06 March 2010

Monolog Jiwa

Sepi..., aku akan berdialog
Tolong jangan anggap aku terkena gangguan jiwa

"Aku ingin lupakan pilihan yang dulu memusingkanku!"

Biarkan aku berdialog lagi
Lepaskan jiwaku untuk terbang menikmati kebebasan berdialog tanpa batasan

Aku ingin berpantomim atau bermonolog
Karena semua akan terdiam.

Aku ingin semua memahaminya
Bukan dari mulutku, tapi dari caraku
Bukan dari diriku, tapi dari dirinya sendiri

"Biarkan aku tertidur sekarang!"

25 February 2010

Diklat Jurnalistik (DJ) 2010 -hari pertama-

Diklat Jurnalistik (DJ) 2010
Oleh HMTI (Himpunan Mahasiswa Teknik Industri) UGM yang didukung oleh Tim Diklat Kompas

Diklat jurnalistik yang dilaksanakan tanggal 3-6 Februari 2010 di ruang KPTU lantai dua diikuti oleh 61 peserta. Peserta tidak hanya dari golongan mahasiswa tetapi juga terbuka oleh umum.

Berikut ceritaku sebagai seorang peserta DJ 2010 ^^

Hari pertama/ Rabu, 3 Februari 2010/ pukul 08.00-16.00
Peserta diberi materi oleh tim diklat Kompas. Pematerinya yaitu Mas Luwi, Mas Pepih, Mas Wisnu, Mas Cahyono, Mas Pudjo, dan Mas Santoso. Perlu diketahui bahwa panggilan Mas tidak merujuk kepada usia, tetapi lebih merujuk kekerabatan (lebih terasa kekeluargaannya).

Materi yang diberikan oleh Tim juga bervariasi. Tentang peranan media dan lembar daerah oleh Mas Pudjo, kewartawanan oleh Mas Luwi, nilai berita dan jenis berita oleh Mas Wisnu, menulis cepat oleh Mas Pepih, selukbeluk wartawan beserta tetekmbengek-nya oleh Mas Santoso serta merangkap sebagai moderator dalam diskusi, juga desain grafis koran (pada hari ketiga) oleh Mas Cahyono.

Hari pertama dibentuk sepuluh kelompok untuk menjalankan tugas yang akan diberikan oleh Tim. Kelompok sudah ditentukan oleh Panitia. Saya ada pada kelompok tujuh yang terdiri dari enam orang. Mereka adalah: saya, Riesa (mahasiswi Teknik Industri UGM ‘08), Aga (siswa kelas 2 SMA N 3 Jogjakarta), Sisca (Mahasiswi Atmajaya Jogjakarta ‘09), Rizki (mahasiswa UIN Jogjakarta ‘06), dan Diansuci (umum, sudah lulus kuliah).

Tugas yang diberikan adalah peliputan/praktik lapangan dan pencarian data oleh tiap-tiap peserta. Jadi, satu kelompok akan menghasilkan enam berita/artikel.

Usai diklat hari pertama, kelompok tujuh mulai berkumpul mendiskusikan topik berita atau artikel yang akan ditulis. Untuk tulisan ini, para peserta agaknya diwajibkan untuk bisa bekerja sendiri.

SAya heheheh.. saya mengambil topik tentang Portal semi-otomatis UGM. Betapa semangatnya saya. Cerita lebih lanjutnya akan saya tulis di hari berikutnya.... tunggu kelanjutannya :)

Maaf, foto Riesa tidak ada... Foto yang saya dapat cuma itu.

24 February 2010

Nasi Gandul: Kuliner Khas Pati, di Jogja?

Feature ini saya buat semata-mata karena tugas perkuliahan MEnulis Kreatif. Dari pada hanya menjadi bacaan sendiri, lebih baik aku share ke blog. hehe

SEdikit cerita. Mahasiswa yang mengikuti kuliah ini kira-kira empat puluh orang. Nah dari ke-40 feature itu, oleh Bapak Aprinus Salam (dosen pengampu) menyeleksi menjadi sepuluh feature. Hihihi, walaupun hanya sebatas latihan, tapi saya senang karena bisa masuk kesepuluh feature tersebut. HAnya sayangnya, belum bisa menjadi yang terbaik dari feature2 teman2 yang juga baik dan sangat menarik.

Hihi, dosen pengampu mata kuliah ini memang unik. Beliau tidak segan mencaci karangan kita apabila memang tidak sesuai dengan keinginannya. TApi menurut saya, hal itu justru memacu semangat untuk lebih baik lagi. Yang terbaik dapat duit 50rb (uang yang terkumpul dari mahasiswa yg mengikuti kuliah @ Rp1.000,- kalau kurang dari 50rb, Bpk Aprinus akan menambahi)...hahahahha tapi kalau yang terbaiknya dua, 50rb-nya juga dibagi dua. Hehehehe... Lumayanlah, sebagai anak kos.

Berikut feature saya ^^

Apa yang akan terlintas di benak Anda jika Anda mendengar sebutan “nasi gandul”? Mungkin Anda akan mengira bahwasanya itu adalah nasi yang bergelantung, atau nasi yang digantungkan, atau mungkin hal-hal lain yang berkaitan dengan hal “gandul” tergantung dari imajinasi seseorang. “Pertama kali saya mendengar nasi gandul, yang saya pikirkan, apakah nasinya itu digantung? Namanya gondal-gandul?” tutur Tina (24) mahasiswi asal Palembang. Berbeda lagi dengan penuturan Denta (22), mahasiswi asal Tulungagung, “saya penasaran, apa artinya ‘gandul’?” Akan tetapi, hal itu tidak akan terjadi apabila yang mendengar sebutan tersebut adalah masyarakat Pati (Jawa Tengah) dan sekitarnya.

17 February 2010

LYK (episode terakhir) hehe

Lintang

Dan ternyata kenyataan berkehendak lain. Ketika aku tak dekat dengan Dimas (berada dalam kota yang berbeda), Gina meneleponku. Ahhh...seandainya kita semua dalam satu kota, pasti tidak seperti ini ceritanya.
"Hallo," sapanya ketus.
"Iya hallo," kujawab ragu-ragu. Antara sedih dan kalut beradu menjadi satu.
"Lintang, kamu tahu kan kalau Dimas itu pacar aku! Dan kamu tahu gak sih, Dimas itu main-main nembak kamu! Kalau gak percaya, kita conference bertiga," kata Gina menggebu-gebu, seakan tak sabar membuatku terkejut dengan apa yang dikatakannya.

15 January 2010

LYK (dua episode terakhir ^^)

(KELANJUTAN DIMAS)
….
Gina bertanya menyelidik kepadaku, “Lintang itu siapa?”.
“Ooo, teman di kampung,” jawabku. Aku tidak berbohong. Aku mengenal Lintang di kota tempat tinggal aku dulu.
“Tapi kenapa SMS dia seperti itu?” tanyanya.
“Cemburu ya…,” rajukku, mengalihkan pembicaraan.
“Kalau kamu gak mau ngaku, aku telepon dia sekarang,” ancam Gina kepadaku. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tidak lama kemudian, Gina sudah siap dengan HP di telinganya.

“Hallo,” Gina memulai pembicaraan lewat telepon selular itu. Aku hanya terdiam. Aku tak tahu harus berbuat apa. “Biarlah mereka menyelesaikannya sendiri!” kataku dalam hati. Aku tahu, Lintang tak akan bicara sesuatu yang aneh, Lintang pasti akan membela hubunganku dengan Gina, walaupun sebenarnya ada yang bergemuruh dalam dadaku.

Seusai telepon, Gina hanya terdiam. Aku bingung, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, dan bagaimana jawaban Lintang. Aku hanya berdoa, mereka berdua baik-baik saja.




GINA

“Aku gak bisa maafin kamu Dim! Sudah beberapa kali kamu seperti ini kepadaku,” itu adalah kalimat yang kulontarkan kepada Dimas, beberapa hari yang lalu sejak kejadian bersama dengan Lintang.

Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa Dimas melakukan ini semua kepadaku. Dia bersumpah demi nama Tuhan-nya. Demi Lintang, Dimas membodohiku dan membohongi Tuhan-nya. Setega itukah kamu Dim? Telah berulang kali kamu seperti ini, dan kamu tidak pernah jera?

Aku sakit Dim. Aku tulus mencintai kamu. Senantiasa selalu berada di sampingmu, tapi seperti inikah balasanmu kepadaku? Terlebih lagi, kau membohongi Tuhan-mu demi seorang yang bernama Lintang? Kamu jahat Dimas. Kamu tak menghargai semua yang kulakukan untukmu selama ini.

“SMS dari siapa sayang?” tanyaku kepada Dimas.
“Bukan siapa-siapa, cuma teman SMS nanya tugas kok,” jawabnya.
Hp-nya berdering kembali. Ketika itu, Dimas lagi ke belakang. Aku baca SMS yang baru masuk itu.
“Lagi apa Dim? Sudah makan belum? Aku kangen kamu.”
“Siapa ini? Kenapa dia begitu perhatian sama Dimas?” tanyaku dalam hati.

Lintang yang telah merusak keharmonisan hubunganku dengan Dimas.

17 December 2009

LYK (Dimas)

Aku merebahkan diri di pelukan malam. Kudengarkan celoteh penyiar radio dalam sebuah stasiun FM. Sejenak aku terpaku, “kenapa harus lagu ini?” pikirku.

Kumencintaimu lebih dari apapun
Meskipun tiada satu orangpun yang tahu
Kumencintaimu sedalam-dalam hatiku
Meskipun engkau hanya kekasih gelapku….
(Ungu “Kekasih Gelapku”)

Aku teringat akan Lintang. “Lintang, aku sayang kamu dan tak mau kamu bersama orang lain,” lirihnya setelah mendengarkan lagu tersebut. Akan tetapi, ….

26 November 2009

LYK - Lintang yang Ketiga (Lintang)

Tuhan selalu tak merestui hubunganku
Aku kembali terjatuh
“Dia nembak kamu, main-main. Ngerti!” kata Gina
Hati yang telah melambung kini telah dijatuhkan sekeras-kerasnya
Semuanya hancur tak ada sisa

jadi selama ini kau membohongiku?
hanya itu pertanyaanku
yang dapat aku simpulkan sekarang
semua yang kamu ungkapkan padaku hanyalah kebohongan
di depanku kau berkata A, di depannya kau berkata Z

Di depannya, kau tak pernah membelaku
tp di belakang, kau memujaku, menginginkan aku
bimbang rasanya hati ini

Air mata inipun enggan tuk menetes lagi
Terlalu sesak
Terlalu pedih, hingga air matakupun tak bisa tuk mewakili perasaanku
Hari ini, dia telah mengungkap bahwasannya aku memang wanita gampangan
Dia yang pernah bilang seperti itu padaku
Iya, aku memang mudah jatuh cinta
Aku telah jatuh cinta dengan orang yang salah
Orang yang ku percaya ternyata ia juga mendustai kepercayaanku
Apakah aku harus tak mempercayai omongan orang?
Hatiku telah luruh
Pikiran ini juga telah kabur
Aku sudah tak bisa bedakan lagi mana kejujuran dan mana kebohongan
Aku sudah terlalu lelah untuk percaya
Tapi di saat aku percaya ternyata kamu juga sama saja
Hanya memainkan aku sebagai bonekamu
Yang dapat kamu mainkan, kamu buang, seenak kamu sendiri
Tuhan, aku hanya ingin sejenak melabuhkan hati ini
Aku sudah lelah Tuhan
Aku lelah untuk percaya, aku lelah untuk membangun lagi kepercayaan itu
Maafkan aku Tuhan, aku terlalu sering mengeluh….

Jogja, 23 November 2009