(KELANJUTAN DIMAS)
….
Gina bertanya menyelidik kepadaku, “Lintang itu siapa?”.
“Ooo, teman di kampung,” jawabku. Aku tidak berbohong. Aku mengenal Lintang di kota tempat tinggal aku dulu.
“Tapi kenapa SMS dia seperti itu?” tanyanya.
“Cemburu ya…,” rajukku, mengalihkan pembicaraan.
“Kalau kamu gak mau ngaku, aku telepon dia sekarang,” ancam Gina kepadaku. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tidak lama kemudian, Gina sudah siap dengan HP di telinganya.
“Hallo,” Gina memulai pembicaraan lewat telepon selular itu. Aku hanya terdiam. Aku tak tahu harus berbuat apa. “Biarlah mereka menyelesaikannya sendiri!” kataku dalam hati. Aku tahu, Lintang tak akan bicara sesuatu yang aneh, Lintang pasti akan membela hubunganku dengan Gina, walaupun sebenarnya ada yang bergemuruh dalam dadaku.
Seusai telepon, Gina hanya terdiam. Aku bingung, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, dan bagaimana jawaban Lintang. Aku hanya berdoa, mereka berdua baik-baik saja.
GINA
“Aku gak bisa maafin kamu Dim! Sudah beberapa kali kamu seperti ini kepadaku,” itu adalah kalimat yang kulontarkan kepada Dimas, beberapa hari yang lalu sejak kejadian bersama dengan Lintang.
Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa Dimas melakukan ini semua kepadaku. Dia bersumpah demi nama Tuhan-nya. Demi Lintang, Dimas membodohiku dan membohongi Tuhan-nya. Setega itukah kamu Dim? Telah berulang kali kamu seperti ini, dan kamu tidak pernah jera?
Aku sakit Dim. Aku tulus mencintai kamu. Senantiasa selalu berada di sampingmu, tapi seperti inikah balasanmu kepadaku? Terlebih lagi, kau membohongi Tuhan-mu demi seorang yang bernama Lintang? Kamu jahat Dimas. Kamu tak menghargai semua yang kulakukan untukmu selama ini.
“SMS dari siapa sayang?” tanyaku kepada Dimas.
“Bukan siapa-siapa, cuma teman SMS nanya tugas kok,” jawabnya.
Hp-nya berdering kembali. Ketika itu, Dimas lagi ke belakang. Aku baca SMS yang baru masuk itu.
“Lagi apa Dim? Sudah makan belum? Aku kangen kamu.”
“Siapa ini? Kenapa dia begitu perhatian sama Dimas?” tanyaku dalam hati.
Lintang yang telah merusak keharmonisan hubunganku dengan Dimas.
Selamat Datang
a simple person, a simple blog, but its'n a simple story :)
Menu
#FF2in1
anak
anak kedua
anak ketiga
anak lanang
anak pertama
babyboy
Babygirl
Bisnis
cernak (cerita anak)
cerpen
cinta
Curhat
Dongeng
download
Drakor
DramaKorea
ekspedisi
Ekspo Herbal
esei
fakta
feature
fiksi
FILM
FlashFiction
friendship
Humaniora
iseng
kehidupan
Kritisi berita
Kucing
Kuliner
love
LYK
mitos
Motivasi
NONFIKSI
Novel
orangtua
Ornamen Cinta
parenting
pasangan
pascamelahirkan
pendidikan
pengalaman
pengetahuan
pernikahan
puisi
Resensi
Review apa aja
rumah sakit
sahabat
sajak
sastra
Sim keliling
skripsweet
syair
UlangTahun
video
15 January 2010
17 December 2009
LYK (Dimas)
Aku merebahkan diri di pelukan malam. Kudengarkan celoteh penyiar radio dalam sebuah stasiun FM. Sejenak aku terpaku, “kenapa harus lagu ini?” pikirku.
Kumencintaimu lebih dari apapun
Meskipun tiada satu orangpun yang tahu
Kumencintaimu sedalam-dalam hatiku
Meskipun engkau hanya kekasih gelapku….
(Ungu “Kekasih Gelapku”)
Aku teringat akan Lintang. “Lintang, aku sayang kamu dan tak mau kamu bersama orang lain,” lirihnya setelah mendengarkan lagu tersebut. Akan tetapi, ….
Kumencintaimu lebih dari apapun
Meskipun tiada satu orangpun yang tahu
Kumencintaimu sedalam-dalam hatiku
Meskipun engkau hanya kekasih gelapku….
(Ungu “Kekasih Gelapku”)
Aku teringat akan Lintang. “Lintang, aku sayang kamu dan tak mau kamu bersama orang lain,” lirihnya setelah mendengarkan lagu tersebut. Akan tetapi, ….
26 November 2009
LYK - Lintang yang Ketiga (Lintang)
Aku kembali terjatuh
“Dia nembak kamu, main-main. Ngerti!” kata Gina
Hati yang telah melambung kini telah dijatuhkan sekeras-kerasnya
Semuanya hancur tak ada sisa
jadi selama ini kau membohongiku?
hanya itu pertanyaanku
yang dapat aku simpulkan sekarang
semua yang kamu ungkapkan padaku hanyalah kebohongan
di depanku kau berkata A, di depannya kau berkata Z
Di depannya, kau tak pernah membelaku
tp di belakang, kau memujaku, menginginkan aku
bimbang rasanya hati ini
Air mata inipun enggan tuk menetes lagi
Terlalu sesak
Terlalu pedih, hingga air matakupun tak bisa tuk mewakili perasaanku
Hari ini, dia telah mengungkap bahwasannya aku memang wanita gampangan
Dia yang pernah bilang seperti itu padaku
Iya, aku memang mudah jatuh cinta
Aku telah jatuh cinta dengan orang yang salah
Orang yang ku percaya ternyata ia juga mendustai kepercayaanku
Apakah aku harus tak mempercayai omongan orang?
Hatiku telah luruh
Pikiran ini juga telah kabur
Aku sudah tak bisa bedakan lagi mana kejujuran dan mana kebohongan
Aku sudah terlalu lelah untuk percaya
Tapi di saat aku percaya ternyata kamu juga sama saja
Hanya memainkan aku sebagai bonekamu
Yang dapat kamu mainkan, kamu buang, seenak kamu sendiri
Tuhan, aku hanya ingin sejenak melabuhkan hati ini
Aku sudah lelah Tuhan
Aku lelah untuk percaya, aku lelah untuk membangun lagi kepercayaan itu
Maafkan aku Tuhan, aku terlalu sering mengeluh….
Jogja, 23 November 2009
24 November 2009
Lintang yang Ketiga (bag. 2)
Aku memang memilih untuk siap menjadi yang terbuang. Aku telah memilih jalanku untuk menjadi seorang yang dipersalahkan. Dan secuil kebahagiaan itu telah kuraih. Aku bahagia dan nyaman berada di dekatnya, tanpa pernah memikirkan konsekuensi yang akan terjadi. Tanpa pernah memikirkan hal terburuk yang akan aku terima.
Hari-hari berikutnya aku jalani secuil kebahagiaan itu dengan ikhlas. Meskipun aku bukan yang pertama. Ingat, bukan yang pertama. Selalu menjadi yang kedua dari yang pertama. Pahit, namun tetap saja aku jalani.
“Aku sayang kamu,” kata Dimas.
“Iya, aku juga sayang kamu,” aku jawab.
Hanya secuil, dan memang secuil, harapan kebahagiaan itu hadir.
Di tengah-tengah secuil kebahagiaan itu, aku telah melupakan sesuatu. Melupakan kenyataan, Gina.
Hari-hari berikutnya aku jalani secuil kebahagiaan itu dengan ikhlas. Meskipun aku bukan yang pertama. Ingat, bukan yang pertama. Selalu menjadi yang kedua dari yang pertama. Pahit, namun tetap saja aku jalani.
“Aku sayang kamu,” kata Dimas.
“Iya, aku juga sayang kamu,” aku jawab.
Hanya secuil, dan memang secuil, harapan kebahagiaan itu hadir.
Di tengah-tengah secuil kebahagiaan itu, aku telah melupakan sesuatu. Melupakan kenyataan, Gina.
13 November 2009
Lintang yang Ketiga (bag.1)
Sejenak aku terdiam dan menyadari bahwa ternyata diriku ada di posisi yang salah. Aku hadir di antara mereka seakan Dimas adalah makhluk di alam bebas yang tak punya keterikatan dengan Gina. Aku lemah tak berdaya mendengarkan kejujuran Dimas. Terasa kerajaan hati yang telah rapuh, runtuh kembali tanpa bekas.
“Maaf Lin, kamu tidak akan membenci aku kan? Aku sayang kamu. Aku tak akan mere-lakan kamu lepas dari aku. Aku selalu ingin menjagamu. Aku nyaman berada di dekat-mu Lintang,” pinta Dimas kepadaku.
Aku hanya bisa meneteskan air mata. Aku mengutuki diriku sendiri. Tuhan, aku mengulang kesalahan yang sama.
“Maaf Lin, kamu tidak akan membenci aku kan? Aku sayang kamu. Aku tak akan mere-lakan kamu lepas dari aku. Aku selalu ingin menjagamu. Aku nyaman berada di dekat-mu Lintang,” pinta Dimas kepadaku.
Aku hanya bisa meneteskan air mata. Aku mengutuki diriku sendiri. Tuhan, aku mengulang kesalahan yang sama.
01 November 2009
MASALAHKU, MASALAHMU
Pagi ini aku harus berangkat ke sebuah dusun kecil di pelosok kota Semarang. Tidak pernah terbayangkan olehku mendapatkan tempat tugas di daerah pelosok. Selama aku dilahirkan di bumi ini, aku tidak pernah bersinggungan dengan daerah pedesaan, alih-alih dusun pelosok. Sejak surat panggilan itu datang, kegelisahan dan kegundahan merenggut seluruh pikiranku. Aku enggan meninggalkan keramain kota ini. Akan tetapi, hal ini adalah cita-citaku dulu. Bukan, bukan cita-citaku, cita-cita almarhum Ayahku. Mengingat almarhum Ayah, sungguh luar biasa semangat ini muncul begitu saja. Akhirnya, aku berangkat.
20 October 2009
CERNAK (cerita anak) CHACA dan PERMEN

Pada suatu hari, terdengarlah decapan air liur dari luar kamar seorang gadis kecil berumur delapan tahun yang akrab dipanggil Chaca. Mama Chaca yang mendengar samar-samar akan hal itu, memperjelas dengan menempelkan telinganya ke pintu kamar Chaca.
Chaca : “Hemm… enak banget!” (sambil mengunyah permen)
Mama Chaca terheran-heran dan khawatir dengan anaknya, kemudian Mama mengetuk kamar Chaca. Tok tok tok….
Mama : “Cha, buka pintunya. Mama mau masuk. Kamu lagi ngapain Nak?”
Subscribe to:
Posts (Atom)
