogger Indonesia :)

Mengenai Pati?

Bukannya saya tidak bersyukur dilahirkan di Pati, tetapi saya memang kurang "mengenal" Pati. Oke, sebut saja saya kuper (kurang pergaulan). Saya tinggal di Juwana, di pinggiran kota Pati. Jika ditempuh dengan kendaraan motor, waktu yang ditempuh kira-kira 45 menit. Itupun kalau saya tidak nyasar.

Saya tidak terlalu mengenal kota Pati karena saya terlalu banyak menghabiskan waktu sebagai anak yang tidak berani keluyuran ketika SMA. Dulu saya SMA di Juwana. Akibatnnya, jadilah saya seorang yang kuper akan kota Pati.

Yap! Here am I, seorang yang dilahirkan di Pati tapi tak tahu menahu mengenai kota Pati >> Ironi.

Setelah ini, mungkin saya akan berkeliling kota Pati :)


I love Pati ...

29 August 2012

Kucing Kiyoko - Karya: Rama Dira

Kucing KiyokoKucing Kiyoko by Rama Dira

My rating: 4 of 5 stars


BUku ini adalah kumpulan cerpen RAma Dira yang pernah di muat di beberapa surat kabar terkemuka seperti Kompas, SUara Merdeka, dan lain-lain. Pembaca tidak akan menyesal membeli dan membaca buku ini. Cerpen yang disajikan sangat menarik. Cerpen ini bukanlah cerpen teenlit ataupun chiklit, tapi lebih merujuk ke sastra.

Yang paling istimewa dari kumpulan cerpen ini adalah ending dari setiap cerpen. Semuanya tidak terduga. Dira sangat kreatif membuat plot ceritanya. Karakter yang dibuat juga sangat kuat.

Selamat membaca Kucing Kiyoko.... :)



View all my reviews

Review: Waktu Aku Sama Mika - Karya: Indi

Waktu Aku Sama MikaWaktu Aku Sama Mika by Indi

My rating: 2 of 5 stars


(menulis itu tidak mudah dan berkomentar itu sangat mudah)

Setelah menamatkan buku ini selama 2 hari, akhirnya saya tidak penasaran lagi. Dari dulu penasaran pengen beli ini buku.

Sebetulnya ide ceritanya menarik: Indi yang menceritakan pacarnya bernama Mika dan mereka berdua merupakan orang-orang yang spesial. Indi dengan skoliosis dan Mika dengan AIDS-nya. Cuman yang saya gak ngerti: kenapa diksinya dibikin seperti itu?

Berhubung ini komentar bersifat subyektik, saya kurang begitu suka dengan diksi yang dipakai. Diksi yang dipakai belum dapat mendeskripsikan cerita. Lebih tepat jika disebut sebagai potongan-potongan cerita.

Selebihnya, aku suka :)



View all my reviews

Kebahagian (Sesaat) Ketika Lebaran

Alhamdulillah, aku ucapkan ...
Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Semoga amalan kita di bulan suci Ramadhan adalah berkah untuk kita semua. Amin.

Lebaran kali ini tidak seperti lebaran tahun kemarin. Jika lebaran kemarin aku sangat bahagia, lebaran kali ini aku merasa sangat bahagia sekali. Itu karena ... akhirya, aku lulus juga. Iya, lulus dengan tidak cumlaude sebagai seorang sarjana S1 yang sebentar lagi menjadi seorang PENGACARA >> pengangguran banyak acara.

Kebahagian  menyelimutiku ketika lebaran dan sampai kemarin tanggal 28 Agustus 2012. Sekarang tertanggal 29 Agustus 2012 dan saya galau. Galau karena telah melepas status mahasiswa. Jika kemarin saya selalu nodong ortu, sekarang mau nodong aja sungkan.

Wisuda hanyalah sebatas euphoria sesaat dan aku merasakannya sekarang.

Oke, tarik-napas-buang-napas!

Kembali menata hidup ... semangat.